Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.
Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.
" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"
"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Mobil hitam yang dikemudikan Paman Amar melambat ketika sebuah gerbang baja raksasa menjulang di hadapan mereka. Lambang Garuda berwarna emas terpahat gagah di tengah kemegahan besi tua itu, sementara tulisan MARKAS KOMANDO MILITER berdiri kokoh dengan huruf-huruf logam yang berkilau tajam diterpa matahari pagi.
Di kedua sisi gerbang, pos penjagaan berdinding beton berdiri kokoh bak benteng kecil. Beberapa prajurit berseragam loreng lengkap dengan rompi taktis dan senapan laras panjang berjaga dalam posisi siaga. Tatapan mereka lurus dan tajam, menguliti setiap kendaraan yang mendekat tanpa sedikit pun mengendurkan kewaspadaan. Palang pengaman bercat hitam-putih membentang melintang, mengunci akses masuk dengan rapat.
Di balik pagar duri dan beton itu, jalan aspal lebar membelah kompleks markas, diapit deretan pohon yang dipangkas rapi. Dari kejauhan, bangunan utama berarsitektur militer modern tampak megah dengan bendera Merah Putih yang berkibar gagah di puncaknya. Sesekali, angin membawa gaung aba-aba lantang dari lapangan utama, disusul derap langkah puluhan sepatu bot prajurit yang bergerak serempak, menciptakan irama disiplin yang menggetarkan nyali hingga ke gerbang luar.
Nadya menatap pemandangan itu tanpa berkedip. Jantungnya mendadak berdetak dua kali lebih cepat. Untuk pertama kalinya, ia berada begitu dekat dengan atmosfer tempat Rexsaka menempa hidup. Sebuah dunia yang keras, kaku, sarat akan aturan, sekaligus terasa begitu asing bagi gadis manja sepertinya.
Begitu moncong mobil hitam mereka berhenti tepat di depan garis kuning pos penjagaan, seorang prajurit bertubuh tegap melangkah maju. Dengan gerakan patah-patah yang disiplin, ia mengacungkan tangan meminta kaca mobil diturunkan, lalu memberikan hormat militer yang tegas sebelum melemparkan tatapan mengintimidasi ke dalam kabin.
"Selamat pagi. Ada keperluan apa dan ingin menghadap siapa?" todong prajurit itu. Suaranya berat, bariton, dan tanpa kompromi.
"Kami ingin bertemu dengan Rexsaka Pramuja," jawab Nadya tegas. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah kemudi, karena kaca jendela di sisi Paman Amarlah yang terbuka.
Mendengar nama itu, sorot mata prajurit tersebut berubah sejenak. Nama Kapten Rexsaka Pramuja jelas tidak asing di telinganya. Perwira muda itu dikenal luas sebagai sosok berprestasi yang menorehkan berbagai pencapaian gemilang hingga berhasil menyandang pangkat kapten sebelum menginjak usia tiga puluh tahun. Ketegasan, dedikasi, dan rekam jejaknya menjadikan Rexsaka panutan bagi banyak prajurit muda di markas tersebut. Meski demikian, sang prajurit tetap menjaga sikap profesional. Tanpa mengajukan pertanyaan tambahan, ia segera mengangkat HT di bahunya untuk menghubungi petugas piket dan mengoordinasikan permintaan kunjungan itu.
"Baiklah, akan saya koordinasikan terlebih dahulu dengan petugas piket di dalam," ujar prajurit itu kembali bersuara. "Bapak dan Nona silakan memarkirkan kendaraannya di sebelah sana terlebih dahulu."
Ia menunjuk sebuah area lapang berlantai paving block yang terletak beberapa meter di balik pos penjagaan. Sudut itu tampak asri dengan rindangnya pepohonan dan deretan tanaman hias yang tertata rapi, sebuah zona khusus yang memang disediakan untuk kendaraan para tamu.
Sambil meraih handy talkie (HT) yang tersampir di bahunya, sang prajurit menekan tombol mekanis untuk mengangkat palang besi kuning yang melintang. Begitu besi penghalang naik sempurna, Paman Amar perlahan melajukan mobilnya melewati portal, mengarahkannya menuju area parkir yang telah ditunjukkan.
Tak lama setelah mobil hitam itu terparkir sempurna, Nadya dan Paman Amar turun berdampingan. Keduanya melangkah kembali menuju pos penjagaan dengan perasaan waswas. Menyadari kedatangan dua tamu berbeda usia itu, sang prajurit dengan sopan mengisyaratkan tangan, mempersilakan mereka untuk menunggu di kursi kayu panjang yang tersedia di teras pos.
