Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
Nggak lama kemudian, dua piring nasi goreng panas diantar ke meja mereka.
"Ayo, Dek. Hati-hati, masih panas," ucap pemilik warung sambil meletakkan piring satu per satu.
"Makasih, Pak," jawab Angela sambil tersenyum tipis. Aroma nasi goreng langsung memenuhi udara. Seketika perut Angela kembali protes.
Kruuuk...
Angela buru-buru menunduk. "Ya ampun..." gumamnya pelan, malu sendiri. Di seberangnya, Raymond cuma memperhatikan tanpa komentar. Tangannya mendorong pelan segelas es teh ke arah Angela.
"Minum dulu." Angela mengangkat pandangannya.
"Makasih." Dia menggenggam gelas itu dengan kedua tangan, seolah sedang mencari keberanian buat mulai makan. Raymond mengambil sendoknya lebih dulu.
"Nggak dimakan?" Angela menghela napas pelan.
"Dimakan, kok." Dia menyuap sedikit nasi goreng ke mulutnya.
Belum sempat mengunyah sempurna, air matanya malah menetes lagi. Raymond yang sedang makan langsung berhenti.
Sendok di tangannya perlahan diletakkan.
"Angela." Gadis itu buru-buru mengusap pipinya.
"Hah? Kenapa?"
"Kamu nangis." Angela tertawa kecil, meski suaranya terdengar serak.
"Hehe... maaf."
"Kenapa?" Angela menatap nasi goreng di depannya beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.
"Soalnya..." Dia menarik napas panjang.
"...udah lama nggak ada yang nyuruh aku makan." Raymond terdiam. Angela tersenyum tipis, tapi matanya kembali berkaca-kaca.
"Biasanya yang cerewet nyuruh aku makan cuma Ibu. Kalau aku telat makan, beliau bisa nelepon berkali-kali." Angela terkekeh pelan sambil mengusap hidungnya.
"Sekarang...beliau sendiri lagi sakit." Kalimat terakhir itu membuat suasana kembali hening. Raymond menatap Angela tanpa berkedip. Lalu, dengan gerakan pelan, dia mengambil kotak tisu di tengah meja dan menyodorkannya.
"Nih." Angela menerima tisu itu.
"Thanks." Dia mengusap air matanya, lalu tersenyum malu.
"Maaf ya." Raymond menggeleng.
"Nggak usah minta maaf." Angela mengerutkan bibir.
"Aku malah nangis terus dari tadi."
"Nangis itu wajar." Angela memandang Raymond beberapa saat.
"Lho..."
"Hm?"
"Kamu kok sekarang pinter ngomong?"
Raymond mengangkat sebelah alis.
"Memangnya dulu nggak?" Angela langsung terkekeh.
"Dulu mah jawabnya cuma 'iya', 'hm', atau 'oke'." Raymond ikut terkekeh pelan. Meski cuma sebentar, itu cukup bikin Angela melongo.
"Lho..." Raymond menatapnya bingung.
"Kenapa?" Angela menunjuk wajah Raymond.
"Kamu..."
"Apa?"
"...ketawa." Raymond refleks menyentuh sudut bibirnya sendiri.
"Oh." Angela sampai geleng-geleng kepala.
"Gawat."
"Kenapa?"
"Besok Kevin sama Rio pasti pingsan kalau lihat kamu bisa ketawa." Raymond mengembuskan napas pelan.
"Mereka lebay."
"Bukan lebay." Angela menyenggol pelan gelas es tehnya. "Emang selama ini kamu jarang senyum." Raymond diam sejenak.
Tatapannya kemudian jatuh ke wajah Angela.
"Kalau sama kamu...rasanya lebih gampang."
Deg.
Angela yang lagi minum langsung tersedak.
Raymond buru-buru berdiri.
"Pelan-pelan." Dia mengambil tisu lain lalu menyodorkannya.
"Nggak apa-apa?" Angela masih batuk sambil mengangguk cepat.
"I-iya..." Begitu batuknya reda, dia langsung menatap Raymond dengan wajah merah.
"Kamu....nggak usah ngomong kayak gitu tiba-tiba."
"Kenapa?"
"Bisa bikin orang salah fokus." Raymond terlihat benar-benar bingung.
"Aku cuma jujur." Angela menepuk dahinya sendiri.
