NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah

Dendam Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.

Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemana perginya Rasman?

Dua malam telah berlalu sejak malam di mana Rasman diteror oleh ketakutan itu, dan sejak saat itu pula, keberadaan Rasman bak ditelan bumi. Jejaknya menguap begitu saja bersama angin malam yang dingin.

Pada awalnya, Minah, istri Rasman, sama sekali tidak ambil pusing. Dia sudah hafal betul tabiat buruk suaminya yang bebal dan egois itu.

Di dalam benak Minah, skenario tidak pulangnya Rasman sudah tercetak jelas, paling-paling suaminya itu sedang mendekam di lapak judi di kampung sebelah, menang lalu foya-foya bersama perempuan malam, lalu malas untuk pulang ke rumah.

Kejadian-kejadian memuakkan seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Minah selama Lima belas tahun pernikahan mereka. Jadi, dia memilih masa bodoh.

Namun, prasangka Minah mulai terusik ketika fajar di pagi ketiga menyingsing. Cahaya kemerahan yang biasa membawa ketenangan, kali ini justru membawa rasa sesak yang aneh di dadanya.

Matahari mulai meninggi, menyiram atap-atap rumbia desa dengan hawa gerah, tetapi pintu depan rumah mereka masih tetap sepi. Daun pintu kayu yang sudah lapuk itu tak bergeming.

Rasman belum juga menampakkan batang hidungnya, bahkan bayangannya pun tidak lewat di pekarangan.

Rasa kesal dan amarah yang awalnya mendominasi hati Minah, perlahan-lahan surut, digantikan oleh firasat buruk yang mengganjal di hulu hatinya.

Ada sesuatu yang salah. Minah tahu itu. Biasanya, sefoya-foya atau sekalah apa pun Rasman dalam berjudi, dia pasti akan pulang. Bukan karena dia rindu pada istrinya, melainkan karena tabiatnya yang seperti benalu, dia akan pulang untuk meminta uang simpanan Minah dengan paksa, atau sekadar mengisi perutnya yang kelaparan karena uangnya telah habis dimeja taruhan.

Tapi ini sudah hari ketiga, tapi suami benalunya yang tidak tahu malu itu belum juga kelihatan batang hidungnya.

Tak tenang dengan perasaannya yang kian berkecamuk, Minah akhirnya melempar sapu lidi yang dipegangnya ke tanah. Debu mengepul tipis. Dia tidak bisa lagi duduk diam berpangku tangan mendengarkan detak jam dinding.

Dengan daster kumal yang belum sempat diganti, dia memutuskan untuk berjalan kaki menuju pos ronda kosong di ujung desa. Tempat itu adalah rahasia umum, sebuah markas judi bagi pria desa, tempat yang biasa dijadikan area bagi Rasman dan komplotannya untuk mengocok dadu dan mengocok nasib.

Langkah kaki Minah tergesa-gesa, membelah jalanan tanah yang kering. Setibanya di sana, suasana pos ronda tampak lengang dan berantakan. Puntung rokok berserakan di tanah bersama dengan botol-botol sisa minuman keras murah.

Minah mendapati dua teman judi Rasman sedang berada di pos ronda dengan beberapa pria lain, sisa-sisa pemain semalam yang tampaknya masih terkantuk-kantuk di atas lincak bambu, berusaha menghalau dingin yang tersisa dengan sarung yang melilit leher.

"Kang! Rasman ada di sini tidak?!" tanya Minah tanpa basa-basi. Suaranya melengking memecah keheningan pagi, sambil kedua tangannya berkacak pinggang di depan mereka. Matanya menyalang penuh tuntutan.

Beberapa laki-laki yang sedang menguap itu langsung terperanjat. Mereka saling pandang dengan wajah bingung. Sisa-sisa kantuk yang menggelayuti kelopak mata mereka mendadak hilang, berganti dengan keterkejutan melihat kedatangan istri Rasman yang terkenal galak.

"Lho, Mbak Minah. Rasman malah sudah dua hari ini tidak kelihatan sama sekali," jawab salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh kurus bernama Sapriadi, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Jangan bercanda kamu, Kang! Jangan lindungi dia!" cecar Minah, melangkah satu tindak lebih maju. Matanya menyipit curiga, menatap tajam ke sudut-sudut pos ronda, seolah-olah Rasman sedang bersembunyi di balik karung-karung kosong di sana.

"Dia pasti sembunyi di dalam gubuk kan karena kalah judi? Atau dia tidur di rumahmu karena takut saya omeli?"

"Sumpah, Mbak! Kami tidak bohong. Demi Gusti Allah, kami tidak melihat Rasman," timpal temannya yang lain, Heri, dengan nada suara yang mendadak berubah serius, kehilangan rona candaan yang biasa mereka miliki.

