NovelToon NovelToon
Jalan Kultivasi Sang Dewa

Jalan Kultivasi Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Adit

Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34 - Darah Sang Kaisar Dunia Atas

Sementara itu, di sisi lain Kota Timur, Cang Xuan dan Xu Kong telah berhasil mencapai area yang tidak terlalu jauh dari kompleks Istana Timur. Setelah beberapa kali berpindah lokasi untuk memastikan mereka tidak diikuti siapa pun, keduanya akhirnya bersembunyi di atas sebuah bangunan tinggi yang menghadap langsung ke pusat kekuasaan Murong Ye.

Dari tempat mereka berada, sebagian besar wilayah istana dapat terlihat dengan cukup jelas. Tembok-tembok batu yang menjulang tinggi mengelilingi seluruh kompleks, sementara para penjaga berpatroli tanpa henti di berbagai jalur penting. Bahkan dari kejauhan saja, Cang Xuan dapat melihat betapa ketatnya pengamanan tempat itu.

Tatapannya perlahan bergerak ke bagian terdalam kompleks istana hingga akhirnya berhenti pada sebuah menara tinggi yang berdiri mencolok di antara bangunan-bangunan lain.

"Itu..."

Ia menyipitkan mata sambil memperhatikan bentuk menara tersebut.

"Menara Arsip Timur."

Di sampingnya, Xu Kong mengikuti arah pandangannya lalu menganggukkan kepala pelan.

"Tidak salah lagi."

Nada suaranya terdengar yakin.

"Itulah tempat gulungan disimpan."

Untuk beberapa saat, keduanya hanya mengamati menara tersebut dalam diam. Setelah sekian lama mencari petunjuk, akhirnya mereka melihat langsung lokasi tujuan mereka.

Namun semakin lama memperhatikan keadaan sekitar, semakin jelas bahwa mencapai tempat itu tidak akan mudah.

Jumlah penjaga terlalu banyak.

Selain patroli yang bergerak di berbagai jalur, beberapa kultivator juga terlihat berjaga di titik-titik penting dalam kompleks istana.

Penyusupan secara langsung hampir mustahil dilakukan.

Xu Kong kemudian mengeluarkan gulungan peta yang mereka peroleh dari pemilik warung. Ia membukanya perlahan di atas atap sambil memastikan tidak ada angin yang menerbangkannya.

Matanya bergerak menyusuri berbagai jalur yang tergambar di dalam peta.

"Kita harus menunggu."

Nada suaranya terdengar tenang meskipun pandangannya masih tertuju pada peta.

"Kita tidak boleh bergerak sendiri."

Cang Xuan mengangguk setuju.

Ia kembali melirik ke arah istana yang berdiri megah di kejauhan.

"Kalau kita masuk sekarang, seluruh rencana Tuan Xin akan berantakan."

Mereka memang sudah mengetahui lokasi gulungan.

Mereka juga memiliki peta bagian dalam istana.

Namun informasi saja tidak cukup.

Mereka tetap membutuhkan pengalihan perhatian yang telah direncanakan sebelumnya.

Xu Kong akhirnya menggulung kembali peta tersebut sebelum menyimpannya dengan hati-hati.

"Aku harap mereka segera datang."

Setelah mengatakan itu, ia kembali mengamati keadaan di sekitar kompleks istana.

Sementara itu, Cang Xuan memperhatikan para penjaga yang terus bergerak keluar masuk gerbang utama. Semakin lama ia melihat, semakin ia menyadari bahwa tempat ini jauh berbeda dibandingkan semua lokasi yang pernah ia kunjungi sebelumnya.

Di balik tembok-tembok tinggi itu tersimpan gulungan pertama yang akan membuka jalan mereka menuju Dunia Tengah.

Namun di saat yang sama, tempat itu juga merupakan pusat kekuasaan Murong Ye, salah satu kultivator terkuat di seluruh Benua Timur.

Untuk saat ini, yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu.

Menunggu kedatangan Tuan Xin dan Ling Yue.

