Azara Amora adalah gadis cantik berambut panjang dan bertubuh pendek
Bryan Jason Willy, cowok tampan, bertubuh tinggi,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurdahlia Awani hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 32
Aku terbangun, mataku perlahan membenarkan pandangan. Sebuah senyuman terlukis diwajahku kala melihat istri polosku tertidur lelap, ku perhatikan setiap inci wajah cantik nan imutnya.
"Bangun, sayang. Kita sholat dulu," ucapku lembut sambil mengelus pipinya. Ara sedikit terusik, lalu membuka matanya perlahan. Ara mengucek matanya, lalu menatapku.
"Udah subuh, yah?" tanyanya.
"Iya, sayang. Mandi dulu habis itu kita sholat bareng," Ara mengangguk, lalu bangkit dari tidurnya. Aku pun ikut bangkit, dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
"Abang, mau kemana?" tanyanya. Aku berbalik menatapnya.
"Mau mandi. Mau ikut? Ayolah mandi bareng." Aku menurun naikkan alisku menggodanya.
BUK!
"Aaa, gak mau! Abang mesum!" teriaknya sambil melemparkanku bantal hingga mengenai wajah tampanku. Aku menggeleng, lalu kembali berjalan ke kamar mandi.
...
Aku berjalan menuruni tangga, menuju ruang makan. Aku mengambil cuti satu minggu, ingin menghabiskan waktu bersama dengan keluargaku juga istriku.
"Lho, Yan. Kamu mau kemana? Kok rapi gitu?" tanya Mami ketika aku sudah duduk dikursi.
"Biasa, Ma. Ada urusan ama temen," jawabku. Tanganku mengambil roti dan mengolesinya dengan selai.
Hari ini aku dan Ara akan pergi kesebuah restoran, dimana aku, Karell, Vino, dan Argian akan berkumpul.
"Mi, Anissa kemana?" tanyaku yang tak menampak sosok adikku.
"Pergi tadi, katanya ada urusan juga," jawab Mami.
Selesai sarapan, aku dan Ara kemudian masuk kedalam mobil yang kemudian aku lajukan dengan cepat.
...
Aku berjalan masuk, beserta Ara yang mengikutiku dari belakang. Nampak ketiga pemuda itu duduk beserta dua gadis, yang satunya aku kenal, dan satunya seperti pernah kulihat. Aneh!
"Datang juga lo, lama tau gue nungguin!" omel Karell. Aku hanya tertawa kecil mendengarnya, oh iya, kami berada disini hanya untuk memperkenalkan pasangan satu sama lain. Intinya gitu!
"Hai, Bryan. Senang bertemu denganmu lagi," ucap gadis berambut pendek sebahu yang duduk disamping Karell.
"Eh, lo kenal gue?" tanyaku membuat gadis bernama Sasha itu tertawa kecil.
"Kita pernah satu kampus di London, hanya saja kita nggak pernah kenalan," jelasnya membuatku hanya mengangguk.
"Oh iya, kenalin, ini istri gue, Ara." Sasha tersenyum dan menjabat tangan Ara.
"Salam kenal, Ara," ucapnya. Aku dan Ara kemudian duduk dikursi yang tersedia. Setelah kami semua memesan minuman, kami pun mulai berbincang-bincang.
Aku menatap kearah Vino yang sedari tadi terus melirik kearah pintu, Vino menghembuskan napasnya berat.
"Gue mau ngomong sesuatu sama kalian, gue udah sembunyikan hal ini cukup lama," Vino berujar, membuat kami semua menatap kearahnya.
"Apa? Bilang aja," tanya Karell.
"Sebenarnya, gue udah nikah sejak berada dikorea!"
Aku membulatkan mata sempurna, Karell dan Argian pun sampai terbatuk-batuk mendengarnya.
"Lo nggak lagi becanda kan?" Vino menggeleng sebagai responnya.
"Lo kenapa gak bilang dari dulu, Vin?!" tanya kami semua penuh kekesalan. Vino hanya nyengir onta dan menggaruk kepalanya.
"Gue dijodohin sama Papa gue, dan nikah saat itu juga. Anehnya, istri gue dingin bett kek kulkas!" curhatnya, lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.
"Terus mana istri lo?" tanyaku.
"Bentar lagi juga dat--"
Vino menggantung ucapannya, ketika seorang gadis dengan pakaian serba hitam berambut panjang tersebut memasuki restoran. Dia berjalan menghampiri kami, setelah melepas kaca mata hitamnya, gadis itu pun duduk disamping Vino.
