Pangeran Nicholas Veer Ralph, putra bungsu dari Raja Luther pemimpin Kerajaan Tharvis, terkenal sebagai seorang yang angkuh, pemarah, dan pemberontak. Bahkan reputasinya sebagai seorang pemain wanita telah tersebar luas di seluruh negeri. Sikapnya yang sangat berbeda dari kedua saudara kandungnya membuatnya menjadi sorotan. Demi mengubah perilakunya, Raja Luther berencana menjodohkannya dengan Putri Madeleine, dengan harapan bahwa pernikahan akan membawa perubahan. Namun, Nicholas menolak dengan keras dan malah mencari pasangan yang bisa dia kendalikan. Dalam pencariannya, Nicholas bertemu dengan Anastasia Rosalie, seorang perempuan baik hati dan lembut dari kalangan bawah. Dia menjebak Anastasia agar mau menikah dengannya untuk memenuhi ambisi pribadi, tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin akan terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon micemicu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan Makan Malam
...⚜️⚜️⚜️...
SAAT matahari mulai tenggelam di ufuk barat, Pangeran Nicholas terlihat sedang berada di lapangan panah, area selatan Istana Riverdale. Ia berdiri tegak, memegang busur panahnya yang baru saja selesai setelah menunggu sebulan penuh untuk ditempa. Di ujung sana, tepat di depannya, terdapat beberapa titik sasaran yang telah disiapkan. Penuh konsentrasi, ia membidik target.
Satu.
Dua.
Tiga.
Setelah helaan nafasnya yang dalam, dengan mantap Nicholas melepaskan panah ke arah sasaran. Suara desiran angin yang melintas saat panah meluncur menembus udara membuatnya menyeringai puas. Target pertama tepat sasaran.
Berubah posisi dengan cepat, Nicholas menarik anak panah yang lainnya dari dalam tabung. Dengan gerakan yang lincah, panah kedua pun dilepaskan dan menghujam dengan tepat di sasaran.
"Kau memang hebat Pangeran Nicholas," puji Lady Selova sambil bertepuk tangan.
Mendengar itu, Nicholas menyeringai tipis. Ia menurunkan busurnya, lalu menoleh ke perempuan-perempuan bangsawan cantik yang sengaja hadir setiap kali mengetahui Nicholas akan berlatih. Dan tentu Nicholas sangat senang dengan itu. Disaksikan oleh perempuan-perempuan bangsawan membuatnya merasa lebih hebat dan memberi makan egonya.
"Aku memang hebat, Lady Selova," ucap Nicholas sambil berjalan menghampiri ketiga perempuan itu. Diantara mereka, Selova yang terlihat paling terang-terangan menggodanya dari tatapan yang ia berikan. Sudut bibir Nicholas terangkat. Sepertinya malam ini akan berlangsung menyenangkan.
Nicholas meraih tangan Lady Selova, memberikan kecupan singkat secara perlahan di sana tanpa melepas tatapan mereka. "Karena kau sudah berbaik hati memujiku, aku ingin membalasnya dengan mengajakmu keluar malam ini, Lady Selova. Apa kau bersedia?"
Kedua mata mereka yang penuh hasrat saling bertemu dan mengirim sinyal yang jelas. Tidak sulit bagi Nicholas untuk mengetahui bahwa Lady Selova menginginkan hal yang sama.
"Tentu saja, Pangeran Nicholas."
Nicholas tersenyum puas. Dan begitulah perempuan di matanya. Bodoh dan selalu menyerahkan diri dengan gampang pada pesonanya. Tetapi Nicholas tidak peduli. Ia punya segalanya. Apapun yang ia mau, bisa ia dapatkan dengan mudah. Hatinya terlalu dingin untuk mengerti arti peduli. Atau sebaliknya, dunia sekitarnya terlalu dingin untuk ia berikan perhatian lebih. Paham bahwa bentuk kepedulian hanya sesuatu yang membuat seseorang lemah dan ia tidak ingin lagi terjebak di situasi itu.
