Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.
Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.
Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.
Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemesraan
"Sudah, kamu mandi sana."
Jinsin membuka kain tebal Rio yang sudah basah. Lalu dia meletakkan di teras dengan di gantung. Dia melihat pakaian di tubuhnya sudah basah dan menetes di lantai kayu teras rumah. Rio melihat pakaian di tubuh Jinsin sudah basah dan nampak tubuhnya yang menarik perasaan Rio.
"Kenapa, Rio?" Jinsin heran melihat wajah Rio.
"Tidak apa-apa, Jinsin." Dia menoleh malu kepada tubuh Jinsin.
"Kalau begitu aku masuk ya." Jinsin masuk ke dalam rumah.
"Iya."
Rio berdiri di teras rumah, karena hujan dan angin bertiup ke tubuh Rio. Dia kedinginan dan masuk ke dalam dengan menutup pintu. Rio membuka pintu ruangan, lalu dia melihat Jinsin sedang membuka pakaian.
"Hei, dasar genit!" teriak Jinsin malu.
"Aaaah.." teriak Rio kesakitan. Jinsin melempar tas ransel ke wajah Rio. Lalu dia berlari menutup pintu kamar.
"Dasar geniiiiiiit.!" teriak Jinsin dari dalam kamar.
"Aduuh, sakit."
Wajah Rio mengerut menutup mata merasakan sakit, memegang wajah dengan tangan. Rio langsung pergi dari pintu kamar setelah Jinsin berteriak yang membuat dia ketakutan. Jinsin keluar dari kamar, melihat kiri dan kanan, bergegas menuju ke kamar mandi memakai kain untuk mandi. Rio membuka pakaian yang basah di ruang depan, lalu menutup pakaian itu pakai handuk dan meletakkan pakaian itu dengan di gantung di teras rumah.
"Hujannya deras sekali ya. Sampai gak berhenti." ucap Rio melihat keluar dan masuk kembali karena udara dingin.
"Apa Jinsin sudah selesai, mandi?" Rio bicara sendiri, berdiri memakai handuk telanjang dada, lalu mengetuk telapak kaki kanan ke lantai kayu sampai berbunyi, melipat kedua tangan.
"Sebaiknya aku ke kamar mandi saja, siapa tahu dia sudah siap." Rio menuju ke kamar mandi, lalu dia berhenti melangkah, berdiri di depan kamar tidur Jinsin.
"Apa ku buka saja." tanya Rio bingung. Rio melihat lalu memegang pintu itu untuk di buka. Namun dia tidak jadi karena takut. Dia berjalan lagi ke kamar mandi. Lalu Rio berdiri di pintu kamar mandi.
"Mungkin sudah selesai. Tidak ada suara." Rio membuka pintu kamar mandi itu dan dia melihat Jinsin.
"Haaaaaaa...... Rio geniiiiiit!"
"Tookkk....."
"Adooh...." teriak Rio kesakitan kedua kalinya. Jinsin melempar ember kayu ke wajah Rio dengan kuat. Sampai dia terjatuh di depan kamar mandi sampai terlentang. Lalu Jinsin menutup pintu kamar mandinya.
"Awas kau ya Rio!" teriak Jinsin dari dalam kamar mandi. Rio tergeletak tidak sadarkan diri. Beberapa saat kemudian, Rio bangkit dari pingsannya. Dia memakai handuk, duduk memegang wajahnya di depan kamar mandi. Suara pintu berbunyi, lalu pintu kamar mandi terbuka, Jinsin keluar dari kamar mandi.
"Haaaaaaaa.... Ngapain kau di sini." Rio melihat Jinsin kaget. Lalu Jinsin menarik rambut Rio sampai Dia berdiri. Kemudian Jinsin melemparnya ke kamar mandi. Pintu kamar mandi di tutup Jinsin.
"Ngapain dia di depan kamar mandi?" Jinsin merasa gila melihat Rio pakai handuk.
"Aku di lemparnya." Rio terlungkup di kamar mandi, matanya merem melek seolah kejadian ini aneh. Lalu Rio bangkit perlahan, dia mengambil gayung untuk membersihkan wajah dan kaki. Rio mandi untuk membersihkan diri karena basah dan kotor terkena lumpur dan hujan.
"Beraninya dia mengintip ku." Jinsin kesal mengingat hal itu kepada Rio. Lalu membuka pintu kamar tidur dengan kesal dan menutupnya dengan keras.
"Aaaah.. akhirnya selesai juga aku mandi. Segarnya."