Meski bersikap ramah, tatapan prajurit itu tetap waspada. Ia menempelkan HT ke dekat bibirnya, melanjutkan komunikasi bising bernada interkom dengan seseorang yang berada di pusat komando gedung utama.
Nadya segera mengambil tempat di kursi kayu panjang yang ditunjukkan, sementara Paman Amar memilih tetap berdiri tegap di sisi nona mudanya, menjaga batasan yang semestinya.
Sembari menunggu, netra cokelat Nadya bergerak menyapu sekeliling kompleks militer yang asing itu, hingga pandangannya kembali tertuju pada sang prajurit. Pria berseragam loreng itu tampak baru saja menurunkan HT dari bahunya, menandakan interkom daruratnya telah usai, lalu melangkah mantap menghampiri mereka.
"Maaf, kalau boleh tahu... Bapak dan Mbak ini siapanya Kapten Rex?" tanya prajurit itu dengan nada suara yang mendadak berubah jauh lebih segan.
"Beliau ini Paman Amar, ayahnya Kapten Rexsaka," jawab Nadya santai seraya melirik sekilas pria paruh baya di sampingnya, sebelum kembali menatap sang prajurit dengan senyum termanis. "Dan saya Nadya, calon istrinya, Pak."
Sontak saja pengakuan berani itu membuat Paman Amar terbelalak. Ia menatap tak percaya pada sang nona muda yang tampak begitu tanpa dosa setelah melontarkan kebohongan sebesar itu.
"Nona..." bisik Paman Amar lirih, suaranya bergetar menahan panik. Namun, Nadya hanya membalasnya dengan kerlingan mata, mengisyaratkan agar sang sopir memercayakan seluruh kendali sandiwara ini kepadanya.
Prajurit itu berdeham, mencoba mencerna informasi tersebut. "Lalu, ada keperluan apa Mbak dan Bapak mencari Kapten Rexsaka? Karena untuk saat ini, Kapten sedang tidak berada di markas. Beliau tengah mengemban misi penting yang bersifat rahasia, jadi sama sekali tidak bisa ditemui," jelasnya tegas, namun nadanya kini jauh lebih sopan setelah mengetahui status tamu di hadapannya.
Mendengar penolakan itu, tekad Nadya tidak serta-merta luntur. Otak cerdiknya langsung memutar strategi baru. Dengan raut wajah yang mendadak berubah drastis, ia kembali memasang akting melankolis andalannya.
"Tapi, Pak... tidak bisakah Anda memberikan nomor khusus yang bisa digunakan untuk menghubungi calon suami saya?" tanya Nadya sendu. Kedua matanya mulai berkaca-kaca, digenangi air mata buatan yang siap tumpah kapan saja. "Karena... karena... hiks..."
Satu bulir air mata akhirnya sukses menetes membasahi pipinya. Nadya menunduk, lalu perlahan membawa satu tangannya untuk meraba dan mengusap lembut perutnya yang masih rata. "Saya sedang mengandung anaknya Rexsaka, Pak... dan saya harus segera mengabarkan berita ini kepadanya."
Prajurit muda itu langsung menegang, syok bukan main mendengar pengakuan dari wanita cantik di depannya. Ia sama sekali tidak menyangka jika sang senior yang dikenal begitu sempurna dan berdisiplin tinggi di dunia militer, ternyata memiliki romansa kehidupan pribadi yang serumit ini. Namun, ia buru-buru menepis prasangka, itu bukan wilayah yang boleh ia campuri.
Berbeda dengan sang prajurit, Paman Amar justru mengalami guncangan batin yang jauh lebih hebat. Jantungnya serasa melompat keluar mendengarkan karangan cerita Nadya yang kelewat batas.
"Nona, Anda..." desis Paman Amar tertahan.
Darahnya berdesir hebat karena panik. Kali ini, Amar benar-benar berniat melupakan sopan santunnya sebagai seorang bawahan. Ia sudah bersiap mencengkeram lengan Nadya dan menyeret gadis itu pergi dari sana sebelum kebohongan ini menggelinding menjadi bola salju yang menghancurkan karier putranya.
Alih-alih menyudahi sandiwaranya karena tatapan peringatan dari Paman Amar, Nadya justru sengaja menaikkan intensitas aktingnya ke tingkat yang lebih ekstrem. Ia menoleh ke arah Amar dengan sepasang mata yang banjir air mata, mengubah penolakan pria itu menjadi bagian dari skenario barunya.
"Ayah... aku hanya ingin meminta pertanggungjawaban darinya," isak Nadya pilu, sengaja mengeraskan suara agar prajurit penjaga bisa mendengar setiap jengkal penderitaannya. "Aku sedang mengandung cucumu, Yah! Tapi putramu justru pergi begitu saja tanpa kabar, entah kapan akan pulang."