"Nah, itu masalahnya." Raymond belum sempat membalas. Tiba-tiba ponsel Angela berdering. Nama di layar membuat Angela langsung berdiri.
Pak RT
Tangannya gemetar saat mengangkat telepon.
"Halo, Pak..." Wajahnya perlahan berubah tegang.
"Iya, Pak... saya Angela." Raymond ikut berdiri, memperhatikan dari seberang meja. Angela menggigit bibirnya.
"Apa...?" Seketika wajahnya memucat.
"Astaga..." Tangannya yang memegang ponsel mulai bergetar.
"Iya, Pak... saya pulang, Saya berangkat malam ini juga." Telepon pun ditutup. Angela menurunkan ponselnya perlahan.Tatapannya kosong dan air matanya kembali mengalir.
Raymond langsung menghampiri.
"Angela." Gadis itu menoleh. Matanya kembali dipenuhi air mata.
"Ray..." Suaranya nyaris nggak terdengar.
"Barusan Pak RT bilang..." Dia menelan ludah, berusaha menguatkan diri. "...kondisi Ibu makin drop." Raymond nggak berkata apa-apa. Dia hanya menggenggam pelan tangan Angela yang dingin. Genggamannya hangat dan erat seolah sedang berkata,
"Aku di sini." Angela menunduk. Air matanya kembali jatuh. Raymond menarik napas pelan, lalu menatapnya dengan penuh keyakinan.
"Kita berangkat sekarang." Angela mengangkat kepala.
"Sekarang?"
"Iya."
"Nggak usah nunggu besok."
"Tapi..." Raymond menggeleng pelan.
"Nggak ada waktu lagi."
"Ayo." Kali ini, Angela nggak membantah.Dia mengangguk pelan.
"Iya..." Untuk pertama kalinya malam itu,
dia membiarkan Raymond memimpin langkahnya keluar dari warung, menuju perjalanan yang akan mengubah banyak hal dalam hidup mereka.
Malam itu, jalanan kota mulai lengang.
Lampu-lampu jalan memantul di bodi mobil hitam milik Raymond yang melaju membelah malam.
Di dalam mobil, suasana menjadi hening.Angela memeluk tasnya erat di pangkuan. Tatapannya kosong menembus kaca jendela. Jarinya terus memainkan ujung surat dari kampung sampai kertasnya kusut.
Raymond melirik sekilas. Dia tahu Angela sedang berusaha sekuat tenaga menahan tangis.
"Angela."
"Hm?"
"Kamu tidur aja." Angela menggeleng pelan.
"Nggak bisa."
"Kenapa?"
"Takut." Raymond menoleh sebentar sebelum kembali fokus ke jalan.
"Takut apa?" Angela menggigit bibirnya.
"Takut... aku telat."
"Takut kalau..."Suaranya mulai bergetar. "...aku belum sempat ketemu Ibu." Kalimat itu membuat Raymond mengencangkan genggaman di setir. Dia bisa merasakan kepanikan Angela. Tanpa banyak bicara, Raymond mengulurkan tangan kirinya.
Dia menggenggam tangan Angela yang sedingin es, membuat Angela refleks menoleh.
"Ray..." Raymond tetap menatap lurus ke depan.
"Cuma genggam aja." Angela menatap tangan mereka beberapa detik.
"Kamu nanti nyetirnya gimana?"
"Aku masih punya satu tangan." Angela terkekeh kecil di sela tangisnya.
"Kamu masih sempat bercanda."
"Biar kamu nggak makin panik." Angela menggenggam balik tangan Raymond pelan dan lembut.
"Makasih," Suara itu lirih. Hampir tenggelam oleh suara mesin mobil. Beberapa menit kemudian, Hujan turun deras tanpa peringatan.
"Hujannya deres banget..."
Raymond menyalakan wiper dengan kecepatan paling tinggi.
"Sabar."
"Kita tetap jalan." Jarak pandang mulai berkurang. Mobil-mobil di depan ikut memperlambat laju.
Tiba-tiba, lampu belakang sebuah truk besar tepat di depan mereka berkedip. Raymond pun langsung Rem mendadak! Raymond langsung menginjak rem dalam. Mobil berhenti hanya beberapa meter dari bak belakang truk.
Angela yang nggak sempat siap refleks terdorong ke depan.
