Pernikahan Malika yang harus berakhir duka karena serangan jantung yang dialami suaminya tepat disaat mereka melakukan bulan madu.
Justru kesedihannya yang makin bertambah setelah dirinya mengandung bukan dari anak suaminya. Malika harus kehilangan satu persatu miliknya dalam waktu yang bersamaan. Kehilangan kedua orangtua, perusahaan milik keluarganya dan ia pun harus kehilangan anaknya yang diculik oleh mantan mertuanya.
Reinaldi adalah seorang CEO muda yang merenggut kesucian Malika yang menjadikan obat jiwa bagi lelaki tersebut dan Reinaldi harus kehilangan Malika, sampai akhirnya ia bertemu kembali dengan Malika dalam keadaan tubuh gadis itu bersimbah darah karena kecelakaan.
Setelah siuman dari kecelakaan yang dialaminya, Malika mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit, betapa terkejutnya ia saat menyadari lelaki yang menolongnya dari kecelakaan itu adalah lelaki yang sama yang telah memberikannya seorang putra, namun keduanya merasa canggung setelah sekian lama berpisah.
"Akankah Malika memaafkan Reinaldi dan memberitahukan keberadaan putra mereka yang telah diculik?"
"Apakah keduanya akan bersatu dalam mahligai pernikahan?
"Ayuk!" ikuti kisah ini dengan alur cerita yang maju mundur hingga menemukan benang merahnya di pertengahan episodenya.
Alur cerita ini maju mundur di harapkan untuk mengikuti tiap episodenya dan akan menemukan benang merahnya dalam cerita ini (khusus untuk area dewasa).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSEKONGKOLAN
Untuk mencapai tujuan dunia, kadang manusia menggunakan akalnya untuk mendapatkan sesuatu dengan berbagai cara entah dengan jalan halal maupun dengan cara yang haram.
begitu juga dengan tujuan asisten Rama yang belum akan menyerah untuk mencapai tujuannya dengan cara memanfaatkan situasi perang dingin antara Malika dan ibu mertuanya nyonya Andien.
Sore itu nyonya Andien sedang menemani suaminya tuan Pramudia yang sedang duduk di taman belakang mansion miliknya, sambil menyuapkan buah untuk suaminya, nyonya Andien bercerita apa saja untuk menyemangati tuan Pram supaya cepat sembuh.
"Ayah cepat sembuh sayang, apakah ayah tidak ingin menggendong cucu ayah?," tanya nyonya Andien.
Tuan Pram hanya mengangguk lemah seakan ingin mengatakan aku tidak ingin hidup lebih lama.
"Ayah apa perlu kita berobat keluar negeri, supaya ayah cepat sembuh?"
Tuan Pram juga menggeleng seakan mau mengatakan tidak perlu repot-repot membawaku berobat di luar negeri.
Nyonya Andien pasrah dengan jawaban suaminya yang hanya mengangguk dan menggeleng dengan ekspresi datar menjawab dirinya. Kemudian nyonya Andien mendorong kursi roda suaminya kembali ke kamar mereka.
Tiba-tiba bunyi ponselnya berdering, sesaat nyonya Andien menghentikan langkahnya dan melihat nomor yang tidak dikenal di layar ponselnya, dia memencet tombol hijau lalu menerima panggilan itu.
"Hallo!, nyonya Andien selamat sore!"
"Maaf ini dengan siapa saya berbicara," tanya nyonya Andien kepada si penelepon.
"Ini saya nyonya Rama asisten tuan Daniel besan anda, apakah anda ada waktu? maaf kalau saya menganggu aktivitas anda nyonya."
"Ada keperluan apa ya, anda menghubungi saya bukankah bos anda adalah menantu saya?."
"Begini nyonya, saya tahu kalau hubungan anda dengan menantu anda kurang baik semenjak putra anda meninggal dunia, anda sengaja menyambung lagi hubungan dengan nona Malika karena cucu anda bukan?"
"Maaf itu bukan urusan anda, ini urusan keluarga saya jadi tidak ada hubungannya dengan anda."
"Tunggu nyonya!!
Saya belum menyelesaikan kalimat saya, jadi begini nyonya kalau nyonya inginkan cucu nyonya bersama nyonya saya akan membantumu mendapatkannya bagaimana?"
"Apa maksudmu?"
"Begini nyonya bukankah lebih baik menyingkirkan perempuan itu dari rumah nyonya dan cukup ambil bayinya, kita buat Malika seakan mengalami kecelakaan, bagaimana nyonya?
Apakah anda bersedia bekerja sama denganku?"
Sesaat nyonya Andien nampak berpikir dengan tawaran kerja sama yang menguntungkannya tapi apa motif dari rencana asisten Rama pada menantunya ini masih dipertimbangkannya.
"Jika aku menerima tawaranmu, apa yang kamu inginkan dari kerjasama ini, pasti kamu punya motif terselubung."
