Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.
"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Satu tahun telah berlalu sejak insiden Aula Kecil. Musim panas datang dengan terik yang menyengat, namun di dalam Ruang Audit Kekaisaran yang baru direnovasi, udara terasa sejuk berkat sistem ventilasi cerdas yang dirancang sendiri oleh Putri Li Yuexin.
Putri Li Yuexin kini tidak lagi hanya duduk di belakang meja sebagai penasihat pasif. Dia berdiri di depan papan besar yang dipenuhi peta, grafik aliran dana, dan catatan strategi.
Jubahnya hari ini, berwarna biru tua dengan sulaman awan perak warna resmi Pejabat Tingkat Satu, gelar yang baru saja dianugerahkan Kaisar kepadanya bulan lalu. Dia adalah Putri Pertama yang juga menjabat sebagai Grand Auditor (Pemeriksa Agung) Kekaisaran.
Di hadapannya, duduk tiga perwakilan dari Serikat Pedagang Utara, sebuah konsorsium kuat yang mengendalikan jalur sutra dan rempah-rempah.
Mereka tampak gugup. Bukan karena takut dihukum, tapi karena reputasi Putri Li Yuexin yang sudah dikenal sangat teliti, adil, dan tak kenal ampun terhadap korupsi.
"Tuan Putri," kata ketua perwakilan, seorang pria paruh baya bernama Tuan Ming, dengan suara bergetar. "Proposal kami sangat sederhana, Serikat Kami bersedia ikut membiayai pembangunan jembatan di Provinsi Jiangnan dengan biaya penuh. Sebagai imbalannya, kami meminta hak monopoli perdagangan garam di wilayah tersebut selama sepuluh tahun."
Putri Li Yuexin menatap dokumen itu. Tawaran itu sangat menggiurkan bagi kas negara yang sedang tipis akibat pemulihan pasca-konflik.
Tapi monopoli garam adalah racun bagi rakyat kecil. Itu akan menaikkan harga kebutuhan pokok dan memicu kerusuhan.
"Hak monopoli?" tanya Putri Li Yuexin dingin, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu jati. "Tuan Ming, apakah kau lupa bahwa Garam adalah komoditas strategis negara? Memberikan monopoli pada satu kelompok itu sama saja dengan menyerahkan leher rakyat ke tangan kalian."
"Tapi... tanpa dukungan dari kami, jembatan itu tidak akan terbangun dalam lima tahun!" bantah Tuan Ming, mencoba menekan Putri Li Yuexin dengan desakan.
Putri Li Yuexin tersenyum tipis. Senyuman yang membuat Tuan Ming merasa tidak nyaman.
"Saya punya solusi lain," kata Putri Li Yuexin. Dia mengambil kuas dan mulai menulis di atas gulungan kosong di depannya.
“Saya tidak akan memberikan monopoli. Tapi saya akan menawarkan Kontrak Kemitraan antara kerajaan dengan kalian. Serikat Kalian membangun jembatan dan negara akan menjamin pengembalian modal kalian melalui pajak tol yang wajar selama lima tahun, bukan sepuluh tahun. Setelah lima tahun, kepemilikan jembatan kembali sepenuhnya pada negara. Dan sebagai tambahan..."
Putri Li Yuexin mendongak, matanya tajam.
"...Serikat Kalian akan mendapatkan prioritas dalam proyek infrastruktur di masa depan, jika audit keuangan kalian bersih dari suap menyuap dan pencucian uang selama periode kontrak ini."
Ruangan hening
Para pedagang saling berpandang. Ini bukan tawaran yang memberi mereka kekuasaan mutlak, tapi ini tawaran yang stabil, legal, dan menguntungkan jangka panjang tanpa risiko hukuman mati karena korupsi.
"Ini... ini belum pernah dilakukan sebelumnya, Tuan Putri," gumam Tuan Ming
"Maka jadilah yang pertama," jawab Putri Li Yuexin tegas. "Atau tinggalkan ruangan ini. Saya punya pertemuan dengan Menteri Pertanian dalam sepuluh menit."
Tuan Ming menelan ludah. Dia melihat keteguhan di mata Putri Li Yuexin, tidak ada ruang untuk negosiasi licik. Akhirnya, dia menghela napas dan membungkuk hormat.
"Kami menerima syarat dari Tuan Putri."
Mereka menandatangani kontrak di atas meja kayu jati itu. Tinta hitam mengering, mengikat janji antara kekuatan dari Tuan Ming dan otoritas negara. Saat para pedagang pergi, Putri Li Yuexin menghela napas lega, duduk kembali di kursinya.
Pintu ruangan terbuka. Masuklah seorang pria muda dengan jubah hijau zamrud, membawa tumpukan laporan. Itu adalah Lin Chen, yang kini telah naik pangkat menjadi Wakil Kepala Departemen Pekerjaan Umum. Wajahnya bersinar karena kagum.
"Luar biasa, Tuan Putri," kata Lin Chen sambil meletakkan laporan di meja. "Anda baru saja menciptakan contoh hukum baru dengan model kemitraan ini bisa diterapkan di seluruh negeri."
