"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."
"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.
"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"
Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.
Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berjuang
"Singapura atau kutub utara sekalipun, kamu tidak akan pernah punya hak lagi untuk menginjakkan kaki di kehidupan Zia, Alfa!"
Pandangan matanya menghunus tepat ke manik mata sang CEO yang mulai goyah akibat kepanikan yang teramat sangat.
Alfa tertawa getir, cengkeramannya pada tepi meja semakin mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.
"Nggak punya hak? Aku ayahnya, Amara! Di dalam perut Zia ada darah dagingku! Suka atau tidak, ikatan itu tidak akan pernah bisa kamu hapus dengan menyembunyikannya di Singapura!"
"Ayah?" Amara mencibir, sebuah tawa sarkas terdengar dari bibirnya.
"Seorang ayah tidak akan melemparkan kartu nama dokter aborsi ke wajah wanita yang mengandung anaknya. Seorang ayah tidak akan menuduh wanita yang setia menemaninya dari bawah sebagai seorang pelacur yang berselingkuh hanya karena ego dan trauma konyolnya! Kamu bukan ayah, Alfa. Kamu cuma monster egois yang ketakutan,"
"Cukup!" Alfa berteriak.
"Kalian semua tidak mengerti! Aku steril! Operasiku..."
"Lalu kenapa kamu tidak memeriksa ulang dirimu ke dokter sebelum menuduh Zia?!" potong Amara dengan kilat kemarahan yang menyala di matanya.
"Kamu lebih memilih memercayai kertas rekam medis sepuluh tahun lalu daripada air mata wanita yang menyerahkan seluruh hidupnya untukmu! Sekarang keluar dari butikku! Keluar sebelum aku memanggil keamanan dan pers untuk meliput bagaimana seorang CEO Abraham Group bertindak kasar pada wanita!"
Alfa mematung. Untuk pertama kalinya dalam hidup, dia merasa begitu tidak berdaya. Ancaman Amara tentang pers tidak menakutinya, namun tatapan jijik dan penuh kebencian dari wanita yang sudah seperti kakak bagi Zia itu membuat dadanya terasa begitu sesak.
"Aku akan menemukan Singapura sangat kecil, Amara," desis Alfa dengan suara rendah yang bergetar.
"Aku akan memeriksa setiap sudut kota itu. Aku akan membawa Zia pulang, dengan atau tanpa izin darimu,"
"Coba saja," tantang Amara dingin. "Dan saksikan bagaimana kamu akan melihat Zia membencimu sampai ke liang kubur,"
Alfa berbalik, melangkah lebar meninggalkan butik dengan hati yang hancur berkeping-keping. Begitu dia masuk ke dalam mobilnya, dia langsung menekan tombol panggilan di ponselnya.
"Pindahkan semua tim pencari dari Paris ke Singapura," perintah Alfa begitu asistennya mengangkat telepon.
"Periksa semua properti, hotel, atau butik yang memiliki hubungan dengan jaringan keluarga Amara Malik. Cari tahu siapa saja relasinya di sana. Aku mau data lengkapnya dalam dua puluh empat jam!"
Sementara itu, di Singapura, langit Bukit Timah tampak begitu cerah, berbanding terbalik dengan mendung yang menggelayuti hati Zia.
Dua minggu telah berlalu sejak insiden pendarahan yang mengerikan itu. Sesuai perintah dokter, Zia benar-benar menjalani bed rest total di dalam kamar tamu mewah rumah Rayyan. Kamar itu memiliki jendela besar yang menghadap langsung ke taman belakang yang dipenuhi bunga-bunga bougenville yang bermekaran.
Tok, tok.
Pintu kamar diketuk pelan sebelum terbuka, menampilkan sosok Rayyan yang membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat, segelas susu khusus ibu hamil, dan beberapa butir vitamin.
"Bagaimana perasaanmu pagi ini, Zia? Masih merasa pening?" tanya Rayyan dengan senyum hangatnya yang khas. Dia meletakkan nampan itu di atas meja nakas, lalu membantu Zia untuk duduk bersandar dengan mengganjal beberapa bantal di punggungnya.
"Sudah jauh lebih baik, Kak Rayyan. Terima kasih," jawab Zia agak canggung. Dia selalu merasa tidak enak melihat bagaimana seorang pengusaha sibuk seperti Rayyan harus turun tangan langsung mengurus keperluannya setiap pagi.
"Ray, sebenarnya kakak tidak perlu repot-repot seperti ini. Ada pelayan di rumah..."
