Berawal dari menolong seorang laki-laki yang habis-habisan di hajar oleh ketiga preman. Maila juga harus bertemu kembali dengan laki-laki itu di sekolah barunya. Yang ternyata laki-laki itu adalah kakak kelasnya sendiri, yang merupakan laki-laki populer di sekolah. Yang ternyata namanya adalah Larbi.
Bukan hanya itu. Larbi juga terus mengusik dirinya. Sehingga, membuat Maila sebal pada Larbi sendiri. Namun, tanpa mereka sadari. Pertemuan mereka ada hubungannya dengan masa lalu mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi Goreng.
Aku turun dari atas tangga untuk menghampiri meja makan. Ayah dan ibu pasti sudah sarapan dari tadi, sementara aku nampak tidak bersemangat untuk sarapan pagi. Karena kejadian semalam. Aku menarik kursi dan langsung duduk.
"Mau sarapan pagi, neng?" tanya bi Ina padaku, dan aku pun menggangguk untuk mengiyakan.
"Kenapa mukanya lesu begitu? Neng Maila sakit?" tanya bi Ina.
"Nggak kenapa-kenapa kok, bi!" jawabku.
"Mau sarapan apa? Biar bibi yang buatin!" tanya bi Ina.
"Nasi goreng aja, bi!" jawabku.
"Loh muka kamu kok lesu begitu, sayang? Kamu sakit?" tanya ibu tiba-tiba sambil menghampiriku dari dalam dapur. Ia menatap wajahku yang lesu dengan mengelus-elus rambutku.
"Nggak papa bu, Maila cuman kurang tidur semalam," jawabku.
"Kamu hari ini mau ke rumah Aleta?" tanya ibu padaku, aku pun langsung tertegun karena mengingat hari ini adalah hari minggu. Dan waktunya aku mengajari Aleta untuk bermain biola. Minggu kemarin aku tidak mengajarinya karena aku pura-pura sakit, dan hari ini aku harus mengajarinya dengan jam yang double.
"Iya, Maila mau kesana."
"Kamu yakin? Kalo nggak enak badan mending nggak usah! Bilang aja kamu nggak enak badan," ucap Ibu, nampak khawatir dengan keadaanku.
"Nggak bisa bu, minggu kemarin Maila nggak mengajarinya. Dan sekarang Maila harus mengajarinya. Dan Aleta pun, harus cepat bisa. Karena acara di sekolahnya tinggal satu minggu lagi," ucapku.
"Sekarang jam sembilan. Mau kesana?" tanya ibu. Aku pun tertegun, karena biasanya aku kerumah nya pukul jam delapan.
"Astaga! Maila mau kesana sekarang, bu!" ucapku sambil berdiri dari kursi meja makan.
"Neng nasi gorengnya!" ucap bibi dari dalam dapur, sambil terus membuat nasi goreng.
"Masukin ke tempat kotak makan aja bi, biar Maila bawa!" ucapku sambil bergegas menaiki anak tangga untuk mengambil tas kecil untuk tempat kotak makan, dan mengambil biolaku. Setelah mengambilnya aku langsung bergegas ke bawah, dan menghampiri bibi yang sedang menyiapkan nasi goreng ku ke dalam kotak makan.
"Ini neng!" ucapnya sambil memberikan tempat makan tersebut. Ketika nasi goreng tersebut sudah selesai di buat. Aku langsung menerimanya dan memasukannya ke dalam tas kecilku.
"Maila berangkat dulu ya, bu!" ucapku sambil mencium tangan kanan ibu, begitu pun pada bi Ina.
"Assalamualaikum," ucapku sambil bergegas ke luar rumah.
" Wa'alaikumsalam." Jawab ibu dan juga bi Ina.
Aku beranjak menuju garasi untuk mengambil motorku, setelah mengambil motor dan menghidupkannya. Aku langsung melajukannya menuju rumah Aleta. Setelah sampai aku menekan klakson supaya satpam di rumahnya membukakan gerbang agar aku bisa masuk ke dalam.
Aku menekan bell untuk bisa masuk ke dalam, tak lama kemudian pintu rumah tersebut terbuka. Terlihat Aleta berdiri di depanku dengan menatap bingung ke arahku.
"Kak Maila? Kak Maila kenapa kesini?" tanyanya padaku, sehingga membuatku bingung padanya.
"Kakak mau mengajari kamu main biola. Memangnya kenapa?" tanyaku, lantas ia langsung memegang lenganku dan mengajakku masuk ke dalam rumah. Kami menghapiri sofa dan duduk disana. Ia langsung memegang jidatku, entah apa yang sedang ia lakukan.
"Seharusnya kalau kakak nggak enak badan, nggak usah kesini untuk mengajari Aleta. Kakak istirahat saja di rumah," ucapnya yang malah membuatku bingung padanya.
"Kakak nggak kenapa-kenapa, kok. Kakak sehat!" ucapku.
"Jangan bohong, kak!" ucapnya.
"Memangnya kata siapa kakak nggak enak badan?" tanyaku.