"Akh !" jerit Angela. Untungnya, tangan kanan Raymond langsung menahan bahu Angela agar tidak membentur dashboard.
"Kamu nggak apa-apa?" Angela masih terlihat syok. Dadanya naik turun dan matanya membelalak lebar.
"I-iya..." Raymond menatap wajah Angela beberapa detik.
"Kaget?" Angela mengangguk pelan.
"Iya." Raymond mengembuskan napas lega.
"Syukurlah." Saat itu juga, suara klakson panjang terdengar dari belakang.
"Tiiiin!!"
Raymond spontan melihat spion, sebuah mobil boks melaju cukup kencang ke arah mereka.
"Angela, pegangan yang kuat."
"Hah?" Belum sempat Angela menjawab, Raymond langsung membanting setir ke kiri. Mobil mereka berpindah ke bahu jalan. Detik berikutnya 'BRAAAKKK!! Mobil boks itu menghantam bagian belakang truk yang tadi berhenti mendadak. Suara benturannya memekakkan telinga. Angela spontan menutup mulutnya.
"Ya Allah..." Tubuhnya gemetar hebat.
Kalau tadi Raymond terlambat beberapa detik saja... Bisa jadi mobil mereka yang ditabrak.
Raymond langsung mematikan mesin.
"Kamu di sini."
"Lho?"
"Aku lihat dulu." Raymond baru saja membuka pintu, seketika Angela buru-buru meraih pergelangan tangannya.
"Jangan." Raymond menoleh.
Angela menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Takut..." Raymond kembali duduk.
"Oke. Aku nggak turun." Angela mengembuskan napas lega. Tanpa sadar,
dia langsung memeluk lengan Raymond erat.
Tubuhnya masih gemetar. Raymond nggak berusaha melepaskan pelukan itu. Dia justru mengusap pelan punggung tangan Angela dengan ibu jarinya.
"Nggak apa-apa."
"Kita selamat."Angela menundukkan kepala.
Air matanya kembali jatuh.
"Aku takut kehilangan orang lagi, Ray..." Kalimat itu membuat dada Raymond terasa sesak pelan-pelan, dia mengangkat dagu Angela. Tatapan mereka bertemu. Namun sorot mata Raymond tetap tenang penuh keyakinan.
"Dengerin aku. Selama aku masih ada...aku bakal lakuin apa pun buat jagain kamu."
Angela benar-benar kehilangan kata-kata.
Jantungnya berdetak makin cepat, di tengah hujan deras. Di tengah suara sirene ambulans yang mulai terdengar mendekat, tatapan mereka saling bertaut.
Untuk sesaat, seolah dunia di luar mobil berhenti bergerak. Namun, Ponsel Angela tiba-tiba kembali berdering. Layar menampilkan nama yang sama.
Pak RT.
Angela langsung tersentak.
Tangannya gemetar saat menerima panggilan itu.
"Pak..."
Belum sampai satu menit mendengarkan...
Wajah Angela kembali memucat. Ponsel itu hampir terlepas dari genggamannya.
"Pak...Ibu saya..."
Raymond langsung merasakan firasat buruk kembali menghampiri..Dan malam itu. Perjalanan mereka menuju kampung berubah menjadi perlombaan melawan waktu.
"Pak...".Suara Angela bergetar hebat.
"I-Ibu gimana, Pak?".Di seberang telepon, suara Pak RT terdengar terburu-buru.
"Angela, jangan panik dulu."
"Ibumu masih sadar."
"Barusan pingsan sebentar, terus sadar lagi."
"Beliau terus nyebut nama kamu."
Air mata Angela langsung jatuh.
"Iya, Pak... saya lagi di jalan."
"Kalau bisa dipercepat, ya, Nak. Ibumu dari tadi nahan buat nggak dibawa ke rumah sakit."
Angela langsung menggeleng, meski Pak RT nggak bisa melihatnya.
"Jangan, Pak!"
"Tolong bawa Ibu ke rumah sakit!"
"Soal biaya... saya tanggung."
Suara Angela mulai pecah.
"Tolong jangan tunggu saya datang."
Pak RT terdiam beberapa saat.
"Baik, Nak. Bapak usahain."
Telepon pun terputus. Angela menurunkan ponselnya perlahan dengan gemetar.
Raymond mengambil ponsel itu pelan dari tangan Angela, lalu meletakkannya di dashboard.
