Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. SBR
...~•Happy Reading•~...
Di tempat lain ; Gevaro tiba di rumah menjelang sore. Dia naik ke lantai atas untuk menemui Jensen yang sedang mengawasi pekerja menyiapkan tempat bagi Andri dan keluarga yang akan datang tinggal di rumahnya.
Gevaro memperhatikan rumah yang mulai berubah dan suasana mulai ramai dengan kehadiran para pekerja. Dia mendekati Jensen. "Sudah beres?"
"Sudah Pak, cuma ada ...." Jensen menjelaskan tentang kendala di beberapa tempat yang diminta Gevaro belum selesai. Gevaro mengangguk mengerti penyebabnya.
"Ok. Ditunda dulu." Ucap Gevaro sambil menggerakan tangan agar Jensen mengikuti dia ke ruang kerja. Dia menyadari yang diinginkan tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
Jensen tahu, bossnya memberikan banyak permintaan dan waktu yang terlalu singkat, sebab tidak mau kecewakan Andri yang telah memperlakukan Asyer dengan baik. Sehingga dia melibatkan pekerja profesional, agar bisa dikerjakan dengan cepat.
Gevaro mendadak minta menyiapkan tempat tambahan untuk Mama Andri, agar Janet dan Asyer bisa mengamankan diri di rumahnya. Sebab dia tahu situasi yang akan dihadapi mereka berdua, kalau tetap berada di luar tanpa perlindungan.
Jensen berjalan cepat di belakang Gevaro sambil berharap, tidak ada tambahan permintaan lagi. Sebab hari makin sore.
"Tempat yang utama sudah selesai?" Tanya Gevaro saat mereka sudah masuk ruang kerja.
"Sudah, Pak." Jensen menjelaskan apa saja yang sudah selesai dikerjakan.
"Ok. Biarkan pekerja pergi. Saya akan bicara dengan Pak Andri. Kalau diperlukan, kau panggil mereka lagi untuk selesaikan sisanya." Ucap Gevaro setelah berpikir beberapa saat. Dia ingin rumah sudah rapi dan bersih, sebelum Andri dan keluarga tiba.
"Baik, Pak. Saya bicara dengan pekerja dan kembali lagi ke sini. Ada yang mau saya laporkan." Jensen berkata serius.
"Ok. Kita bertemu di sini setelah saya mandi." Gevaro setuju dan segera berdiri meninggalkan ruang kerja diikuti Jensen.
~▪︎▪︎
Beberapa waktu kemudian Gevaro masuk ke ruang kerja dalam keadaan bersih dan wangi. Dia duduk di sofa kulit mewah dan menyeruput kopi yang disediakan pelayan sambil memikirkan kedatangan Andri dan keluarga.
Dia menyadari, akan terjadi perubahan dalam rumah setelah Asyer tiba. Dan dia harus berusaha menyesuaikan diri. 'Anak itu sudah merubah duniaku.' Gevaro membatin sambil ingat percakapannya dengan Asyer yang menyentuh hati.
Sejak melihat Asyer secara dekat di rumah sakit, hatinya selalu memikirkan dia di selah waktu sibuk. Hatinya kadang tidak bisa beranjak, kalau sudah mengingatnya.
Gevaro menghabiskan kopi sebelum kedatangan Jensen. Dia penasaran dengan laporan yang dimaksudkan Jensen. "Ada apa?" Tanya Gevaro saat Jensen masuk ruang kerja dan duduk di depannya.
"Apa kita tidak perlu mengirim mobil untuk menjemput keluarga Janet, Pak?" Jensen menjawab dengan pertanyaan yang mengganggunya.
"Tadi Pak Andri bilang tidak usah, karna mereka tidak bawa banyak barang..." Gevaro menceritakan percakapannya dengan Andri di telpon sebelum pulang kantor.
"Tapi kalau kau mau jemput, telpon Janet. Supaya mereka tunggu." Gevaro menyarankan, sebab melihat wajah cemas Jensen.
"Baik, Pak. Saya berpikir lebih baik, saya jemput. Bukan mau bantu bawa barang, tapi cuma mengawal. Supaya kita tahu, ada yang mengikuti mobil mereka atau tidak." Jensen menjelaskan alasan permintaannya.
"Ok. Kalau kau pandang itu baik, lakukan saja." Gevaro setuju, sebab percaya pada Jensen yang berkomunikasi dengan berbagai pihak.
"Iya, Pak. Saya usul ini, karna tadi pagi Papa Janet masih datang ke kantor. Dia tunggu di tempat tersembunyi sampai siang. Mungkin tidak melihat Janet masuk kerja, dia pergi dengan orang yang datang bersamanya...." Jensen melaporkan yang dikatakan kepala keamanan.
Gevaro menghembuskan nafas kuat. "Kalau tidak memikirkan Asyer, mungkin saya akan sekop mereka seperti pasir dan campur dengan semen. Biar dipakai sebagai material untuk membangun waduk." Gevaro tidak bisa menyembunyikan rasa marahnya.