Kami semua menganga melihatnya, bukankah Vino alergi dengan gadis dingin? Ia bahkan lebih memilih mempunyai istri bobrok daripada dingin kek kulkas.
"Kenalin, i-istri gue--"
"Vanya," ucapnya singkat dengan wajah yang cukup datar.
"Hai, Vanya. Aku Ara," ucap Ara yang kemudian beralih duduk disamping Vanya. Vanya menyerinyitkan dahi melihat tingkah Ara.
Omaigot! Ni bocah!
...
Malam kembali tiba, seperti biasa, kami sekeluarga makan malam bersama.
"Mami kesel deh sama kamu!" titah Mami menatap tajam kearahku.
"Kesel kenapa sih, Mi?" tanya Papi dan menatap Mami segera.
"Pokoknya, Mami nggak mau tau! Kamu harus kasih Mami cucu secepatnya!" Mataku membola sempurna, Mami terus saja mendesakku hingga aku tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Ara, Mami mohon, kasih Mami cucu," Ara yang sedang makan, mengangguk sambil tersenyum. Apa dia tak tahu? Ah diakan polos nya sampe keubun-ubun.
"Kalau kamu nggak mau, biar Anissa aja yang nikah secepatnya dan ngasih Mami cucu!"
Ukhuk! Ukhuk!
Anissa terbatuk, saat ini aku tertawa melihat ekspresi darinya.
Seusai makan malam, aku pun segera beranjak untuk tidur. Tanganku ditahan oleh Mami, aku menoleh menatap kearah Mami.
"Kamu harus bisa malam ini juga, kalau tidak, Mami cincang tubuhmu itu," bisik Mami yang mampu membuatku bergidik ngeri.
Aku masuk kekamar, menatap kearah Ara yang sedang berdiri menatap kearah luar jendela, dengan baju tidur pendek selutut. Aku berjalan kearahnya, dan memeluk tubuh mungilnya dari belakang. Ku tenggelamkan wajahku dalam tengkuk lehernya.
"Abang, geli ih!" ucapnya, namun aku tak menghiraukannnya.
"Aku, ingin punya anak, Ara. Ayo kita buat anak, hm?" ungkapku dengan berbisik yang kemudian membuat Ara melepas pelukan tersebut lalu menarik tanganku. Aku menghentikan langkahnya, dan membalikkan tubuhnya menatapku.
"Mau kemana?" tanyaku.
"Kedapur," aku menyerinyitkan dahi.
"Ngapain kedapur?" tanyaku lagi.
"Katanya mau anak, ayo kita buat anak didapur," mataku kembali membola, sesekali menepuk jidatku.
"Sayang, kita gak perlu kedapur. Cukup disini aja," jelasku membuat gadis berambut panjang ini mengedipkan matanya berkali-kali.
"Yaudah, Ara ambil tepung dulu ya,"
Tepung? Untuk apa? Aku kembali menahan tangannya yang ingin pergi.
"Ngapain ngambil tepung?" tanyaku lagi dan lagi.
"Kan mau buat anak, buat anak pakai tepung kan?" Ara beujar polos, greget sekali, ingin sekali aku membuangnya disungai amazon dan menukarnya dengan ikan arwana, eh.
"Bukan pakai tepung, sayang!" Ara menatapku lagi.
"Terus pakai apa?"
"Pakai cinta sayang," aku memegang pundaknya dan mencoba meraih bibir mungil nan merah tersebut.
Ceklek!
Pintu terbuka, aku menghentikan aktifitasku dan menatap kearah pintu yang sudah berdiri Mami yang menatapku tanpa berkedip.
"Mami!" rengekku ketika pipi ini mulai memerah.
"Eh, maaf Mami udah ganggu. Kalian lanjutin aja ya, hehe." Mami menutup kembali pintu tersebut, aku pun berjalan kearah pintu lalu menguncinya.
Aku kembali berjalan menghampiri Ara, menatapnya dan meraih bibir mungil tersebut dengan lembut, dan menindih tubuh mungil tersebut.
"Abang berat tau!" rengeknya bak anak kecil.
"Emang kek gini, sayang." Aku tersenyum kearahnya, dan melakukan hal yang seharusnya seorang suami lakukan.
#BERSAMBUNG!
Banyak drama
Gimana part yang ini?🙂 krisan ya:')
anak" bryan kak gimana ketemu sama anak sabahat papanya😁😁
jangan lupa mapir di KARYA ku yaaa🙏❤️🖤
awas az klo Bryan sampe luluh
lucu
semangat thor lanjutin up nya. di tunggu epsd selanjutnya, aku suka dengan ceritanya, menarik😍