NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24 - Kursi Roda dan Pisau Lipat

Om Charles meminta orang jalanan tidak meninggalkan jejak.

Sayangnya, ia memilih orang yang hanya mengerti uang, bukan jejak.

Keesokan siang, setelah dua puluh empat jam observasi, dokter mengizinkan Felicia keluar dengan daftar larangan yang panjang: jangan olahraga, jangan mengangkat beban, jangan membentur kepala, jangan menggerakkan bahu kiri terlalu luas, kembali kontrol jika mual, pusing, atau nyeri dada memburuk.

Felicia mendengarkan sambil duduk di kursi roda.

Bukan karena ia tidak bisa berjalan.

Karena Nathan berdiri di satu sisi dengan berkas medis, Sebastian di sisi lain dengan ekspresi "kalau kamu melanggar, aku catat", Calvin memegang tas kecil berisi obat dan salep, sementara Jayden sudah terlihat seperti bisa menggendong kursi roda itu sekalian kalau Felicia mencoba turun.

"Aku bisa jalan," kata Felicia.

"Aku percaya," jawab Nathan. "Dokter tidak."

Sebastian menambahkan, "Dan tubuhmu baru saja membuktikan definisi 'baik' milikmu tidak layak dipakai."

Jayden menunduk sangat dekat sekali. "Sayang, lo duduk manis lima menit aja. Habis itu mau nyiksa siapa juga gue bantu dorong."

Calvin tersenyum dari belakang kursi. "Ci, anggap ini singgasana sementara."

"Singgasana rumah sakit menyedihkan sekali."

"Tapi tetap punya ratu."

Felicia membiarkannya.

Di lobi VIP, suasana tidak seramai kemarin, tetapi mata orang tetap menoleh. Video insiden kuda sudah berputar di Instagram dan TikTok sekolah. Sebagian siswa yang datang menjenguk berdiri jauh karena tidak berani mendekat. Di antara mereka, dua gadis berseragam Akademi Bintang Mulia tampak paling menonjol.

Yang pertama membawa kantong buah terlalu besar untuk tangannya. Wajahnya bulat, matanya jujur, dan ia terlihat seperti sudah berlatih kalimat sepanjang perjalanan tetapi lupa begitu melihat F4.

Yang kedua berdiri sedikit di depan, dagunya terangkat seolah ia tidak gugup, padahal jari-jarinya mencengkeram tali tote bag sampai putih.

Sis berbisik, "Ningrum dan Hana. Keduanya dari angkatan yang sama. Data emosinya campur aduk: takut, kagum, penasaran."

Hana membuka mulut lebih dulu. "Kami cuma... lewat."

Ningrum langsung menoleh padanya dengan panik. "Hana!"

"Apa? Kalau bilang sengaja datang, nanti kelihatan aneh."

Felicia mengangkat alis.

Ningrum maju setengah langkah dan menunduk. "Maaf. Kami dengar kamu keluar hari ini. Aku bawa buah. Tidak tahu boleh diterima atau tidak."

Jayden melihat kantong buah itu. "Lo bawa satu pasar?"

Ningrum makin merah. "Aku tidak tahu buah apa yang disukai pasien."

Felicia menatapnya sebentar. "Taruh di mobil."

Wajah Ningrum langsung terang.

Hana memalingkan muka. "Aku cuma ikut supaya dia tidak nyasar."

"Kamu juga boleh taruh gengsimu di mobil," kata Felicia.

Hana tersedak.

Calvin tertawa pelan.

Momen ringan itu hanya bertahan sampai pintu kaca otomatis terbuka ke area drop-off VIP.

Udara panas siang langsung menyentuh wajah. Mobil keluarga sudah menunggu di jalur teduh. Sopir membuka pintu belakang. Dua petugas keamanan rumah sakit berdiri di dekat pilar, tetapi perhatian mereka terpecah oleh rombongan orang tua yang baru datang.

Felicia melihatnya lebih dulu.

Tiga laki-laki di dekat parkiran motor tidak cocok dengan tempat itu. Jaket mereka terlalu tebal untuk cuaca siang, sepatu mereka kotor, dan salah satu dari mereka memegang ponsel sambil menatap layar, lalu menatap kursi roda Felicia.

