Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Harapan
Sinar matahari perlahan merambat naik, menembus celah-celah dinding dan menghalau sisa embun pagi.
Setelah kegaduhan konyol sebelumnya, atmosfer di dalam ruang tengah berangsur-angsur melunak.
Di ruangan lain, Vyora dan Clyrie mulai sibuk. Mereka menyiapkan cobek batu dan wadah tanah liat, bersiap meracik dedaunan herbal yang baru saja dipetik.
Sementara itu, Uchi, Cate, dan Chtholly terpaku di ujung lincak kayu. Keheningan kembali merayap di antara ketiganya.
"Oi, Uchi," sapa Cate memecah keheningan. "Sejak kapan kau punya dua kepribadian?"
Chtholly yang duduk tepat di tengah langsung menegakkan punggung. Sepasang matanya bersiaga penuh, melirik kiri-kanan.
"Sejak aku menginap di rumahmu," jawabnya santai.
Gadis mungil itu kini mengalihkan pandangannya, menatap sosok Takahiro yang terbaring kaku.
"Kau pikir aku percaya dengan ucapanmu itu?" tanya Cate, menatap lurus ke arah Uchi tanpa berkedip.
"Terserah kamu percaya atau tidak." Uchi bangkit dan berjalan memutari lincak ke sudut lain. "Aku sudah mengatakannya sejujur mungkin."
Cate tak langsung menjawab. Sepasang matanya menyipit, menatap punggung kecil temannya itu.
Begitu melihat Uchi mengambil posisi duduk tepat di samping tubuh Takahiro, tangan Cate refleks bertumpu pada lincak.
Namun, Chtholly bergerak lebih cepat. Tangan wanita bergaun ungu itu menahan pundak Cate. Chtholly menggeleng pelan.
Cate mengembuskan napas pendek, lalu menjatuhkan kembali tubuhnya ke atas lincak. Ia kembali bersuara.
"Andai kita tidak datang terlambat, mungkin dia tidak akan seperti ini."
Kepala Uchi refleks menoleh ke arah Cate.
"Sebenarnya dia siapa?" tanya Chtholly. "Kenapa dia seperti orang spesial bagi kalian?"
Cate, yang selama beberapa hari terakhir berbagi atap dengan Takahiro, mulai membuka suara untuk menjelaskan situasi pada Chtholly.
"Kami berdua juga tidak tahu siapa dia," jelasnya. "Saat aku dan Vyora sedang mencari kayu bakar di hutan beberapa hari yang lalu, kami berdua tidak sengaja menemukannya di bawah pohon keramat dengan kondisi yang sudah terluka parah."
Chtholly mengernyitkan alis. Pandangannya jatuh pada balutan kain kasa yang membungkus tubuh ringkih di atas lincak.
"Jadi... luka yang ada di balik perban itu masih terbilang baru?" tanya Chtholly.
"Ya," jawab Cate. "Luka itu masih baru. Beruntungnya... dia tidak terluka parah saat kami menemukannya."
Chtholly mengetukkan jemarinya di atas lutut. "Apa kamu pernah menanyakan dari mana ia berasal?"
Matanya bergerak, melirik ke arah area dapur, memerhatikan punggung Clyrie dan Vyora yang masih sibuk menumbuk ramuan.
"Belum," kata Cate. Ia bangkit dan berjalan menghampiri Uchi. "Aku belum sempat menanyakannya."
"Kenapa?" tanya Uchi. Matanya mengikuti pergerakan Cate yang kini ikut menaruh bokong di sampingnya, membuat pundak mereka hampir bersentuhan.
"Aku sendiri tidak tahu alasannya kenapa, atau mungkin aku belum menemukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu padanya."
Tangan Cate terulur. Jari-jarinya dengan lembut mengusap kening Takahiro yang hangat oleh demam.
Chtholly melangkah mengikis jarak, lalu berdiri tepat di belakang punggung Cate.
"Kita harus membantunya."
Cate sedikit memuntir lehernya, melirik dari sudut mata ke arah belakang.
"Membantu apa?" tanya Cate.
"Kita harus membawa dia kembali ke desa asalnya. Kita tidak bisa membiarkan dia terlalu lama tinggal desa ini, akan sangat berbahaya bagi keselamatannya."
"Tapi bagaimana caranya?" Cate menyentak bangun, memutar seluruh tubuhnya menghadap Chtholly. "Aku sendiri tidak tahu dari mana dia berasal?"
Sembari tetap duduk, tangan kanan Uchi terangkat menyentuh pelipis, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk sisi keningnya, sementara tangan kirinya terlipat menopang di depan dada.
"Aku punya ide!" katanya, berdiri tegak.
"Ide apa?" tanya Cate.
"Kita samarkan identitas dia dari tetua desa ini. Simpelnya, anggap saja dia itu adalah saudaraku."
Chtholly memutar tumitnya, menatap lurus ke arah tuan kecilnya.
"Apa kamu yakin ini akan berhasil?" tanya Chtholly.
"Aku tidak tahu rencana ini akan berhasil atau tidak," timpal Uchi. "Selagi kita belum mencobanya, maka kita harus lakukan!"
Derap langkah kaki terdengar mendekat dari area belakang. Clyrie dan Vyora berjalan beriringan.
"Maaf sudah menunggu lama," tutur Clyrie.
Sebuah piring tanah liat berukuran kecil berada di genggaman tangannya yang berkerut. Di atas wadah itu, bertumpu beberapa tetes cairan minyak bening hasil perasan murni daun eucalyptus. Aroma segar yang luar biasa tajam langsung menyeruak ke seluruh penjuru ruangan.
Di belakang sang ibu, Vyora melangkah sembari memegangi kantung kain kecil berisi remasan daun mint yang melepaskan aroma menthol kuat.
Secara refleks Cate, Chtholly, dan Uchi langsung mengangkat tangan untuk menyumbat hidung mereka. Wajah mereka berkerut.
Clyrie merendahkan tubuhnya di dekat lincak. Ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam cairan bening eucalyptus, lalu mengoleskan minyak hangat tersebut ke bagian leher serta dada Takahiro yang terekspos.
Vyora berlutut di sisi lain lincak, mendekatkan wadah berisi remasan daun mint ke arah indra penciuman Takahiro.
Semua mata tertuju pada wajah Takahiro. Mereka menahan napas, menanti sekecil apa pun denyut atau reaksi yang muncul.