"Kata kak Larbi," jawabnya. Jadi ia yang bilang. Tapi kenapa ia bilang begitu?
"Dia bilang begitu?" tanyaku, dan ia pun mengangguk.
"Tapi kakak sehat, kok! Nih!" ucapku sambil menunjukan rasa semangatku. Ia pun hanya terkekeh melihatnya.
"Oh ya, bunda mana?" tanyaku.
"Bunda lagi menjenguk nenek yang lagi sakit bersama ayah," jawabnya dan aku pun mengangguk mengerti.
"Kalau begitu kita mulai saja latihannya," ucapku.
"Kita di teras dekat taman saja ya kak, latihannya!" ucapnya dan aku pun mengangguk. Kami berdua pun beranjak ke teras dekat taman untuk memulai latihan. Dan saat aku melewati ruang menonton tv, nampak Larbi sedang tertidur di sofa dengan sangat nyenyak. Kalau di perhatikan lucu juga kalau dia sedang tertidur. Namun ada yang membuatku bingung di area wajahnya. Saat aku mendekatinya, di area sisi bibirnya nampak biru pucat seperti telah di tonjok seseorang. Dan aku rasa ia pasti berkelahi dengan seseorang.
"Kak!" panggil Aleta padaku, dan aku pun langsung menoleh ke arahnya.
"Kesini! Kenapa ngeliatin kak Larbi terus?" ucapnya, dan aku pun langsung beranjak kesana.
"Kakak udah mulai suka ya sama kakakku?" tanyanya yang membuatku tertegun mendengarnya.
"Nggak! Siapa yang suka sama kakak kamu," ucapku dengan membantah.
"Aleta tau kok, dari raut wajah kakak ketika melihat kak Larbi tadi," ucapnya yang membuatku sebal. Adik dan kakak sama saja menyebalkan.
"Itu karena tadi kakak melihat bibirnya biru pucat, seperti habis di tonjok seseorang. Dan sebenarnya kenapa bisa jadi begitu, apa ia bertengkar dengan seseorang?" ucapku sambil bertanya padanya.
"Katanya sih, dia habis berantem sama buaya. Tapi enggak tau lah, kak Larbi biasanya suka bercanda. Masa dia berantem sama buaya?!" jawabnya yang membuatku bingung. Berantem dengan buaya?
"Berantem dengan buaya?" ulangku.
"Iya, tapi nggak usah di pikirin kak. Dia cuman bercanda kok," ucapnya.
"Kita langsung latihan aja, yuk!" ucapnya lagi dan aku pun mengangguk untuk mengiyakan. Kami pun mulai latihan, aku mengambil biolaku di dalam tas dan mulai mengajarinya dengan perlahan-lahan, Aleta sekarang sudah lumayan bisa. Setelah itu sambil mengajarinya dan memperhatikannya. Aku juga membuka kotak makan yang berisi nasi goreng, nampaknya nasi gorengku sudah dingin. Dan biasanya aku tidak suka dengan nasih goreng yang sudah dingin, dan aku lebih suka nasi goreng yang masih hangat.
"Kenapa nggak dimakan kak, nasi
gorengnya?" tanya Aleta padaku.
"Sudah dingin, ya?" tanyanya lagi, dan aku pun mengangguk.
"Kalau begitu di angetin lagi aja ke dapur sama bi Neni," ucapnya sambil meletakan biola miliknya dan mengambil kotak makan milkku.
"Biar Aleta kasih ke bibi buat di angetin lagi," ucapnya.
"Nggak usah biar kakak aja. Kamu latihan aja disini," ucapku menolak, dan akhirnya ia menyetujuinya. Aku pun beranjak ke dapur untuk mencari bi Neni agar menghangatkan nasi goreng milikku. Dan ku lihat bi Neni sedang memotong sayuran.
"Permisi, bi!" ucapku.
"Iya neng, ada apa?" tanyanya.
"Maila boleh ngangetin nasi goreng disini?" tanyaku.
"Atuh boleh neng, sini biar bibi angetin," ucapnya.
"Nggak usah bi, biar Maila aja. Bibi pokus aja motong sayurannya," ucapku untuk menolak.
"Tapi, neng!"
"Udah nggak papa, bi!"
"Wajannya dimana ya, bi?" tanyaku, dan langsung saja bi Neni mengambilkan wajan yang ku minta beserta sodetnya. Aku meletakan wajah tersebut di atas kompor, dan menghidupkan kompor tersebut dengan api yang sedang. Aku memasukan nasi goreng yang sudah dingin ke dalam wajan tersebut, dan mengaduk-aduknya dengan sodet. Setelah sudah lumayan hangat, aku mematikan kompor tersebut. Namun tiba-tiba saja aku kebelet ingin membuang air kecil.
"Bi toilet dimana, ya?" tanyaku yang sudah tidak tahan untuk segera membuang air kecilku.
"Di sebelah sana, neng!" jawabnya sambil menunjuk ke sebuah pintu yang mungkin itu adalah toilet.