Menunggu saat yang tepat untuk bergerak.

Dan menunggu dimulainya rencana yang akan menentukan apakah mereka berhasil memperoleh gulungan tersebut atau justru berakhir sebagai musuh seluruh Kota Timur.

Di dalam bangunan kayu yang berada di kawasan pelabuhan, suasana mendadak menjadi lebih serius setelah percakapan mereka beralih dari urusan kapal menuju tujuan sebenarnya kedatangan Tuan Xin. Wuji yang sejak tadi duduk berhadapan dengannya masih menunjukkan ekspresi penuh kecurigaan. Semakin banyak yang ia dengar, semakin ia yakin bahwa masalah yang dibawa Tuan Xin kali ini jauh lebih besar daripada yang semula ia bayangkan.

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menatap lelaki tua itu lekat-lekat. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya ia mengajukan pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikirannya.

"Xin, bukankah kau bisa kembali ke Dunia Tengah kapan saja?"

Nada suaranya terdengar heran.

"Kenapa repot-repot mengurus gulungan itu?"

Menurut pemahamannya, seseorang seperti Tuan Xin tidak membutuhkan bantuan gulungan untuk berpindah dunia. Jika memang ingin kembali ke Dunia Tengah, pria itu seharusnya mampu melakukannya tanpa kesulitan berarti.

Tuan Xin menganggukkan kepala pelan.

"Itu benar."

Ia tidak berusaha menyangkal fakta tersebut.

"Tapi gulungan itu bukan untukku."

Jawaban itu justru membuat alis Wuji semakin berkerut.

"Bukan untukmu?"

Ia memiringkan kepala sedikit.

"Lalu untuk siapa?"

Untuk pertama kalinya sejak pembicaraan mereka dimulai, senyum di wajah Tuan Xin terlihat sedikit berbeda. Tidak lagi sekadar senyum santai yang biasa ia tunjukkan, melainkan senyum yang menyimpan makna lebih dalam.

Ia menatap Wuji sesaat sebelum akhirnya berkata dengan tenang, "Untuk putra Kaisar."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan langsung terdiam.

Wuji yang semula masih bersandar santai langsung menegakkan tubuhnya.

Matanya membesar karena terkejut.

Untuk beberapa saat, ia bahkan tidak mampu memberikan respons.

Di samping Tuan Xin, Ling Yue yang sejak tadi hanya mendengarkan juga ikut memusatkan perhatiannya pada percakapan tersebut. Meskipun ia sudah mengetahui sebagian kebenaran mengenai Cang Xuan, ia tetap penasaran bagaimana reaksi Wuji setelah mendengar hal itu.

Tuan Xin kembali meneguk araknya sebelum meletakkan kendi kecil itu di atas meja. Kali ini ia tidak lagi berusaha menyembunyikan inti dari masalah yang dibawanya. Tatapannya tertuju kepada Wuji saat ia berkata dengan tenang, "Kau masih ingat? Dulu Kaisar pernah berkata bahwa dirinya memiliki seorang putra dari istri keduanya yang berasal dari Dunia Bawah."

Mendengar hal itu, Wuji langsung terdiam sejenak. Ingatan lama yang telah terkubur bertahun-tahun perlahan muncul kembali di benaknya. Setelah beberapa saat berpikir, ia akhirnya menganggukkan kepala.

"Aku masih ingat."

Tatapannya masih tertuju pada Tuan Xin.

"Lalu?"

Senyum tipis muncul di wajah lelaki tua itu.

"Itulah anak yang sedang kubantu sekarang."

Kalimat tersebut membuat ekspresi Wuji berubah seketika.

Ia bahkan langsung berdiri dari kursinya.

"Tunggu."

Nada suaranya dipenuhi keterkejutan.

"Berarti..."

Namun sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Tuan Xin sudah lebih dahulu menganggukkan kepala.

"Iya."

Ia menjawab dengan tenang seolah sedang membicarakan sesuatu yang biasa.