"Pelayan tidak akan tahu takaran vitamin yang tepat untukmu, Zia," potong Rayyan lembut sambil menyerahkan mangkuk bubur pada Zia.
"Lagipula, Mbak Amara sudah menitipkanmu langsung padaku. Jadi, merawatmu adalah tugas utamaku saat ini,"
Zia menerima mangkuk itu, menatap permukaannya dengan pandangan sayu.
"Mbak Amara... apa dia baik-baik saja di Jakarta? Aku takut Alfa mendatangi butik dan menyulitkannya,"
Rayyan duduk di kursi tunggal di samping ranjang, melipat tangannya di dada dengan ekspresi tenang.
"Mbak Amara meneleponku semalam. Dia bilang Alfa memang sempat datang dan mengamuk. Tapi kamu jangan khawatir, Mbak Amara bukan wanita yang mudah ditindas. Dia sudah mengamankan posisimu. Alfa sudah memeriksa perbangan kita ke Singapura, tapi dia tidak akan pernah bisa melacak rumah ini karena semua asetku di sini terdaftar atas nama perusahaan cangkang internasional,"
Zia mengembuskan napas lega, namun tangannya perlahan bergerak meraba perutnya yang masih rata.
"Aku hanya takut... Alfa punya kekuasaan yang besar, Ray. Jika dia nekat..."
"Kekuasaannya hanya berlaku di Jakarta, Zia. Di Singapura, dia tidak punya taring," mata Rayyan menatap Zia dengan kesungguhan yang mendalam.
"Dan selama kamu berada di bawah atapku, aku taruhan seluruh nama besar bisnisku untuk menjamin keamannmu dan bayimu. Kamu memercayai aku, kan?"
Zia menatap mata teduh Rayyan. Tidak ada kepalsuan di sana. Rasa aman yang sempat hilang dari hidupnya kini perlahan-lahan mulai tumbuh kembali, disemai oleh ketulusan pria di hadapannya.
"Aku memercayaimu, Ray. Sangat memercayaimu,"
***
Satu bulan kemudian, kondisi Zia akhirnya dinyatakan pulih total oleh dokter. Dia sudah diperbolehkan beraktivitas normal, meskipun tidak boleh melakukan pekerjaan yang terlalu berat.
Pagi itu, Rayyan membawa Zia ke butik utamanya yang terletak di kawasan mewah Orchard Road. Butik itu sangat besar, berlantai dua dengan arsitektur modern yang memukau.
Deretan gaun-gaun haute couture rancangan desainer internasional terpajang indah di balik kaca transparan.
"Wah... ini luar biasa indah, Ray," puji Zia dengan mata berbinar. Ini adalah kali pertama dia keluar rumah setelah sekian lama.
"Ini akan menjadi tempat kerjamu yang baru, Zia," ujar Rayyan, menuntun Zia naik ke lantai dua, menuju sebuah ruangan luas berwending kaca yang menghadap langsung ke jalanan Orchard.
Di dalam ruangan itu, terdapat sebuah meja gambar arsitektur yang besar, lemari berisi ratusan gulungan kain premium, mannequin, dan seperangkat alat jahit tercanggih. Di sudut ruangan, ada sofa empuk yang nyaman untuk beristirahat.
"Ini... untukku?" Zia terbelalak, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Ya. Ini ruang kerja pribadimu," Rayyan tersenyum melihat binar bahagia di mata Zia, binar yang sudah lama hilang.
"Aku tahu kamu merindukan pensil gambarmu. Tapi ingat perjanjian kita, kamu hanya boleh mendesain maksimal tiga jam sehari. Sisanya, kamu harus istirahat untuk bayimu,"
"Terima kasih, Rayyan... Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu,"
"Kamu bisa membalasnya dengan melahirkan anak yang sehat dan membuat butikku semakin terkenal dengan rancanganmu," kelakar Rayyan untuk mencairkan suasana, meskipun matanya diam-diam menatap lekat wajah samping Zia dengan kekaguman yang mulai tumbuh menjadi rasa yang berbeda.
Zia mulai bekerja. Dia menghabiskan waktu beberapa jam sehari untuk menumpahkan seluruh imajinasi, rasa sakit, harapan, dan cintanya pada janin di perutnya ke dalam guratan sketsa.
Namun, menjadi desainer di butik besar seperti milik Rayyan tidaklah mudah. Tekanan awal mulai datang ketika Rayyan memperkenalkannya pada tim desainer internal butik.