Jinsin keluar dari kamar mandi, dia berjalan melewati kamar Jinsin pakai handuk dengan badan yang sudah kering. Jinsin membuka pintu kamar tidur dan dia kaget melihat Rio berdiri di depannya. Mereka berdua terdiam saling melihat.
"Haaaaaaa..... Kau lagi."
"Plaaaak......" Jinsin menampar wajah Rio, masuk kembali ke kamar dengan menutup pintu dengan keras.
"Di tampar." Rio bicara kecil, memegang pipi yang di tampar, berdiri di depan pintu kamar Jinsin. Lalu berjalan ke kamar dia untuk berpakaian.
"Dari tadi yang ku lihat kok dia terus ya. Padahal dia tadi mengintip ku beberapa kali."
Jinsin berdiri di pintu kamar tidur, wajahnya sangat merah, dia merasa malu dan takut karena Rio. Suara gemuruh membuat Rio sedang memakai baju kaget melihat ke langit kamar. Lalu Rio melanjutkan berpakaian, lalu merapikan rambut di depan cermin. Dia memandangi wajahnya.
"Aku kok di tampar. Kok bisa ya?" Rio melihat wajah di cermin.
Lalu dia berpikir tentang Jinsin dan membayangkannya. Rio tersenyum sendiri dan tertawa kecil di depan cermin. Jinsin sedang berjalan melewati kamar Rio dengan tidak tertutup rapat. Dia mendengar Rio tertawa sendiri. Lalu Jinsin hendak masuk dan berdiri di depannya tanpa Rio ketahui.
"Hei, Rio. Kau membayangkan aku ya?"
"Huuuuft.." Jinsin bersuara kecil sambil meniup leher belakangnya.
"Haaaa..." teriak Rio ketakutan.
"Plaaaak...." Jinsin memukul kepalanya, lalu mengangkat kepala Rio sampai setinggi langit kamar.
"Hihihihi..." wajah Jinsin berubah jadi menakutkan menatap Rio sambil mengangkat tubuh di tangan kanan setingginya.
"Tolong...." lalu suara gemuruh dan hujan terdengar di dalam kamar.
"Apa yang kau tertawakan, Rio?" ucap Jinsin wajah aneh.
"Aku tidak tertawa." Rio panik.
"Aku akan melemparmu keluar, lalu aku akan menghajar kamu sampai kau bicara." ucap Jinsin terus berwajah aneh.
"Haaaa... Tolong!" teriak Rio. Jinsin siap melempar tubuh Rio dengan membawanya keluar. Lalu terdengar suara kaki Rio di seret oleh Jinsin. Sampai di luar, Jinsin bersiap melempar Rio dalam kondisi hujan yang deras dan angin dingin yang bertiup.
"Siap ya, Rio." Jinsin siap melempar Rio di tengah hujan deras dan gelap.
"Tolong, Jinsin. Jangan.....!" teriak Rio ketakutan.
"Hihihihi...." Jinsin bersuara aneh.
"Satu, dua,." ucap Jinsin.
"Tolong.....!" teriak Jinsin. Kilat dan gemuruh menyinari di teras rumah yang membuat mereka melihat dan mendengarnya.
"Ayo jawab, Rio." Jinsin bersiap melempar Rio keluar, namun dia menunggu jawabannya.
"Ya, aku akan jawab. Tapi turunkan aku sekarang!" teriak Rio memberontak tubuhnya saat Jinsin digm gantung bersiap untuk di lempar.
"Satu, dua, ti...,,," Jinsin memberi aba-aba.
"Heii.. ku bilang akan ku jawab?"
"Tiiii....." ucap Jinsin wajah menakutkan. Rio diam menatap wajah Jinsin ekspresi kesal.
"Ooooh. Mau dilempar ya." ucap Jinsin. Rio terus menatap wajah Jinsin penuh kesal tanpa berkedip.
"Hihihi. Dia marah." Jinsin tertawa kecil, lalu meletakkan tubuh Rio secara perlahan. Dia diam melihat wajah Rio di tengah hujan yang deras.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu, Jinsin?" tanya Rio mulai berdiri ketakutan. Jinsin merem melek kan matanya dengan ekspresi mau muntah. Rio menatap Jinsin dengan wajah makin bingung.
"Kau mau ku lempar keluar, Rio!" teriak Jinsin mata melotot.
"Ooh itu, baik akan ku jelaskan, Jinsin." Rio panik melihat reaksi Jinsin.
"Aku membayangkan saat kejadian dengan kamu tadi, Jinsin."