NovelToon NovelToon
Mantan Nyebelin

Mantan Nyebelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 5
Nama Author: Evhae Naffae

"Kita putus saja, gue gak nyangka lo segendut itu, gue kira lo cuma montok saja. Sorry, gue gak suka sama cewek gendut." Begitulah isi pesan yang dikirim oleh Allan kepada Aline, setelah pertemuan pertama mereka.

Sejak saat itu, Aline bersumpah akan kurus dan melakukan diet ketat. Ia bertekad pas masuk SMA nanti, berat badannya sudah harus ideal.

Hem, entah jodoh atau kesialan, Aline malah satu SMA dengan Allan. Dan yang bikin ia makin spot jantung, mereka sekelas dengan posisi duduk berdekatan dengan si mantan nyebelin itu.

Apakah Aline dan Allan akan CLBK atau malah menjadi musuh bubuyutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evhae Naffae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Mimpi

Mantan Nyebelin

Bagian 34 : Bukan Mimpi

Kubuka mata perlahan dan berharap kehadiran Allan tadi malam bukanlah mimpi.

"Selamat pagi, My wife," sambutnya seraya mendaratkan kecupan di dahiku.

Aku segera duduk dan menyipitkan mata menatapnya yang masih berbaring di tempat tidur.

"Ini benaran lo, Lan?"

"Iyalah, abisnya siapa lagi." Dia tersenyum menatapku.

"Eh, lo gak ngapa-ngapain gue 'kan semalam?!" tanyaku sedikit parno, entah setan apa yang telah merasukiku.

"Ya nggaklah, My wife. Cuma meluk doang kok."

"Awas lo ya, kalau gue sampai hamil!" Kuarahkan jari telunjuk ke hadapannya.

"Hahaaa, kambuh deh!" Allan melempar bantal ke wajahku sambil terbahak.

Aku melengos menatapnya yang hanya cengengesan dengan rambut berantakan itu.

"Kok muncul tiba-tiba gini sih?" tanyaku sambil ngeloyor menuju kamar mandi.

Segera kukunci pintu kamar mandi dan mencuci wajah lalu gosok gigi.

Aku keluar dari kamar mandi, dan gantian Allan lagi yang masuk sambil membawa handukku.

"Eh, kok handuk gue?"

"Pinjam, Ndut .... " jawabnya sambil menutup pintu kamar mandi.

Beberapa saat kemudian, Allan sudah keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Sepertinya ia udah mandi. Ia mengambil pakaian di dalam tas ransel kemudian masuk kembali ke kamar mandi. Aku mengamati tingkahnya sambil tengkurap di atas tempat tidur.

Kini Allan sudah keluar lagi dari kamar mandi dengan setelan kaos oblong putih dan celana pendek berbahan jeans. Ia berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutnya.

"Lan, udah mau pulang lo?" tanyaku melihat tampilan rapinya.

"Kenapa emangnya? Lo gak mau gue tinggal lagi, ya?" Ia menatapku dengan menahan senyum.

Aku hanya diam sambil menggigit bibir. Jujur, gue belum mau dia pergi.

"Kalo lo gak mau kita pisah lagi, ya udah ... kawin lari aja yuk!" Allan mendekat dengan senyum jahilnya.

"Isshhh, lagi-lagi itu," gerutuku dengan bibir manyun.

"Hahaaa .... " Allan tertawa sambil mengacak rambutku.

"Ih, entar kusut, Lan!" omelku kesal sembari menjauh darinya.

"Buruan mandi sana, Ndut! Kita jalan-jalan keluar."

"Mau ke mana?"

"Lo maunya kita ke mana? Ke hotel, mau?" tanyanya dengan tersenyum jahil dan mendekatkan wajah kepadaku.

"Ih, kok dari tadi mesun aja sih!" Kudaratkan jari telunjuk di dahinya, lalu mencubit pinggangnya keras-keras.

"Agghh, Ndut, tiga bulan gak ketemu malah diKDRT begini!" omelnya sambil kembali merebahkan diri.

"Eh, Lan, lo gimana bisa ke sini tiba-tiba sih? Emang dapat duit dari mana buat beli tiket pesawatnya? Apa lagi-lagi nyolong ATM bokap lo?" tanyaku beruntun.

