Kabir hanyalah pemuda biasa yang bekerja sebagai satpam, harus menghadapi kekejaman di dalam hidupnya yang tidak pernah terbayangkan. Ia harus melawan takdirnya untuk selamat dari permainan kesenangan seseorang yang memiliki banyak uang.
Di Pulau Kematian ia bertemu banyak orang yang bernasib sama dengannya yaitu penculikan, ia bertemu dengan wanita cantik yang lembut bernama Kirana yang selalu menolong orang lain dari pada dirinya sendiri hingga cinta dan kasih pun tumbuh di antara keduanya.
Kabir juga bertemu dengan sahabat satu pekerjaannya Hendro dan model juga artis dunia Mona.
Mereka berempat berusaha untuk mempertahankan nyawa dan keselamatan mereka juga semua korban penculikan.
Mampukah mereka melawan takdir yang sudah ditentukan oleh Alberto seorang konglomerat kejam?
Mampukah mereka selamat dari jebakan dan permainan di Pulau Kematian dengan taruhan nyawa?
Diselingi intrik percintaan lokasi yang mengharu biru dan lucu.
Penasaran ... Ayo simak kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syafridawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah ketetapan
Para pion hanya diam tanpa bergeming, mereka merasa belum siap untuk maju bertempur lagi. Selain itu mereka tidak ingin anak buah Alberto Kuro mengetahui tempat persembunyian mereka,
karena hanya gua inilah satu-satunya tempat teraman yang mereka miliki, mereka tidak ingin dihancurkan oleh kaki tangan Alberto Kuro.
Mereka terus mendengarkan setiap derap langkah di atas mereka, di atas permukaan bumi kaki tangan Alberto Kuro sedang mencari persembunyian para pion yang sangat meresahkan atasan mereka.
Sebagian teknisi berusaha untuk memulihkan pasokan listrik, akan tetapi pasokan listrik mereka tidak bisa dipulihkan lagi. Alberto Kuro harus Menyediakan alatnya terlebih dahulu,
sementara jauh di oasis di sebuah pohon gerowong, Kabir dan Kirana mencoba untuk keluar ruangan. Namun, karena suasana terlalu gelap, hanya cahaya rembulan yang sedikit mengintip di balik awan yang mendung.
Kabir melihat sebuah siluet dari kilatan pedang juga kilatan cahaya lampu sebuah senter, "Kirana sepertinya ada yang datang, kemari!" ucap Kabir. "Benarkah?!" jawab Kirana.
Kirana pun mencoba untuk mengikuti arah pandangan mata Kabir keduanya melihat, berapa anak buah Alberto melangkahkan kakinya menuju ke arah mereka.
Secepat kilat Kabir keluar dari dalam pohon gerowong bersama Kirana, keduanya menaiki dahan pohon mencoba untuk membekuk salah satu anak buah Alberto.
Mereka berusaha untuk mengambil senjata mereka, karena mereka hanya memiliki sangkur, sebagai senjata dan mereka mencoba untuk mempertahankan kehidupan dan nyawa hanya itukah yang masih mereka mikiki.
Kabir mengintip disela dedaunan pohon, "Kirana, berhati-hatilah!" bisik Kabir.
Ia merasa kali ini anak buah Alberto memiliki kekuatan yang berbeda, tidak seperti biasanya.
Anak buah Alberto Kuro mulai memasuki hutan kecil, melewati pohon yang menaungi Kabir dan Kirana. Kabir membekap dan menewaskan salah satu anak buah Alberto Kuro yang paling belakang, ia mengambil senjata m60 miliknya.
Kirana di atas pohon memperhatikan setiap gerak gerik Kabir, ia pun mempraktikkannya. Kirana meluncur turun, membekap mulut dan menusukkan sangkur ke leher dari balik punggung musuhnya.
Kirana mengambil semua perlengkapan senjata dan kembali menyelinap, ia bersembunyi di balik semak.
Kirana melihat Kabir sudah menyeret beberapa musuh ke balik semak lainnya,
"Kabir, memang luar biasa!" batinnya senang. Ia merasa sedikit nyaman bersama Kabir, Kirana merasa Kabir selalu melindunginya di mana pun ia berada.
Mereka saling bahu membahu menghabisi semua anak buah Alberto Kuro, secara diam-diam mereka menghabisi satu per satu tanpa diketahui yang paling depan.
Komandan mereka yang paling depan menoleh ke belakang, karena ia merasakan kesunyian dari langkah kaki yang semangkin sedikit mengikutinya.
Ia menghitung jumlah yang sudah menghilang dari setengah batalyonnya tanpa suara, "Sial, perhatian sekitar kalian! Sepertinya sebagian teman kita sudah tewas," Teriak si komandan dengan berangnya.
Para tentara gadungan langsung membentuk lingkaran, menajamkan setiap indra pendengaran dan penglihatan mereka.
Kirana dan Kabir di sisi kanan-kiri berusaha untuk menahan langkah mereka, terdiam untuk tidak bergerak tanpa bergeming sedikit pun.
