Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 – Pewaris Cahaya
Hening. Seluruh Arena Celestia tenggelam dalam keheningan yang begitu mencekam. Tak seorang pun berani mengalihkan pandangan dari retakan raksasa yang membelah langit. Nama Astralis masih bergema di telinga semua orang.
Cahaya putih keperakan yang memancar dari tongkat Astralis terus menembus langit, seolah sedang menjawab panggilan yang berasal dari dunia lain. Aurelia menatap tongkat ditangannya dengan napas memburu. Ia tidak mengucapkan satu mantra pun, namun kristal itu terus bersinar semakin terang seakan memiliki kehendaknya sendiri.
Di depan retakan, Armand perlahan mengangkat pedangnya, tatapannya tertuju pada kegelapan yang menyelimuti sosok bermata merah itu.
“Sudah cukup.” Suara Armand terdengar datar. Namun setiap katanya mengandung tekanan mana yang begitu kuat hingga udara di sekelilingnya bergetar. “Kembalilah ke tempat asalmu.” Untuk sepersekian tidak ada jawaban, kemudian terdengar tawa rendah dari balik retakan.
Suara itu terdengar begitu berat hingga membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya pasti akan meremang. “Ha Ha Ha Ha.. Kau masih hidup, Armand Arvendis.” Mata beberapa professor langsung membelalak mendengar suara itu.
Ia, makhluk itu mengenal Armand, bahkan menyebut namanya. Orion perlahan mengepalkan tangannya. “Jadi dugaanku benar.” Gumamnya pelan. “Makhluk itu memang berasal dari Perang Astralis.” Tuturnya yang langsung membuat Aldric menoleh.
“Orion. Apa kau tahu sesuatu?” Tanya Aldric.
“Bukan sekarang.” Pria berjubah hitam itu tetap menatap langit. “Saat ini yang terpenting adalah menutup retakan itu.” Belum sempat Aldric bertanya lagi, makhluk tersebut mengangkat tangan kirinya.
Aura hitam pekat berkumpul di telapak tangannya, memang tidak sebesar sebelumnya, namun sekarang terlihat jauh lebih padat. Udara di sekitar langsung berubah dingin, seluruh mana di langit seolah mulai tersedot menuju bola hitam itu. Selena langsung menyadarinya.
“Armand. Itu bukan serangan biasa.” Armand sudah bergerak lebih dulu. tubuhnya melesat ke udara seperti kilatan cahaya. Pedangnya beradu langsung dengan bola mana hitam tersebut.
DDUUUAAARR~
Ledakan yang tercipta kali ini jauh lebih besar dibanding benturan sebelumnya. Langit seakan terbelah oleh cahaya emas dan kegelapan. Gelombang kejutnya bahkan memaksa beberapa professor memasang kembali pengalang tambahan, Cedric bahkan sampai menggertakkan giginya.
“Kalau benturan seperti itu terjadi sekali lagi, Arena Celestia akan hancur.”
Selena, ia segera memperluas kubah pelindungnya. Puluhan lingkaran sihir emas muncul mengelilingi akademi, namun wajahnya mulai terlihat pucat. Mantra sebesar itu jelas menguras mana dalam jumlah luar biasa, Aurelia yang melihat itu pun menggigit bibirnya karena khawatir.
“Ibu…” panggilnya lirih. Selama ini, Aurelia belum pernah melihat Selena seserius itu. Tangan wanita itu mulai bergetar halus. Meski begitu, senyumnya tetap tidak berubah.
“Aku tidak apa-apa.” Gumamnya lirih. “Selama kau selamat, semuanya sepadan.” Kalimat itu membuat dada Aurelia kembali sesak. Ia menggenggam tongkat Astralisnya semakin erat. Untuk pertama kalinya, ia membenci dirinya sendiri, karena ia merasa dirinya begitu lemah.
Di hadapannya, ayah bertarung mempertaruhkan nyawa, ibunya menghabiskan seluruh kekuatannya demi mempertahankan pelindung akademi. Sementara dirinya, hanya bisa berdiri dan menyaksikan.
“Aku…” suara Aurelia bergetar. “… aku tidak bisa terus seperti ini.” Sambungnya. Lyra yang berdiri di sisinya itu pun menoleh. Tatapan gadis berambut merah muda itu jauh lebih serius dari pada biasanya.
