Askana sangat benci pada sosok pria yang sudah menodainya. Sampai pria bernama Rafan itu ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, sayangnya Askana menolak karena terlalu benci.
Mampukah Rafan mengambil hati Askana? Dan Membuatnya jatuh cinta, akan seperti apa kisah cinta mereka yang diawali sebuah kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khoirun Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33.
Rafan beranjak bangun dari duduknya pergi dari meja makan menuju taman belakang rumah. Ia pun tak lupa sambil membawa teh manis hangat di tangannya, Doni yang melihat kepergian Rafan ia pun mengikutinya dari belakang soalnya Doni baru pertama kalinya mengelilingi rumah besar milik ayah-nya Rafan, walaupun Doni pernah menginap tapi itu hanya sebentar jadi tidak bisa mengelilingi rumah besar dan mewah milik ayah Rafan.
Mata Doni dibuat takjub dengan keindahan taman belakang rumah Rafan, banyak bunga-bunga bermekaran dan bermacam-macam warna juga bentuknya sepeti. Melati, Mawar, Anggrek, Dahlia, Tulip, Camelia, Lavender, Azelia, dan masih banyak juga nama yang lainnya. Harum bunga yang sangat menyegarkan membawa kenyamanan bagi setiap yang menghirupnya. Ditambah lagi dengan pemandangan kolam renang yang sangat indah airnya yang bening sangat nyaman untuk dipandang, tak ketinggalan sebuah air mancur yang menambah keindahan.
Doni melihat Rafan duduk di pinggir kolam sambil mencelupkan kakinya ke dalam air, ia terlihat melamun seperti sedang memikirkan sesuatu, Doni segera menghampirinya.
"Lo ngelamun, Fan! Mikirin apaan lagi sih?"
"Gue teringat saat dulu berenang bersama ayah di kolam renang ini dan juga Afandi, Don! Kita berlomba renang dari ujung ke ujung, yang menang akan mendapatkan hadiah dan yang kalah akan mendapatkan hukuman, itu sangat bahagia kenangan yang tak bisa gue lupakan. Seandainya saja sikap ayah selembut dulu."
"Gimana kalau kita berlomba gue melawan lo, Fan?"
"Lo berani nantangin gue! Dulu saja Ayah dan Afandi suka kalah kalau lomba renang sama gue."
"Huh! Sombong Lo! Kan lo belum nyoba tanding sama gue, Fan!"
Doni segera menyimpan gelas yang berisikan air kopi di atas meja, ia segera membuka baju dan juga celananya, menyisakan celana Boxer pendek selutut-nya saja. Ia pun langsung menceburkan tubuhnya ke dalam kolam renang.
Doni memanggil-manggil Rafan karena ia belum juga masuk ke dalam kolam.
Karena merasa berisik dengan suara Doni yang terus memanggilnya, akhirnya Rafan segera membuka baju dan celananya. Iya pun sama hanya memakai celana Boxer pendek selutut-nya saja. Ia langsung terjun ke dalam kolam dan menyemburkan air ke arah muka Doni, mereka tertawa bahagia bermain air bagaikan seorang anak kecil.
"Ada apa dengan mereka ya, Bi!" Karena merasa penasaran Bunda Aulia pun pergi ke halaman belakang di ikuti oleh Bi Ami.
Betapa terkejutnya Bunda Aulia melihat Rafan bersama Doni sedang bermain air bahkan berlomba renang. Bunda jadi teringat akan waktu dulu Rafan sering berlomba berenang bersama Afandi dan juga ayah-nya.
Tiba-tiba saja terdengar suara ucapan salam. Bunda Aulia pun melirik keasal suara ternyata itu adalah suaminya yang baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya. Bunda Aulia segera menghampirinya dan mencium punggung tangan-nya.
"Ayah sudah pulang, kok tidak mengabari Bunda dulu?"
"Ini kejutan untuk bunda, jadi ayah nggak bilang kalau mau cepat pulang, semalam ayah nelpon katanya bunda lagi menginap di apartemen-nya Rafan betulkah itu, Bun?"
Bunda Aulia menghampiri suami-nya yang sedang duduk di meja makan. "Iya Ayah! Kemarin malam Bunda menginap di apartemen Rafan, Bunda juga ngak bawa ponsel karena lupa," ujar bunda Aulia kepada suaminya sambil mengelus punggung tangannya dengan lembut dan tak ketinggalan senyuman manis bunda kepada suami-nya.
