Selamat Membaca 💖
Asyila seorang gadis cantik, periang dan sederhana. Ia terlahir dari keluarga yang serba pas-pasan. Diusianya yang sangat muda yaitu 18 tahun, dirinya harus menikah dengan seorang pria yang usianya jauh diatasnya.
Ayah Asyila yaitu Herwan hanya bekerja sebagai buruh tani sementara Ibu Asyila yaitu Arumi hanya bekerja sebagai tukang masak. Hidupnya berubah saat orang tuanya meminta Asyila menikahi seorang pria yang sudah dijodohkan olehnya saat usia Asyila menginjak 2 tahun, Sementara Asyila tidak tahu siapa pria itu.
Akankah hubungan mereka bisa berjalan baik dan saling jatuh cinta?
Abraham seorang pria yang sangat mencintai Asyila sedari Asyila kecil bahkan rela melakukan apapun agar Asyila dapat menerimanya sebagai suami Asyila.
Apakah perjuangan Abraham berakhir dengan saling bahagia?
Ikuti terus kelanjutannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapat Pujian Dari Paman
Asyila begitu malu dengan ucapan Abraham, ia terus menutup wajahnya dengan buku tebal berharap agar yang lain tidak dan melihat wajah malunya itu.
“Kak Asyila kenapa?” tanya Dyah penasaran.
Asyila terkejut dan tak sengaja membuat buka besar yang menutupi wajahnya jatuh ke lantai.
Mahasiswa dan mahasiswi sontak menoleh ke arah Asyila.
“Ehemm.” Abraham berdehem agar anak didiknya menghadap ke arahnya.
“Pelajaran hari ini akan kita mulai!” ucap Abraham.
“Baik pak!” seru mereka.
Syukurlah pelajaran segera dimulai, aku benar-benar sangat malu.
Dyah semakin heran namun ia tidak ingin bertanya lagi.
Lebih baik fokus belajar saja!
🍃
Beberapa jam kemudian.
“Baiklah pelajaran hari ini telah selesai, besok kita akan bertemu lagi!” ucap Abraham mengakhiri mengajar dan belajar.
“Terima kasih atas bimbingan anda pak Abraham!” seru mereka serempak.
Mahasiswa dan mahasiswi langsung berhamburan keluar, sementara Asyila dan Dyah masih berada di dalam kelas.
Sedari tadi saat Abraham menerangkan, Asyila selalu menundukkan kepalanya bahkan tak sedetikpun ia memperhatikan Abraham yang sibuk menjelaskan di depan.
Istri kecilku kenapa, Apakah dia sakit?
Abraham terus saja memperhatikan istrinya yang menundukkan kepalanya, ia lalu menatap ke arah Dyah berharap menemukan jawaban namun Dyah mengangkat kedua bahunya tanda bahwa ia juga tidak tahu.
Dyah pun memiliki ide agar sepasang suami istri itu dapat berduaan di dalam kelas, dengan cepat ia berlari meninggalkan Asyila tanpa meninggalkan sepatah katapun.
Bye bye aunty!!😂
Asyila tidak mengetahui bahwa Dyah telah pergi meninggalkan karena ia terlalu fokus menundukkan kepalanya.
Abraham melangkahkan kakinya tanpa menimbulkan suara, ia tersenyum tipis karena di dalam kelas hanya dirinya dan istri kecilnya.
“Asyila!” panggil Abraham lembut.
“Astagfirullahaladzim,” ucap Asyila seketika mendongakkan kepalanya karena terkejut dengan suara Abraham.
Asyila menoleh ke sampingnya namun tidak menemukan keberadaan Dyah.
Kemana Dyah, bukankah dia masih berada disampingku?
“Aku bukan hantu Asyila,” ucap Abraham karena istrinya terkejut akibat ulahnya.
“Pa.. pa.. paman,” sahut Asyila terbata-bata.
“Aku menyukai masakanmu Asyila, masakanmu sungguh enak,” puji Abraham.
Asyila terkejut sekaligus bahagia mendengar pujian dari Abraham.
Ya ampun paman menyukai masakan ku, kenapa perkataan paman membuatku hatiku sangat bahagia!
“Bisakah setiap hari kamu membawakan aku nasi goreng buatan mu?” tanya Abraham dengan wajah penuh harap.
“Ter.. termasuk hari libur paman?” tanya Asyila dengan wajah polosnya.
Abraham terkekeh kecil melihat ekspresi wajah istri kecilnya itu, ingin sekali ia mencubit hidung Asyila.
Kenapa paman tertawa apakah ada hal yang lucu?😒
“Bawakan saja setiap kamu masuk Asyila, ini uang untukmu,” ucap Abraham lalu mengeluarkan amplop putih polos di saku celana dan memberikannya pada Asyila.
Asyila dengan cepat melambaikan kedua tangannya.
“Tidak perlu Paman,” tolak Asyila.
“Rezeki jangan ditolak lagipula ini sebagai tanda terima kasih karena kamu telah membulatkan aku nasi goreng spesial,” ucap Abraham yang sudah pasti tidak dapat di tolak oleh Asyila.
“Baikpah paman, Asyila mau menerimanya,” balas Asyila.
Setelah memberikan amplop itu Abraham pergi meninggalkan Asyila yang terlihat begitu kebingungan sekaligus bahagia karena dipuji oleh Abraham.
