Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.
Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.
Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Perjalanan dan Jebakan yang Menanti
Keesokan paginya, Dika bangun lebih awal dari biasanya. Ia sudah memeriksa daftar kebutuhan yang diberikan Nyonya Wijaya berkali-kali, memastikan tidak ada satu pun barang yang terlewat. Amplop berisi uang itu ia simpan dengan sangat aman, diselipkan di bagian dalam baju yang rapat, dekat dengan dadanya — tempat yang paling aman menurutnya, agar tidak mudah terlepas atau jatuh.
Sebelum berangkat, ia berpamitan pada Bu Marni yang sedang mengatur keperluan dapur. “Bu, saya berangkat sekarang. Kalau semua berjalan lancar, saya diperkirakan pulang sebelum matahari condong ke barat.”
“Baiklah, hati-hati di jalan. Jangan tergesa-gesa, tapi juga jangan terlalu lama sampai sore menjelang gelap,” pesan Bu Marni dengan nada yang kini sudah lebih lembut.
Perjalanan menuju pusat penjualan tanaman dan pupuk itu memakan waktu sekitar satu jam dengan angkutan umum. Selama di perjalanan, Dika duduk tenang, tangannya sesekali menyentuh bagian dada tempat amplop itu tersimpan, memastikan semuanya masih aman. Ia tidak memikirkan hal buruk apa pun, hanya berharap bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik dan membawa pulang semua barang sesuai pesanan.
Sesampainya di tempat tujuan, ia langsung menuju kios-kios penjual yang sudah dikenal. Ia bernegosiasi harga dengan sopan, memeriksa kualitas setiap bibit dan pupuk dengan teliti, lalu mencatat setiap pengeluaran secara rinci di buku catatannya. Ia ingin semuanya tercatat jelas, sehingga tidak ada yang perlu dipertanyakan saat kembali nanti.
Setelah semua barang dibeli dan dimasukkan ke dalam karung serta keranjang, ia menyisihkan uang kembalian, memasukkannya kembali ke dalam amplop yang sama, dan menyimpannya lagi di tempat yang aman. Ia merasa lega, tugas ini berjalan lancar tanpa hambatan apa pun.
Namun, di perjalanan pulanglah sesuatu yang tidak terduga terjadi. Saat ia baru turun dari angkutan umum dan berjalan menuju gerbang rumah, tiba-tiba dua orang pria yang berpenampilan biasa saja menghadangnya di pinggir jalan yang agak sepi, tidak jauh dari pekarangan rumah besar itu.
“Permisi, Nak. Boleh bertanya sedikit?” sapa salah satu dari mereka dengan nada ramah, tapi matanya menatap tajam ke arah Dika.
Dika berhenti, menatap mereka dengan waspada. “Ada apa, Pak?”
“Kami petugas keamanan dari lingkungan sekitar. Ada laporan ada orang yang membawa barang curian melewati jalan ini. Boleh kami periksa barang bawaanmu sebentar?” kata pria itu lagi, sambil melangkah mendekat.
Dika merasa aneh. Ia tidak pernah melihat kedua pria itu sebelumnya, dan tidak ada tanda pengenal yang jelas tergantung di baju mereka. Tapi sebelum ia sempat menolak atau meminta bukti keaslian tugas mereka, salah satu pria itu tiba-tiba menyambar keranjang berisi barang, sedangkan yang lain mendorong tubuh Dika dengan kasar.
“Jangan berontak! Kami hanya menjalankan tugas!” bentaknya.
Dika terhuyung mundur, dan dalam keributan singkat itu, ia merasakan sesuatu menyentuh bagian dalam bajunya. Ia berusaha melawan, tapi kedua pria itu lebih besar dan kuat. Hanya dalam hitungan detik, mereka melepaskan cengkeramannya, lalu segera berlari pergi menyusuri gang sempit yang berbelok-belok, hingga hilang dari pandangan.
Dika berdiri terengah-engah, jantungnya berdegup kencang. Ia segera meraba bagian dalam bajunya, dan dadanya terasa sesak seketika — amplop berisi uang kembalian itu sudah tidak ada lagi di tempatnya.
“Tidak… tidak mungkin…” gumamnya pelan, wajahnya memucat. Ia memeriksa seluruh saku bajunya, memeriksa lagi keranjang dan karung barang yang dibawanya, tapi tidak ada jejak amplop itu sama sekali. Ia berdiri di tempat itu, bingung dan panik. Uang itu bukan jumlah yang sedikit, dan ia tahu betapa beratnya tuduhan yang akan datang jika ia pulang dengan tangan kosong.