Salah orang akan melihat mereka sebagai ojek online yang menunggu order.

Felicia melihat target.

"Sis."

"Terdeteksi niat buruk. Tidak ada energi Kehendak Dunia. Ini manusia biasa."

Bagus. Berarti boleh dipatahkan, asal mereka mulai.

Nathan juga melihat perubahan matanya. "Feli?"

"Dorong terus."

Calvin di belakang kursi roda tidak berhenti. "Ci?"

"Jangan ganggu dulu."

Mereka sampai dua meter dari mobil ketika laki-laki pertama bergerak. Ia berjalan cepat dari samping pilar, tangan kanannya masuk ke saku jaket. Laki-laki kedua memutar dari belakang mobil. Laki-laki ketiga justru menuju Ningrum dan Hana, mungkin karena mereka terlihat paling mudah dijadikan penghalang.

Hana membeku.

Ningrum menarik lengan Hana tanpa berpikir, mendorongnya ke belakang tubuh sendiri.

Felicia melihat itu.

Lumayan.

Laki-laki pertama mengeluarkan pisau lipat kecil. Tidak besar, tetapi cukup untuk membuat lobi VIP menjerit kalau diarahkan ke pasien kursi roda.

"Jangan teriak," katanya. "Ikut saja."

Jayden sudah bergerak.

"Mundur," kata Felicia.

Jayden berhenti seperti direm.

Pisau itu bergerak ke arah bahu kanan Felicia, mungkin hanya untuk mengancam. Felicia menunggu sampai ujungnya masuk jarak yang sah.

Lalu kakinya menekan pedal kursi roda.

Kursi itu berputar mendadak. Pisau meleset ke udara. Tangan kanan Felicia meraih pergelangan laki-laki itu, bukan dengan tenaga besar, melainkan sudut yang membuat siku lawan kehilangan arah. Dengan kaki yang masih bisa bergerak, ia menendang ringan roda depan kursi ke tulang keringnya.

Laki-laki itu jatuh berlutut.

Felicia mengambil pisau lipat dari tangannya sebelum benda itu menyentuh lantai.

Semua terjadi terlalu cepat untuk orang-orang di lobi.

Laki-laki kedua menyerang dari belakang mobil. Calvin mendorong kursi roda sedikit ke samping, cukup untuk memberi ruang. Felicia tidak berdiri. Ia hanya melempar tas obat kecil dari pangkuannya ke wajah laki-laki itu. Saat ia refleks menutup mata, Jayden menangkap kerah jaketnya dan menghantamkannya ke kap mobil tanpa membuat kepalanya pecah.

"Gue boleh yang ini, kan?" tanya Jayden.

"Sudah terlanjur," kata Felicia.

Laki-laki ketiga menarik Hana dengan kasar. "Diam!"

Hana menjerit. Ningrum memegang tangan Hana dengan kedua tangan, wajahnya pucat tetapi tidak melepas.

Felicia menoleh.

Suhu di sekitar drop-off seperti turun.

Nathan sudah memanggil keamanan. Sebastian mengambil video dari sudut yang tepat. Calvin melangkah ke sisi kursi roda, wajah manisnya kosong.

Laki-laki ketiga menempelkan sesuatu ke sisi leher Hana, bukan pisau besar, hanya cutter kecil. "Suruh mereka mundur!"

Hana menangis. "Aku tidak mau mati!"

Ningrum gemetar. "Lepaskan dia. Tolong."

"Diam!"

Felicia memegang pisau lipat yang ia ambil dari penyerang pertama. Beratnya murah. Pegangannya longgar. Benda kelas pasar malam.

Namun benda buruk tetap bisa dipakai dengan tangan yang tepat.

"Ningrum," kata Felicia.

Ningrum menoleh dengan mata basah.

"Tutup mata Hana."

Ningrum tidak bertanya. Ia langsung menutup mata Hana dengan satu tangan.

Felicia mengangkat pisau lipat.

Nathan berkata, "Feli."

"Tidak kena."

Pisau itu melesat.