Putri Li Yuexin tersenyum lelah. "Terima kasih, Lin Chen. Tapi jangan terlalu memujiku karena ada masalah baru di laporanmu?"
Lin Chen ragu sejenak. "Benar Tuan Putri. Ada laporan tentang aktivitas mencurigakan di perbatasan barat. Kelompok pemberontak sisa-sisa Faksi Barat tampaknya mendapat pendanaan dari luar negeri. Mereka menyebut diri mereka 'Orde Phoenix Hitam'."
Mata Putri Li Yuexin menyipit. Phoenix Hitam? Nama itu terdengar seperti ejekan terhadap gelarnya.
"Siapa dalangnya?" tanya Putri Li Yuexin.
"Masih belum jelas Putri, tapi ada satu nama yang sering muncul dalam interogasi tahanan kecil. Seorang mantan jenderal yang dipecat karena keterlibatan dengan Marquis Han, Jenderal Luo."
Putri Li Yuexin mengingat nama itu. Jenderal Luo adalah mentor militer Gu Wenhao dulu. Pria yang ambisius dan kecewa karena tidak dipromosikan.
"Dia ingin membangkitkan kembali Faksi Barat," gumam Putri Li Yuexin. "Dengan menggunakan nama saya sebagai simbol perlawanan?"
"Sepertinya begitu, Tuan Putri. Mereka menyebarkan rumor bahwa Anda adalah tirani yang menghancurkan tradisi dan bahwa mereka adalah 'Phoenix Asli' yang akan memulihkan keseimbangan."
Putri Li Yuexin tertawa kecil, tawa yang sinis. "Keseimbangan? Mereka ingin membuat kekacauan dan aku tidak akan membiarkan kekacauan itu menyentuh rakyat yang baru saja mulai merasakan kedamaian."
Dia berdiri, berjalan menuju peta besar di dinding. Jarinya menunjuk ke perbatasan barat.
"Lin Chen, siapkan tim investigasi, kita tidak akan mengirim pasukan militer dulu. Itu akan memicu perang saudara. Kita akan mengirim auditor. Kita akan melacak aliran dana mereka dan kita akan memotong urat nadi keuangan mereka sebelum mereka sempat mengangkat pedang."
Lin Chen mengangguk semangat. "Siap, Tuan Putri!"
Saat Lin Chen keluar, Putri Li Yuexin tetap berdiri di depan peta.
Tantangan baru
Musuh baru
Tapi kali ini, dia tidak sendirian. Dia memiliki sistem, memiliki hukum, dan memiliki orang-orang percaya di sekitarnya.
Tiba-tiba, ada ketukan lembut di pintu.
"Masuk," panggil Putri Li Yuexin.
Pintu terbuka. Masuklah seorang pria dengan jubah putih polos, wajahnya tampan dengan senyuman hangat yang menenangkan. Dia membawa sebuah kotak kecil berisi kue osmanthus.
Itu adalah Shen Yi, sepupu jauh Putri Li Yuexin dari cabang keluarga Shen yang lain, yang baru kembali dari studi di akademi militer utara. Dia cerdas, rendah hati, dan satu-satunya pria di istana yang tidak pernah mencoba memanipulasi Putri Li Yuexin, melainkan selalu mendukung visinya.
"Aku dengar kau baru saja membuat sejarah lagi, Yuexin," kata Shen Yi, meletakkan kue di meja. "Kue ini hadiah dari ibuku. Katanya, otak yang bekerja keras butuh gula."
Putri Li Yuexin tersenyum, ketegangan di bahunya sedikit mengendur. "Terima kasih, Yi-ge. Kau selalu tahu cara menjadikanku tersenyum di tengah kekacauan."
Shen Yi menarik kursi dan duduk di seberangnya. "Kekacauan adalah bagian dari pekerjaanmu sekarang. Tapi ingat, bahkan phoenix perlu istirahat di dahan sesekali."
Dia menatap Putri Li Yuexin dengan tatapan yang dalam dan tulus. Tidak ada ambisi politik, tidak ada agenda tersembunyi. Hanya kepedulian murni.
Putri Li Yuexin menatapnya balik. Untuk pertama kalinya dalam hidup barunya, dia merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan ketakutan, bukan kewaspadaan, tapi... ketertarikan. Sebuah kemungkinan baru.
"Mungkin nanti," kata Putri Li Yuexin pelan, mengambil sepotong kue. "Setelah aku menyelesaikan urusan Jenderal Luo."
Shen Yi tersenyum. "Aku akan membantumu, aku punya kontak di perbatasan barat. Mungkin kita bisa bekerja sama. Secara profesional... dan mungkin lebih dari itu, jika kau mengizinkan."
Putri Li Yuexin tertawa, rasa ringan mengisi dadanya. "Kita lihat saja, Yi-ge. Kita lihat saja."
Di luar jendela, matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan warna emas dan ungu. Kontrak dengan pedagang telah ditandatangani. Ancaman baru telah terdeteksi dan mungkin, cinta baru sedang mengetuk pintu.
Putri Li Yuexin tidak lagi hanya bertahan. Dia hidup dan hidupnya baru saja menjadi jauh lebih menarik.