Nyalak anjing pelacak semangkin kuat dan ramai membuat gaduh di gurun di kejauhan di belakang mereka, Kabir menyadari tempat itu adalah gua persembunyian para pion.
"Apakah mereka sudah tertangkap semua?" batin Kabir sedikit cemas.
Ia bingung harus melakukan apa, sementara di kegelapan malam yang pekat ia masih saja terus mencoba menumbangkan beberapa tentara gadungan.
Kirana menggenggam sangkurnya dan M60 di pangkuannya, ia juga sama bingungnya dengan Kabir. Ia ingin menolong semua temannya, ia memeriksa selongsongan pelurunya.
"Masih penuh peluru, hanya saja ... bila aku menembak sekarang. Mereka pasti akan memberondongku bak binatang buruan, apa yang harus aku lakukan?" batinnya bertanya.
Kabir masih saja berdiam diri, ia berusaha untuk tetap tenang, "Semoga saja, Kirana tidak gegabah!" batinnya sedikit berkecamuk.
Ia takut Kirana akan melakukan suatu kesalahan, Kabir meraih sebatang kayu di tanah. Ia melemparkan kayu ke tempat yang jauh, sehingga suara kresekan kayu membuat para tentara yang sudah siap dengan senjatanya, memberondongkan peluru.
Mereka menembak, dengan membabi buta tanpa arah yang jelas, menghabiskan semua peluru dengan sia-sia.
Kirana ingin menembakkan senjatanya, namun ia tidak mendengar sedikit pun teriakan kesakitan Kabir. Ia semangkin cemas, "Apakah Kabir sudah tewas?" batinnya.
Kesedihan menghantui jiwanya, air mata tertumpah dengan sendirinya. Ia tidak menyangka hatinya begitu terpuruk akan sebuah kematian Kabir, ia merasa dunianya hancur seketika.
Kirana meringsut mendekat ke arah tentara mencoba mencari tahu keberadaan Kabir, tetapi ia tidak mendapati Kabir.
Sementara Kabir masih saja melemparkan potongan kayu lainnya, para tentara masih saja terus memberondongkan senjatanya.
Di saat mereka mengisi ulang pelurunya, Kabir dengan sigapnya menyerang dan menewaskan hampir semua sisa batalyon tentara gadungan.
Kirana memahami apa yang ingin disampaikan Kabir, ia pun melakukan hal yang sama. Kerja sama dan ide kreatif Kabir, mampu menyelamatkan mereka dari kematian.
Keduanya masih saja bersembunyi di balik semak perdu, mereka menunggu. Setelah mereka merasa bahwa semua tentara telah tewas, mereka muncul dan langsung mengambil sisa amunisi yang masih ada.
Keduanya berjalan secepat kilat, mereka saling pandang dan entah siapa yang memulai keduanya langsung saling berpelukan dan melu**t bibir masing-masing.
"Aku kira, aku telah kehilanganmu!" ucap Kirana. Ia tidak peduli lagi di sela-seka hangatnya ci**an keduanya, air matanya tertumpah. Ia tidak merasa malu lagi,
"Aku tidak akan meninggalkamu sendirian, di sini. Percayalah!" balas Kabir. Ia merengkuh lengan Kirana membawanya berlari menembus kabut malam yang pekat, meninggalkan kepedihan di belakang mereka.
Mereka berlari sejauh mereka bisa, menghindari malapetaka lain lagi yang sudah menanti mereka. Keduanya menghentikan langkah di tepi hutan oasis di tengah gurun, mereka melihat begitu banyaknya tentara.
Para tentara lengkap dengan amunisi dan kendaran lapis baja, genggaman tangan Kabir semangkin keras menggenggam Kirana. Ia semangkin bingung akan berlari ke mana lagi, semua sudah dipenuhi oleh anak buah Alberto Kuro.
Sementara mereka hanyalah berdua, kesembilan teman mereka entah di mana rimbanya. Seribu tanya di jiwa dan pikiran mereka, "Kirana, aku tidak tahu jalan mana yang akan kita tempuh! Maukah engkau terus bersamaku melewati semua ini?" tanya Kabir.
Pandangannya terus menatap ke depan, "Aku bersedia!" balas Kirana tanpa keraguan,
"Kamu tahukan, walau nyawa taruhannya?" tanya Kabir lagi.
"Percayalah, aku rela mati bersamamu! Rasanya sendirian di sini pun, aku sudah tidak mampu lagi," bisik Kirana.
Ia semangkin erat menggengam tangan Kabir, ia tidak tahu jalan mana lagi yang harus mereka tempuh. Ia hanya tahu ia sudah rela hidup dan mati bersama Kabir di Pulau Kematian ini, karena ia merasa tidak akan sanggup tanpa Kabir di sisinya.
Cahaya gemerlap senter dari kepala tentara ciptaan Alberto Kuro semangkin jelas, mereka mengitari gurun. Seakan mencari sesuatu di sana, akan tetapi mereka masih belum menemukannya.