Asyila menyembunyikan wajahnya di buku tebal miliknya, wajahnya begitu merah merona.
Ya Allah perasaan apa ini, kenapa setiap berdekatan dengan paman hamba merasakan gejolak perasaan yang begitu aneh dan tidak bisa hamba jabarkan.
Cukup lama Asyila menyembunyikan wajahnya hingga seorang gadis datang menepuk pundaknya.
“Kak Asyila!” ucap Dyah.
Asyila dengan cepat mendongakkan kepalanya mendengar suara yang ia kenali.
“Dyah kamu darimana saja?” tanya Asyila.
“Maaf kak aku tadi dari toilet biasa panggilan alam,” jawab Dyah berbohong.
Maafkan Dyah ya aunty! Dyah terpaksa berbohong agar aunty dan paman ada waktu untuk berbincang-bincang.
“Oo ya sudah,” ucap Asyila percaya.
“Kak ayo kita ke kantin!” ajak Dyah.
“Baiklah ayo!”
Dyah menarik tangan Asyila dengan begitu semangat menuju kantin, beberapa mahasiswi menatap sinis ke arah Asyila.
Asyila berpura-pura tak perduli dengan tatapan tak suka dari mata mereka yang seolah-olah ingin mencincang Asyila.
“Apa lihat-lihat, aku colok baru tahu rasa,” ucap Dyah yang begitu galak mengalahkan tatapan sinis mereka.
“Dyah abaikan saja mereka,” ujar Asyila.
Ingin sekali aku mencongkel mata mereka itu, menyebalkan sekali.
“Aku kesal sekali dengan mereka kak,” ucap dyah kesal.
“Abaikan saja mereka, lagipula kalau kamu meladeni mereka kamu sama saja seperti mereka,” balas Asyila.
Tibalah mereka di kantin, terlihat sudah ada Kevin dan Ema yang duduk di jejeran kursi kantin.
“Ayo Dyah kita gabung dengan mereka!” ajak Asyila.
“Iya kak!”
Ema dan Kevin terlihat sedang berebut makanan membuat Asyila menambah kecepatan langkah kakinya.
“Brug!” Asyila memukul meja membuat sepasang kekasih itu terkejut.
“Asyila!” ucap Kevin dan Ema kompak.
Untungnya saja suasana di kantin belum ramai karena mahasiswa dan mahasiswi belum datang mencari makanan di kantin.
“Kalian itu ngapain berebut makanan?” tanya Asyila lalu mendudukkan bokongnya di kursi di susul oleh Dyah yang duduk di samping aunty nya.
“Yang berebut siapa, justru Kevin yang mengambil makanan ku,” ucap Ema.
“Enak aja nuduh aku, kamu itu yang mengambil makananku,” balas Kevin membela diri.
“Sudah-sudah jangan ribut, hari ini aku yang traktir,” ucap Asyila.
“Serius Asyila? mentang-mentang udah punya su.. eh maksudku uang jajan yang banyak,” jawab Ema yang hampir keceplosan dan segera membetulkan ucapannya.
Dyah menyipitkan kedua matanya ke arah Ema, ia tahu yang dimaksud oleh Ema.
Jadi Ema sudah tahu kalau aunty sudah menikah, seperti Kevin belum mengetahuinya atau jangan-jangan Kevin memang tidak diberitahu.
“Iya serius!” seru Asyila.
Asyila hampir saja jantungan kalau sampai sahabatnya itu membocorkan bahwa dirinya telah menikah apalagi ia tidak ingin Kevin maupun Dyah mengetahui statusnya yang telah menjadi istri.
Asyila mentraktir mereka bertiga, terlihat kebahagiaan dari raut wajah Asyila.
Abraham tersenyum manis melihat istri kecilnya itu.
“Selamat pagi menjelang siang pak Abraham!” sapa Tini.
Kenapa wanita ini selalu ada dimana-mana.
“Juga Bu Tini!” seru Abraham sambil tersenyum walaupun dengan sangat terpaksa.
“Pak Abraham tampan kenapa disini, pak Abraham lapar ya?” tanya Tini sambil membetulkan posisi kaca mata yang ia gunakan.
“Tidak, saya sudah kenyang memakan nasi goreng tadi pagi,” terang Abraham.
Tini terus saja mengajak Abraham berbicara namun Abraham sedikitpun tak mendengar ucapan dari wanita di sampingnya, matanya begitu fokus menatap Asyila bersama yang lain.
Kamu sungguh cantik istri kecilku, besok aku akan menikmati nasi goreng buatan mu lagi.
Asyila tak sengaja melihat Abraham yang berdiri sambil menatap dirinya dengan senyum manis yang terlihat jelas di bibir Abraham, Asyila menunduk malu dan menggeser posisi agar membelakangi Abraham.
Hamba tidak salah lihat kan Ya Allah?
paman menatap hamba bahkan tersenyum kepada hamba!
“Asyila kamu kenapa?” tanya Ema.
Asyila menggelengkan kepalanya, “Tidak ada apa-apa.”
Dyah penasaran dan menoleh ke arah belakang.
Ok jadi ini alasannya aunty menggeserkan posisi duduknya.
Karena istrinya duduk membelakanginya akhirnya Abraham memutuskan untuk segera kembali ke ruang Dosen, Tini tak tinggal diam wanita itu membututi Abraham dari belakang.
Abraham ❤️ Asyila
Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏
cz si romi tuh anak mama 🤣