Sequel dari OH MY JENY
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
" Kau selalu bilang padaku, apa yang harus kau lakukan untuk membalas semuanya Dean?"
" Aku akan melakukan apapun untukmu Tuan!"
" Kalau begitu menikahlah dengan putriku!"
Deg
Tubuh Dean menegang seketika
Kebohongan yang dilakukan Bulan membuat sang ayah murka. Hingga Ken memaksa putrinya untuk menikah bersama pria pilihannya yaitu Dean sebastian. Seorang pengusaha sukses yang sangat cerdas dari Paris
"Aku sungguh tidak menyukainya, dia terlalu pendiam dia bukan tipeku sama sekali Dad"
Baca selanjutnya ➡➡➡
Selalu tinggalkan Jejak, Like dan Vote 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengantin baru
-
-
" Aku takut!" bibir Dean bergetar
" Aku memelukmu. " saut Bulan memeluk dengan erat
" Peluk aku aku takut. " bisik Dean. Bulan mendorong tubuh lemas Dean sekuat tenaga, kini ia yang berada diatas tubuh itu, mengukung Dean dengan tubuhnya yang lebih kecil dari Dean
" Aku sudah memelukmu. " saut Bulan tepat ditelinga Dean menatap wajah Dean yang masih diselimuti ketakutan dari samping sambil mengusap wajah yang dipenuhi oleh keringat
" Kau mimpi buruk lagi?" tanya Bulan lembut
" Itu sangat menakutkan!"
" Apa yang kau impikan?" tanya Bulan, kini ia akan mencoba mencari tahu secara perlahan
" Aku tidak tahu, itu sangat gelap, aku hanya mendengar suara menangis Mama yang kesakitan. Aku tidak tega mendengarnya, mamaku kesakitan dan aku tidak bisa menolongnya. " saut Dean meneteskan airmatanya, pandangannya mengarah ke langit-langit kamar dan dari yang Bulan lihat tatapan itu kosong
" Itu hanya mimpi. " Bulan mengusap airmata yang berjatuhan itu dengan lembut membuat Dean merasakan sentuhan lembut itu hingga ia berbalik menoleh
Bulan sedikit terkejut, wajah mereka sangat dekat bahkan hidung mereka bersentuhan. Mereka saling bersitatap cukup lama
" Bagaimana cara kau mengatasinya selama ini?" tanya Bulan mengusap lembut wajah Dean, Dean memejamkan mata menikmati sentuhan lembut itu
" Aku tidak pernah bisa mengatasinya. Dulu sebelum mama meninggal Mama selalu memelukku setiap malam. " saut Dean tanpa membuka matanya, ia begitu menikmati jemari Bulan menyentuh permukaan kulitnya
" Apa ini selalu terjadi?"
" Ini sering terjadi dan aku tidak pernah tidur lagi setelah mengalaminya. " Dean membuka matanya, ia tak membiarkan tangan Bulan menjauh dari wajahnya dengan menggenggam jemari lentik itu
Sementara Bulan hanya terpaku dengan netra coklat Dean, dadanya bergemuruh kembali karena jarak mereka yang begitu dekat
" Tolonglah aku, peluk aku saat aku tidur, "
Bulan hanya mengangguk, bibirnya tak berkutik untuk bersuara. Ia hanya mengagumi Dean, wajah berkeringat itu terlihat seksi dimatanya begitupun dengan Dean, diam-diam ia memuja wajah imut Bulan
Secepat kilat kini Dean bergerak dan mengukung Bulan dibawahnya, ia tatapi wajah yang terkejut karena ulahnya itu. Dean mendekatkan wajahnya, ia ingin meraih bibir itu namun Bulan memalingkan wajah hingga bibir Dean hanya menyentuh rahangnya
Dean hanya berdiam disana lalu bibirnya turun keleher, memberikan kecupan-kecupan kecil disana yang membuat Bulan seperti tersengat aliran listrik 1 juta volt
