Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir di dompet Satria sudah berubah bentuk menjadi gumpalan lecek.
Di depannya, layar mesin ATM berkedip-kedip, menampilkan menu penarikan tunai yang terasa mengejek.
Satria menghela napas berat. Ia menekan tombol "Informasi Saldo". Dia sudah tahu angkanya akan mengenaskan, tapi dia tetap perlu melihatnya untuk memastikan seberapa jauh dia harus menahan lapar minggu ini.
Layar berganti. Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
SALDO REKENING ANDA:
Rp 270
Bukan 270 ribu. Bukan pula 270 juta. Hanya dua ratus tujuh puluh rupiah.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Sisa Waktu: 00:58:42
Target Pengeluaran: Rp 50.000.000,00
Status Saat Ini: Rp 0 / Rp 50.000.000,00
Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan sanksi 'Kemiskinan Absolut' (Saldo dipotong menjadi Rp 27).
“Lima puluh juta. Satu jam."
"Kepala bapak kau ambyar!” umpat Satria,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 10
Matahari mulai meninggi, memancarkan terik yang membakar aspal jalanan protokol Jakarta.
Satria, yang kini sudah berpenampilan sedikit lebih manusiawi dengan kemeja flanel longgar meski tetap mempertahankan sandal jepit karet andalannya berdiri di lobi utama Menara Cakrawala.
Gedung pencakar langit berlantai lima puluh itu dilapisi kaca reflektif kebiruan yang kokoh, berdiri angkuh di pusat kawasan bisnis Sudirman.
Di sampingnya, Nisa melangkah dengan ritme santai, sesekali merapikan letak tas kainnya.
Keduanya berjalan melewati deretan eksekutif muda yang berlalu-lalang dengan setelan jas pas badan dan langkah kaki yang terburu-buru.
Drrrtt!
Ponsel di saku Satria bergetar dengan ritme yang kini terasa seperti ketukan palu hakim finansial.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Misi Baru: 'Ekspansi Markas Tanpa Guna'.
Deskripsi: Seorang miliarder membutuhkan ruang kerja yang representatif, namun efisiensi ruang adalah musuh utama sistem ini.
Tugas: Sewa satu lantai penuh di gedung perkantoran kelas Grade A dalam waktu 60 menit.
Anggaran Disediakan: Rp 1.000.000.000,00 (Satu Miliar Rupiah) untuk biaya sewa awal dan deposit.
Aturan Khusus: Lantai tersebut sama sekali tidak boleh digunakan untuk aktivitas bisnis, operasional perusahaan, atau hal apa pun yang bisa menghasilkan keuntungan ekonomi. Fungsi lantai tersebut harus murni merusak reputasi gedung.
Sisa Waktu: 00:59:15
Penalti Gagal: Saldo Anda akan langsung terjun bebas menjadi Rp 27 perak.
Atau Author Anda ini yang sedang menulis cerita novel ini membuat hal hal aneh lagi.
Satria menghentikan langkahnya tepat di depan meja resepsionis yang terbuat dari bongkahan batu granit utuh.
"Memang Author gua satu ini lagi kurang waras," batin satria.
"Nisa, kita perlu menyewa satu lantai di atas."
"Tapi, seperti biasa, jangan sampai ada satu pun meja kerja atau komputer yang masuk ke sana."
Nisa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Satu lantai di Jaksel tanpa aktivitas bisnis?"
"Bos, gimana kalau kita jadikan tempat penjemuran pakaian buat warga kosan kita yang jemurannya sering hilang atau gak kering karena kehujanan?"
Satria menatap Nisa dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman.
"Jemuran baju di lantai gedung tertinggi?"
"Nisa, pemikiranmu benar-benar merusak tatanan estetika tata kota modern! Ide yang sangat bodoh, saya suka!"
Tanpa membuang waktu, Satria mengetuk meja resepsionis dengan ujung jarinya.
Seorang resepsionis wanita dengan sanggul rapi dan senyum profesional menyapa mereka, walau matanya sempat tertuju pada sandal jepit Satria selama setengah detik.
"Selamat siang, Bapak, Ibu."