"Dari gaji gue tiga bulan kerja di Cafe, my wife. Semula mau beli ponsel, tapi ... gue pending dulu deh, bulan depan aja. Gue gak bisa lama-lama jauh dari lo, Ndut. Gak kuat gue nahan rindu," jawabnya sambil memejamkan mata dan meletakkan tangan di dahi.

Aku terharu banget mendengar penuturan cowok pentakilan yang suka bertindak di luar dugaan itu. Allan, kamu so sweet banget sih? Mataku jadi berkaca-kaca, lalu mendekat padanya dan memeluk tubuh yang sekarang terlihat lebih kurus itu.

"Hey, gak usah mewek gini!" Allan bangkit dan menghapus air mata di pipiku.

Aku hanya diam, dan berusaha menahan tangis.

"Mandi sana, Ndut! Gue kangen jalan berdua ama lo."

"Lo kapan pulangnya?"

"Besok. Hari ini gue buat lo."

Sekali lagi aku memeluknya, kemudian menyambar handuk dan berlari ke kamar mandi. Tak lupa juga sekalian membawa pakaian ganti.

Saat aku keluar dari kamar mandi, Allan sedang duduk di dekat jendela sambil menikmati sebatang rokok. Aku mendekat dengan tampang marah.

"Sejak kapan lo merokok, Lan?" tanyaku ketus sambil mengambil rokok dari mulutnya dan membuangnya ke jendela.

"Hey!" Ia menatapku dengan terkejut.

"Gue gak suka lo merokok, ya!" bentakku dengan tatapan nyalang.

"Iya, Sayang. Gue gak bakal merokok lagi ... demi lo," jawabnya sambil meraihku ke dalam pelukannya.

"Ih, gue gak suka cowok bau rokok!" ujarku ketus sambil mendorong tubuhnya.

Allan tertawa sambil menupuk-nupuk pakaiannya, berusaha menghilangkan bau rokok.

"Gue mau ke dapur," ujarku sambil membalik tubuh menuju pintu kamar.

Kulirik Allan yang terlihat kesal. Maaf, Lan, aku gak maksud buat ngatur-ngatur hidup kamu. Tapi, aku emang gak suka cowok bau rokok. Aku mau kamu yang dulu, biar pun bandel tapi tetap dalam batasan.

Beberapa saat kemudian, aku sudah kembali lagi ke kamar dengan sepiring spagetti spesial buat dia, suami masa depan dan calon papa buat anak-anakku nanti.

Ketika aku sampai di kamar, Allan gak ada. Astaga, ke mana dia? Hati ini mendadak pilu, marahkah dia karena sikapku tadi?

Aku berlari ke jendela sambir menggigiti jari, air mata hampir luruh tak tertahan.

"Allan, lo kok tega banget pergi tanpa pamit begini? Lo marah ya ama gue? Gue minta maaf, Lan!" ratapku sambil menyeka air mata. "Gue udah masak buat lo, hiksss .... "

Tiba-tiba, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan Allan keluar dari sana sambil menatapku heran. Rambutnya masih basah, dia melangkah menghampiriku sambil mengelap rambutnya.

"Kenapa, Ndut?" Allan mendekat sambil mengusap pipiku yang sudah banjir air mata.

"Gue kira lo udah pergi tanpa pamit gara-gara gue marahin lo merokok, mana udah dimasakin lagi .... "

"Hahaaaa, ya nggaklah. Gue 'kan mandi lagi, kata lo gue bau rokok," ujarnya sambil meraihku ke dalam pelukannya. "Gue gak bisa marah ama lo, my wife."

"Ya udah, ayo makan dulu!" Aku melepaskan pelukannya sambil mengambil piring spagetti dari atas meja dan menyodorkan padanya.

Allan duduk meleseh di samping tempat tidur yang menghadap ke jendela, tempat favorit kami kalau duduk makan.

"Makan dulu, Lan!"

"Suapin!" jawabnya sambil mengulum senyum.

Aku menahan tawa dan kemudian menyuapkan satu sendok spagetti ke mulutnya.

"Enak, Ndut!" pujinya.