" Dean. " Bulan mendorong tubuh kekar itu dengan sekuat tenaga
" Bolehkah aku melakukannya?" tanya Dean mengangkat wajahnya menatap Bulan. Sepertinya Dean lupa dengan ucapannya yang hanya akan menganggap Bulan sebagai seorang adik nyatanya ia tergoda dengan gadis itu
" Bukankah kau tidak bernafsu padaku? kenapa kau mau melakukannya?. "
" Hanya ingin saja!" saut Dean membuat Bulan jengah dan mendadak kesal
" Aku tidak mau, aku belum siap. " saut Bulan kesal menyilangkan kedua tangannya didada
Dean tersenyum mengusap kening Bulan dengan ibu jarinya. Dean tak tahan ingin mencium kening itu namun Bulan menahan bibirnya dengan jari telunjuk
Tatapan itu terlihat meneliti bibir Dean dengan lekat, wajahnya mendadak muram
" Apa tadi kau bekerja?" tanya Bulan penuh selidik
" Tentu saja! kau pikir aku kemana lagi. "
" Aku pikir kau ke klub malam. " sindir Bulan mendelik sebal
" Hey, apa yang kau bicarakan. Suamimu ini bekerja seharian. "
" Bekerja ya. " Bulan tersenyum kecut membuat Dean heran
" Tentu saja bekerja!"
" Bekerja dengan wanita tua itu?" tanya Bulan tajam
Dean mendadak bisu dan merasa bersalah pada Bulan. Meskipun pernikahan mereka tanpa cinta namun Dean merasa telah menghianati istri kecilnya
" Siang kau berci*ta dengan wanita tua itu dan sekarang malam hari kau mau menyentuhku begitu?"
" Bulan kau salah, aku bisa menjelaskannya. " saut Dean pelan mendadak gusar
" Tidak perlu. Melihat lipstik dibibirmu saja aku sudah tahu apa yang kau lakukan dengan wanita tua itu. " gerutu Bulan membuat Dean tersenyum, wajah jutek itu sangat lucu dimata Dean
" Astaga kenapa ini tidak hilang padahal aku tadi mandi. "
" Dia memaksaku. " Dean mencoba mencari alasan
" Bagaimana bisa seoarang wanita memeperko*a seorang pria. Kau gila. " bentak Bulan geram ia bahkan memalingkan wajahnya lagi dan sentilan keras Dean mendarat dikening Bulan tiba-tiba
" Kau masih kecil kenapa pikiranmu mesum seperti ini?"
" Apa? mesum?" teriak Bulan sambil melirik sebal pada Dean
" Iya Bryan juga bilang kau gadis yang mesum. "
" Jangan dengarkan Bryan, bocah nakal itu memang selalu meledekku." Dean lagi-lagi tersenyum, ia sentuh dan tarik dagu runcing itu agar menatapnya padahal Bulan sengaja memalingkan wajah karena ia malu Dean menatapnya seperti itu. Jantungnya terus berdetak kencang dan ia tidak mau Dean mendengarnya, bisa-bisa pria itu besar kepala
" Kami tidak melakukan apapun. Kami hanya berciuman. " pancing Dean yang ingin lebih melihat Bulan cemburu padanya
" Kau bilang itu tidak melakukan apapun?" Wajah Bulan benar-benar garang sekarang tapi Dean menyukainya
" Ya, kami hanya berciuman mesra." saut Dean mengulum senyumnya
" Kau benar-benar Dean. " bentak Bulan dan sasaran kemarahan Bulan adalah dada Dean
Dean tertawa untuk kesekian kalinya. Bulan menghitung ini yang ketiga dan Bulan seperti gadis yang tidak punya pekerjaan bahkan tawa Dean pun ia hitung. Bulan terpaku dan tentunya terpesona
" Maafkan aku. " gumam Dean mengangkat jemarinya untuk menyentuh pipi Bulan, pelan-pelan dan terasa sangat lembut hingga Bulan tersihir karenanya, bibirnya hanya diam tak berkutik apalagi saat ibu jari Dean membelai bibirnya dengan sensual Bulan merasa nafasnya terhenti saat itu juga. Tatapan netra coklat itu lekat terlihat mengagumi bibirnya. Dean bahkan kini membuka mulutnya hendak meraup bibir yang entah sejak kapan menggoda imannya. Dean makin mendekat hanya tinggal beberapa centi saja jarak bibir mereka