"Tarik napas." Angela menggeleng sambil menangis.
"Aku takut, Ray..." Raymond memegang kedua bahunya. Tatapannya lurus ke mata Angela.
"Angela." Gadis itu berusaha fokus.
"Dengerin aku." Angela mengangguk pelan. "Ibu kamu masih nunggu kamu, Jadi kamu juga harus kuat." Angela menggigit bibirnya, berusaha keras menahan tangis.
"Iya..." Raymond mengusap pelan kepalanya.
"Nah. Kalau kamu terus nangis...nanti Ibu kamu malah ikut sedih." Angela mengembuskan napas panjang. Dia menyeka air matanya dengan lengan jaket.
"Iya...Aku harus kuat." Raymond tersenyum tipis.
"Itu Angela yang aku kenal."
****
Beberapa menit kemudian...
Suara sirene ambulans mulai menjauh. Kemacetan perlahan terurai. Raymond kembali menyalakan mesin mobil.
Mobil hitam itu melaju lagi, kali ini lebih cepat namun tetap stabil. Angela memandangi wajah Raymond dari samping.
"Kamu capek?" Raymond menggeleng.
"Nggak."
"Kamu bohong, dari sore latihan basket, malamnya langsung nyetir sejauh ini.Kamu pasti capek." Raymond tersenyum kecil.
"Kalau kamu masih sempat mikirin aku...berarti kamu udah mulai tenang." Angela mendelik gemas.
"Aku serius."
"Aku juga." Angela mendengus pelan.
"Ih...Cowok ini...
Di situasi begini aja masih bisa bikin dia kehabisan kata-kata.
Perlahan, Angela menyandarkan kepalanya ke jok. Matanya mulai terasa berat sejak sore dia belum benar-benar istirahat.
Raymond melirik sekilas ke arah Angela yang berkali-kali mengusap matanya.
"Masih kuat?" Angela mengangguk, meski kelopak matanya sudah hampir tertutup.
"Aku mau nenemin kamu, biar nggak ngantuk." Raymond terkekeh pelan.
"justru kamu yang duluan kalah." Angela langsung manyun.
"Cuma merem sebentar."
"Lima menit."
"nggak sampai."
"Delapan." Angela menoleh tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan Raymond.
"kamu ngitung?"
"iya." Angela tidak membalas. detik berikutnya dia pun berkata,
"Dasar." Angela pun diam-diam tersenyum.
Hanya suara hujan yang mulai berubah menjadi gerimis. Angela yang tadinya berusaha melek, akhirnya mulai memejamkan mata. Perlahan, kepalanya miring dan Tania sadar menyandar di bahu Raymond
Raymond sempat melirik sebentar. Dia tidak langsung bergeser, lalu menyesuaikan posisi duduknya agar Angela tetap nyaman.
Sesekali mobil dari arah berlawanan menyorotkan cahaya ke dalam kabin, sehingga menampilkan wajah Angela yang tertidur dengan damai. Raymond mengurangi sedikit kecepatan mobil agar tidur Angela nggak terganggu.
Dia bahkan mematikan suara notifikasi ponselnya.
"Lanjut tidur..."
gumamnya pelan, nyaris nggak terdengar.
"Aku yang nyetir."
Di luar mobil, langit malam masih gelap.
Perjalanan mereka masih panjang.Dan di ujung perjalanan itu, ada seorang ibu yang sedang berjuang menahan sakit, sambil menunggu putri semata wayangnya pulang.
****
Sekitar dua jam kemudian...
Mobil Raymond keluar dari jalan tol dan mulai memasuki jalan provinsi.
Lampu jalan makin jarang.
Di kanan kiri hanya terlihat hamparan sawah yang gelap, sesekali ditemani suara jangkrik.
Angela masih tertidur. Kepalanya bersandar pelan di bahu Raymond. Raymond melirik sekilas.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Capek banget, ya..."
gumamnya pelan. Dia sengaja mengurangi kecepatan mobil saat melewati jalan yang berlubang. Setiap melihat polisi tidur, Raymond mengerem perlahan agar Angela nggak terbangun.
Beberapa menit kemudian, Suara sirene ambulans mulai menjauh. Kemacetan perlahan terurai. Raymond kembali menyalakan mesin mobil.