"Belum juga ditelan, udah bilang enak aja."

"Apa pun yang dimasak istri masa depan gue, semuanya terasa enak," pujinya lagi.

Hmmm, aku tersenyum senang mendengar pujiannya yang membuat wajahku merona karena menahan malu.

Setelah selesai makan, aku langsung berkemas buat pergi bersamanya. Sedangkan Allan berbaring di atas tempat tidur sambil mengotak-atik ponselku. Entah apalagi yang akan diperbuatnya kali ini? Terakhir, dia menghapus semua kontak nama laki-laki. Aku menghela napas mengingat tingkah posesifnya.

Beberapa saat kemudian, Aku sudah siap untuk pergi bersamanya.

"Ayo, Lan! Gue dah siap," ujarku padanya.

"Masih sering chat sama Raka lo?" tanyanya menyelidik.

Aduh, aku bisa seceroboh ini, aku selalu lupa menghapus bekas chat.

"Liat aja, cuma gue balas alakadarnya kok," jawabku pelan.

"Terus, kalo Mr. Lee siapa?" tanyanya lagi.

Wuh, kini isi chatku dengan Mr. Lee yang akan dibahasnya. Isinya cuma seputar pelajaran kok.

"Dia guru les privat gue, Lan. Udah ah, buruan ... katanya mau ngajakin jalan?!" Aku menatapnya jengkel.

Allan bangkit dari tempat tidur mendekat padaku.

"Awas ya kalo berani selingkuh! Gue santet kalian!" ancamnya sambil memencet hidungku.

"Issss, gitu deh. Awas aja kalo gue udah setia gini, lo yang malah main belakang, gue bom kalian!" ancamku tak kalah sengit.

"Hahaaa .... " Allan terbahak, kemudian mengemasi barang-barangnya.

Ketika kami sudah siap pergi, tangan juga udah gandengan. Tapi, langkah kaki berhenti di depan pintu kamar, dan kini malah saling pandang.

"Lan, kita keluarnya lewat mana? Di bawah ada Bang Aldi loh .... " Aku meringis.

"Iya, Ndut ... gue juga bingung."

"Gimana dong?" Aku menatapnya gusar.

Lima menit berlalu, tiba-tiba Allan langsung menggandengku keluar dari kamar.

"Lan!!!" lirihku.

"Udah, my wife, ayo deh! Palingan juga dinikahin, heheee .... " Dia malah nyengir tanpa beban.

Ya elah, Allan, aku baru kelas XI SMA belum siap kalau dinikahin! Oh, tidak!

Bersambung ....

1
Astia Sulastri
ahhh.. udah seneng aja karna happy ending. tp ada tapinya ini. nikahnya ga sah dong klo hamil... kenapa mesti ada hamil anak mantan sih. othor mah labil bgt. ga happy ending itu namanya. ketwan lah biar ditutupin 5 bulan soalnya hamilnya. kok aku JD greget ya. padahal cuma novel
Kahfi Maulana
Luar biasa
Erni Fitriana
mampir
Anita Cristiari
masih ditunggu lanjutannya
Anik Chiffon
bang aldi sakit..
Anik Chiffon
faiz kah..
ratna
salaj kamu sialan!!! sok jd pahlawan
ratna
emang sialan siAlan itu
Lia Yonk
koq aku jadypgn aline sm fais yah
Lia Yonk
gemesin semua ih, tapi tetep si Alan di hati
Lia Yonk
sm faiz aja deh
Lia Yonk
kl visual allan nya kyk gini sih gw setuju aline sm allan
Lia Yonk
ngakak bacanya aline aline
🦋stary🌼🌸🌼
author sehat kan... gara gara ada yang ngelike komen ku jd keinget lagi novel ini... dan ternyata blm ada lanjutannya sampe sekarang...
Cinta Meylinda
iya torch sama Faiz aj
kak pii
mampir ini penasaran..
Erna Pujii
bikin mewek tor
Erna Pujii
lanjut makin seru
Marsih Sih
mana cerita anak mantan thuor kok ngak ada
Nurul Hidayah
Thor aku gak setuju klu Aline balikan lg sm Allan, aku lebih suka dia sm farhan Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!