"Sepertinya Marco masih terlilit hutang di tempat judi lagi, Pak. Setelah tahu Janet kerja di kantor kita, dia ingin memanfaatkan Janet sebagai jaminan."
"Mungkin juga mau perlihatkan kepada kreditur atau debt collector bahwa anaknya bekerja di kantor, supaya dipercaya, bisa membayar ..." Jensen meneruskan laporan pihak keamanan yang diminta mengawasi Marco.
"Seperti keledai, jatuh kembali di lubang yang sama. Tidak belajar apa pun setelah menjual anaknya untuk..." Gevaro tidak meneruskan.
"Judi bisa membuat orang kaya jadi miskin. Ini yang tidak punya uang mau berjudi." Gevaro menggeleng, menahan emosi.
"Iya, Pak. Pak Devan juga, pergaulannya ngeri-ngeri sedap..." Jensen melaporkan hasil penyelidikan detektif tentang Devan.
"Kalau begitu, pergi kawal mereka. Saya tunggu di sini." Gevaro memutuskan setelah mendengar laporan Jensen tentang aktivitas Papa Janet dan kondisi perusahaan yang sedang dikelolah Devan, serta orang-orang yang berada di sekitarnya.
~▪︎▪︎
Beberapa waktu kemudian ; Setelah makan malam, Gevaro menerima laporan dari security bahwa mobil Andri sudah melewati gerbang. Gevaro segera meminta pelayan keluar untuk melayani keluarga Andri yang membawa bagasi.
Kemudian dia keluar menemui Andri. "Selamat malam, Pak." Sapa Janet yang sudah turun dari mobil dan menunduk hormat. "Maaf, Pak. Sudah merepotkan." Janet meneruskan sebab merasa tidak enak kepada bossnya.
"Tidak apa'pa. Nanti sama Pak Jensen dan pelayan yang akan bantu." Ucap Gevaro.
"Terima kasih, Pak." Ucap Janet, lalu membuka pintu depan untuk mengambil Asyer. "Bilang terima kasih sama Om." Bisik Janet kepada Asyer yang digendong.
"Telima kasi Om Valo." Suara riang Asyer membuat Janet tertegun dan heran mendengar Asyer menyebut nama Varo.
"Ok Asyer. Ikut Mama, ya." Ucap Gevaro sambil mengangkat tangan, hendak memegang kepala Asyer, tapi dibatalkan. Dia mengalihkan perasaannya dengan mengajak bicara Jensen yang mendekat.
Bu Dessy yang turun di pintu sebelah, tertegun melihat Gevaro. "Ada apa, Ma?" Tanya Andri yang melihat mata Mamanya tidak beranjak. Tatapan Mamanya hanya tertuju ke wajah Gevaro yang sedang bicara dengan Jensen.
"Andri, apa boss Janet bukan Papa Asyer?" Bisik Bu Dessy yang tercengang, seakan tidak percaya melihat kemiripan wajah Gevaro dengan Asyer.
"Bukan, Ma. Mereka kembar identik. Kalau lihat yang nama Devan, Mama akan tahu. Ayo, Ma." Andri merasa tidak enak akan reaksi Mamanya. Dia segera mengajak mendekati Gevaro untuk diperkenalkan.
"Pak Gevaro, ini Mama saya." Andri menunjuk Mamanya yang belum mengalihkan mata dari wajah Gevaro.
"Semoga bisa tinggal di sini, Bu." Gevaro menyalami Bu Dessy dan coba bersikap tenang, walau merasa jengah diperhatikan.
"Pak Jensen, tolong antar mereka ke kamar." Gevaro mengalihkan ke Jensen. "Pak Andri tinggal di sini sebentar." Ucap Gevaro lagi.
"Ayo, Ma." Ajak Janet sambil memegang tangan Asyer agar tidak berlarian.
Bu Dessy menggeleng untuk mengusir rasa penasaran terhadap Gevaro yang sangat mirip dengan Asyer. "Nak, apa orang itu sangat mirip dengan bossmu?" Bu Dessy tidak tahan untuk tidak bertanya kepada Janet.
"Iya, Ma. Wajahnya sangat mirip. Cuma kelakuannya seperti bumi dan langit. Beda jauuuuu..." Bisik Janet penuh tekanan, agar bisa meyakinkan Bu Dessy yang ragu dan sangat penasaran.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...
Asyer pasti senang bisa belajar renang secara anak kecil pasti suka mainan air.
aku bacanya senyum senyum dari tadi😂
wah andri beneran nih udah mengikhlaskan janet untuk gevaro,
beneran nih ngga nyesel, . biarin ngga bisa melakukan kewajiban suami istri.. tapi selama 4 tahun beneran ngga ada cinta nih.. ❣️
babang gevaro ditunggu 🙊