NovelToon NovelToon
Janda Muda Pilihan CEO

Janda Muda Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: PENGKHIATAN TANGAN KANAN

Gema tawa histeris Tuan Besar Aryo Mahardika masih bergaung parau, membelah keheningan ruang tengah rumah singgah yang remang-remang. Di atas layar proyektor raksasa, visual digital itu terus menampilkan gerak-gerik Kapten Yuda—tangan kanan kepercayaan Dafa selama lima tahun terakhir—yang sedang berdiri di depan saluran ventilasi AC kamar rawat nomor 305 Rumah Sakit Pusat. Jemari sang perwira yang dibalut sarung tangan taktis hitam tampak sudah memegang tuas katup tabung gas beracun portabel, bersiap meracuni pasokan udara di dalam kamar tempat Nazya Humaira sedang tertidur lelas.

Darah di dalam dada Dafa Mahardika seolah mendidih hingga melampaui batas waras manusia biasa. Sepasang mata elangnya berkilat ungu pekat, memancarkan aura intimidasi mutlak seorang predator puncak yang terpojok di ujung tanduk. Pengkhianatan terdalam yang dirancang oleh kakek kandungnya sendiri ini benar-benar menghancurkan seluruh silsilah kesetiaan dinasti Mahardika Group.

Sifat posesif Dafa terhadap Nazya meledak hebat di dalam sanubari, namun otaknya yang genius tetap dipaksa bekerja dengan dingin dan konstan di bawah tekanan waktu yang teramat sempit. Rahang tegasnya mengeras sempurna, menolak untuk menunjukkan kelemahan seujung kuku pun di depan sang diktator tua.

"Kamu pikir taktik usangmu ini bisa mengunciku, Aryo?" desis Dafa. Suara baritonnya yang berat terdengar sangat rendah, dingin, dan bergetar hebat penuh ancaman pembantaian mutlak.

Tuan Besar Aryo menyunggingkan senyum kelicikan yang teramat pekat dari sudut bibirnya yang keriput. Pria tua itu mengangkat tongkat komando emasnya, menempelkan laras pistol kecil yang tersembunyi langsung ke arah dahi Mami Kinanti yang masih terikat lemas di atas kursi marmer bawah. "Satu letusan senjata dari anak buahmu ke arahku, Dafa... maka Yuda akan melepaskan gas syaraf tersebut dari jarak jauh melalui enkripsi satelitku. Pilih sekarang, Cucu Geniusku... nyawa ibu kandungmu yang tidak berguna ini, atau nyawa janda muda pilihanmu yang suci itu?"

Di tengah dilema maut yang sanggup meruntuhkan mental pria biasa, Dafa justru menurunkan moncong senapan serbu taktisnya ke atas lantai. Tindakan tersebut seketika membuat dua orang pengawal elite di sisi Aryo menghela napas lega, mengira sang CEO dominan telah bertekuk lutut menyerah kalah pada situasi.

Namun, mereka tidak pernah tahu bahwa di balik punggung bidangnya yang kokoh, ibu jari tangan kiri Dafa telah menekan sebuah tombol khusus berkode merah di balik arloji titaniumnya—sebuah sinyal darurat tertinggi (Alpha Protocol) yang hanya terhubung langsung dengan sistem implan cip komputer mikro di dalam ruang kendali utama Rumah Sakit Pusat Mahardika.

BZZZTTT!

Tepat di saat Kapten Yuda di dalam layar proyektor bersiap memutar katup gas beracunnya, seluruh sistem kelistrikan darurat di kamar rawat nomor 305 mendadak terkunci otomatis dari pusat. Sebuah dinding baja antipeluru setebal lima puluh sentimeter meluncur jatuh dari langit-langit plafon kamar, menyegel ranjang tempat Nazya tidur dalam sekat kedap udara murni, sementara katup ventilasi luar memuntahkan gas penawar yang seketika menetralkan seluruh sisa udara di sekitar koridor.

Kapten Yuda yang terbelalak tidak percaya melihat sistem keamanannya diretas balik, langsung terlempar menghantam dinding koridor akibat tembakan presisi dari senapan sniper runduk tim taktis cadangan divisi satu yang mendobrak jendela kaca koridor luar rumah sakit. Aliansi pembunuh bayaran dalam tersebut berhasil dilumpuhkan sepenuhnya dalam hitungan detik.

Melihat visual di layar proyektor mendadak berubah menjadi kekalahan total bagi pasukannya, wajah keriput Tuan Besar Aryo memucat sempurna sewarna kapur. Keangkuhan seorang penguasa tua langsung sirna digantikan oleh ekspresi horor yang luar biasa pekat.

"K-Kamu... bagaimana bisa kamu menembus enkripsi sistemku?!" raung Tuan Besar Aryo dengan suara parau yang gemetar hebat.

Dafa tidak membuang waktu untuk menjawab pertanyaan sampah tersebut. Dengan gerakan taktis yang luar biasa cepat dan konstan, ia mengangkat kembali senapan serbunya dan melepaskan dua tembakan beruntun tanpa peringatan seujung jari pun.

