NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6 - Poin yang Dibiarkan

Nathan Salim tidak turun dari tribun setelah pertandingan pertama selesai.

Ia tetap berdiri di baris paling belakang, satu tangan memegang blazer, satu tangan lain bertumpu ringan pada pagar pembatas. Di sekelilingnya ada beberapa siswa yang ingin mendekat, tetapi tidak berani membuka percakapan lebih dulu.

Felicia menyukai posisi itu.

Orang yang berdiri sendirian di tempat tinggi biasanya ingin melihat papan permainan secara utuh.

"Target pertama menatap Tuan Rumah selama dua menit tiga belas detik," lapor Sis.

"Kamu menghitung?"

"Tentu. Ini data penting."

"Bintangnya bergerak?"

"Belum. Masih 0%."

"Berarti tatapan saja belum cukup."

Sis terdengar kecewa. "Padahal tatapannya intens."

Felicia menaruh handuk ke kursi panitia. "Tatapan murah. Perubahan perilaku baru mahal."

Babak berikutnya dimulai lima belas menit kemudian. Lawannya siswi unggulan dari Kelas A, gerakannya jauh lebih terlatih. Pukulan pertama rendah, cepat, dan mengarah ke sisi kanan Felicia, jelas sudah ada yang memberi tahu soal memar di tangannya.

Felicia mengangkat alis.

Informasi bergerak cepat. Bagus.

Ia tidak memaksa tangan kanan. Kaki kirinya mundur setengah langkah, tubuhnya berputar, dan raket di tangan kiri mengembalikan kok dengan sudut tajam yang jatuh di garis belakang.

Poin.

Lawan Kelas A itu tidak seperti siswi sebelumnya. Ia langsung mengubah strategi, memaksa reli panjang untuk menguras stamina Felicia. Penonton mulai bersorak, terutama saat Felicia terlambat setengah detik mengambil satu bola silang.

Sis menjerit, "Tuan Rumah, jangan dipaksa! Lutut kiri masih tertarik!"

"Dia sedang menguji daya tahan."

"Dan Tuan Rumah membiarkan?"

"Aku juga perlu tahu."

Reli berikutnya berlangsung dua puluh tujuh pukulan. Keringat turun dari pelipis Felicia. Napas tubuh ini mulai terasa lebih panas, paru-parunya belum terbiasa bekerja di bawah tekanan. Namun mata Felicia tetap jernih.

Pola lawannya terbuka pada pukulan keempat belas.

Setiap kali gugup, bahu kanan gadis itu naik sedikit sebelum smash.

Felicia menunggu sampai kebiasaan itu muncul lagi.

Begitu bahu kanan lawan naik, Felicia maju. Kok keras meluncur ke arahnya. Ia tidak menahan. Ia memiringkan raket, membiarkan tenaga lawan memantul tipis melewati net.

Kok jatuh.

Penonton terdiam satu ketukan, lalu ribut.

"Itu sengaja?"

"Gila, kok bisa?"

"Dia baca gerakan?"

Di akhir set, papan skor menunjukkan 21-8.

Delapan poin itu bukan pemberian. Itu biaya pengumpulan data.

Saat jeda, seseorang meletakkan sebotol air mineral dingin di ujung bangku Felicia.

Felicia menoleh.

Nathan berdiri di samping bangku, jaraknya sopan, wajahnya tetap tenang. Dari dekat, mata emasnya lebih terang daripada yang terlihat dari tribun.

"Tangan kananmu sakit," katanya.

Bukan pertanyaan.

Felicia mengambil botol itu. "Sedikit."

"Kamu sengaja membiarkan tiga poin di pertandingan pertama."

Sis langsung heboh. "Dia tahu!"

Felicia membuka tutup botol. "Lalu?"

"Di pertandingan ini, kamu membiarkan lebih banyak untuk membaca pola lawan."

"Ketua OSIS biasanya menghitung skor sedetail itu?"

Nathan tersenyum kecil. "Biasanya tidak."

"Berarti aku pengecualian?"

Senyum itu nyaris hilang, bukan karena tersinggung, tetapi karena pertanyaannya mengenai tempat yang tepat. Nathan menunduk sedikit, mengambil blazer yang ia letakkan di sandaran bangku.

"Mungkin," jawabnya. "Aku belum memutuskan."

Felicia minum seteguk. Air dingin turun ke tenggorokan, mengurangi panas tubuhnya. "Putuskan setelah final."

Nathan menatapnya, lalu mengangguk. "Aku akan menonton."

Ia pergi sebelum suara di sekitar mereka terlalu ramai. Namun keramaian sudah terlambat dicegah.

Anak-anak yang duduk di tribun saling menatap. Nathan Salim baru saja memberikan air pada Felicia Winarko, gadis Kelas F yang pagi tadi masih dianggap bahan ejekan.

Dalam lima menit, gosip itu menyusul gosip bantingan.

Final dimulai menjelang sore.

Lawan terakhir berasal dari Kelas Olimpiade, kapten klub bulu tangkis putri. Gerakannya bersih, pukulannya berat, dan wajahnya tidak menunjukkan rasa meremehkan. Inilah lawan pertama yang cukup sopan untuk dianggap serius.

Felicia berdiri di garis belakang dan memutar raket.

"Kali ini pakai tangan kanan?" tanya Sis.

"Tidak perlu."

"Tapi final."

"Justru karena final, biarkan mereka mengingat ini."

Pertandingan itu tidak berlangsung lama.

Kapten Kelas Olimpiade mencoba bermain rapi. Felicia menghancurkan kerapian itu dengan ritme yang tidak masuk akal. Ia memperlambat ketika lawan ingin cepat. Ia mempercepat ketika lawan ingin mengatur napas. Ia mengirim kok ke sudut yang memaksa lawan membuka ruang, lalu menutup reli dengan pukulan pendek yang membuat seluruh tubuh lawan berhenti sia-sia.

Set pertama 21-5.

Set kedua 21-4.

Poin terakhir jatuh tepat di garis samping. Wasit siswa sampai turun dari kursi untuk memastikan, lalu mengangkat tangan.

"Masuk. Pertandingan dimenangkan oleh Felicia Winarko dari Kelas F."

Gedung olahraga tidak langsung bersorak.

Mereka diam dulu.

Diam yang lebih jujur daripada tepuk tangan.

Baru setelah anak-anak Kelas F tersadar bahwa kelas mereka menang untuk pertama kalinya, suara mereka pecah. Ada yang berteriak, ada yang melompat, ada yang menatap Felicia seperti ingin mendekat tapi masih takut.

Panitia mengumumkan tambahan poin untuk Kelas F. Angka di layar digital berubah, kecil memang, tetapi cukup untuk mengangkat kelas terbawah itu dari posisi yang selalu jadi bahan lelucon. Beberapa anak Kelas F saling dorong, bingung antara ingin merayakan dan takut Felicia menoleh.

Siswi berambut bob berdiri di dekat pintu keluar tribun. Wajahnya lebih merah daripada lawan final Felicia. Ia yang mendorong Felicia masuk ke bagan berat, tetapi sekarang seluruh kelas mendapat keuntungan dari kemenangan itu. Kalau ia mengejek, ia akan terlihat bodoh. Kalau ia berterima kasih, harga dirinya hancur.

Felicia meliriknya sekali.

Siswi itu langsung menunduk.

Pilihan ketiga ternyata diam.

Lumayan pintar.

Felicia menurunkan raket.

Di tribun, Nathan masih berdiri.

Kali ini ia bertepuk tangan pelan.

Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Tidak heboh, tetapi cukup untuk membuat seluruh siswa lain ikut sadar bahwa kemenangan Felicia tidak bisa diperlakukan seperti kebetulan.

Sis mengintip layar bintang. "Masih 0%, tapi data emosinya berubah. Nathan Salim menaruh perhatian khusus."

"Perhatian cukup untuk pintu pertama."

Di pintu samping gedung olahraga, Jayden Hartono menyandarkan bahu ke dinding dengan botol minuman isotonik di tangan. Ia tidak bertepuk tangan seperti Nathan. Ia hanya tertawa pendek, mata tajamnya mengikuti cara Felicia berjalan tanpa terlihat lelah meski tubuhnya jelas sudah mencapai batas.

"Menarik juga," gumamnya, lalu melempar botol kosong ke tempat sampah dari jarak jauh.

Botol itu masuk tepat sasaran.

Sore itu, saat Felicia keluar dari gedung olahraga, matahari sudah turun rendah. Area parkir belakang lebih sepi, hanya beberapa mobil mewah tersisa dengan sopir menunggu di dalam.

Suara mesin tiba-tiba meraung.

Sebuah mobil sport merah berhenti tidak jauh darinya. Kaca jendela turun, memperlihatkan Jayden Hartono di kursi pengemudi, tindik bibirnya berkilat saat ia menyeringai.

"Hei, jagoan bulu tangkis," katanya. "Ikut balapan, nggak?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!