Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.
Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.24
Makan malam di restoran hotel berlangsung hangat. Lampu-lampu kristal memantulkan cahaya keemasan, sementara alunan musik piano mengisi ruangan dengan suasana yang menenangkan. Di meja bundar itu, keluarga Yusi menikmati hidangan yang tersaji. Hanya satu orang yang tampak berbeda.
Dokter Arga sesekali memainkan sendok di tangannya tanpa benar-benar menyentuh makanan.
"Dokter Arga, kenapa? Masakannya kurang cocok?" tanya Alvaro hati-hati.
Arga tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang memenuhi dadanya.
"Tidak, Dok. Makanannya enak. Hanya saja... saya sedang sedikit lelah."
Jawaban itu terdengar meyakinkan. Namun, sorot matanya tak mampu membohongi siapa pun yang memperhatikannya. Bayangan Anna terus memenuhi pikirannya. Sejak sore tadi ia berharap wanita itu bersedia menemaninya menghadiri makan malam ini. Ia ingin memperkenalkan Anna kepada keluarga Yusi, terutama kepada Alvaro. Sayangnya, Anna menolak dengan halus, berdalih masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di rumah sakit.
Ia sering curhat tentang gadis itu kepada sahabatnya. Mungkin karena itulah ia begitu bersemangat mengenalkan Anna pada temannya.
Alasan itu masuk akal, tetapi tetap saja meninggalkan ruang kosong di hati Arga.
Yusi yang duduk di samping putrinya tersenyum ramah.
"Di mana pacarnya, Dokter? Bukankah Anda ingin mengajaknya dan mengenalkannya kepada Elizabeth?"
Elizabeth ikut mengangguk.
"Benar, Pak Dokter. Lagipula, Eliz butuh teman. Katanya dia belum punya banyak kenalan di sini."
Arga mengusap tengkuknya yang mendadak terasa kaku.
"Dia masih sibuk. Lain kali pasti aku kenalkan pada kalian."
"Kalau perlu, secepatnya ya, Dok," sahut Alvaro sambil tertawa kecil.
"Ajak pacar Pak Dokter jalan-jalan. Kami sengaja meluangkan waktu mampir di kota ini untuk saling mengenal."
Ucapan itu membuat Arga semakin salah tingkah.
Pacar?
Sejak kapan Anna menjadi pacarnya?
Pertanyaan itu justru bergema di dalam benaknya sendiri. Ia mengembuskan napas pelan. Hubungannya dengan Anna masih belum memiliki kejelasan. Mereka memang semakin dekat, sering menghabiskan waktu bersama di rumah sakit, saling membantu menangani pasien, bahkan beberapa kali makan malam berdua. Namun, semua itu belum pernah dibicarakan secara serius.
Mungkin hanya dirinya yang terlalu berharap.
Mungkin hanya dirinya yang terlalu dalam menyimpan rasa.
"Langsung saja dilamar, Pak Dokter. Pasti aman," goda Alvaro sambil terkekeh.
Arga tersenyum getir.
"Aku sih mau... tapi dia bilang belum siap."
Seketika suasana meja menjadi sedikit hening.
Alvaro mengangguk pelan.
"Kalau begitu, jangan dipaksa. Cinta memang butuh waktu. Kalau memang dia orang yang tepat, dia pasti akan datang ketika hatinya sudah siap."
Arga hanya menganggukkan kepala, meski dalam hati ia bertanya-tanya apakah penantian itu benar-benar akan berakhir indah.
Di sisi lain, Elizabeth diam-diam memperhatikan ekspresi Alvaro. Wajahnya berubah masam karena Alvaro dengan sengaja menyindirnya.
" Dia sangat perhatian ke orang lain, tapi... tidak denganku," lirihnya dalam hati.
Pelan-pelan Yusi memperhatikan Eliz yang terdiam memandang Alvaro bersama Arga.
" Ada apa, Sayang? Jangan khawatir, aku akan mendesak Alvaro supaya segera menikah," kata Yusi sambil berjanji di depan putrinya. "Alvaro masih sangat mencintai Anna, Ma. Aku sudah berusaha bersikap lembut padanya, tapi dia tetap dingin. Bahkan dia terang-terangan bilang akan kembali pada Anna setelah aku sembuh," ucap Eliz dengan wajah sedih.