BANG! BANG!

Peluru kaliber tinggi menembus tepat di tengah-tengah dahi kedua pengawal elite Aryo sebelum mereka sempat menarik pelatuk senjata mereka. Tubuh kedua pria berpakaian hitam itu tumbang ke atas lantai marmer dengan darah segar yang mengalir deras membasahi karpet wol ruangan.

Dafa melangkah tegap ke depan dengan langkah kaki yang teratur dan menindas, mendekati kakek kandungnya sendiri. Aura haus darah dewa perang bangkit seutuhnya memenuhi setiap jengkal ruangan rumah singgah. Dafa merenggut tongkat komando emas dari tangan gemetar Aryo, lalu menghantamkan gagang senapannya keras ke arah lutut tua bangka tersebut hingga Aryo berlutut paksa di atas lantai marmer dengan erangan kesakitan yang melengking parah.

"Mikael! Amankan Mami keluar dari sini dan panggil tim medis VIP!" perintah Dafa dingin tanpa menoleh sedikit pun dari pandangan mata elangnya yang mengunci mati wajah Aryo.

"Baik, Pak Dafa!" jawab Mikael cepat, langsung memotong tali pengikat Mami Kinanti dan membopong wanita tua yang menangis terisak itu keluar menembus badai hujan menuju mobil ambulans taktis.

Kini, di dalam ruang tengah yang hanya menyisakan deru suara api perapian dan siraman hujan luar jendela, Dafa berdiri tegak layaknya raksasa kegelapan di hadapan kakek kandungnya yang merangkak kesakitan di lantai.

Dafa menempelkan ujung laras senapannya yang masih panas tepat di atas ubun-ubun Tuan Besar Aryo Mahardika. Sifat posesifnya terhadap ketenangan dinasti dan keselamatan Nazya menuntut eksekusi mutlak tanpa sisa pengampunan ikatan darah.

"Sepuluh tahun ini aku menghormatimu sebagai sesepuh tertinggi, Aryo," desis Dafa, suara baritonnya yang berat terdengar sedingin es kutub utara. "Tapi malam ini... kamu telah melanggar satu-satunya batasan suci yang kupertegas di dunia ini. Kamu mencoba mengusik Nazya-ku. Dan siapa pun yang menyentuh hak milikku, hanya berhak menerima satu akhir dari tanganku: kepunahan."

Tuan Besar Aryo mendongakkan kepalanya yang dipenuhi peluh dingin, menyunggingkan sebuah tawa getir yang dipenuhi oleh sisa-sisa kegilaan kekuasaan. "Tembak aku, Dafa! Tembak kakekmu sendiri! Tapi ingat... dinasti Mahardika ini dibangun di atas fondasi darah. Jika aku mati malam ini... seluruh aset rahasia dan dana gelap The Obsidian di luar negeri akan otomatis ditransfer ke rekening organisasi payung internasional milik The Vipers... dan besok pagi... istrimu yang tercinta itu akan menjadi target buruan seluruh pembunuh bayaran di lima benua dunia!"

DEG!

Ancaman akhir dari sang sesepuh tua kembali menyentak kesadaran Dafa. Rahang tegas sang CEO dominan mengeras sempurna. Alih-alih menarik pelatuk senapannya untuk memberikan kematian instan yang mudah bagi Aryo, Dafa justru menurunkan senjatanya dengan senyum kepuasan predator yang teramat dingin dan kejam di sudut bibirnya yang tegas.

Dafa merendahkan tubuh besarnya, mencengkeram kuat kerah jas wol mahal milik Aryo hingga tubuh tua itu terangkat ke udara. "Aku tidak akan membunuhmu malam ini, Aryo. Kematian terlalu indah untuk iblis sepertimu. Aku sendiri yang akan memenjarakanmu di dalam sel bawah tanah yang paling gelap di markas utama, menyiksa setiap jengkal daging tularmu sampai kamu sendiri yang memohon untuk mati, sementara tim IT pusatku akan meretas dan menyita seluruh aset gelapmu tanpa sisa!"

Dafa menghantamkan pukulan tangan kanannya yang kekar tepat ke arah pelipis Aryo hingga pria tua itu pingsan total tak sadarkan diri di atas marmer yang basah oleh darah anak buahnya sendiri.

Pria tegap itu bangkit berdiri seutuhnya, berbalik badan melangkah lebar keluar menembus badai kota, masuk ke dalam mobil kemudi SUV hitam utamanya untuk memacu kendaraan kembali menuju Rumah Sakit Pusat dengan kecepatan penuh demi memeluk dan memastikan keselamatan janda muda pilihannya.

Dua puluh menit kemudian, Dafa melangkah lebar masuk menerobos pintu kamar rawat nomor 305 yang baru saja selesai diperbaiki oleh tim fasilitas khusus. Dinding baja pengaman telah dinaikkan kembali ke dalam plafon, menyisakan hawa dingin penawar gas yang masih meremang di dalam ruangan.