Mobil hitam itu kembali melaju, Kali ini lebih cepat, Namun tetap stabil.
Angela memandangi wajah Raymond dari samping.
"Kamu capek?" Raymond menggeleng.
"Nggak."
"Kamu bohong."
"Hm?"
"Dari sore latihan basket."
"Malamnya langsung nyetir sejauh ini."
"Kamu pasti capek."
Raymond tersenyum kecil.
"Kalau kamu masih sempat mikirin aku..."
"...berarti kamu udah mulai tenang."
Angela mendelik gemas.
"Aku serius."
"Aku juga."
Angela mendengus pelan.
"Ih..."
Cowok ini...
Di situasi begini aja masih bisa bikin dia kehabisan kata-kata.
Perlahan...
Angela menyandarkan kepalanya ke jok.
Matanya mulai terasa berat.
Sejak sore dia belum benar-benar istirahat.
Raymond melirik sekilas.
"Kalau ngantuk..."
"...tidur aja."
Angela menggeleng pelan.
"Nanti kamu sendirian."
"Aku nggak apa-apa."
"Nggak enak."
Raymond mengembuskan napas pelan.
"Angela."
"Hm?"
"Kalau kamu tumbang..."
"Siapa yang nanti jagain Ibu kamu?"
Kalimat itu langsung membuat Angela terdiam.
"Iya juga..."
Dia tersenyum kecil.
"Baik, Pak Raymond."
Raymond mengangkat sebelah alis.
"Pak?"
Angela terkekeh pelan.
"Soalnya cerewet."
"Aku nggak cerewet."
"Lho?"
Angela menghitung dengan jari.
"Dari tadi..."
"'Tidur.'"
"'Makan.'"
"'Tarik napas.'"
"'Harus kuat.'"
"Itu namanya apa kalau bukan cerewet?"
Raymond pura-pura berpikir.
"...Perhatian."
Angela langsung nggak bisa nahan senyum.
"Iya deh."
"Nyerah."
Raymond ikut tersenyum tipis.
"Nah."
Beberapa menit kemudian...
Suasana mobil kembali hening.
Hanya suara hujan yang mulai berubah menjadi gerimis.
Angela yang tadinya berusaha melek...
Akhirnya kalah.
Pelan-pelan...
Kepalanya miring.
Tanpa sadar...
Bersandar di bahu Raymond.
Raymond sempat melirik sebentar.
Angela sudah tertidur.
Napasnya mulai teratur.
Raymond mengurangi sedikit kecepatan mobil agar tidur Angela nggak terganggu.
Dia bahkan mematikan suara notifikasi ponselnya.
"Lanjut tidur..."
gumamnya pelan, nyaris nggak terdengar.
"Aku yang nyetir." Di luar mobil, Langit malam masih gelap. Perjalanan mereka masih panjang. Dan di ujung perjalanan itu,
ada seorang ibu yang sedang berjuang menahan sakit, sambil menunggu putri semata wayangnya pulang.
Sekitar dua jam kemudian...
Mobil Raymond keluar dari jalan tol dan mulai memasuki jalan provinsi.
Lampu jalan makin jarang.
Di kanan kiri hanya terlihat hamparan sawah yang gelap, sesekali ditemani suara jangkrik.
Angela masih tertidur.
Kepalanya bersandar pelan di bahu Raymond.
Raymond melirik sekilas.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Capek banget, ya..."
gumamnya pelan.
Dia sengaja mengurangi kecepatan mobil saat melewati jalan yang berlubang.
Setiap melihat polisi tidur, Raymond mengerem perlahan agar Angela nggak terbangun.
Beberapa menit kemudian...
Mobil kembali berguncang pelan saat melewati jalan rusak.
Angela mengerutkan dahi.
Matanya perlahan terbuka.
Begitu sadar kepalanya bersandar di bahu Raymond, dia langsung menegakkan badan.
"Astaga!"
Angela buru-buru merapikan rambutnya yang berantakan.
"Ma-maaf!"
Raymond melirik sekilas sambil tetap fokus menyetir.
"Kenapa minta maaf?"
"Aku... aku ketiduran."
"Iya."
"Terus..."
Angela menggigit bibirnya.
"...aku nyender."
Raymond mengangguk santai.
"Iya."
Angela menepuk dahinya sendiri.
"Ya Allah... pasti berat banget."
"Nggak."
"Bohong."
"Bener."
Angela mendengus pelan.
"Kamu tuh jawabnya singkat banget."
Raymond terkekeh pelan.
"Kalau aku bilang berat..."
"...nanti kamu kepikiran."
Angela menatap Raymond beberapa detik.
"Ih..."
"Kenapa?"
"Kamu sekarang pinter bikin orang salting."
Raymond tampak bingung.
"Aku?"
"Iya."
"Padahal aku ngomong biasa aja."
"Itu dia masalahnya."
Angela menyandarkan punggung ke jok sambil menghela napas.
"Cowok ini emang bahaya."
Tiba-tiba...
Suara perut seseorang kembali terdengar.
Angela langsung memejamkan mata.
"Ya ampun..."
Raymond melirik sekilas.
"Lapar lagi?"
Angela nyengir malu.
"Hehe..."
"Kayaknya iya."
Raymond menahan tawa.
"Di depan ada minimarket."
"Nanti kita berhenti."
"Nggak usah."
Raymond mengangkat sebelah alis.
"Kenapa?"
"Biar cepat sampai."
"Aku nggak apa-apa."
Angela buru-buru menggeleng.
"Tapi Ibu..."
Raymond mengangguk pelan.
"Iya."
"Makanya kamu harus makan."
Angela mengembuskan napas pasrah.
"Iya deh..."
Lima menit kemudian...
Mobil berhenti di sebuah minimarket yang masih buka dua puluh empat jam.
Raymond turun lebih dulu.
"Kamu tunggu di sini."
Angela langsung ikut membuka pintu.
"Nggak."
"Aku ikut."
Raymond menoleh.
"Yakin?"
"Iya."
"Daripada sendirian."
Mereka pun masuk ke dalam minimarket.
Begitu pintu otomatis terbuka...
Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut.
Angela berjalan pelan di samping Raymond.
Matanya melihat-lihat rak makanan.
Tanpa sadar, dia mengambil roti yang harganya paling murah.
Raymond memperhatikan dari samping.
"Kok itu?"
Angela tersenyum kecil.
"Yang penting kenyang."
Raymond mengambil roti itu dari tangan Angela.
"Lho?"
Terus dia mengembalikannya ke rak.
"Ray?"
Raymond mengambil dua roti isi, susu, air mineral, dan beberapa buah.
"Ini aja."
Angela langsung melotot.
"Ray!"
"Hm?"
"Kebanyakan."
"Nggak."
"Ini mahal."
Raymond memasukkan semuanya ke keranjang.
"Masih wajar."
Angela buru-buru mengambil satu per satu barang dari keranjang.
"Nggak usah."
"Ini aja cukup."
Raymond memasukkan lagi barang-barang itu.
Angela mengeluarkan lagi.
Raymond memasukkan lagi.
Angela mengeluarkan lagi.
Karyawan minimarket yang melihat mereka sampai menahan senyum.
Seorang ibu-ibu yang lagi belanja ikut melirik sambil terkekeh.
"Mas..."
bisiknya ke suaminya.
"Lihat deh."
"Kenapa?"
"Pasangan muda itu lucu banget."
"Ceweknya hemat."
"Cowoknya nggak mau kalah."
Angela yang nggak sengaja dengar langsung membeku.
"Hah?"
Mukanya seketika merah.
Dia buru-buru melambaikan tangan.
"Bu... kami bukan..."
Belum sempat kalimatnya selesai...
Raymond udah mendorong keranjang ke arah kasir.
"Mbak, sekalian."
"Lho, Ray!"
Angela langsung mengejar.
"Kan aku belum selesai ngomong!"
Raymond berhenti di depan kasir.
"Apa?"
"Itu tadi..."
Angela menurunkan suaranya.
"...ibu itu ngira kita pacaran."
Raymond terdiam beberapa detik.
"Oh."
Angela berkedip.
"Oh doang?"
"Iya."
"Kamu nggak malu?"
Raymond menatap Angela dengan wajah datar.
"Kenapa harus malu?"
Angela langsung kehabisan kata-kata.
"I-itu..."
Raymond mengambil dompetnya.
"Ayo."
"Kita masih harus cepat sampai."
Angela cuma bisa menatap punggung Raymond sambil menggeleng pelan.
"Ih..."
"Masa sih ada orang setenang ini..."
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y