"Jadi, dia desainer baru dari Jakarta yang dibawa langsung oleh Mr. Rayyan?" bisik seorang desainer senior berkebangsaan Singapura, Vanessa, dengan nada meremehkan saat melihat Zia dalam rapat mingguan.
"Kudengar dia bahkan tidak punya gelar dari universitas mode ternama. Hanya anak didik butik lokal di Jakarta,"
Zia yang mendengar bisikan itu hanya bisa menunduk, meremas roknya di bawah meja. Tekanan psikologis sebagai orang asing, ditambah statusnya yang sedang hamil tanpa suami, mulai menjadi gunjingan bisik-bisik di antara para staf butik.
Malam harinya, Zia pulang ke rumah dengan wajah yang tampak letih. Dia duduk di meja makan, memandangi buku sketsanya dengan tatapan ragu. Kata-kata Vanessa tadi siang terus terngiang-ngiang di kepalanya, mempertanyakan kapasitas dirinya.
Rayyan yang baru saja selesai membersihkan diri, melangkah ke ruang makan dan menyadari perubahan aura Zia. Dia duduk di hadapan Zia, menarik buku sketsa itu dengan lembut.
"Ada apa? Desainmu hari ini sangat indah, tapi kenapa wajah desainer-nya mendung seperti ini?" tanya Rayyan penuh perhatian.
"Ray... apa aku benar-benar pantas berada di sini?" bisik Zia.
"Karyawanmu... mereka benar. Aku tidak punya gelar internasional. Aku cuma desainer tidak jelas dari Jakarta. Bagaimana kalau rancanganku justru mempermalukan butikmu?"
"Zia, dengarkan aku baik-baik,"
"Gelar bisa dibeli dengan uang, tapi bakat dan rasa tidak bisa. Aku menempatkanmu di sini bukan karena kasihan, bukan juga karena permintaan Tante Amara. Tapi karena aku melihat jiwamu di dalam sketsa-sketsa ini. Jangan biarkan omongan orang lain membuatmu meragukan dirimu sendiri,"
Zia menatap mata Rayyan, mencari kekuatan di sana.
"Tapi mereka membicarakanku, Ray... tentang kehamilanku, tentang statusku..."
"Maka buktikan pada mereka dengan karyamu!" Rayyan mengusap ibu jarinya di punggung tangan Zia, memberikan kehangatan yang menenangkan.
"Bulan depan, ada pameran busana tahunan di Marina Bay. Aku mau kamu merancang gaun utama untuk koleksi musim gugur kita. Tunjukkan pada Vanessa dan semua orang, siapa Zia Anastasia Malik yang sebenarnya,"
***
Satu bulan kemudian. Pameran Busana Musim Gugur di Marina Bay Sands, Singapura.
Suasana di belakang panggung begitu riuh. Desain gaun malam karya Zia yang berwarna hitam legam dengan detail payet berbentuk rasi bintang yang melambangkan harapan di tengah kegelapan berhasil mencuri perhatian seluruh kritikus mode malam itu.
Tepuk tangan bergemuruh saat model utama yang mengenakan gaun Zia berjalan di atas runway.
Zia berdiri di belakang panggung bersama Rayyan, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya saat melihat karyanya diapresiasi begitu tinggi. Vanessa bahkan datang memeluknya dan meminta maaf atas keraguannya selama ini.
Namun, di tengah keriuhan pesta perayaan di aula utama setelah acara selesai, seorang pelayan hotel mendekati Zia dan menyerahkan sebuah amplop hitam kecil yang elegan.
"Maaf, Madam Zia. Ada sebuah surat penawaran kerja sama eksklusif dari Vogue Singapore dan penyelenggara Paris Fashion Week untuk desainer gaun rasi bintang," ucap pelayan itu sebelum membungkuk dan pergi.
Zia membuka amplop itu dengan dahi berkerut, matanya bergetar membaca isinya. Surat itu adalah undangan resmi untuk memamerkan karya tunggalnya di panggung Eropa, kesempatan yang dulu dibakar oleh Alfa, kini datang lagi atas namanya sendiri.
"Ada apa, Zia?" tanya Rayyan menyadari perubahan wajah Zia.
Zia mendongak dengan air mata berlinang, namun kali ini senyuman bangga terukir di bibirnya.
"Mimpiku yang dulu dihancurkan di Jakarta... Tuhan mengembalikannya lewat kamu di Singapura, Ray. Aku berhasil,"