Di atas ranjang, Nazya Humaira yang sempat mendekam di dalam sekat pelindung kedap udara, langsung duduk menegakkan tubuh rampingnya saat melihat suaminya datang melangkah masuk. Seluruh pakaian kemeja hitam Dafa kini telah koyak seutuhnya, memperlihatkan dada bidangnya yang kekar dan punggung tegapnya yang bermandikan darah segar bercampur noda mesiu hitam sisa pertempuran di rumah singgah.

Melihat kondisi suaminya yang kembali terluka parah demi menjaganya tetap bernafas, kesedihan yang teramat mendalam dan rasa takut kehilangan yang masif seketika meledak di dalam dada Nazya. Air mata janda muda itu tumpah ruah membasahi pipi cantiknya tanpa bisa ditahan lagi. Tanpa memedulikan langkah kakinya yang masih lemas, Nazya melompat turun dari atas ranjang, menghamburkan seluruh tubuh kurusnya ke dalam dekapan posesif Dafa.

"Mas Dafa! Ya Tuhan... Mas berdarah lagi..." ratap Nazya histeris sembari membenamkan wajah cantiknya di ceruk leher maskulin Dafa yang hangat dan beraroma mesiu badai. Kedua tangan kurusnya meraba sekujur dada bidang suaminya dengan getaran tubuh yang luar biasa kencang akibat syok emosional yang menyayat hati terdalamnya.

Dafa merengkuh erat pinggang ramping Nazya dengan lengan kirinya yang kekar, mengangkat tubuh kurus istrinya dan membawanya kembali duduk di atas pangkuan bidang dadanya di atas kasur rawat. Sifat protektif dan jerat gairah batin sang CEO dominan bergolak liar melihat wanitanya begitu terpukul dan menangis terguncang demi dirinya.

Atmosfer kamar yang remang-remang setelah redanya badai besar itu seketika berubah menjadi teramat pekat oleh ketegangan intim dan romansa romantis tingkat tinggi. Kedekatan fisik yang teramat intens di antara sepasang kekasih yang baru saja menantang maut keluarga ini memicu letupan gairah dewasa yang luar biasa sensual dan berkelas.

Dafa menangkup sepasang pipi pias Nazya dengan telapak tangannya yang besar dan hangat, menghapus sisa air mata di sudut mata indah istrinya dengan sapuan ibu jarinya yang lembut namun penuh penekanan dominasi kepemilikan mutlak.

"Lihat aku, Nazya-ku... tatap mata suamimu," bisik Dafa dengan suara bariton yang teramat rendah, serak, dan penuh intimidasi sensual yang membuat detak jantung Nazya berpacu gila. "Aku masih hidup. Aku tidak akan pernah membiarkan maut sekalipun merebutmu dari tanganku. Malam ini... seluruh musuh Mahardika sudah runtuh di bawah kakiku. Dan sekarang... saatnya aku menuntut seluruh hak mutlakku atas tubuh dan jiwamu."

Nazya menatap dalam ke dalam sepasang mata elang Dafa yang memancarkan pendar kegelapan gairah yang teramat haus. Rasa sedih, bersyukur, dan jerat cinta yang terikat mati di dalam sanubari janda muda itu melebur menjadi satu kepatuhan utlak. Ia menganggukkan kepala cantiknya secara perlahan sembari meremas lembut pundak bidang Dafa yang terluka.

Dafa merendahkan wajah tegasnya, membungkam bibir ranum Nazya ke dalam sebuah ciuman penyatuan yang teramat dalam, kasar, namun dipenuhi oleh kehangatan sensual yang membakar habis seluruh sisa ketakutan mereka. Tangan kekar Dafa bergerak posesif menyusup di balik gaun tipis rumah sakit Nazya, meremas lembut pinggang ramping wanitanya seiring dengan jalinan romansa dewasa yang semakin memanas menembus keheningan malam kota yang panjang.

Namun, tepat di saat mereka berdua sedang tenggelam di dalam pusaran penyatuan intim yang mendalam di atas ranjang, dari arah gawai pintar Dafa yang terletak di atas nakas obat samping bed, sebuah nada dering darurat khusus dengan nada suar frekuensi tinggi yang hanya dimiliki oleh Pusat Intelijen Divisi Rahasia Obsidian mendadak bergetar keras, menampilkan sebuah pesan teks enkripsi otomatis dari satelit luar angkasa yang langsung membuka tab baru dokumen rahasia masa lalu: "Protokol pembersihan massal 'Black Dawn' telah aktif otomatis akibat lumpuhnya pusat komando Tuan Besar Aryo. Seluruh sisa pasukan pembunuh bayaran internasional The Vipers diperintahkan untuk meratakan Rumah Sakit Pusat dan melenyapkan Nazya Humaira demi menghancurkan waras kesadaran Dafa Mahardika. Waktu eksekusi: Tepat saat fajar menyingsing!"

1
miilieaa
halo kak, baru awal baca udah seru nihh
miilieaa: baik kakak, saya lanjut baca dulu lagi yaa kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!