Asisten Rama berdiam sesaat memikirkan lagi kata-kata apa yang harus ia ucapkan untuk meyakinkan nyonya Andien supaya misinya berhasil.
"Begini nyonya Andien, perusahaan milik tuan Daniel sudah berpindah tangan pada rekan bisnis kami karena ada pertimbangan para pemegang saham yang merasa Malika tidak layak untuk memimpin perusahaan di usia yang masih muda dan minim pengelaman jadi saya yang saat membantu tuan Bagaskara group untuk mengelola perusahaan ini lebih maju dan kemajuan perusahaan ini tidak terlepas dari pembuatan ponsel baru yang belum sempat diproduksi oleh perusahaan karena Malika mengalami beberapa masalah pada kesehatannya."
"Berarti cucu saya bukan pewaris dari perusahaan ibunya dong?
Sorry saya tidak bisa membantumu kalau cucu saya tidak mendapatkan apapun dari rencana gilamu itu."
Asisten Rama mendengus kesal karena nggak semudah yang diprediksinya dari awal.
"Ternyata tua bangka ini pintar juga, dia nggak mau rugi kalau hanya menyingkirkan menantunya saja, dia juga masih mengincar harta menantunya juga walaupun dia sendiri sudah memiliki kekayaan," ucap Rama bermonolog.
Kemudian Rama mengubah rencananya yang tidak ingin mengecewakan nyonya Andien.
"Begini nyonya, kalau anda bantu saya kita akan bagi keuntungan perusahaan 20% untuk cucu anda, bagaimana nyonya, apakah anda setuju dengan penawaran saya?"
"Tidak bisa kalau tidak bagi dua hasil keuntungan perusahaan dengan cucu saya, lupakan saja tawaran anda!
Sambungan telepon itu dimatikan sepihak oleh nyonya Andien, kemudian nyonya Andien meneruskan langkahnya mendorong kursi roda milik suaminya kembali ke kamar mereka.
Ditempat lain asisten Rama melemparkan ponselnya karena merasa nyonya Andien bukanlah wanita yang bisa ditaklukkan dengan cara yang mudah ditebak keinginannya tapi lebih tepatnya dengan cara pendekatan yang lebih kepada persahabatan.
"Baiklah tua bangka kali ini aku mengalah tapi aku tidak akan menyerah sampai tujuanku tercapai," ucap Rama dengan tersenyum menyeringai.
🌷🌷🌷
Pagi ini Malika dan Rena melakukan aktivitas seperti biasa memandikan baby Ezra, Malika yang sudah telaten mengurus bayi begitu cekatan mempersiapkan segala sesuatunya untuk baby Ezra, semuanya ingin dikerjakannya sendiri kalau sudah menyangkut urusan babynya. Rena yang melihat nona mudanya sangat bersemangat mengurus babynya hanya menggelengkan kepalanya, kini Malika sudah rapih mempersiapkan baby Ezra untuk berjalan pagi sambil berjemur untuk mendapatkan sinar matahari yang sangat baik untuk baby Ezra.
"Selamat pagi baby tampannya ibu!, kita jalan-jalan pagi ya sayang," ucap Malika yang sudah siap mendorong kereta bayi.
Rena yang masih merapikan kamar Malika yang masih berantakan menolak untuk tidak ikut jalan- jalan pagi itu.
"Nona muda maaf ya bibi nggak bisa ikut ya, bibi mau mencuci dan menyetrika baju, nona sendiri aja ya jalan-jalan sama babynya."
"Nggak bibi, lagian kami cuman berjemur aja di pekarangan rumah, nggak ke mana-mana."
"Ya sudah non selamat berjemur ria dengan baby Ezra, bibi mau bebenah dulu," ucap pelayan Rena yang sudah siap bertempur dengan cuciannya.
Para pelayan di mansion nyonya Andien tidak kalah sibuknya, mereka berkutat dengan tugas masing-masing, sedangkan nyonya Andien masih malas untuk keluar kamar.
Di tempat yang berbeda tuan Rama menemui tuan Ardian Bagaskara untuk menyampaikan hasil negosiasinya dengan nyonya Andien yang belum mencapai kesepakatan.
"Tuan Bagas, saya belum berhasil mengajak ibu mertua nona Malika untuk bekerja sama dengan rencana kita," ucap asisten Rama sambil menyeduh kopi di ruang tamu milik tuan Bagaskara.
"Apa alasannya nyonya itu menolak tawaran kita?"
"Pertama, orangnya sulit dibujuk bos dengan iming-iming keuntungan apalagi masalah cucunya."
"Sekarang apa tindakanmu kali ini untuk bisa membujuknya?"
"Yah, kita berusaha meyakinkannya lagi bos tapi itu dia bos, dia ingin keuntungan perusahaan kita dibagi dua bos."
"Apa?, tidak bisa seperti itu, saya nggak setuju dengan perjanjian konyol wanita itu."