"Ada yang bisa saya bantu untuk kunjungan ke Menara Cakrawala?"
"Saya mau bertemu dengan bagian manajemen pengelola gedung."
"Saya mau sewa satu lantai penuh hari ini juga. Cash," ujar Satria lugas.
Mendengar kata "sewa satu lantai penuh" dan "cash", resepsionis itu langsung menegakkan punggungnya.
Melalui Telfon darurat, ia segera memanggil Manajer Pemasaran Gedung.
Kurang dari tiga menit, seorang pria berkemeja necis dengan nametag 'Hendra' datang menghampiri mereka dengan senyum lebar yang sangat ramah.
"Selamat siang, Pak Satria."
"Mari, silakan ikut saya ke ruang VIP manajemen untuk berdiskusi lebih lanjut,"
ajak Hendra dengan sikap yang sangat hormat, tampaknya tidak peduli lagi dengan urusan sandal jepit setelah mendapat sinyal dari resepsionis tentang keseriusan calon penyewa ini.
Di dalam ruang rapat yang sejuk, Hendra membuka sebuah brosur digital di tabletnya.
"Kebetulan sekali, Pak Satria."
"Lantai 48 baru saja kosong minggu lalu karena perusahaan teknologi multinasional bermigrasi."
"Luasnya seribu dua ratus meter persegi, memiliki pemandangan langsung 360 derajat ke arah langit ibu kota."
"Biaya sewa dan deposit awal untuk kuartal pertama adalah delapan ratus lima puluh juta rupiah."
Satria melirik ponselnya yang diletakkan di bawah meja. Sisa waktu: 25 menit.
"Saya ambil."
"Gak usah pakai nego. Saya genapkan jadi satu miliar rupiah, tapi saya mau kuncinya sekarang juga dan kontraknya ditandatangani menit ini,"
cetus Satria, langsung menyodorkan kartu debitnya yang terhubung dengan akun Sistem Total Reversal.
Hendra terkesiap.
Proses negosiasi properti yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu dengan puluhan lembar dokumen legalitas, hancur berantakan dalam waktu dua menit di hadapan Satria.
Setelah mesin EDC berbunyi bip panjang dan mengeluarkan struk transaksi senilai satu miliar rupiah, wajah Hendra memerah karena gembira. Dia merasa baru saja mencetak rekor penjualan tercepat dalam sejarah kariernya.
"Luar biasa, Pak Satria! Ini kunci akses khusus untuk Lantai 48."
"Semua fasilitas sudah aktif."
"Apakah Anda membutuhkan bantuan arsitek interior dari kami untuk mendesain kubikal kerja atau ruang direksi?"
tanya Hendra penuh perhatian.
"Gak perlu."
"Saya sudah bawa desainer interior pribadi saya,"
jawab Satria sambil menunjuk Nisa yang sedang sibuk mengikat ulang tali jepit rambut wortelnya yang agak longgar.
Sepuluh menit kemudian, lift cepat membawa Satria, Nisa, dan Hendra menuju Lantai 48.
Begitu pintu lift terbuka, mereka disambut oleh ruangan kosong yang sangat luas dengan lantai beton halus dan dinding kaca raksasa yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit lainnya di bawah awan Jakarta.
"Nah, Pak Satria, ini adalah ruang utama yang bisa menampung sekitar dua ratus karyawan dengan konsep open-space,"
jelas Hendra dengan bangga.
Satria berjalan ke tengah ruangan, menghentakkan sandal jepitnya ke lantai beton.
"Bagus. Luas dan anginnya kencang karena dekat jendela."
Satria kemudian menoleh ke arah Nisa.
"Nisa, keluarkan logistik markas baru kita."
Hendra tersenyum penasaran, mengira asisten Satria akan mengeluarkan cetak biru atau gawai canggih.
Namun, senyumnya perlahan memudar ketika Nisa membuka tas kain besarnya dan mengeluarkan puluhan gulungan tali tambang plastik warna-warni, ratusan jepitan baju plastik, dan beberapa tiang jemuran lipat berbahan aluminium yang masih terbungkus plastik toko kelontong.