"Izin, Tuanku Pangeran. Hamba diberi perintah oleh Yang Mulia Baginda Raja Luther untuk memberikan kabar kepada Tuanku untuk bersiap." Salah seorang pengawal datang menghampiri Nicholas.
"Bersiap untuk apa?" Nicholas mengernyitkan dahinya. Ia tidak merasa ada janji temu dengan siapa-siapa.
"Maaf, Tuanku. Hamba tidak tahu."
"Bodoh!" Nicholas geram. Tangannya dengan ringan menampar kepala pengawal itu. Kenapa pihak istana memperkerjakan orang bodoh seperti ini? Nicholas tidak suka informasi yang setengah-setengah. Sungguh tidak berguna.
"Sepertinya malam ini akan sedikit terganggu, Lady Selova. Maafkan aku," ucap Nicholas.
"Tidak masalah, Pangeran Nicholas. Masih ada hari lain, bukan?"
"Kau benar. Kalau begitu pulanglah. Aku harus masuk."
Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Lady Selova dan teman-temannya, Nicholas segera berjalan menuju ke istana, diikuti oleh beberapa pengawal yang sedari tadi menemaninya di lapangan panah.
Saat di depan pintu selatan istana, langkahnya berhenti tatkala melihat rombongan petani dari Pulau Erast yang baru saja sampai dan turun berbondong-bondong dari dalam kereta barang mereka. Satu kali dalam sebulan, mereka akan datang untuk menyortir hasil panen mereka yang akan diserahkan ke istana untuk keperluan istana.
"Hormat kami, Tuanku Pangeran Nicholas," ucap salah seorang dari mereka, menunduk untuk memberi sikap hormat.
Namun, sayang. Sang Pangeran tidak suka menampilkan senyum ramah. Alih-alih menjawab salam hormat petani itu, ia justru pergi dari sana dengan segera.
Angkuh. Seperti itulah kesan setiap orang yang berhadapan dengan Nicholas. Tak jarang orang mencacinya di dalam hati karena sifatnya yang berbeda jauh dari Putra Mahkota, Pangeran William Veer Ralph.
"Kau lihat itu?" tanya seorang wanita paruh baya kepada seorang gadis cantik berambut emas yang menjadi salah satu dari para petani yang ikut. "Pangeran Nicholas sangat arogan, tidak seperti Pangeran William yang ramah dan murah senyum. Kalau saja dia bukan seorang Pangeran, sudah ku pukul dengan tongkat rotan kepalanya karena tidak sopan pada yang lebih tua."
Gadis itu, yang sibuk mengangkat keranjang buah-buahan, terdiam sejenak lalu menoleh ke arah pintu selatan, tempat dimana Nicholas tadi lewat. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar tentang sikap Nicholas yang buruk kepada orang lain.
...***...
Malam ini Raja Luther mengadakan perjamuan makan sederhana bersama keluarga intinya di Istana Riverdale. Setelah beberapa hari lalu memberi mandat kepada utusan kerajaan untuk menyampaikan niat hatinya, pagi tadi Raja Luther menyambut kedatangan anak pertamanya, Putri Joselynn Vie Ralph bersama sang suami, Pangeran Anthonio de Arthur, dengan haru bahagia. Mereka tiba dengan selamat setelah melalui perjalanan panjang selama tujuh hari menggunakan kereta kuda dari Atarah, wilayah barat negeri Tharvis.
Tidak hanya itu, satu jam sebelum menjelang santap perjamuan, iring-iringan kereta kuda dari wilayah timur yaitu Cazelle, juga tiba anak kedua Raja sekaligus Putra Mahkota kerajaan, Pangeran William Veer Ralph, bersama istrinya Putri Daishana Jennasee Fedorov dan anak mereka yang masih berusia satu tahun, Pangeran Heinry Veer Ralph. Cukup lelah perjalanan sebelas hari mereka membawa anak sekecil Pangeran Henry. Namun, terbayar dengan sambutan hangat di istana sang Raja.
