Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permaisuri Ngidam (Kaisar Kulkas Berburu Mangga Muda di Atas Atap Rumah Menteri)
Kabar kehamilan Permaisuri Alara disambut dengan suka cita yang luar biasa di seluruh penjuru Kekaisaran Ruelle.
Namun, kebahagiaan itu datang bersamaan dengan sebuah fase baru yang jauh lebih mengerikan daripada seratus ribu gajah perang dari Selatan Fase Ngidam Alara Villin.
Malam itu, jam digital di otak modern Alara menunjukkan pukul dua pagi. Di luar, angin malam berembus dingin, namun di dalam kamar tidur Paviliun Naga Emas, Alara mendadak duduk tegak di atas kasur dengan mata melek sempurna.
Dia menoleh ke samping, menatap suaminya yang sedang tertidur lelap. Alara menyenggol lengan kekar Kaivan tanpa perasaan.
"Tuan Kai... bangun, Tuan Kai. Darurat nasional jilid tiga."
Kaivan langsung membuka mata elangnya, reflek tangannya bergerak ke arah hulu pedang di samping tempat tidur.
"Ada apa?! Apakah ada penyusup sekte lain?!"
"Bukan," Alara mengerucutkan bibirnya, memegangi perutnya yang masih rata.
"Ini anak Anda mendadak demo di dalam perut. Dia bilang, dia gak mau tidur kalau belum makan buah mangga muda jenis Arumanis Kuno yang tumbuh di pekarangan belakang rumah Perdana Menteri Cao."
Kaivan mengerjap-erjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya.
"Alara... ini jam dua pagi. Besok subuh aku bisa menyuruh pengawal memetik satu gerobak untukmu."
"Gak mau!" Alara mulai mengeluarkan senjata pemungkasnya mata bulat yang berkaca-kaca siap menangis dramatis.
"Anak ini maunya mangga yang dipetik langsung oleh bapaknya sendiri, segar dari pohonnya, dan harus dipetik secara sembunyi-sembunyi lewat jalur atap biar ada sensasi adrenaline rush-nya. Kalau gak keturutan, nanti pas lahir anak kita hobi ngiler kayak Kasim Wen gimana?!"
Kaivan menghela napas panjang, meremas pelipisnya yang mendadak pening. Menghadapi jenderal pemberontak, Kaivan punya seribu taktik. Tapi menghadapi istri yang sedang hamil muda dengan logika bar-bar? Sang Kaisar Es resmi menyerah kalah.
Setengah jam kemudian, di kompleks kediaman elit para menteri.
Sesosok pria jangkung mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan jubah naga hitam yang sengaja dibalik agar tidak terlalu mencolok terlihat sedang melompat lincah dari satu atap rumah ke atap rumah lainnya.
Jika ada prajurit ronda yang melihat, mereka pasti mengira itu adalah pembunuh bayaran kelas kakap. Padahal, itu adalah Penguasa Tertinggi Ruelle yang sedang menjalankan misi rahasia Mencuri Mangga.
Kaivan mendarat tanpa suara di dahan pohon mangga raksasa di pekarangan belakang rumah Perdana Menteri Cao.
Dengan mata elangnya yang tajam, ia memindai gerombolan buah di balik dedaunan, mencari mangga yang paling hijau, paling keras, dan paling masam sesuai spesifikasi pesanan Alara.
*KREK.*
"Siapa di sana?!" sebuah suara tua berteriak dari bawah. Perdana Menteri Cao keluar dari paviliunnya mengenakan baju tidur longgar sembari memegang lampion, merasa mendengar suara bising di pohon mangganya.
Kaivan membeku di atas dahan, menahan napasnya dalam-dalam. Baginya, ketahuan memimpin perang itu terhormat, tapi kalau ketahuan oleh menterinya sendiri sedang nangkring di pohon mangga jam tiga subuh... reputasi kediktatorannya sebagai Kaisar Es akan tamat dalam semalam.
Untungnya, seekor kucing hitam mendadak melompat dari dahan sebelah, membuat Perdana Menteri Cao menghela napas.
"Oh, ternyata hanya kucing. Dasar." Menteri tua itu pun kembali masuk ke kamarnya.
Kaivan mengembuskan napas pelan. Dengan cepat, ia memetik tiga buah mangga muda berukuran besar, memasukkannya ke dalam kantong kain, lalu melesat kembali ke arah istana dengan kecepatan kilat.
Begitu sampai di Paviliun Naga Emas, Kaivan yang napasnya sedikit terengah-engah langsung menyodorkan kantong kain itu kepada Alara.
"Ini manggamu. Dipetik langsung lewat jalur atap, tanpa ketahuan."
Mata Alara langsung berbinar cerah secerah lampu neon.
"Wah! Kerja bagus, Tuan Kai! Ini baru namanya bapak siaga!"
Tanpa menunggu lama, Alara langsung menggigit mangga muda hijau itu begitu saja tanpa dikupas ataupun dicuci terlebih dahulu. Bunyi krispi
*KRAUK! bergema di dalam kamar.
Kaivan yang melihatnya refleks merinding, air liurnya ikut menetes ngilu membayangkan rasa masam yang sanggup merontokkan gigi geraham itu.
Namun, Alara justru mengunyahnya dengan wajah super bahagia seolah-olah sedang memakan cokelat premium.
"Nyam! Enak banget! Masamnya pas, ada rasa-rasa ketegangan dari rumah Menteri Cao-nya juga," puji Alara puas, lalu menyodorkan sisa mangga yang sudah digigitnya ke depan mulut Kaivan.
"Ayo Tuan Kai, gigit dikit sebagai simbol solidaritas suami-istri!"
Wajah tampan Kaivan mendadak memucat alami, mundur selangkah.
"Alara... aku adalah kaisarmu, aku bisa meminum racun arsenik tanpa berkedip, tapi mangga muda itu..."
"Gak mau tahu! Ayo gigit! Atau saya mogok masak hotpot selama satu kuartal!" ancam Alara tak mau kalah.
Pasrah dengan nasibnya, Kaivan perlahan maju, menutup matanya, lalu menggigit sedikit ujung mangga muda tersebut.
Begitu sari buah yang super masam menyentuh lidahnya, seluruh otot wajah sang Kaisar Es langsung berkedut hebat, matanya menyipit menahan rasa kecut yang luar biasa yang langsung menembak sampai ke ubun ubunnya.
Alara yang melihat ekspresi kaku suaminya langsung tertawa renyah hingga terjungkal di atas kasur, memeluk perutnya dengan penuh kebahagiaan.
Kaivan yang melihat tawa lepas istrinya akhirnya hanya bisa mendengus geli, ikut tersenyum sembari merebahkan tubuhnya di samping Alara dan menarik wanita itu ke dalam dekapan hangatnya.
"Kau benar-benar rubah kecil yang menyiksa, Alara," bisik Kaivan lembut, mengecup puncak kepala istrinya dengan cinta yang kian mendalam.
"Tapi aku tidak akan menukar momen ini dengan apa pun di dunia."
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