"Apakah ayah marah Bunda menginap di apartemen Rafan?"
"Tentu tidak!" ujar Pak Andi sambil memegang tangan Bunda Aulia.
Bunda Aulia merasa senang melihat ketenangan dari wajah suaminya, biasanya hanya melihat mobil Rafan tarparkir di depan rumah sajah sudah sangat marah tapi hari ini ia terlihat sangat tenang dan tak menunjukan amarah-nya.
"Ayah mau minum teh atau kopi?" tanya bunda.
"Nanti sajah, Bun! Ayah mau ganti baju dulu ke kamar, sekalian mau membersihkan badan karena badan ayah sangat terasa lengket."
"Ya sudah! Ayah mendingan mandi dulu biar segar. Bunda tunggu di bawah untuk mempersiapkan makanan untuk ayah.
Pak Andi berlalu pergi meninggalkan meja makan untuk menuju ke kamar-nya yang ada di lantai atas. Tapi sebelum dia menuju kamar, Pak Andi melirik ke arah kolam renang karena terdengar canda dan tawa Rafan dengan Doni. Ia pun jadi teringat di waktu dulu dia pun sering bermain berenang bersama dengan Rafan dan Afandi.
"Mungkin benar yang dikatakan bunda, aku terlalu keras terhadap Rafan putra-ku," batin-nya.
Doni merasa ada yang memperhatikannya, ia melirik kabalik pintu dimana Pak Andi sedang melihat kearah mereka. Doni segera menepuk pundak Rafan. Dan berbisik ketelinga Rafan kalau ayah-nya sedang memperhatikan.
Rafan menengokkan kepalanya, ternyata benar ayah-nya sedang melihat kearahnya. Pak Andi pun beranjak pergi menuju kamar-nya meninggalkan Rafan yang sedang menatapnya.
"Fan! Ayah lo sudah pulang, lebih baik kita cepat pulang sebelum kena sembur ayah lo."
"Lo benar, Don!"
Rafan dan Doni keluar dari dalam kolam renang, bunda Aulia yang melihatnya segera memberikan handuk kepada Rafan dan Doni.
"Kok sudah pada selesai renangnya?"
"Sudah kedinginan, Bun!"
"Sekarang kalian ganti baju dulu ke kamar, setelah itu kita makan, kebetulah bunda sudah masak banyak biar kita makan bersama.
"Baik, Bunda!"
Rafan dan Doni beranjak pergi menuju kamar untuk berganti pakaian.
Rafan melihat wajah Doni yang terlihat cemas, dia pun terlihat buru-buru memakai pakaiannya karena ada rasa takut di hati Doni kalau Rafan sahabatnya akan kena omel lagi.
"Kenapa sih buru-buru banget! Biasa aja kali, Don."
"Biar cepat selesai, supaya bisa cepat pulang.Gue nggak mau lihat lo diomelin lagi sama ayah lo, Fan!"
Rafan mengerti dengan kecemasan sahabatnya, karena ia pun merasa malas berlama-lama di rumah-nya, karena bukan kenyamanan yang akan didapatkannya tapi malah luka yang akan didapatinya.
Setelah selesai berpakaian Rafan dan Doni menuju ke lantai bawah, terlihat sudah ada ayah-nya yang duduk di meja makan, bunda Aulia segera menyuruh Rafan dan Doni duduk untuk makan bersama, tadinya Rafan ingin menolak namun melihat raut wajah bunda-nya Rafan tidak tega untuk menolaknya.
Rafan dan Doni akhirnya duduk di meja makan, sudah terlihat makanan yang tertata rapih di atas meja makan. Bunda menbuat menu makanan yang di sukai Rafan dan juga ayah-nya. Yaitu pepes ayam, sayur asam, dan juga iga bakar, karena kesukaan ayah sama dengan yang Rafan sukai.
Bunda Aulia mengambilkan nasi dan juga lauk pauknya ke dalam piring suaminya, Pak Andi pun segera memakannya tanpa ada basa-basi yang keluar dari mulut-nya.
Suasana di meja makan nampak terasa tenang. Tidak seperti biasanya jika Rafan berkunjung ayah-nya langsung marah-marah dan mengatakan hal-hal yang menyakitkan untuknya, tapi berbeda dengan acara makan yang sekarang ayah-nya terlihat diam walaupun wajah-nya terlihat datar.