Tidak menuju tubuh. Tidak menuju kepala. Pisau murah itu menancap di pilar beton tepat di samping telinga laki-laki ketiga, hanya seujung jari dari kulitnya.

Suara logam menghantam beton memecah udara.

Laki-laki itu membeku total.

Cutter jatuh dari tangannya.

Calvin bergerak seperti bayangan, menarik Hana dan Ningrum mundur. Jayden sudah sampai detik berikutnya dan menekan laki-laki ketiga ke lantai. Petugas keamanan akhirnya berlari datang, terlambat tetapi cukup untuk menerima hasil jadi.

Felicia menarik napas pelan. Rusuknya sakit. Bahu kirinya berdenyut. Kepalanya berat.

Tetapi tiga laki-laki itu sudah di lantai.

Kursi rodanya bahkan belum melewati garis drop-off.

Orang-orang di lobi menatapnya dengan mulut terbuka.

Hana menangis sambil memegang lengan Ningrum. Ningrum sendiri gemetar hebat, tetapi matanya tidak lepas dari Felicia.

"Kamu menutup matanya," kata Felicia.

Ningrum mengangguk kaku.

"Bagus."

Satu kata itu membuat air mata Ningrum jatuh lebih deras.

Hana tersedu. "Aku pikir kita mati."

"Kalau mati semudah itu, dunia ini terlalu membosankan," kata Felicia.

Hana menatapnya seperti ingin membantah, tetapi air mata membuat suaranya rusak. "Kamu... kamu benar-benar tidak takut?"

"Takut membuang waktu."

"Aku dulu pernah ikut ketawa waktu orang kelas ngomongin kamu," kata Hana tiba-tiba.

Ningrum langsung panik. "Hana, sekarang bukan waktunya!"

"Aku tahu!" Hana mengusap pipinya dengan kasar. "Tapi kalau barusan dia tidak lempar pisau itu, aku mungkin sudah..."

Kata terakhirnya hilang.

Felicia memandang Hana sebentar. "Kalau kamu ingin minta maaf, lakukan nanti saat tidak menangis."

Hana tertegun.

"Kalau kamu ingin berguna, berhenti berdiri di tempat yang membuat orang harus menyelamatkanmu dua kali."

Wajah Hana memerah sampai telinga, tetapi kali ini bukan karena marah. Ia mengangguk kaku.

Ningrum masih menahan napas. "Aku boleh bantu apa?"

Felicia menatap tangan Ningrum yang masih menggenggam Hana meski seluruh tubuhnya gemetar.

"Kamu tadi tidak melepas dia."

Ningrum berkedip. "Aku takut."

"Tapi tidak melepas."

Air mata Ningrum jatuh lagi. Ia seperti baru menerima nilai ujian yang tidak pernah ia bayangkan bisa lulus.

"Mulai sekarang," kata Felicia, "kalau mau berdiri di dekatku, jangan pakai alasan lewat."

Hana dan Ningrum sama-sama terdiam.

Kalimat itu bukan undangan manis.

Justru karena tidak manis, keduanya mengerti.

Jayden tertawa keras meski masih menekan penyerang ke lantai. Nathan menatap Felicia dengan wajah antara marah dan lega. Sebastian sudah meminta petugas keamanan jangan mematikan rekaman CCTV. Calvin mengambil pisau yang tertancap di pilar dengan saputangan, lalu memasukkannya ke kantong bukti sementara.

Penyerang pertama, yang lututnya masih sakit, mendadak berteriak, "Kami cuma disuruh! Jangan lapor polisi!"

Felicia menoleh padanya.

"Oleh siapa?"

Pria itu menutup mulut.

Felicia tersenyum.

"Aku tanya sekali lagi."

Ia menunjuk pilar, tempat bekas pisau masih terlihat.

"Oleh siapa?"

Wajah pria itu basah keringat.

Di kejauhan, dari balik kaca mobil hitam yang berhenti sebentar di pintu keluar rumah sakit, Om Charles melihat kekacauan itu dengan wajah membeku.

Nathan melihat mobil itu juga, dan matanya langsung menyipit.

Ia menghafal platnya dengan jelas.

Penyerang itu akhirnya gemetar dan menjawab.

"Orang Tanuwijaya... Om Charles."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!