"Bos, tali tambangnya mau diikat dari pilar marmer ujung sana ke pilar kaca sebelah sini?"
tanya Nisa sambil menarik ujung tali plastik warna hijau neon.
"Iya, bikin sepuluh jalur."
"Biar muat banyak sprei sama selimut warga kosan,"
perintah Satria tanpa ragu.
Hendra melotot, matanya hampir melompat keluar dari bingkai kacamata mahalnya.
"M-maaf, Pak Satria... ini maksudnya bagaimana ya?"
"Tali tambang? Jemuran baju? Di Lantai 48 Menara Cakrawala?"
suara Hendra mendadak bergetar hebat, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Iya, Mas Hendra."
"Lantai ini resmi saya fungsikan sebagai 'Pusat Rejuvenasi Tekstil Komuniter', alias tempat jemur baju gratis buat warga kosan saya."
"Di bawah sana kan sering mendung dan banyak polusi, kalau di lantai 48 kan dekat matahari, jadi bajunya cepat kering dan wangi matahari asli,"
jawab Satria dengan wajah paling serius yang pernah ada.
"Tapi... tapi Pak! Ini gedung perkantoran eksklusif! Di sebelah kita ini kantor bank investasi asing, dan di bawah kita kantor hukum internasional!"
"Kalau dari luar kelihatan ada celana kolor dan daster bergelantungan di kaca gedung, reputasi menara ini bisa hancur, Pak!"
protes Hendra dengan wajah panik yang luar biasa.
"Lah, kan saya sudah sewa dan bayar satu miliar penuh."
"Di kontrak tadi tertulis saya bebas menggunakan ruangan ini selama tidak melakukan aktivitas ilegal yang melanggar hukum pidana."
"Memangnya menjemur pakaian dalam itu melanggar KUHP?" skakmat Satria sambil tersenyum miring.
Hendra membeku.
Logika hukumnya mendadak lumpuh menghadapi kegilaan finansial Satria.
Dia hanya bisa menyaksikan dengan tubuh gemetar saat Nisa dengan cekatan mulai mengikatkan tali tambang hijau neon dari satu pilar mewah ke pilar lainnya, mengubah ruang kantor senilai miliaran rupiah menjadi area jemuran terbesar di atas awan.
Tepat saat tali tambang kelima berhasil direntangkan, ponsel Satria mengeluarkan suara dentingan koin emas yang sangat renyah di dalam benaknya.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Misi Ekspansi Markas: BERHASIL MUTLAK.
Evaluasi: Mengubah ruang kantor premium seharga satu miliar rupiah menjadi tempat jemuran baju gratis adalah bentuk penistaan tertinggi terhadap nilai properti dan prestise korporat (Sangat Sempurna).
Dana Berhasil Dipotong dari Anggaran Sistem.
Saldo Efektif Anda Saat Ini: Rp 2.514.550.270,00.
Catatan: Angin di Lantai 48 sangat bagus untuk mengeringkan pakaian, sekaligus sangat bagus untuk menerbangkan kewarasan orang-orang di sekitar Anda. Bersiaplah untuk tantangan berikutnya.
Satria mengembuskan napas lega, berjalan mendekati dinding kaca raksasa dan menatap hamparan kota Jakarta di bawahnya.
Sementara itu, Hendra berjalan mundur perlahan menuju lift dengan tatapan kosong, tampaknya harus segera meminum obat sakit kepala sebelum menghadapi komplain dari pemilik gedung.
"Bos," panggil Nisa sambil memegang sepotong jemuran lipat.
"Besok pagi saya suruh Rian bawa mobil boks buat angkut cucian basah warga kosan ke sini ya?"
"Atur aja, Nisa."
"Jangan lupa kasih parfum laundry yang paling wangi, biar direktur bank sebelah tahu kalau jemuran kita lebih wangi daripada masa depan perusahaan mereka,"
jawab Satria sambil tertawa lepas, menikmati sensasi menjadi orang kaya paling absurd yang pernah menginjakkan kaki di lantai tertinggi ibu kota.