"Putranya bernama Cang Xuan."

Tatapannya menjadi lebih serius.

"Dialah putra Kaisar itu."

Untuk beberapa saat, Wuji benar-benar kehilangan kata-kata.

Berbagai potongan informasi yang sebelumnya terasa tidak masuk akal kini perlahan mulai tersusun menjadi satu kesatuan yang utuh.

Tidak heran Tuan Xin turun langsung ke Dunia Bawah.

Tidak heran ia rela menyusun rencana yang begitu rumit.

Dan tidak heran ia bersedia membantu seseorang hingga sejauh itu.

Di samping mereka, Ling Yue juga ikut terdiam.

Namun keterkejutannya berbeda dengan Wuji.

Ia sudah mengetahui identitas Cang Xuan sejak percakapan rahasianya dengan Tuan Xin beberapa waktu lalu. Karena itu, nama dan latar belakang pemuda tersebut bukan lagi sesuatu yang mengejutkannya.

Yang membuatnya terdiam justru alasan sebenarnya di balik semua tindakan Tuan Xin.

Selama ini ia mengetahui bahwa lelaki tua itu membantu Cang Xuan atas permintaan ayahnya. Namun baru sekarang ia memahami betapa besar arti pertemuan kembali itu bagi seorang Kaisar yang telah bertahun-tahun terpisah dari putranya.

Tuan Xin kembali melanjutkan penjelasannya dengan suara yang lebih pelan.

"Kaisar ingin bertemu kembali dengan putranya."

Tatapannya mengarah ke luar jendela, seolah sedang memikirkan seseorang yang berada sangat jauh dari tempat ini.

"Karena istri keduanya telah meninggal."

Suasana ruangan menjadi lebih sunyi.

Bahkan Wuji yang biasanya banyak berbicara hanya mendengarkan tanpa menyela.

Beberapa saat kemudian, Tuan Xin melanjutkan, "Dan suatu hari nanti..."

Ia berhenti sejenak sebelum mengucapkan kalimat berikutnya.

"Mungkin anak itu akan menjadi penerusnya."

Kalimat tersebut membuat Wuji kembali terdiam.

Kali ini bukan karena terkejut.

Melainkan karena ia memahami sepenuhnya makna dari kata-kata itu.

Jika Cang Xuan benar-benar berhasil mencapai Dunia Atas dan diakui oleh ayahnya, maka masa depannya akan jauh melampaui apa yang dapat dibayangkan oleh kebanyakan orang.

Waktu berlalu beberapa saat dalam keheningan.

Akhirnya Wuji menghela napas panjang sambil kembali duduk perlahan di kursinya.

"Aku mengerti sekarang."

Nada suaranya tidak lagi mengandung kecurigaan seperti sebelumnya.

Sebaliknya, kini ada sedikit rasa hormat di dalamnya.

Beberapa saat setelah percakapan itu berakhir, Wuji akhirnya menghela napas panjang. Ia sudah mengenal Tuan Xin selama bertahun-tahun dan tahu bahwa ketika lelaki tua itu benar-benar memutuskan sesuatu, hampir tidak ada yang bisa mengubah pikirannya. Setelah mempertimbangkan semuanya, ia akhirnya menyerah.

"Baiklah."

Nada suaranya terdengar pasrah.

"Aku akan membantu kalian."

Mendengar jawaban itu, senyum lebar langsung muncul di wajah Tuan Xin.

"Terima kasih."

Namun sebelum lelaki tua itu sempat terlihat terlalu senang, Wuji langsung mengangkat jarinya dan menunjuk ke arahnya.

"Tapi jangan salah paham."

Tatapannya terlihat sangat serius.

"Aku membantu demi anak Kaisar."

Kemudian ia menambahkan dengan nada tegas, "Bukan demi dirimu."

Mendengar hal itu, Tuan Xin justru tertawa kecil.

"Ternyata kau masih sama seperti dulu."

Wuji hanya mendengus pelan sebagai jawaban.