"Bibi, nitip nasi goreng dulu, ya?!" ucapku, dan bi Neni pun mengangguk untuk mengiyakan.
Aku pun segera menuju toilet tersebut dan masuk ke dalamnya. Dan tak lama kemudian setelah selesai membuang air kecil aku segera pergi kembali ke dapur untuk mengambil nasi gorengku. Nampaknya bi Neni tidak ada di dapur, dan saat aku melihat di dalam wajan. Nasi gorengku sudah tidak ada. Aku pun melihat kotak makanku, siapa tahu bibi meletakannya disini. Namun tidak ada. Aku pun bingung, entah kemana nasi goreng milikku. Dan saat ku lihat di meja makan. Nampak Larbi sedang makan di meja makan, dan saat aku mendekatinya. Ia sedang melahap nasi goreng. Dan dari tampilan nadi goreng dan juga teksturnya, itu seperti nasi goreng milikku.
"Heh! Itu nasi goreng gue!" ucapku padanya sambil meraih piring yang berisi nasi goreng tersebut. Ia pun langsung menoleh ke arahku dengan heran, dan juga masih terdapat nasi goreng di dalam mulutnya.
"Kenapa lo makan nasi goreng gue, sih?" tanyaku.
"Nasi goreng milik lo?" tanyanya dan aku pun mengangguk untuk mengiyakan. Aku langsung duduk di kursi meja makan, dan langsung melahap nasi goreng tersebut.
"Itu nasi goreng gue! Gue yang bikin!" ucapnya sambil meraih lagi nasi goreng tersebut dariku, namun aku langsung menahannya.
"Ini nasi goreng yang gue bawa dari rumah, terus di angetin disini! Jadi ini punya gue!" ucapku sambil melahap nasi goreng tersebut.
"Lagian, sejak kapan lo masak nasi goreng?! dari tadi gue ada di dapur, lalu pergi ke toilet sebentar!" ucapku lagi, setelah menelan kunyahan nasi goreng yang sudah ku lahap.
"Gue udah bikin nasi goreng itu sejak pagi. Dan baru tadi gue angetin, karena nggak keburu makan!" ucapnya mencoba meraih nasi goreng tersebut dariku.
"Nggak keburu makan?! bukannya lo tadi tidur?!" tanyaku.
"Iya, gue tadi buru-buru bantuin bunda untuk menyiapkan keperluan yang akan di bawa buat ke rumah nenek! Karena nenek gue lagi sakit, jadi bunda akan menginap disana. Dan gue tiba-tiba saja tidur di sofa, karena ngantuk. Dan akhirnya gue lupa memakan nasi goreng yang udah gue buat!" tuturnya.
"Halah! Alasan lo doang, kan?!" ucapku tidak percaya.
"Tapi, Itu benar-benar nasi goreng gue!" ucapnya dengan membantah.
"Punya gue!" bantahku yang tidak mau kalah.
"Ini kenapa ribut-ribut?" tanya bi Neni tiba-tiba.
"Bi ini nasi goreng saya dimakan!" ucapku sambil menunjuk ke arah Larbi.
"Ini nasi goreng saya bi, lagian bibi liat saya masak nasi goreng!" ucapnya.
"Aduh! Maaf ya neng, nasi goreng milik neng Maila sudah bibi taro di atas piring, ini disini di tutup pakai tutup saji. Supaya nggak ada yang makan," ucap bibi sambil membuka tutup saji di meja makan, dan aku pun terkejut dan di tambah sangat malu apa yang sudah ku lakukan. Larbi pun menatap datar ke arahku. Lantas aku pun langsung mengembalikan nasi goreng tersebut padanya.
"Ogah! Makan aja sama lo, biar gue yang makan punya lo," ucapnya menolak, dan langsung mengambil nasi goreng milikku dan memakannya.
"Kenapa bibi nggak bilang?" tanyaku.
"Maaf neng! Abisnya neng masih di toilet!" ucapnya.
"Iya nggak papa, bi!" ucapku, dan bi Neni pun kembali ke dapur.
"Bibir lo kenapa pucat biru begitu? Lo habis berantem, ya?" tanyaku sambil melahap nasi goreng miliknya.
"Nggak kenapa-kenapa, kok." Jawabnya sambil pokus melahap nasi goreng milikku.
Jangan lupa like, komen, vote, dan rate.
Oh, jadi gitu. Syukurlah, ingatan kamu balik Larbi. Semoga, kalian bisa semakin dekat lagi, ya!🥰🥰
Benar! Cinta pasti akan ada coba dan uji. Tidak mungkin akan selalu mulus² saja. 👍🏻❤️
Tetap semangat ya Dek! Semoga, Allah selalu menjaga dan melindungi kamu serta membimbing kamu di mana dan kapanpun itu. Sehat terus! Aamiin!!
Sukses terus buat kamu, Dek!🥰👍🏻❤️
like😍
tetap semangat thor
ditunggu karya barunya💪
Kita tidak bisa menentang takdir yang sudah di tetapkan! 🤧🤧