Nadya meremas dadanya sendiri, mengatur napasnya agar terdengar putus-putus dan berat. "Ditambah lagi... fisikku sedang digerogoti sakit keras. Aku bahkan tidak tahu sampai kapan umurku akan bertahan. Mungkin esok, lusa, atau minggu depan nyawaku sudah tidak ada lagi. Karena itu, sebelum terlambat, aku hanya ingin dia tahu... bahwa ada detak jantung baru yang menjadi bagian dari dirinya di dalam rahimku ini, Ayah."
Mendengar kalimat terakhir yang luar biasa fatal itu, prajurit yang berjaga spontan menelan ludah, menatap Paman Amar dengan pandangan yang kini campur aduk antara iba, bingung, dan menuntut penjelasan.
Paman Amar benar-benar telah kehilangan akal menghadapi kelihaian bersandiwara Nadya. Kepanikannya kian memuncak saat menyadari bahwa bukan hanya prajurit penjaga pos yang kini mengamati mereka dengan iba, melainkan juga beberapa tentara dari peleton latihan yang kebetulan sedang melintas di depan gerbang. Langkah barisan mereka bahkan sempat memelan, terdistraksi oleh drama memilukan yang tersaji di pos penjagaan.
Sebelum Nadya bertindak lebih jauh dan memproduksi skenario yang jauh lebih fatal, Paman Amar membulatkan tekad.
Mengabaikan status sosial di antara mereka, ia menggunakan tenaganya untuk mencengkeram lengan Nadya dan menarik gadis itu pergi dari sana. Saat ini, Amar tidak peduli lagi apakah nona mudanya akan mengamuk, atau skenario terburuknya, ia akan dipecat oleh Tuan Andy malam ini juga karena berani menyeret putrinya dengan kasar.
Kepergian mendadak itu menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang yang menonton. Mereka memandang kepergian keduanya dengan tatapan heran, iba, sekaligus penasaran, termasuk seorang prajurit berkaos olahraga yang sengaja memisahkan diri dari rombongan latihannya demi menguping klimaks drama barusan.
"Kenapa kamu malah melamun di sini?" tanya prajurit penjaga pos, menyenggol lengan rekannya yang masih terpaku menatap mobil hitam yang mulai menjauh.
"Pria paruh baya tadi... bukannya ayahnya Kapten Rexsaka?" gumam prajurit berkaos olahraga itu memastikan.
"Kamu kenal?"
"Aku pernah bertemu dengannya sekali, waktu mengantar berkas dinas ke rumah Kapten Rex. Pria paruh baya itu yang menyambut kami dengan sangat ramah, bahkan sempat mengobrol sambil menunggu Kapten selesai mandi," jawabnya, mengingat-ingat garis wajah Paman Amar yang sangat familier.
"Lalu... gadis cantik yang menangis tadi siapa?" Lanjut pria berkaos olahraga lagi, mengedikkan dagu ke arah mobil hitam di mana Paman Amar baru saja setengah memaksa Nadya masuk ke kabin dan menutup pintunya dengan rapat.
Prajurit yang mengenakan seragam tentara lengkap itu menghela napas berat, wajahnya tampak prihatin. "Itu kekasihnya Kapten Rexsaka. Katanya dia sedang mengandung anak Kapten, dan kasihan sekali... dia sedang sakit keras. Umurnya diprediksi tidak akan lama lagi. Makanya, sebelum terlambat, dia nekat ke sini demi memberi tahu Kapten kalau di dalam rahimnya ada anak mereka."
"Apa?!" Sontak saja sang pria berkaos olahraga terperangah. Ia seolah tak percaya bahwa seorang perwira sedisiplin dan seperfeksionis Kapten Rexsaka bisa terjerat masalah pribadi yang begitu pelik. Di matanya, Rexsaka adalah teladan yang selalu penuh perhitungan dan mustahil bertindak gegabah hingga kebablasan seperti ini.
"Sudahlah, jangan terlalu mencampuri urusan pribadi atasan," potong prajurit penjaga pos, mencoba bersikap netral meski hatinya sendiri ikut syok.
Rekan di sebelahnya hanya mengangguk samar. Pria berkaos olahraga itu pun berbalik, bergegas berlari kecil demi menyusul barisan peletonnya yang sudah bergerak jauh di depan, sejauh dampak buruk yang tanpa sadar telah ditinggalkan oleh drama dadakan Nadya bagi nama baik Rexsaka ke depannya di markas militer tersebut.