Impian yang dibangun Luna selama bertahun-tahun bersama kekasihnya harus kandas.
Kekasihnya itu pamit tanpa memberikan alasan yang dapat dimengerti.
Luna hancur, padahal kekasihnya itu sudah berjanji akan mengenalkannya pada keluarga besar sang kekasih, setelah ia lulus kuliah.
Tapi malang tak dapat ditolak, kekasihnya itu membatalkan janji dan sumpahnya, tepat sebulan sebelum kelulusan Luna.
Setelah beberapa tahun berlalu, pria yang dulu membuat Luna patah hati kembali datang ke hidupnya.
Luna muak dan semakin membenci pria tersebut.
Akankah cinta Luna tumbuh kembali?
Atau Luna salah mengerti kenyataan? Karena ini adalah cinta yang baru.
Follow ig @poel_story27
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biarkan Saja Menyebar
Gio membawa Noemi ke sebuah Villa mewah milik keluarganya yang berada di kawasan Puncak Bogor. Rencananya mereka akan berlibur di sini selama Noemi tidak ada jadwal syuting.
Penjaga Villa itu menyambut kedatangan Tuan Mudanya dengan sigap, Di perjalanan tadi Gio memang sudah memerintahkan mang Didi menyiapkan kamar untuk mereka.
Gio dan Noemi menuju kamar masing-masing untuk beristirahat. Sore harinya mereka bersantai sambil menikmati pemandangan alam di sekitar villa, yang masih terjaga keasriannya. Udaranya pun masih terasa begitu sejuk, wajar jika warga Jabodetabek menjadikan daerah ini sebagai pelarian untuk berlibur, meningat sesaknya polusi udara di ibukota.
"Terimaksih, Gi. Setidaknya aku merasa lebih fresh bisa menghirup udara segar di sini. Berlama-lama di Jakarta membuat pernapasanku menjadi sesak, belum lagi lalu lintas selalu macet setiap harinya, sangat menyebalkan," keluh Noemi
"Kau tahu, selain polusi di ibukota, masih ada hal lain yang membuat napasku begitu sesak saat ini," ucap Gio.
Noemi mengkerutkan dahinya. "Apa itu?"
Gio terdiam sejenak, pikirannya melayang membayangkan entah sampai kapan dia akan diacuhkan olehnya. Gio ingin menyerah tapi dia merasa sudah kepalang tanggung, ingin terus maju tapi dia merasa usaha akan semakin sia-sia. Sementara itu semakin hari dia merasa semakin terikat kepada Luna.
"Hey, Gi. Aku bertanya padamu, mengapa kau malah melamun." Noemi melambaikan tangannya di depan wajah Gio. Yang membuat pria itu tersadar dari lamunannya.
"Eh, iya, Noe, kenapa?"
Noemi menggelengkan kepalanya. "Ciih, kau ini seperti orang yang sedang patah hati saja."
"Ya memang seperti itu," jawab Gio tanpa menutupi apa pun.
Mata Noemi membulat sempurna mendengar jawaban Gio, sebenarnya tadi dia hanya asal menebak saja. Tapi siapa sangka tebakannya itu dibenarkan oleh Gio.
"Apa aku tidak salah dengar, Gi?"
Gio menggelengkan kepalanya. "Itulah yang aku alami sekaranng."
Tawa Noemi langsung meledak saat Gio kembali menegaskan apa yang sedang ia rasakan sekarang.
Pertemanan Noemi dengan Gio bukan berlangsung satu atau dua hari. Mereka sudah dekat sejak sekolah menengah, jadi wajar Noemi langsung terpingkal mendengar kabar ini.
Gio yang dikenalnya adalah seorang pria yang menjadi rebutan para gadis di sekitarnya. Bahkan saat sekolah menengah Noemi sering menjadi sasaran kebencian dari para gadis pengangum Gio. Hanya karena mereka iri Noemi bisa dekat dengan Gio.
Lalu sekarang Giovanni yang sering mematahkan hati para gadis itu patah hati. Apakah ini karma?
"Memangnya siapa wanita yang bisa membuat seorang Giovanni meradang seperti ini?" tanya Noemi sambil berusaha menkondisikan tawanya.
"Namanya Luna," jawab Gio dengan tidak semangat.
