NovelToon NovelToon
Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Dokter Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Harem
Popularitas:87.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Arka melihat Liana yang tersenyum terlalu polos dan langsung merasa urat di pelipisnya bergerak.

"Kalau mau terapi, bilang saja terapi. Jangan dibuat seperti transaksi aneh."

"Aneh di mana?" Liana memeluk bantal sofa, matanya melengkung. "Orang yang pikirannya bersih tidak akan merasa aneh."

Arka menatapnya.

Liana membalas tatapan itu tanpa dosa.

Dari tangga, Bianca turun dengan pakaian rumah warna putih gading. Rambutnya disanggul longgar, beberapa helai jatuh di dekat leher. Ia tampak lebih santai daripada saat di kantor, tetapi justru itu membuat Arka harus mengingatkan diri untuk tidak menatap terlalu lama.

"Kalian bicara apa?"

Liana langsung mengangkat tangan seperti murid teladan.

"Bu Bianca, Arka bilang teknik terapinya sangat bagus. Aku menawarkan diri jadi pasien percobaan."

Arka hampir tertawa karena marah.

"Kamu yang minta."

"Aku hanya membantu."

Bianca menatap Arka. Ada lelah di matanya, tetapi sudut bibirnya bergerak tipis.

"Sofa cukup panjang. Kalau memang tidak merepotkan, kamu bisa bantu kami berdua sebentar."

Liana langsung bersorak kecil. "Nah. Perintah atasan."

Arka menatap sofa panjang di ruang tamu. Sofa itu memang cukup besar untuk dua orang berbaring bersebelahan. Kalau hanya terapi kepala, tidak ada masalah. Masalahnya, satu adalah Bianca yang dingin dan terlalu cantik, satu lagi Liana yang baru semalam membuat hidupnya kacau di hotel.

Ia menarik napas.

"Baik. Tapi jangan banyak bicara saat terapi."

"Itu syarat berat," kata Liana.

Bianca berbaring lebih dulu di sisi kanan sofa. Tangannya terlipat rapi di perut, matanya menutup, tubuhnya tetap punya sikap seperti sedang rapat walau sudah di ruang tamu sendiri.

Liana berbeda. Ia berbaring miring di sisi kiri, satu tangan menyangga kepala, mata tetap terbuka menatap Arka.

"Aku dulu."

Arka melihat Bianca.

Bianca tidak membuka mata. "Biarkan dia dulu. Kalau tidak, dia tidak akan diam."

"Bu Bianca mengenalku terlalu baik."

"Itu bukan pujian."

Liana tertawa, lalu menggeser kepala mendekat ke tepi sofa. Arka duduk di kursi rendah di sampingnya. Jarak mereka membuat Liana kembali tersenyum nakal.

"Mulai, Pak Terapis."

"Tutup mata."

"Takut aku menatapmu?"

"Takut kamu banyak komentar."

Liana akhirnya menutup mata.

Arka meletakkan ujung jarinya di pelipis Liana. Qi Hantala mengalir tipis, tidak sekuat saat menyembuhkan penyakit, hanya cukup untuk mengurai tegang di saraf dan membuat aliran darah kepala menjadi lembut.

Awalnya Liana masih ingin bercanda. Bibirnya sudah bergerak, tetapi tekanan jari Arka tepat mengenai titik yang membuat kata-katanya putus.

"Hmm..."

Suara itu keluar kecil.

Liana langsung menutup mulut sendiri, wajahnya memerah.

Arka pura-pura tidak mendengar. Jarinya bergerak dari pelipis ke garis rambut, turun ke belakang telinga, lalu kembali ke dahi. Tidak ada gerakan berlebihan, tetapi tekniknya membuat rasa lelah seperti ditarik keluar sedikit demi sedikit.

Liana yang biasanya tidak bisa diam akhirnya melembut seperti kucing yang disisir.

"Gila," gumamnya pelan. "Ini enak sekali."