"Apa gerangan ayahanda mengumpulkan kita semua seperti ini? Tentu ada sesuatu yang menganggu pikiran ayahanda," tanya William, menatap Raja Luther yang duduk di kursi kehormatannya di ruang makan bersama.
"Tidak ada hal serius. Hanya merindukan momen makan bersama. Setelah kau dan Elyn menikah dan pindah dari istana, saya sering merasa kesepian," ucap lirih sang Raja yang terdengar sedih.
Putri Joselynn dan Pangeran William saling bertatap bingung.
"Ayahanda tidak lagi sakit, ‘kan? Kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu? Di sini masih ada Ibunda Permaisuri. Nicholas juga ada menemani." Joselynn menatap dengan khawatir penuturan Raja Luther.
Kesepian seperti apa yang ayahnya maksud? Di Istana Riverdale hidup beratus manusia yang setiap hari bekerja siang dan malam untuk kerajaan. Tak wajar baginya kalau Raja merasa kesepian. Apa Raja sedang sakit? Joselynn jadi berpikiran jauh.
"Ayahanda bukan mau mati, ‘kan? Tolong jangan mati du-" ucapan Joselynn terpotong karena Anthonio segera menutup mulutnya dengan serbet. Terkadang ucapan istrinya yang terlalu polos membuat Anthonio sedikit ketar-ketir.
Raja Luther mengedarkan pandangannya, melirik Nicholas yang duduk di seberang William. Perhatian Nicholas tidak sedikitpun terfokus pada pembicaraan mereka. Matanya sibuk memandang genit gadis pelayan yang menghidangkan menu makanan di atas meja. Mengawasi setiap gerak-gerik gadis itu hingga membuatnya takut dan risih. Sungguh muak, Raja Luther marah. Namun, alih-alih meneriakinya, sang Raja memilih diam. Terlebih lagi ada cucunya disana.
"Aku mau ayam madu panggang itu. Sekalian dengan paprika tumisnya. Tolong siapkan," titah Nicholas pada gadis pelayan, menunjuk hidangan di atas meja.
"Baik, Tuanku Pangeran."
"Minumnya, tolong tuangkan segelas susu dicampur lemon peras," tambah Nicholas. Ia sengaja memperlama gadis pelayan itu di sana. Meski hanya seorang pelayan, wajah perempuan itu cukup cantik. Betah untuk dipandang.
Para pelayan istana tunduk dan takut pada Nicholas. Ia terkenal tega memberi hukuman bila merasa kurang puas untuk kebutuhannya. Tak ada yang berani membuka mulut untuk mengadu pada Raja. Karena kalau itu terjadi, hukuman akan lebih berat.
"Terima kasih," kata Nicholas sambil menyentuh pinggang si gadis pelayan. Senyumannya penuh makna lain. Gadis itu hanya bisa menunduk dan memberi hormat sebelum akhirnya berlalu dari meja makan.
"Ada apa?" Nicholas heran ketika menyadari sedang ditatap.
"Apa yang kau lakukan itu tidak sopan dan tidak mencerminkan sikap seorang Pangeran kerajaan yang bermartabat," ujar sang Raja penuh penekanan.
"Memangnya aku melakukan apa? Aku hanya berterimakasih. Apa salah?" Nicholas berkilah. Ia tidak suka diatur dan selalu ingin mempertontonkan bahwa dirinya punya kuasa untuk menolak.
"Apa perlu berterimakasih dengan cara menyentuh di pinggang?" Ada amarah di dalam suara Raja Luther.
"Ayahanda terlalu berlebihan. Itulah akibatnya kalau gampang termakan isu dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Lihatlah! Ayahanda meragukan anak kandung sendiri dan lebih percaya pada orang lain." Nicholas tidak mau kalah. Suaranya ikut menukik.
"Jadi kau menantang saya?"
"Kalau memang harus, ya mau bagaimana lagi?"