Dengan langkah gontai, ia melanjutkan perjalanan masuk ke dalam pekarangan. Barang-barang yang dibawanya sudah lengkap, tapi satu hal yang paling penting hilang. Saat sampai di halaman depan, Bu Marni sudah menunggu di teras, bersama Paman Arga yang kebetulan sedang berdiri di sana.
“Sudah pulang? Bagaimana, semuanya lengkap?” tanya Bu Marni sambil melangkah mendekat.
Dika menunduk dalam, suaranya terdengar gemetar menahan rasa bersalah dan cemas. “Semuanya sudah dibeli, Bu. Tapi… ada hal buruk yang terjadi di perjalanan pulang.”
Mendengar itu, Paman Arga segera menyela dengan nada yang sudah mulai meninggi. “Hal buruk apa? Jangan bilang uangnya hilang atau dipakai untuk hal lain!”
Dika mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. “Saya dirampok di jalan, Pak. Dua orang menghadang saya, dan mengambil amplop berisi uang kembalian itu. Saya berusaha melawan, tapi mereka lebih kuat dan berhasil kabur.”
Bu Marni terkejut, sedangkan Paman Arga langsung tertawa kecil, tapi tawanya terdengar sinis dan tidak percaya. “Dirampok? Cerita yang sangat mudah dibuat, bukan? Mana buktinya? Mana laporan ke polisi? Kalau benar dirampok, kenapa tidak langsung lapor dan cari bantuan, malah pulang ke sini saja?”
“Saya baru saja sadar, Pak. Mereka kabur terlalu cepat, dan saya bingung harus berbuat apa,” jawab Dika dengan jujur.
“Bingung atau sudah merencanakannya sejak awal?” bentak Paman Arga keras. “Ini pasti akal-akalanmu saja! Uang itu sudah kamu bawa lari atau habiskan, lalu mengarang cerita dirampok agar tidak dimintai pertanggungjawaban. Kamu pikir kami mudah dibohongi?”
Suara keras itu menarik perhatian Nyonya Wijaya dan Kirana yang keluar dari dalam rumah. Mereka mendekat, melihat suasana yang tegang dan wajah Dika yang pucat pasi.
“Ada apa ini? Kenapa berteriak-teriak?” tanya Nyonya Wijaya dengan nada tegas.
“Kak, lihat saja,” kata Paman Arga sambil menunjuk ke arah Dika. “Dia diberi kepercayaan membawa uang cukup besar, tapi sekarang mengaku uangnya hilang karena dirampok. Tidak ada bukti, tidak ada saksi, hanya omong kosong belaka. Ini jelas cara dia menutupi kesalahannya sendiri.”
Nyonya Wijaya menatap Dika dengan pandangan yang sulit dibaca. “Benarkah demikian, Dika? Apakah benar uang itu hilang, atau ada hal lain yang terjadi?”
Dika menatap mata Nyonya Wijaya dengan pandangan jujur, meski hatinya terasa hancur. “Saya bersumpah, Nyonya. Uang itu memang saya simpan dengan aman, tapi di tengah jalan ada dua orang yang menghadang dan mengambilnya secara paksa. Saya tidak menyentuhnya untuk keperluan apa pun, dan saya tidak berbohong. Tapi saya sadar, saya yang bertanggung jawab atas keamanannya, dan saya gagal menjaganya.”
Kirana yang berdiri di samping ibunya menatap Dika dengan hati-hati. Ia melihat ketulusan di wajah pemuda itu, tapi di sisi lain, tidak ada bukti yang bisa menunjukkan bahwa apa yang dikatakannya benar. Tanpa bukti, cerita itu memang terlihat seperti alasan semata.
Paman Arga kembali bersuara, memanfaatkan situasi yang menguntungkan baginya. “Lihat, Kak? Dia hanya bisa mengaku dan bersumpah, tapi tidak ada satu pun bukti yang bisa dia tunjukkan. Kepercayaan sudah diberikan sepenuhnya, tapi dia justru menyia-nyiakannya. Kalau dibiarkan terus, nanti bisa jadi kebiasaan buruk yang lebih parah lagi. Sebaiknya dia dimintai pertanggungjawaban, dan kalau perlu, dikembalikan saja ke tempat asalnya.”
Suasana menjadi hening. Nyonya Wijaya terdiam berpikir, bingung antara kepercayaan yang sudah tumbuh dan kenyataan yang tampak mencurigakan. Dika hanya bisa berdiri diam, menunduk, menyadari bahwa kali ini jebakan yang dipasang terasa lebih rapat dan sulit untuk dilepaskan.