"Diam."

"Aku sedang memuji."

"Pujianmu berisik."

Bianca yang berbaring di sebelahnya mengeluarkan tawa sangat pelan.

Beberapa menit kemudian, Arka menarik tangan.

"Selesai."

Liana membuka mata dengan wajah tidak puas.

"Sebentar sekali."

"Kamu sudah terlalu santai."

"Aku merasa kepala ringan." Ia duduk dan memutar leher. "Tidak adil. Bu Bianca menemukan sopir, konsultan, dokter, terapis, semua dalam satu orang. Kalau begini aku juga mau paket langganan."

"Bayar."

"Aku punya status pacar evaluasi."

"Diskon tidak berlaku."

Liana menendang udara dengan kaki telanjang, tetapi senyumnya tidak hilang.

Arka pindah ke sisi Bianca.

Wanita itu sudah tertidur.

Napasnya panjang dan lembut. Alis yang biasanya sedikit tegang kini mulai turun. Liana melihat itu dan berhenti bercanda.

"Dia benar-benar capek," bisiknya.

Arka mengangguk. Ia mengambil selimut tipis dari sandaran sofa, menutup tubuh Bianca sampai bahu, lalu duduk di dekat kepala wanita itu.

Jarinya menyentuh pelipis Bianca dengan jauh lebih ringan.

Untuk Bianca, ia tidak hanya mengurai tegang. Ada sisa racun lama, ada kekacauan tidur, ada tekanan yang ditahan bertahun-tahun. Qi Hantala bergerak pelan seperti air hangat, menyusuri titik kepala, leher, dan bahu.

Bianca tidak terbangun. Justru tidurnya makin dalam. Wajah dingin itu kehilangan sebagian jarak. Dalam cahaya lampu ruang tamu, ia tampak seperti perempuan muda yang akhirnya diizinkan berhenti menjaga dunia sebentar.

Liana duduk bersila di lantai dekat sofa, memandangnya dengan wajah lebih tenang.

"Dia jarang tidur seperti itu."

"Sering begadang?"

"Sering tidak tidur." Liana memeluk lutut. "Kadang aku masuk kantor pagi, dia masih memakai baju semalam. Dokumen di meja bertambah, kopi dingin di sebelah tangan."

Arka menarik jarinya setelah beberapa menit.

"Biarkan dia tidur."

"Kamu mau pulang?"

"Iya."

Rencana awalnya adalah membuat Bianca tertidur lalu mencari petunjuk di rumah. Tapi Liana berada di sini. Wanita itu mungkin terlihat ceroboh, tetapi matanya tajam. Kalau ia bergerak sembarangan, justru akan menimbulkan masalah.

Arka berdiri.

Liana ikut berdiri dan mendekat.

"Sudah malam. Kamar tamu banyak."

"Aku pulang."

"Takut?"

"Belajar dari pengalaman, kalau kamu bilang kamar tamu, biasanya masalah berikutnya sudah antre."

Liana memukul lengannya pelan.

"Aku serius. Kamu nyetir malam-malam capek. Tinggal saja."

Justru karena nada Liana terlalu serius, alarm di kepala Arka berbunyi lebih keras.

"Tidak. Aku masih harus pulang."

"Pulang ke Yulia?"

Arka tidak menjawab.

Liana menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum setengah.

"Baik. Pergi sana, pengecut."

"Terima kasih atas izinmu."

Arka keluar dari vila. Udara malam membuat kepalanya lebih dingin. Ia masuk ke mobil, menyalakan mesin, tetapi tidak langsung pergi.

Kesempatan malam ini hampir hilang.

Hampir.

Ia memejamkan mata dan mengaktifkan teknik penglihatan. Cincin giok di jarinya membantu menahan beban, membuat pandangannya kali ini jauh lebih stabil daripada saat pameran batu.

Dinding vila perlahan menjadi bayangan.

