Seorang ilmuan jenius yang meninggal di usia muda akibat kelelahan, karena memiliki tubuh yang lemah. Tidak disangka jiwanya merasuk pada seorang pria desa yang hidup sebagai petani miskin.
Orang tua baru saja mati dan dia mendapatkan jatah tanah warisan paling sedikit?
Dikenal orang yang pasif karena tidak pernah melawan?
Namun dia tidak mengeluh, dengan melihat tubuhnya yang kuat dan sehat saja dia sudah sangat bersyukur.
[ Selamat! Kamu telah terikat pada sistem Sugar Daddy ]
"Ha?!"
Dengan sistem yang aneh ini, Lin Chen mendadak menjadi Sugar Daddy zaman kuno.
"Suami, carilah istri lagi... Kami tidak kuat, huhuhu..." Istri pertama mengumpulkan keberanian nya dan menyuarakan suara hati para istri.
***
Kembali lagi di cerita author RAS(BY/AR)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Chi Yao baru bangun dari tidurnya, tiba-tiba dia merasa selimut nya sangat lembut dan hangat. Bahkan sutra yang di pegang tidak akan senyaman ini.
"Eh, An Roro sudah tidak ada?"
Begitu bangun dan tidak menemukan An Roro di sampingnya, Chi Yao segera bergegas keluar. Saat menjadi budak, biasanya dia selalu bangun lebih awal dari An Roro, kemungkinan karena efek terbebas menjadi budak dan selimut hangat ini. Tubuhnya yang melepaskan kewaspadaan membuat nya merasakan kelelahan dan butuh istirahat banyak.
Begitu keluar, Chi Yao menatap kamar suaminya-- Lin Chen. "Apa sudah pulang?" Dia ingin melangkah untuk memeriksa, namun rasanya agak canggung. Bagaimanapun mereka baru kenal dan meskipun sudah jadi istri, mereka tidak sedekat itu.
Chi Yao berjalan menuju dapur, saat melihat api sudah menyala dan sedang memasak air. Dia berpikir mungkin An Roro yang melakukan nya, namun dimana An Roro sekarang.
Saat ia akan berjalan menuju pintu keluar dapur, tiba-tiba dia mendengar suara yang membuat kulit merinding dan tubuh tidak enak.
"Anghh... Suami, ini terasa lebih besar dari sebelumnya. Terlalu besar~ "
"Sayang, angkat kaki lebih ke atas. Rasakan lah, apakah enak?"
Chi Yao menunjuk kamar mandi itu dengan gemetar dan shock. 'A-apakah di sana itu, suara An Roro dan Lin Chen?'
Wajah Chi Yao memanas, dia dalam kamar mandi itu dia mendengar suara yang terdengar begitu intim dan mesra. Sudah jelas kedua pria dan wanita di dalam sedang berhubungan.
Chi Yao segera berlari, dia masuk ke kamar dan langsung menutup pintunya. "Astaga Chi Yao, kenapa kamu mengintip... Ini sangat memalukan, tidak pantas!" Ia merutuki dirinya sendiri karena sempat mendengar dan tidak langsung pergi.
Chi Yao menangkup wajahnya dengan kedua tangan, wajah cantik itu memerah alami seperti memakai blush-on. Kata-kata dari ucapan mereka terus terbayang-bayang di pikirkan nya, 'besar... '
Namun sebelum dia memikirkan lebih lanjut, dia langsung menampar dirinya sendiri dengan pelan. "Sadar... Sadar, amithaba... " Ia langsung menghapalkan teks suci di kepalanya.
Matahari telah naik dan cahaya pagi telah menyinari bumi dengan hangatnya, Lin Chen dan An Roro baru saja menyelesaikan serangkaian kegiatan panas mereka dan sudah selesai berpakaian.
"Tadi malam Zhilan bersamaku, cup~"
Lin Chen mengecup bibir An Roro pelan, "dia masih lelah dan biarkan dia tidur lebih lama"
Lin Chen tersenyum menatap istrinya lalu berjalan lebih dulu keluar. Sementara An Roro, wajahnya terlihat terkejut. Tidak suka karena suaminya tidur dengan istri lain? Tentu tidak, tapi dia terkejut karena setelah menghabiskan hubungan malam dengan Zhilan pun... Suaminya masih memiliki tenaga menggagahi nya sampai lemas seperti ini.
