NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Dan Rasa

Belenggu Janji Dan Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: "Emy"

seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Tika melirik ke arah luar, lalu merapikan buku catatan sejarah yang dipinjamnya dari Nina. Ia berdiri dari tikar, bersiap untuk pamit pulang. "Ra, udah makin gelap nih. Gue pamit pulang dulu ya. Lagian melihat lu udah bisa senyum dan kelihatan baik-baik saja setelah kejadian di ruang BK tadi siang, gue udah tenang banget," ucap Tika dengan senyum hangat, tulus merasa lega karena sahabat setianya tidak jatuh terpuruk.

Tika kemudian menoleh ke arah Alden yang sejak tadi masih duduk mematung dengan pikiran yang berkecamuk hebat akibat urusan korek api mewah tadi. "Yuk, Alden! Malah bengong lagi. Anterin gue balik sekalian, motor lu kan nganggur tuh di depan gang."

Alden tersentak dari lamunannya. Meskipun hatinya masih dipenuhi rasa penasaran yang membakar dan niat kuat untuk segera menginterogasi Roy tetangga sebelah, ia sadar tidak bisa berlama-lama di sini tanpa alasan yang jelas. Ia pun ikut berdiri, memaksakan senyum tipis ke arah Rara, Fino, dan Nina.

"Gue balik dulu ya, Ra... Fin, Nin," pamit Alden dengan suara yang agak berat, matanya sempat melirik sekali lagi ke arah tirai dapur sebelum melangkah keluar pintu bersama Tika.

Fino yang melihat kedua tamu itu akhirnya pulang langsung mengembuskan napas lega yang sangat panjang, bersiap mengunci pintu kontrakan sebelum sang kakak ipar keluar dari persembunyiannya lagi.

Begitu motor sport Alden menderu pergi menjauhi gang, Fino langsung menutup pintu kayu kontrakan dengan cepat.

Cklek.

Pintu terkunci aman.

Fino membalikkan badannya dengan senyum miring yang sangat lebar. Ternyata, mata jeli cowok itu tidak melewatkan momen epik di ruang tamu tadi. Ia melihat dengan jelas bagaimana pipi Rara mendadak merona merah padam setelah dibisiki oleh sang mafia bertopi.

"Cieee... Bos Rara! Yang habis dibisiki bidadari penolong langsung berubah jadi kepiting rebus!" goda Dino dengan nada cemprengnya yang sengaja dilebay-lebaykan. Ia menangkupkan kedua tangan di pipinya sendiri, meniru gaya orang kasmaran yang super norak.

 "Aduh, Abang sayang... bisikin aku lagi dong, Bang~ Hahaha!"

"Finooo! Diam nggak!" pekik Rara dengan wajah yang kembali memanas karena malu dan kesal. Ia menyambar sebuah serbet kain di dekatnya dan melemparkannya ke arah Fino, namun adiknya yang tengil itu dengan lincah berhasil menghindar sambil tertawa terbahak-bahak.

Karena tidak tahan terus-menerus diledek, Rara memilih kabur melarikan diri ke arah dapur belakang. Langkah kakinya begitu terburu-buru, matanya sibuk melirik ke belakang untuk memastikan Fino tidak mengejarnya. Akibat tidak fokus memperhatikan jalan di depan—

Bugh!

Dahi Rara menghantam dada bidang yang sekeras batu karang. Rara terhuyung mundur, namun sebuah tangan kekar dengan sigap melingkar di pinggang rampingnya, menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh ke lantai semen.

Rara mendongak dengan napas terengah-engah. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang saat menyadari dirinya baru saja menabrak tubuh tegap Athur yang baru selesai menerima telepon rahasianya. Topi dan masker hitam pria itu sudah dilepas, menampilkan wajah rupawan nan tegas dengan rahang kokoh yang menawan.

"M-maaf, Mas... aku gak sengaja, tadi Fino..." Rara berucap dengan terbata-bata, jemari mungilnya meremas kemeja Athur karena gugup yang luar biasa.

Melihat kegugupan istri kecilnya yang begitu menggemaskan dengan mata bulat yang berkedip panik, jiwa predator Athur terusik. Sudut bibirnya terangkat, menampilkan seringai tipis yang sarat akan godaan. Athur sengaja tidak melepaskan dekapannya, justru semakin mempererat pelukannya pada pinggang Rara hingga tubuh mereka tidak menyisakan jarak.

"Kenapa terburu-buru? Sengaja ingin menabrak saya?" bisik Athur, kali ini menggunakan suara aslinya yang berat, dalam, dan sangat jantan, langsung di depan wajah Rara. "Atau kamu merindukan bisikan saya yang di depan tamu tadi, hm?"

Wajah Rara benar-benar sudah matang karena malu. Di tengah atmosfer dapur yang mendadak berubah menjadi sangat intens dan romantis, Athur menatap lekat-lekat bibir tipis Rara yang sedikit terbuka. Sebagai pria dewasa, ia tidak bisa menahan diri lagi melihat tingkah polos gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya ini. Athur menundukkan kepalanya perlahan, memangkas jarak, bersiap untuk mendaratkan sebuah ciuman di bibir Rara.

Rara refleks memejamkan matanya, meremas kemeja Athur semakin kuat.

Sreeet!

"Kak Rara, itu—eh?!"

Pintu tirai dapur tiba-tiba disibak dengan kasar. Nina melangkah masuk dengan wajah polos, namun langsung membeku di tempat saat melihat posisi Kakak dan Kakak Iparnya yang sedang berpelukan sangat intim dengan wajah yang nyaris menempel.