Heri membenarkan posisi duduknya, lalu melanjutkan.

"Terakhir kami lihat Rasman itu ya dua malam yang lalu. Waktu kita main kartu di gubuk belakang. Waktu itu dia kalah besar, lalu dia pamit pulang duluan. Setelah malam itu, dia tidak pernah datang ke sini lagi atau ke gubuk. Kami semua mengira dia sedang meringkuk di rumah, tidur seharian karena kepikiran kalah besar dan tidak punya modal lagi untuk bertaruh."

Mendengar penuturan Heri, jantung Minah mendadak berdesir tajam, seolah ada sebilah es yang ditusukkan langsung ke dadanya. Darah rasanya surut dari wajahnya, membuat raut mukanya seketika berubah pias, putih pucat tanpa rona.

"Dua malam yang lalu...?" gumam Minah lirih. Suaranya hampir tenggelam oleh desau angin di rumpun bambu.

Kata-kata Heri terus berputar di kepalanya, memicu rasa bingung yang amat sangat, yang dengan cepat bercampur dengan rasa cemas yang mencekik.

Jika Rasman sudah pamit pulang sejak dua malam yang lalu, lalu ke mana suaminya itu pergi selama empat puluh delapan jam terakhir? Kenapa dia tidak pernah sampai ke rumah?

Pikiran Minah mulai berputar mencari alasan logis, namun setiap argumen di kepalanya langsung terpatahkan.

Jalan setapak menuju rumah mereka memang sepi. Kalau malam, jalanan itu memang gelap gulita karena minimnya penerangan. Namun, Rasman bukan orang asing. Dia lahir dan tumbuh besar di desa ini. Dia sudah hafal luar kepala setiap jengkal tanah, setiap lubang, bahkan setiap akar pohon yang melintang di jalan itu. Dia bisa berjalan di sana dengan mata tertutup.

Jarak dari gubuk tempat judi itu ke rumah mereka pun tidak seberapa. Paling lama hanya membutuhkan waktu dua puluh menit berjalan kaki dengan santai. Mustahil Rasman tersesat di kampungnya sendiri.

Seketika, pikiran Minah mulai liar berspekulasi ke arah yang mengerikan. Apakah Rasman punya utang judi yang sangat besar hingga melibat lintah darat? Apakah dia diculik orang dari kampung sebelah dan dihajar di suatu tempat?

"Mbak Minah? Mbak tidak apa-apa?" tanya Sapriadi, membuyarkan lamunan Minah yang berdiri mematung seperti patung garam dengan wajah tegang dan mata yang menatap kosong ke arah jalan setapak.

Minah tidak segera menjawab. Dadanya bergemuruh hebat, nafasnya memburu oleh rasa cemas yang kian menebal dan mengimpit paru-parunya, memikirkan suaminya, Rasman memang selalu membuat dia tinggi darah. Tapi, sebagai istri yang sudah bersama selama lima belas tahun, tetap saja membuatnya begitu khawatir pada benalu itu.

"Kang... Rasman itu sudah tiga hari ini tidak pulang ke rumah," kata Minah akhirnya. Dia memutus keheningan dengan suara yang agak bergetar, menahan limpahan emosi yang siap pecah.

Sepenuhnya ia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa takut yang kini tergambar jelas di raut wajahnya yang pias. Ego dan kemarahannya sebagai istri yang terabaikan runtuh total, menyisakan seorang wanita yang ketakutan.

Mendengar pengakuan jujur dari Minah, kedua teman judi Rasman itu langsung terlonjak kaget dari lincak bambu. Sisa-sisa rasa kantuk dan sisa alkohol di kepala mereka kini benar-benar menguap tanpa bekas.

"Hah? Serius, Mbak? Tiga hari tidak pulang?!" Sapriadi berseru dengan nada suara yang meninggi, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Mereka saling pandang dengan raut wajah yang mendadak berubah serius dan tegang. Ini memang aneh. Sangat aneh, bahkan untuk ukuran seorang bajingan seperti Rasman.

Bagi komplotan mereka, Rasman adalah sosok yang paling militan kalau urusan taruhan. Dia adalah nyawa dari setiap permainan. Menang atau kalah, dia hampir tidak pernah absen ngantor di gubuk belakang desa untuk bermain remi, ataupun mengocok dadu di pos ronda ini.

Kasus dia absen selama tiga hari berturut-turut tanpa ada kabar sama sekali, tanpa ada kasak-kusuk ke manapun, adalah hal yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah pertemanan mereka.