"Kalau kita tidak mengikuti maunya perusahaan tidak akan mengembangkan produksi ponsel edisi baru buatan Malika bos."
Tuan Bagas membenahi duduknya dengan menumpuk salah satu kakinya diatas pahanya, pria arogan ini nampak berpikir keras mempertimbangkan perkataan asisten Rama tentang produksi ponsel Malika yang sedang diincar para mafia bisnis.
"Kalau begitu biar saya sendiri yang akan bicara langsung dengan wanita itu, saya yang akan melakukan negosiasi ini dengan nyonya Andien."
"Baik tuan saya akan menghubungi ponsel nyonya Andien," ucap asisten Rama seraya menekan panggilan nomor ponsel nyonya Andien.
Tidak lama panggilan nomor yang dituju dijawab oleh nyonya Andien dari seberang telepon, Rama langsung memberikan ponselnya ke tuan Bagaskara.
"Hallo nyonya Andien selamat malam!
"Selamat malam tuan Rama! ada urusan apa lagi?
"Ini saya Bagaskara nyonya Andien, pemilik baru perusahaan Cyber IT group."
"Iya saya tahu tapi saya tidak ingin menerima tawaran apapun lagi dari anda."
"Saya terima keinginan anda yang ingin keuntungan perusahaan ini dibagi dua dengan anda, bagaimana?"
Bukan cuma nyonya Andien yang tersentak dengar ucapan tuan Bagaskara tapi Rama yang sedari tadi mendengar percakapan bos barunya ini dengan nyonya Andien tidak kalah kagetnya tawaran yang diajukan oleh tuan Bagaskara.
Nyonya Andien yang masih terkesima dengan perkataannya yang iseng kemarin sama asisten Rama ternyata ditanggapi baik oleh tuan Bagaskara. wanita 49 tahun ini tersenyum mengejek tapi hatinya seakan bersorak dengan keuntungan perusahaan yang menggiurkan, dia kembali menjawab tawaran tuan Bagas dengan suara nada datarnya.
"Ok, saya terima tawaran anda, katakan apa yang harus saya lakukan untuk anda supaya Malika memberikan cucu saya dan membuat gadis nyebelin itu mati secara wajar.
"Anda cukup keluar dari mansion anda dengan alasan apa saja, dengan begitu nona Malika punya kesempatan untuk melarikan diri dengan membawa putranya.
Buatlah rem mobilnya blong, setelah gadis itu berhasil kabur, anak buahku akan mengikuti mobilnya dari belakang."
"Bagaimana kalau cucu saya ikut celaka bersamanya, tidak!, itu sangat beresiko, saya tidak mau kehilangan cucu saya," ucap nyonya Andien merasa takut nyawa cucunya juga terancam.
"Nyonya kami sudah memperhitungkan semuanya, kami jamin cucu anda akan kami selamatkan, percayalah perkataanku."
Nyonya Andien menelan salivanya dengan kasar, tubuhnya mulai gemetar, hatinya ingin menolak tapi bujukan setan meracuni pikirannya. Setelah lama berpikir akhirnya nyonya Andien setuju.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat anak buahku harus ikut juga dalam rencana ini.
Kamu selesaikan urusanmu dengan Malika dan anak buahku yang akan mengambil cucuku dari gadis itu."
"Ok nyonya Andien saya setuju dengan persyaratan anda jadi kita sudah deal untuk kerjasama kita malam ini," ucap tuan Bagas menegaskan perkataan nyonya Andien.
Ponsel keduanya ditutup, tuan Bagaskara tertawa terbahak-bahak karena dirinya mampu menaklukkan wanita tua itu tapi tidak dengan Rama yang sangat kesal dengan keputusan sepihak tuan Bagaskara tanpa meminta pendapatnya mengenai keuntungan perusahaan.
Disisi lain nyonya Andien tersenyum puas mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Tapi dirinya tidak sadar kalau Rena mendengar semua percakapan mereka, tanpa sengaja Rena menjatuhkan benda yang ada diatas meja ternyata itu adalah guci mahal kesukaan nyonya Andien, karena keduanya sama-sama kaget, nyonya Andien menjadi makin berang dengan pelayan menantunya ini. Terjadilah perseteruan yang tak terelakkan antara nyonya Andien dan pelayan Malika bibi Rena.
hadeeh
semoga Bagus juga cerita nya
kyk ikut dlm critanya. ikut sedih aq kaka author, 😫😫😫😫
MENGEJAR CINTA KAKAK KELAS dari Endergamer 1256
"Malam ini kamu pulang ke rumah.
Rumah kita.
Udah terlalu lama kamu berkeliaran di luar.
Aku harus jaga calon istriku biar gak ditidurin orang lain.
Besok..kita pulang ke Indonesia.
Langsung kawin.
Sedikit aja kamu mau kabur...aku gak akan segan-segan ngeluarin video kita." kembali Michael mengancam.
Numpang iklan dan terima kasih kakak author 😘