Athur langsung menghentikan gerakannya, menghela napas pendek menahan gejolak yang terputus, sementara Rara dengan kecepatan kilat langsung mendorong dada Athur dan menjauh dua langkah dengan wajah yang sudah seperti kebakaran.

Nina yang menyadari dirinya baru saja merusak momen krusial langsung menjadi sangat gugup. Ia meremas ujung bajunya sendiri, memandang ke arah lantai semen dengan salah tingkah.

"M-maaf, Kak... Kak Rara, Kak Athur, Nina gak maksud ganggu..." cicit Nina dengan suara bersalah yang amat sangat. Namun, sejurus kemudian, perutnya justru berbunyi kruuuk cukup nyaring di dapur yang hening itu. Nina meringis malu sambil memegangi perutnya. "N-Nina udah lapar banget dari sore... kapan kita boleh makan malam?"

Mendengar kepolosan adik kembarnya Fino itu, ketegangan romantis di dapur seketika mencair, berganti dengan rasa canggung yang membuat Rara buru-buru menyambar sudit di atas kompor minyak demi menutupi rasa malunya yang sudah di ubun-ubun.

Agh!

Sebuah erangan rendah yang sarat akan rasa sakit lolos dari sela-sela bibir Athur. Wajahnya yang semula tenang seketika berubah tegang dengan rahang yang mengeras rapat. Dorongan kuat dari Rara yang panik karena kedatangan Nina tadi tepat mengenai area perutnya yang terluka parah akibat tembakan.

Rara yang berniat menjauh langsung membeku saat melihat perban di balik kemeja Athur kembali memerah dengan cepat. Darah segar merembes, menembus serat kain kemejanya yang berwarna cerah.

"M-Mas Athur! Ya ampun, lukanya berdarah lagi!"

pekik Rara dengan kepanikan yang luar biasa. Air matanya langsung menggenang karena rasa bersalah yang teramat sangat.

"Maaf, Mas... aku benar-benar ceroboh. Aku terkejut tadi..."

"Diam, Rara. Ambilkan kotak obat," potong Athur dengan suara rendah yang menekan rasa sakit, mencoba menenangkan istrinya agar tidak semakin histeris.

Dengan tangan gemetar, Rara menuntun Athur untuk duduk di tepi ranjang kamar tengah yang sempit. Ia bergerak secepat kilat mengambil sisa kasa bersih dan cairan antiseptik. Sementara Rara sibuk membersihkan darah dan mengganti balutan perban di perut tegap suaminya dengan penuh kehati-hatian, Nina di luar dapur tampak merasa bersalah. Mengetahui kakaknya sedang sibuk mengurus Kakak Iparnya, Nina memilih bergegas menata tikar dan menyiapkan menu makan malam sederhana mereka di tempat biasa dibantu oleh Dino yang mendadak diam tak berani meledek lagi.

Sementara itu, suasana di sebuah rumah yang hanya berjarak beberapa meter dari kontrakan Rara tampak sangat kontras.

Setelah mengantarkan Tika pulang dengan selamat, Alden langsung memarkirkan motor sportnya di depan rumah Roy. Rasa penasaran yang membakar dada dan kecemburuan remaja membuat langkah kakinya terasa sangat terburu-buru saat menerobos masuk ke teras rumah sahabatnya itu.

Begitu Roy keluar menemui, Alden tidak memberikan celah sedikit pun untuk basa-basi. Ia langsung mencengkeram bahu Roy dengan tatapan mata yang menuntut jawaban mutlak.

"Roy, jujur sama gue! Siapa cowok bertubuh tegap yang kemarin malam keluar masuk dari rumah Rara?" berondong Alden dengan napas memburu.

"Gue tahu lu pasti lihat sesuatu dari balik jendela kamar lu! Tadi pagi dia antar Rara ke sekolah, dan sore ini dia ada di dalam kontrakan itu pakai masker sama topi! Lu tahu sesuatu kan?!"

Roy yang biasanya bermulut racun dan suka memprovokasi, kali ini justru menunjukkan gelagat yang sangat aneh. Wajahnya tampak pucat pasi di bawah temaram lampu teras. Ia berulang kali menelan ludah dengan susah payah, menghindari kontak mata langsung dengan Alden.

"G-gue... gue nggak tahu apa-apa, Den," jawab Roy terbata-bata, tangannya gemetar saat mencoba melepaskan cengkeraman Alden.

"Kemarin malam gue tidur cepat. Sumpah, gue nggak lihat ada cowok mana pun yang datang ke rumah Rara."

"Lu bohong, Roy! Lu kan tetangga sebelah dindingnya! Lu biasanya paling tahu gosip di gang ini!" bentak Alden frustrasi, tidak mempercayai perubahan sikap sahabatnya yang mendadak menutup diri.

"Sumpah Den! Lu nggak percaya tanya sama Nisa sono.''

Namun, mau sekeras apa pun Alden mendesak dan melontarkan berbagai pertanyaan, Roy tetap bersikeras mengunci mulutnya dan menggelengkan kepala.

Alden tidak pernah tahu bahwa semua pergerakannya malam ini sudah diprediksi dengan sangat matang oleh otak jenius sang bos mafia.

1
Embhul82
bagus ceritanya q suka
Emy: makasih sudah mau mampir. Jangan lupa kritik dan saran
total 1 replies
Embhul82
up lagi kak 🤭
Brigita
kurang paham di ini sih
Emy: Hai kak yu baca juga di novel baruku
"Salah Kamar, Salah Istri" 🤭
total 2 replies
Brigita
lanjutt truss kakk😍👍💪
Emy: terimakasih kak
total 1 replies
Brigita
semangat kakkk💪💪💪👍😍
Emy: Makasih sudah hadia kak. kritik dan sarannya y kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!