"Nanti, Mama yang akan bicara dengan Alvaro. Kalau dia masih membantah, dia akan berurusan dengan Denis, ayahnya," balas Yusi tegas.
" Aku takut Alvaro akan menyalahkanku, Ma," kata Eliz lagi.
"Tenang saja," balas Yusi dengan senyum menyeringai, matanya menatap jauh ke arah Alvaro.
***
Malam mulai larut ketika mobil yang dikendarai Alvaro meninggalkan restoran tempat mereka makan malam bersama Dokter Arga. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya ke kaca jendela, tetapi suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi.
Yusi duduk di kursi belakang bersama Eliz. Sesekali wanita paruh baya itu mencoba membuka percakapan, namun Alvaro hanya menjawab singkat. Wajahnya terlihat tegang, rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya menggenggam erat kemudi.
Tak ada yang tahu bahwa beberapa menit sebelumnya sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselnya. Pesan itu membuat dadanya bergemuruh. Isi pesan tersebut kembali mengingatkannya pada luka lama yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam. Meski berusaha menenangkan diri, pikirannya terus dipenuhi amarah dan kekecewaan.
Sesampainya di penginapan, Alvaro mematikan mesin mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Yusi memilih masuk lebih dulu ke kamar, memberi kesempatan kepada Alvaro dan Eliz yang masih berdiri di halaman penginapan.
Begitu pintu kamar tertutup, Alvaro akhirnya tak mampu lagi menahan emosinya.
"Kamu sengaja mengadu pada Ayahku. Kamu kekanak-kanakan, Eliz. Ingat, pernikahan itu bukan mainan!" bentaknya dengan suara yang bergetar menahan marah.
Eliz menatap pria itu tanpa rasa bersalah. Ia justru melipat kedua tangan di depan dada, lalu menyunggingkan senyum tipis yang membuat Alvaro semakin kesal.
"Kalau begitu... kenapa? Kamu marah?" tantangnya pelan dengan nada manja yang terdengar seperti ejekan.
Ucapan itu menjadi pemantik terakhir.
Alvaro memejamkan mata beberapa detik. Ia menarik napas panjang, berusaha mengendalikan dirinya agar tidak mengatakan sesuatu yang akan disesalinya. Namun, bayangan isi pesan di WhatsApp sang ayahnya tadi kembali terlintas. Dadanya kembali sesak.
"Jangan memancing emosiku, Eliz," ucapnya dengan suara rendah namun penuh penekanan.
"Kesabaranku juga ada batasnya."
Eliz mendekat satu langkah. Tatapannya tetap tenang, seolah tidak menganggap kemarahan Alvaro sebagai sesuatu yang serius.
"Aku hanya ingin memastikan kalau kamu masih peduli."
Alvaro tertawa hambar.
"Peduli?" ulangnya lirih.
"Peduli bukan berarti membiarkanmu mengatur hidupku. Peduli juga bukan berarti aku harus menerima semua keputusan yang dipaksakan kepadaku."
Senyum Eliz mulai memudar.
"Kamu masih memikirkan dia, ya?" bisiknya.
Pertanyaan itu membuat Alvaro terdiam.
Nama itu memang tidak disebutkan, tetapi keduanya sama-sama tahu siapa yang dimaksud. Sosok wanita yang masih memenuhi hati Alvaro, meski keadaan memaksa mereka berjalan di jalan yang berbeda.
"Ada beberapa hal yang tidak akan berubah," jawab Alvaro pelan.
"Perasaan bukan sesuatu yang bisa dipindahkan hanya karena sebuah pernikahan."
Untuk pertama kalinya, Eliz kehilangan keberaniannya. Ia menundukkan kepala, menyadari bahwa selama ini ia berusaha merebut hati seseorang yang masih dimiliki orang lain.
Di balik jendela kamar, Yusi tanpa sengaja mendengar sebagian percakapan mereka. Hatinya terasa sesak. Ia sadar bahwa semua yang dilakukannya demi kesembuhan Eliz.
Malam itu, tidak ada lagi pertengkaran.
Alvaro melangkah masuk ke kamar tanpa menoleh sedikit pun. Sementara Eliz tetap berdiri di halaman penginapan, memandang langit yang gelap dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
" Haruskah aku berhenti sampai di sini?"
Jangan lupa like dan komen ya gaeeees!!!!