"Pantas saja, gubuk judi sepi tidak ada dia. Biasanya dia yang paling berisik kalau menang, atau yang paling sering mengumpat kalau kartunya jelek," gumam Heri, mulai tertular rasa khawatir yang dipancarkan oleh Minah.

"Kalau dia tidak ada di gubuk, tidak ada di pos ronda, dan ternyata tidak pernah sampai di rumah,lalu dua malam ini dia tidur di mana? Di mana dia sembunyi?"

Pertanyaan Heri menggantung di udara pagi yang mendadak terasa mencekam.

Minah hanya bisa menggeleng lemah. Pertanyaan itu tidak memberi jawaban.

"Kang, tolong saya..." suara Minah memohon dengan nada yang kini mulai pecah.

"Tolong bantu saya cari Rasman. Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi di sini untuk dimintai tolong. Kalau dia kenapa-kenapa di jalan, kalau dia pingsan atau dicelakai orang, saya harus bagaimana?"

Melihat Minah yang biasanya terkenal galak, bermulut tajam, dan mandiri, kini berdiri di depan mereka dengan bahu yang bergetar dan terlihat begitu rapuh, rasa simpati dan solidaritas sesama orang kampung akhirnya muncul di hati kedua pria itu.

Meskipun Rasman dikenal sebagai penjudi yang terkadang curang dan menyebalkan, mereka tetaplah kawan yang sering menghabiskan malam bersama, berbagi sebatang rokok yang sama di kala dingin melanda.

"Ya sudah, Mbak," jawab Sapriadi sambil membenarkan letak sarungnya dan bangkit berdiri dengan tegas.

"Mbak Minah jangan cemas dulu. Kami akan bantu cari sekarang juga. Lagipula, kami yang sering bersamanya juga merasa tidak tenang. Kami takut terjadi apa-apa yang tidak diinginkan."

"Betul, Mbak. Ayo kita bagi tugas agar cepat," sambung Heri dengan cekatan.

"Mbak Minah coba kembali ke kampung. Tanya-tanya ke tetangga sebelah rumah, atau ke warung Bu RT, siapa tahu ada warga yang melihat Rasman lewat atau berjalan ke arah lain dua malam lalu. Sementara kami berdua, akan menyusuri jalan setapak dari gubuk sampai ke arah rumah Mbak. Kita sisir pelan-pelan semak-semak dan parit di pinggir jalan itu. Siapa tahu... ya, siapa tahu dia terjatuh ke dalam parit karena mengantuk." Heri sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, tidak ingin menambah kepanikan Minah dengan kemungkinan menemukan Rasman dalam keadaan tak bernyawa.

Minah mengangguk cepat dengan sisa-sisa tenaganya, meski kecemasan yang pekat tetap mendominasi hatinya.

"Terima kasih banyak, Kang. Tolong, kalau menemukan Rasman, segera bawa pulang ke rumah."

Dengan semangat yang bercampur rasa takut yang mulai menjalar ke dalam sanubari, mereka pun berpencar. Minah membalikkan badan, setengah berlari kembali ke arah pemukiman warga dengan harapan ada satu saja mata yang melihat suaminya malam itu.

Sementara itu, kedua pria itu mulai melangkah memasuki mulut jalan setapak yang rimbun, memulai pencarian di antara semak-semak yang menyimpan rahasia tentang hilangnya Rasman.

1
Yulia Lia
siapakah yg selamat di malam pembantaian malam itu ya ,,aduh next thoor
Yulia Lia
berarti selama ini keluarga Sri di fitnah menganut ilmu hitam padahal mereka di rampok dan di bantai
Nurr Tika
siapa tetua desa itu apakah ikut adil dlm pembunuhan
Maure Nia
bagus KK ceritanya....lanjut....
Maure Nia
pembalasan menuju yg kedua...JD penasaran Thor siapa LG dalangnya MLM itu🤔
Nurr Tika
satu persatu orang yg membunuh akan di teror
Nurr Tika
sri masih binggung
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sri di panggil ibunya
Maure Nia
balas dendamnya memang nunggu Sri Dateng...lanjut thor
Maure Nia
kan ketemu ibumu Sri🥺🥹hah jadi ikut mewek
Siti Yatmi
aduh..sri kalo kamu tau tentang riwayat kelahiran mu...auto sedih and pilu...ga kebayang penderitaan ibu mu...
Siti Yatmi
baru ngeh kalo udh 20 tahun setan baru nongol🤣
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Yulia Lia
yang manggil Sri itu ibu kandungmu sri
Yulia Lia
hutan tempat Sri di lahirkan dengan cara yg sangat tragis
Nurr Tika
ada yg menyesatkan jalan mereka
Nurr Tika
rasman ktemu ga yah
Maure Nia
Sri kamu bisa ketemu ibu kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!