"Luna?" Noemi mengkerutkan dahinya. "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Apa Dia Luna yang sama dengan wanita yang baru-baru ini memenangkan gelar sebagai desainer terbaik pada fashion show di Paris?"
Gio menganggukkan kepala. "Ya, dia adalah orangnya."
Saat seseorang terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan dengan mudah. Pasti akan menjadi pukulan telak baginya, ketika ia tidak bisa menggapai sesuatu yang sangat ia inginkan. Itulah yang saat ini dirasakan Gio.
"Ya, Tuhan, aku benar-benar penasaran ingin melihat langsung Luna ini. Sepertinya dia memang gadis yang sangat menarik," gumam Noemi yang lebih kepada diri sendiri.
Sebagai seorang aktris papan atas, Noemi juga mendapat undangan pada saat fashion show di Paris. Tapi saat itu dia tidak bertemu Luna, karena Luna sudah lebih dulu pulang ke Jakarta.
"Sebentar, Gi," ujar Noemi saat mendengar ponselnya berdering.
Noemi mengangkat panggilan yang tak lain adalah dari managernya. Wajahnya cantiknya itu langsung memerah padam, saat mendengar kabar buruk dari sang manager.
Setelah panggilan itu terputus, dia langsung membuka aplikasi media sosialnya, untuk berselancar di dunia maya.
"Dasar paparazi sialan!" geram Noemi saat melihat berbagai tajuk gosip tentang dirinya di internet.
Ditambah lagi banyaknya komentar miring, yang mengatakan bahwa dia hanya mengicar harta pewaris URM Group, membuatnya bertambah geram.
"Ada apa?" tanya Gio yang heran melihat wajah kesal Noemi, gadis ini sedang menahan amarah yang siap meledak-ledak di dalam dirinya.
"Kau Lihat saja sendiri!" Noemi menyerahkan ponselnya kepada Gio.
Alih-alih terkejut dengan gosip tentang kedekatannya dengan Noemi, yang menjadi trending tolik di jagat maya. Gio malah tersenyum merencanakan sesuatu.
"Mengapa kau malah tertawa? Kau suka aku hujat para netizen itu? Enak saja mereka mengataiku gadis pemburu harta!" kesal Noemi. "Aku harus menyuruh managerku untuk mengatur pertemuan dengan media-media besar. Kabar ini harus segera diklarifikasi."
"Bentar, bentar!" Gio menahan keinginan Noemi. "Biarkan kabar ini beredar untuk sementara."
Gio malah ingin menjadikan kabar ini untuk mengetahui perasaan Luna. Apakah dia akan cemburu mengetahui kabar ini? Tentu saja Gio sangat berharap dapat mengetahui perasaan Luna melalui kabar ini.
"Aku ingin kau mengkonfirmasi kedekatan kita kepada media," imbuh Gio.
Noemi melotot tidak percaya. "Kau ingin aku mati bunuh diri karena frustasi dihujat para netizen itu?"
"Ayolah, Noe. Sejak kapan kau peduli tentang gosip. Bantu aku kali ini saja, hanya sampai aku tahu bagaimana reaksi Luna saja."
"Bagaimana kalau dia malah membencimu?"
"Kalau dia membenciku, itu artinya dia memiliki perasaan kepadaku. Aku akan langsung membongkar sandiwara kita saat aku mengetahui reaksinya."
Melihat Gio begitu memelas, membuat Noemi tidak tega untuk menolak permintaan temannya itu. "Baiklah, aku akan membantu. Tapi kau juga harus membantuku memberikan klarifikasi yang sebenarnya saat kau selesai nanti."
Gio menggangguk sambil menyeringai lebar, sebelum menjawab permintaan Noemi dengan penuh semangat. "Itu bukan masalah."
Tapi seringaian Gio langsung menghilang, saat membaca sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.
"Sudahlah, Noe, kita tidak jadi pura-pura pacaran ...."
Bersambung.
Jangan lupa like vote dan komen ya.
Terimakasih.
Selagi menunggu episode selanjutnya.
Aku mau rekomendasiin karya kakakku, nih.
udah tamat lho, jadi nggak lama nunggu babnya, hehe ....
Judulnya "Mati Rasa''
Karya "Nazwa Talita"
Sementara sblm geovani meninggal blm sempet kasih tau siapa cewek yg harus di jaga gio
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu