Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.
Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.
Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.
Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?
*
Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Setelah tenaganya pulih, Arina meminta Saiph mengantarkannya ke tenda tempat Astralis Alba disimpan.
Saiph segera membuka tirai tenda.
Di dalamnya tampak setangkai bunga putih kebiruan dengan putik berwarna emas yang memancarkan kilau lembut. Keindahannya begitu memikat hingga sulit untuk mengalihkan pandangan.
"Jangan menatap putiknya," ujar Arina sambil mengambil bunga itu dengan hati-hati, lalu membawanya keluar dari tenda.
Tak seorang pun berani mengabaikan peringatannya.
Saiph dan lima prajurit yang menemaninya ke Bukit Astrion sudah menjadi bukti nyata betapa berbahayanya kekuatan bunga tersebut. Mereka semua terluka akibat sempat terhipnotis oleh putik Astralis Alba.
Sementara itu, Alhena dengan sigap menyiapkan seluruh peralatan yang dibutuhkan untuk meracik obat.
Beberapa cawan batu diletakkan di atas meja lipat, disusul tungku pembakaran kecil, alu dan lumpang, serta berbagai tanaman obat yang telah dipilih sebagai bahan pendukung.
Dalam hitungan saat, meja sederhana itu telah berubah menjadi tempat peracikan obat darurat.
Semua orang menunggu Arina memulai proses pembuatan penawar yang akan menentukan nasib seluruh warga Asterra.
Arina mengamati deretan tanaman obat yang telah disiapkan Alhena. Jemarinya bergerak pelan, memilih satu per satu dengan ketelitian tinggi hingga akhirnya berhenti pada empat jenis tanaman.
"Lunavera... Viridorn... Noctis Fern... dan Aurelia Moss."
Ia meletakkan keempat tanaman itu di atas meja, terpisah dari bahan-bahan lainnya.
Tatapan Saiph mengikuti setiap gerakan Arina.
"Saiph."
"Ya, Nona."
"Kau yang meracik keempat bahan pendukung ini."
Saiph tampak sedikit terkejut. "Saya?"
Arina mengangguk pelan.
"Aku harus fokus pada Astralis Alba. Kau mengerti, Saiph?”
Saiph memahami maksud ucapan itu.
Sebagai seorang Restorator, ia memiliki kemampuan langka untuk mempertahankan dan mengembalikan esensi alami suatu tanaman saat diracik. Kemampuan itu adalah alasan mengapa Arina mempercayakan tugas tersebut kepadanya, meski orang lain tidak mengetahui bakat istimewanya.
"Baik, Nona."
Tanpa membuang waktu, Saiph mengambil lumpang dan alu, lalu mulai menghaluskan Lunavera, Viridorn, Noctis Fern, dan Aurelia Moss sesuai petunjuk Arina.
Sementara itu, Arina membawa Astralis Alba ke hadapannya. Dengan sangat hati-hati, ia memisahkan kelopak putih kebiruan bunga itu dari putik emasnya.
Setiap helai kelopak diletakkan ke dalam cawan kristal pertama.
Sedangkan putik emas yang memancarkan cahaya lembut dipisahkan ke dalam cawan kedua.
Gerakannya begitu halus dan penuh ketelitian, seolah sedikit saja kesalahan dapat menghilangkan seluruh khasiat bunga langka tersebut.
Di sekeliling mereka, suasana berubah hening.
Semua mata tertuju pada Arina dan Saiph yang bekerja berdampingan, berharap ramuan yang sedang mereka racik benar-benar mampu menyelamatkan seluruh warga Asterra.
Setelah memisahkan kelopak bunga dari putiknya, Arina mulai menumbuk kelopak Astralis Alba hingga menjadi bubuk yang sangat halus. Sementara itu, putik emasnya tetap dibiarkan utuh di dalam cawan kristal.
"Aku rasa kita tidak perlu berkumpul di sini seperti ini," ujar Arina di sela-sela kegiatannya. "Sebaiknya yang lain mulai menyelidiki seluruh kota. Siapa tahu orang yang menyebarkan racun itu masih berkeliaran."
"Benar," sahut Putri Vega. "Kita berpencar."
Tanpa membuang waktu, Putri Vega segera memberikan instruksi.
Panglima Darius, Edmund, serta beberapa prajurit langsung bergerak meninggalkan perkemahan untuk memulai penyelidikan.
Ketika semua orang mulai pergi, hanya Orion yang masih berdiri di tempatnya.
Tatapan hazelnya tidak lepas dari Arina.
"Kau sengaja mengalihkan perhatian mereka, bukan?" tanyanya dengan nada curiga.
"Tidak." Arina menggeleng pelan tanpa menghentikan pekerjaannya. "Aku hanya memberi saran. Menangkap pelaku sama pentingnya dengan membuat penawar."
Ia kemudian menoleh sekilas kepada Orion. "Justru kau yang membuatku heran. Bukankah kau seorang jenderal? Kenapa masih berdiri di sini?"
Orion menatapnya beberapa saat.
Entah mengapa, ia merasa wanita itu sedang menyembunyikan sesuatu.
Namun, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia akhirnya berbalik dan ikut meninggalkan tempat itu.
Setelah memastikan Orion benar-benar pergi, Arina kembali memusatkan perhatiannya pada ramuan di hadapannya.
"Saiph."
"Ya, Nona."
"Masukkan semua bahan pendukung ke dalam kuali."
"Baik."
Saiph menuangkan hasil racikan Lunavera, Viridorn, Noctis Fern, dan Aurelia Moss ke dalam kuali, kemudian Arina menambahkan bubuk kelopak Astralis Alba sesuai petunjuk Arina.
"Bagus." Arina mengangguk tipis. "Sekarang aku ingin kau bergabung dengan yang lain untuk mencari pelaku. Cukup Alhena yang menemaniku di sini."
"Baik, Nona." Saiph menundukkan kepala, lalu meninggalkan tempat itu tanpa menunggu perintah kedua.
Tak lama kemudian, hanya Arina dan Alhena yang tersisa di dekat kuali.
Arina mengamati sekeliling sejenak.
Setelah yakin tidak ada seorang pun yang memperhatikan mereka, ia perlahan mengangkat tangan kanannya. Api ungu terang muncul dari telapak tangannya, memancarkan cahaya lembut di tengah gelapnya malam.
Ia mengarahkan api itu ke bawah kuali.
Tidak seperti api biasa, nyala ungu itu membakar ramuan secara perlahan dan sangat stabil.
Aroma herbal yang segar perlahan memenuhi udara.
Sedikit demi sedikit, seluruh bahan di dalam kuali mulai melebur menjadi satu.
Saat campuran itu hampir sempurna, Arina mengambil putik emas Astralis Alba.
Ia mengangkatnya di atas kuali.
Api ungu itu tidak langsung membakarnya. Sebaliknya, nyala tersebut menahan putik itu tetap melayang di udara, lalu perlahan menyaring sari-sarinya.
Setetes demi setetes cairan berwarna emas menetes turun ke dalam kuali.
Begitu cairan emas itu bercampur dengan ramuan, warna isinya perlahan berubah menjadi ungu keemasan yang berkilau lembut.
Keringat mulai membasahi pelipis Arina. Tangannya sedikit gemetar, tetapi ia terus menjaga suhu api agar tetap stabil.
Semakin lama, wajahnya kembali memucat. Rasanya seolah seluruh darah di tubuhnya sedang tersedot keluar.
"Nona..." Alhena melangkah maju dengan wajah penuh kecemasan.
Bibir Arina telah kehilangan seluruh warnanya. Namun, Arina tidak menghentikan prosesnya.
Malam ini, untuk kedua kalinya ia mengerahkan kekuatan dalam jumlah besar. Akan tetapi, proses meracik penawar inilah yang paling banyak menguras energinya.
Tubuhnya mulai terasa sakit. Namun, ia tidak boleh berhenti. Ia harus menyelesaikannya.
Setengah jam kemudian, Arina perlahan menarik kembali api ungu itu ke dalam telapak tangannya.
Seketika itu juga, darah segar mengalir dari hidungnya.
"Nona!"
Alhena segera menangkap tubuh Arina yang terhuyung sebelum sempat terjatuh. Dengan napas yang mulai melemah, Arina menatap kuali di hadapannya.
"Masukkan... obat itu ke dalam botol," ucapnya pelan. "Cukup... satu tetes... ke dalam air minum setiap pasien."
Pandangan Arina mulai berkunang-kunang. Darah masih terus menetes dari hidungnya. Alhena segera mengambil selembar kain bersih dan menekannya perlahan ke hidung Arina.
"Nona, mari saya antar beristirahat."
Arina mengangguk lemah.
"Antarkan aku ke tenda... dan jangan biarkan siapa pun masuk sebelum pagi."
"Baik, Nona."
Dengan hati-hati, Alhena menopang Arina menuju tenda.
Ia membantu Arina berbaring di atas ranjang, menyelimutinya, lalu memastikan wanita itu benar-benar dapat beristirahat.
Setelah itu, Alhena kembali ke perkemahan.
Ia membuka beberapa botol kaca yang telah disiapkan, kemudian dengan sangat hati-hati memindahkan cairan penawar dari dalam kuali.
Di dasar kuali, cairan berwarna ungu keemasan itu masih memancarkan kilau lembut.
Warnanya begitu indah, sementara aroma herbal yang menyegarkan perlahan menyebar ke seluruh perkemahan, membawa secercah harapan bagi warga Asterra yang sedang berjuang melawan racun mematikan.
...***...
...Like, komen dan vote ...