Di samping mereka, Ling Yue yang sejak tadi menyaksikan percakapan tersebut hanya bisa menggelengkan kepala. Semakin lama ia memperhatikan kedua pria itu, semakin jelas bahwa hubungan mereka memang aneh. Mereka tampak saling mengenal dengan baik, tetapi hampir setiap percakapan selalu diiringi sindiran dan keluhan.

Meski begitu, tidak sulit untuk melihat bahwa di balik semua itu terdapat kepercayaan yang telah terbangun selama bertahun-tahun.

Setelah urusan mereka selesai, Tuan Xin akhirnya berdiri dari kursinya. Ia merapikan pakaiannya sekilas sebelum mengambil kembali kendi araknya.

"Kalau begitu kami pergi dulu."

Tatapannya beralih kepada Wuji.

"Siapkan kapalmu."

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Kemungkinan besar nanti kita akan dikejar para prajurit."

Wuji sama sekali tidak terlihat terkejut mendengar kemungkinan tersebut. Seolah-olah ia sudah menduga bahwa rencana yang melibatkan Tuan Xin tidak mungkin berjalan dengan tenang.

Ia hanya menganggukkan kepala.

"Aku akan menyiapkannya."

Tuan Xin tampak puas dengan jawaban itu. Ia kembali meneguk araknya sebelum menoleh ke arah Ling Yue.

"Ling Yue."

Gadis itu langsung mengangkat kepalanya.

"Ayo kita pergi."

Tatapan Tuan Xin mengarah ke luar jendela, ke arah pusat kota yang jauh di kejauhan.

"Kita harus menemui Cang Xuan dan Siluman Kera itu."

Ling Yue segera mengangguk.

"Baik."

Tanpa membuang waktu lagi, keduanya berjalan menuju pintu. Setelah mengucapkan salam perpisahan singkat, mereka meninggalkan ruangan dan melangkah keluar dari bangunan kayu tersebut.

Suara langkah mereka perlahan menjauh.

Tak lama kemudian, pintu kembali tertutup.

Ruangan itu pun kembali sunyi.

Wuji tetap berdiri di tempatnya sambil memandangi pintu yang baru saja tertutup. Pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang baru saja ia dengar.

Putra Kaisar.

Anak yang lahir di Dunia Bawah.

Dan perjalanan yang perlahan membawanya menuju Dunia Atas.

Setelah beberapa saat terdiam, ia akhirnya menggelengkan kepala kecil sambil tersenyum tipis.

"Putra Kaisar..."

gumamnya pelan.

Tatapannya beralih ke arah laut yang terlihat dari jendela bangunan.

"Sepertinya Dunia Bawah akan segera menjadi jauh lebih menarik."

Entah bagaimana masa depan akan berkembang, satu hal sudah pasti. Kehadiran Cang Xuan bukanlah sesuatu yang biasa. Dan jika takdir benar-benar bergerak sebagaimana yang diperkirakan Tuan Xin, maka perubahan besar yang akan mengguncang Dunia Bawah mungkin sudah tidak terlalu jauh lagi.

End Chapter 34

1
asri_hamdani
tangkap 1-2 kan bisa untuk ganjel perut lapar 🤔
.: karena menurut Cang xuan menangkap hewan hewan kecil seperti kelinci ataupun kucing hutan itu hanya membuang-buang waktu karena hewan tersebut memiliki pergerakan yg cukup lincah Apalagi walaupun berhasil menangkap dia hanya mendapatkan koin yg sedikit apalagi dia mempunyai waktu terbatas yaitu jangan sampai malam hari karena banyak monster abbys yg berkeliaran oleh karena itu daripada membuang buang waktu ke hewan yg memiliki nilai koin yg sedikit menurut Cang xuan lebih baik mencari hewan yg ukuran nya cukup besar dan mendapatkan koin yg lebih banyak dibandingkan harus bersusah payah menangkap hewan ukuran kecil
total 1 replies
Kevandra
B🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!