Kruk Kruk Kruk kruk
" Kau lapar?" tanya Dean berhenti dan memberi jarak kembali bibirnya dan Bulan
" Perutmu juga berbunyi. " Bulan tiba-tiba mengulum senyumnya
" Ayo kita cari makan. " ajak Dean beringus turun dari tubuh Bulan, turun dari ranjang dan menarik tangan Bulan
Mereka berjalan keluar dari Apartement untuk mencari makan. Bulan tersenyum memperhatikan jemarinya yang Dean genggam dengan erat lalu ia membalas genggaman tangan itu membuat Dean beralih menatapnya dan memberikan senyumannya. Perdebatan itu akhirnya berakhir karena suara bunyi dari perut keduanya yang memaksa untuk minta diisi
Dean membawa Bulan berjalan kaki menuju Restaurant kecil di sekitaran Apartementnya. Saat masuk semua orang memandang aneh dengan keduanya pasalnya keduanya hanya memakai piyama tidur mereka dan kebetulan Bulan memakai piyama pink muda sedangkan Dean biru. Biru dan pink muda memang identik sebagai pasangan membuat para pelayan di Restaurant itu tersenyum lucu melihanya. Dean langsung membawa Bulan duduk di sudut Restaurant kecil tersebut, mereka duduk bersebelahan memandang keluar ke jalanan yang tak pernah sepi oleh kendaraan maupun orang-orang yang berlalu lalang
" Kalian pasangan pengantin baru?" tanya pelayan pria mendekati keduanya
Dean hanya mengangguk, dan itu membuat Bulan tersenyum karena jelas Dean mengakui dirinya
" Kami memberikan hadiah kecil ini kepada setiap pasangan pengantin baru yang datang kemari. Ini khusus karena pemilik kami juga pengantin baru. " ucap pelayan pria itu memberikan dua buah gelang unik pasangan
" Tidak kami tidak membutuhkan itu. " tolak Dean menahan lengan pelayan itu
" Kami akan mengambilnya. " ucap Bulan membalas ucapan pria itu. Bulan langsung mengambil gelang itu dari tangan pelayan dan langsung memakainya. Ia juga hendak memakaikan pada Dean namun pria itu menarik tangannya
" Tidak! itu sangat kekanak-kanakan dan terlalu Feminim untukku yang seorang pria. "
" Ini sangat bagus, aku menyukainya. " ucap Bulan memelaskan wajahnya
" Kalau kau begitu kau pakai saja dua-duanya. "
" Dean ayolah. " Bulan kembali memelaskan wajahnya dan menggelayut manja di lengan Dean membuat pelayan itu tersenyum melihat keduanya yang sangat serasi
" Suamiku. " rayu Bulan
Dengan terpaksa Dean memberikan tangan kirinya pada Bulan membuat gadis itu senang dan langsung memakaikan gelang dengan warna merah muda itu pada pergelangan tangan Dean. Bulan mensejajarkan tangannya dengan Dean sehingga kerlap kerlip corak bintang pada gelang itu menyala berwarna-warni
" Ini cantik Dean. " ucap Bulan tanpa henti memandangnya. Bulan menjauhkan tangannya, seketika kerlap-kerlip gelang itu mati dan saat mendekatkan lagi pada gelang di tangan Dean, gelang itu menyala kembali membuat senyuman dibibir Bulan melebar
Begitupun Dean, ia juga tersenyum. Namun bukan melihat gelang merah muda ditangannya melainkan melihat senyuman di bibir gadis itu. Seketika jantung Dean berdetak kencang ...
Deg deg deg
-
-