Ruang tamu terlihat. Bianca masih tertidur di sofa. Liana tidak ada di sana.

Pandangan Arka naik ke lantai dua. Kamar utama kosong. Kamar tamu kosong. Di kamar mandi, air menyala.

Bayangan tubuh Liana tampak samar di balik uap dan kaca buram.

Arka segera menggeser pandangan.

Ia bukan datang untuk itu.

Kamar utama Bianca menjadi tujuannya. Di meja samping ranjang, ada bingkai foto yang pernah ia lihat sekilas. Arka memusatkan pandangan. Foto itu berisi tiga orang: perempuan muda yang lembut, pria berwajah tegas, dan anak perempuan kecil yang jelas Bianca.

Jantung Arka berdebar.

Ia keluar dari mobil tanpa suara, memanjat sisi balkon dengan bantuan qi, lalu masuk lewat pintu geser yang tidak terkunci penuh. Gerakannya cepat, tidak menyentuh apa pun selain bingkai foto.

Ia mengambil beberapa foto close-up dengan ponsel, memastikan wajah pria itu jelas.

Setelah bingkai kembali tepat di tempat semula, Arka mundur keluar dan kembali ke mobil dalam waktu kurang dari dua menit.

Begitu duduk, ia mengirim foto itu ke Yulia.

`Arka: Tolong minta Pak Mahendra lihat. Apakah pria ini rekan lamanya?`

Pesan terkirim.

Arka baru menyalakan mobil ketika ponselnya berbunyi.

Nomor Nirwana Club.

Ia mengerutkan kening. Setelah menjadi sopir pribadi Maya, jarang ada orang klub menghubunginya lewat nomor depan.

"Halo?"

Suara supervisor lama terdengar panik sekaligus iri.

"Arka! Kamu di mana? Cepat balik ke Nirwana. VIP 8 Utama minta kamu."

"Saya sudah tidak jadi pelayan."

"Aku tahu. Semua orang tahu kamu sekarang sopir Bu Maya. Tapi tamunya bayar Rp1 miliar hanya untuk memastikan kamu datang."

Arka hampir mengira salah dengar.

"Berapa?"

"Rp1 miliar. Dua wanita. Cantik sekali. Mereka bilang kalau bukan kamu, mereka tidak mau dilayani."

Arka memegang kemudi lebih kuat.

Dua wanita membayar Rp1 miliar untuk memanggil mantan pelayan?

Ini bukan keberuntungan.

Ini jebakan dengan wangi parfum mahal.

"Bang Jaya tahu?"

"Sudah. Justru beliau minta kamu datang dan layani baik-baik."

Arka menghela napas.

"Baik. Saya ke sana."

Ia memutar mobil menuju Nirwana Club.

Malam yang katanya baru mulai ternyata belum berniat selesai.

1
Sampe Batara
bagus menarik untuk dibaca
Don Juan
Lanjut Thor
Sampe Batara
👍 menarik untuk dibaca
Ismed Aidil
sudah 3 hari gak bisa lanjutan cerita, ya saya hapus aja aplikasi ini ! kecewa banget !
Jefry Maarebia
kalau di baca enak alur ceritanya ,aku puas membacanya ,lanjut..bosku.......
Ismed Aidil
mantap...lanjut thor !
Ismed Aidil
wau seru banget
Don Juan
Mantap thor👍
Ismed Aidil
lanjut cerita
Eva Rosita
up yg banyak and tiap hari ya thor💪
Ismed Aidil
seru sekali cerita nya
Don Juan
Good job Thor
Ismed Aidil
tambah seru !
Dian Purnomo
lanjut thor
Dian Purnomo
tnkyu thor
Don Juan
Terima kasih updatenya thor👍
Don Juan
Ditunggu kelanjutan ceritanya thor👍
Don Juan
Good job
Ismed Aidil
seru, lanjut !
Ismed Aidil
seru banget ! lanjut !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!