An Roro menghela napas, entah kenapa dia merasa bersyukur suaminya memiliki istri selain dirinya. Suaminya sangat kuat dan gagah, jika hanya dirinya, mungkin dia akan cepat mati di buat lemas.
Begitu keluar dari kamar mandi, An Roro berpapasan dengan Bai Xue. "Kamu ingin memakai kamar mandi?"
Bai Xue mengangguk, dia menatap kepergian An Roro yang berjalan seperti terseok-seok dengan kening berkerut. "Kenapa dia?" Gumamnya, namun langsung masuk ke dalam.
Di dapur ternyata sudah ada Lin Chen dan Chi Yao, namun An Roro tidak pergi ke sana. Dia pergi ke kamarnya dan mengoleskan salep obat pemberian Lin Chen.
An Roro memejamkan matanya merasakan sensasi dingin yang nyaman ini. "Nyaman sekali... Mungkin aku harus memberikan Zhilan mencobanya, dia juga pasti akan kesulitan berjalan."
Sementara itu di dapur.
"Suami..." Chi Yao langsung menunduk memberikan penghormatan kecil saat melihat Lin Chen.
"Untuk apa menghormati ku sampai menundukkan kepala saat bertemu," Lin Chen menahan senyumnya. "Tenang saja, aku ini suamimu. Dan di desa, tidak ada hal seperti ini lagi. Jika tidak, orang lain lihat bisa di permalukan."
Lin Chen mengusap sorai kepala Chi Yao, terasa penuh perhatian seperti perhatian nya kepada An Roro. Wajah Chi Yao menjadi memerah, apakah suaminya begitu gampang memberikan perhatian padanya? Dia begitu baik, pasti karena itu.
"Air untuk minum ini sudah matang, apakah kamu tidak ingin memasak?"
Lin Chen melihat air yang di rebus sudah di pindahkan ke dalam teko dan kendi. Lalu melihat api yang masih menyala.
"Ah, itu... Aku ingin memasak, namun aku tidak tahu apakah aku harus memasak nasi atau bubur"
Biasanya, setiap rumah tangga di desa hanya bisa makan bubur dan paling miskin bubur encer. Namun semalam suaminya memasak nasi lalu ada daging, jadi begitu ingat kemarin malam dia merasa ragu ingin memasak apa.
"Untuk apa di pikirkan? Masak saja apa yang kamu ingin masak, tidak akan ada yang protes. Namun jika kamu bingung, masak saja nasi putih. Keluarga ini tidak kekurangan beras, namun jika ingin makan bubur juga masak saja bubur." ucap Lin Chen terdengar gampang.
Chi Yao terdiam. Ini... Bagaimana bisa? Masak nasi putih, namun jika ingin makan bubur, masak saja. Apakah suaminya begitu kaya.
Dagu Chi Yao tiba-tiba terangkat, saat melihat lagi wajah Lin Chen sudah benar-benar dekat di hadapannya.
Lin Chen mengangkat dagunya karena melihat nya terdiam begitu lama. Dia menatap lekat wajah Chi Yao, lalu tatapan nya tertuju pada matanya.
"Jangan bingung lagi, masak saja nasi, sayur, telur dan daging. Mengerti?"
Wajah Chi Yao memerah dan dengan ekspresi wajah terlihat bengong menatap Lin Chen yang begitu dekat dengan nya. Jadi dia hanya bisa mengangguk tanpa sada.
Dia menatap wajah itu, terlihat tegas dan dan memancarkan pesona lembut yang dewasa. Entah kenapa Chi Yao bisa dengan jelas merasakan kegagahan suaminya, dekat dengannya membuat nya merasa lebih aman.
"Bagus, aku akan pergi ke hutan mencari lebih banyak kayu bakar untuk persediaan."
Lin Chen menatap wajah Chi Yao yang dia sadari seperti nya sedang terpesona, dia kemudian memberikan ciuman singkat di bibir Chi Yao lalu langsung pamit pergi.
Mata Chi Yao membulat, jantung nya berdebar dan tubuhnya memanas. Dia mundur beberapa langkah sambil memegang bibirnya dengan raut tak percaya.