"Hentikan!" Ibunda Permaisuri mengangkat suara dengan cepat. "Kalian berdua ini tidak melihat tempat! Ayahanda, ada waktu lain untuk menegur Pangeran Nicholas. Janganlah di depan Pangeran Henry. Dan Pangeran Nicholas, tolong jaga lisan dan sikapmu di depan ayahanda. Beliau ini Raja negeri ini," lanjut Ibunda Permaisuri memutus perdebatan di sana.
Nicholas menghela napas, menggaruk pipinya karena merasa jengah.
"Sudahlah. Jangan diperpanjang. Kami datang jauh-jauh kemari untuk kebersamaan keluarga Ralph. Kalaupun ada yang tidak berkenan, kita bahas setelah makan malam," kata Pangeran William.
Nicholas mencibir dalam hati. Kedekatannya dengan William memang buruk. Bukan karena pribadi William, tapi karena Nicholas yang menarik diri dari hubungan abang beradik diantara mereka. Itu semua berawal dari Raja Luther yang terkesan membedakan kasih sayangnya antara William dan Nicholas. Raja Luther cenderung memberi perhatian lebih kepada William daripada Nicholas, membuat Nicholas merasa diabaikan dan tidak dihargai sehingga ia sering kali bertingkah kasar dan merasa sulit untuk menerima kasih sayang dari orang lain. Bagi Nicholas, ia selalu dinomorduakan.
Pewaris tahta Kerajaan Tharvis ditentukan berdasarkan keturunan garis keluarga terdekat yang berjenis kelamin laki-laki. Jadi, meskipun anak pertama Raja Luther adalah Putri Joselynn, namun secara hukum yang berhak menggantikan Raja Luther kelak adalah Pangeran William.
Dulu, sewaktu kecil, Nicholas tidak pernah mempersalahkan peraturan itu. Tapi setelah beranjak dewasa, Nicholas mengulah. Pangeran William cenderung diberi banyak kepercayaan dan tanggung jawab dalam mengelola kerajaan, sementara Nicholas tidak.
Sebenarnya, Nicholas mendapat perlakuan yang sama di mata Raja Luther. Hanya saja semua berubah saat pertama kali Nicholas bergaul dengan teman-teman kalangan atas lainnya yang memiliki sifat buruk. Nicholas muda pun akhirnya terikut pergaulan mereka. Banyak kenakalan-kenakalan kecil hingga besar yang ia lakukan, membuat Raja Luther yang tadinya memperlakukannya sama dengan William akhirnya menjadi berbeda. Ironinya, Nicholas justru berpikiran bahwa Raja Luther pilih kasih.
"Besok Putri Madeleine akan tiba di sini. Saya mengundangnya untuk berbincang dan makan bersama," kata sang Raja di tengah-tengah makan malam mereka.
"Putri Madeleine itu siapa, ayahanda?" tanya Joselynn.
"Anak satu-satunya dari Raja di Kerajaan Utara. Dia akan saya nikahkan dengan Pangeran Nicholas."
Nicholas berhenti makan. Matanya menyalang menatap netra Raja Luther. "Ayahanda! Berapa kali harus aku jelaskan kalau aku tidak mau menikah dengannya?"
"Bukan aturanmu yang harus saya ikuti. Saya Raja negeri ini. Titah saya adalah perintah!"
"Perintah ayahanda tak masuk akal! Sampai kapanpun aku tidak mau!"
"Berani kau melawan?"
"Kenapa aku harus takut? Kalau itu bertentangan dengan mauku, aku akan melawan walau harus berhadapan dengan seorang Raja. Aku tidak akan menyerahkan kehidupanku untuk aturanmu semata."
"Anak kurang ajar! Keterlaluan!" Raja Luther bangkit dari duduknya, siap-siap ingin menampar Nicholas.
Mendengar suara teriakan-teriakan yang keras, Pangeran Henry mulai menangis digendongan sang ibu. Terpaksa Raja Luther menghentikan niatnya demi sang cucu agar tidak terganggu dan menangis lebih dari ini.