“Relia. Jangan pernah berpikir bahwa kau sendirian.” Lyra menggenggam tongkatnya. “Aku akan ikut bersamamu.” Ucapnya lagi. Di sisi lain, Aeron ikut mengangkat busurnya. Tatapannya tidak lagi setenang sebelumnya.
“Aku juga,” seru Aeron. Selene menutup buku mantranya perlahan, meski kedua tangannya masih sedikit gemetar, sorot matanya kini jauh lebih mantap.
“Kalau kita memang satu kelompok, maka kita maju bersama.” Empat pasang mata saling bertemu. Mereka baru saling mengenal beberapa jam lalu, namun entah kenapa kepercayaan itu mulai tumbuh dengan sendirinya.
Melihat mereka, Orion akhirnya melangkah mendekat, dan tatapannya berhenti pada Aurelia.
“Jangan pernah berpikir kekuatan diwariskan hanya untuk dilindungi.” Aurelia mendongakkan wajahnya. “Melindungi adalah alasan mengapa kekuatan itu diwariskan.” Kalimat Orion membuat gadis itu terdiam.
Sementara itu dilangit, benturan demi benturan antara Armand dan makhluk dari balik retakan terus mengguncang udara. Setiap ayunan pedang Armand mampu membelah aura hitam, namun retakan langit tidak juga mengecil, Aldric akhirnya menyadari sesuatu.
“Mustahil.” Ucapannya itu lekas membuat Cedric menoleh.
“Apa?” Aldric mengepalkan tangannya
“Armand tidak sedang mencoba mengalahkannya. Ia sedang mengulur waktu.” Keheningan kembali menyelimuti para professor. Kini mereka memahami situasi yang sebenarnya, makhluk itu terlalu kuat untuk dikalahkan saat ini.
Target utama mereka bukan kemenangan, melainkan menutup retakan sebelum tubuh makhluk itu berhasil keluar sepenuhnya. Namun bagaimana caranya? Tatapan seluruh professor perlahan beralih pada satu orang—Aurelia, lebih tepatnya tongkat Astralis yang sejak tadi terus bersinar.
Orion ikut menoleh. Lalu, sejak kemunculannya di akademi, ia berbicara dengan nada yang benar-benar serius untuk pertama kali. “Armand, Astralis telah memilih.” Armand tidak menoleh. Namun ia menjawab di tengah benturan pedangnya.
“Aku tahu.” Ucap Armand.
“Lalu, apa kau siap?” Tanya Orion. Beberapa detik berlalu, kemudian terdengar jawaban Armand yang membuat seluruh arena membeku.
“Belum. Sebab putriku belum siap memikul takdir itu.” Kalimat tersebut membuat Aurelia tertegun, dadanya berdebar semakin keras.
Takdir? Takdir apa yang sedang mereka bicarakan? Belum sempat ia bertanya, kristal di ujung tongkat Astralis kembali memunculkan cahaya. Namun kali ini berbeda, cahaya itu perlahan terpisah menjadi empat aliran kecil.
Satu cahaya itu mengelilingi Aurelia, satu lagi mengitari Lyra, kemudian Aeron, dan terakhir Selene. Keempat cahaya itu saling terhubung membentuk garis-garis bercahaya yang menyerupai rasi bintang. Seluruh Arena Celestia mendadak sunyi hingga membuat Cedric membelalak.
“Mustahil…” Melihat kejadian itu, Profesor Elowen menutup mulutnya dengan kedua tangan karena tak percaya. “.. resonasi Astralis.” Gumamnya lagi. Aldric bahkan sampai melangkah satu langkah ke depan.
“Empat orang? Bukan hanya Aurelia?” Orion perlahan menutup kedua matanya, ekspresinya sulit diartikan.
“Jadi begitu.” Gumamnya. “Astralis tidak sedang memilih seorang pewaris. Ia sedang memilih sebuah konstelasi.” Empat cahaya itu semakin terang. Sementara jauh dibalik retakan langit, senyum makhluk bermata merah itu perlahan memudar.
Untuk pertama kalinya, sorot matanya berubah. Bukan marah maupun benci, lebih tepatnya adalah terkejut, seolah apa yang baru saja muncul adalah sesuatu yang sama sekali tidak ia perkirakan.