NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:40.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertengkaran Lagi

Jarum jam di dinding ruang tengah sudah hampir melewati angka sebelas malam saat suara deru mobil mewah yang diparkir di depan pagar memecah keheningan rumah Arumi. Rangga melangkah masuk dengan gurat kelelahan yang kentara di wajah tampannya, namun sepasang matanya langsung mengunci sosok Arumi yang rupanya masih duduk terjaga di sofa ruang tamu sambil scroll hape.

“Sudah pulang Anda, Tuan Muda? Mana salamnyaaaa?” sahut Arumi seperti menyapa adik bengalnya yang baru pulang lewat jam malamnya.

Rangga mencibir sebal, sambil membalas “Assalamualaikum, wahai Mbak Ku yang kerjaannya bikin deg-degan budak korporat. Kok belom tidur? Nungguin maling lo? Lagi ngeronda mau siap-siap gerebek sahur?”

“Ya nungguin setoran lah, enak saja pulang nggak kasih sesajen. Mana hasil ngepet malam ini hey?!” Arumi bersahut dengan nada bercanda tapi wajah Rangga herannya tetap muram.

Tanpa basa-basi, Rangga meletakkan tas kerjanya, lalu menatap Arumi dengan pandangan menuntut penjelasan. "Mbak... tadi siang tim finance mendapatkan kejutan besar. Bu Shinta mendadak membatalkan boikot dan memberikan kelonggaran tenggat waktu satu minggu penuh untuk mencari dana pendamping. Mbak Arumi... nekat menemui beliau tadi pagi, ya?"

Arumi tidak mengelak. Ia mengangguk tenang, menyunggingkan senyum simpul khasnya. "Iya. Aku mendapatkan alamat lengkapnya dari Tony. Respons asisten pribadinya, Bu Vina, juga sangat baik kepadaku. Dan jujur, aku sama sekali tidak menyesal telah mengunjungi calon ibu mertuaku pagi tadi."

Deg.

Mendengar frasa 'calon ibu mertuaku' meluncur mulus dari bibir Arumi, sudut bibir Rangga refleks berkedut tipis. Ada buncah rasa senang yang mendadak meledak di lubuk hatinya. Berarti, Arumi benar-benar sudah menganggap pernikahan ini sebagai masa depan mereka, bukan sekadar sandiwara kertas hukum biasa.

Namun, rasa senang itu hanya bertahan sedetik sebelum memori siang hari di ruang sekretariat kantor kembali berputar, membakar egonya. Rangga berdehem kaku, melipat tangan di dada sembari memicingkan matanya sengit.

"Oh... jadi karena Tony yang memberi alamat, Mbak Arumi siang tadi bisa tertawa lepas dan akrab sekali dengan dia di bar ruanganku?" sindir Rangga, nada suaranya mendadak berubah ketus dan sarat akan kecemburuan yang kekanak-kanakan. "Bahkan sampai mencondongkan tubuh sedekat itu. Akrab sekali ya kelihatannya?"

Arumi menaikkan sebelah alisnya, tak habis pikir dengan arah pembicaraan pria di hadapannya. Padahal, sejak awal Arumi hanya menganggap Rangga sebagai 'kenalan dengan perjanjian' yang sah secara hukum, bukan sebagai suami posesif. Setiap kali Arumi mencoba untuk membangun obrolan yang lebih akrab, bayangan wajah teduh almarhum Mas Ary Prambudi selalu mendadak hadir di benaknya, memasang dinding pembatas tebal yang membuatnya enggan melangkah lebih jauh.

"Kenapa harus membahas Tony?" paut Arumi heran. "Lagipula, mengobrol dengan Tony itu jauh lebih menyenangkan, Rangga. Dia... terasa lebih bisa memahami jalan pikiranku dibanding kamu yang kaku."

Rentetan kalimat Arumi bagai siraman bensin di atas bara api batin Rangga.

"Mbak... Mbak Arumi harus hati-hati sama si Tony itu," potong Rangga dengan nada menekan yang luar biasa kesal. "Kalau dalam urusan pekerjaan kantor, dia memang asisten yang excellent dan serbabisa. Tapi kalau untuk urusan percintaan... dia itu tipe playboy berbahaya yang harus dihindari oleh wanita mana pun! Jangan tertipu sama pembawaannya yang sok manis dan supel itu!"

Arumi justru mendengus tipis, menatap Rangga lempeng. "Urusan pribadi atau masa lalu Tony itu bukan urusan kita, Rangga. Sepanjang seluruh tugas dan pekerjaannya di Red-Desmont beres, aku tidak peduli dia mau sekaku atau se-playboy apa di luar sana."

Rangga bungkam. Kalimat datar Arumi yang terkesan selalu membela Tony membuat pertahanan mental sang Direktur Muda runtuh total malam itu. Dengan wajah yang ditekuk masam penuh amarah, ia menyambar kembali tas kerjanya tanpa berkata-kata lagi. Pria berumur 26 tahun itu melangkah lebar dengan hentakan kaki yang kesal, lalu membanting pintu kamarnya di lantai bawah dengan bunyi yang cukup mantap, meninggalkan Arumi yang hanya bisa mengembuskan napas panjang di tengah sunyinya dapur.

Arumi berdiri sembari berkacak pinggang di dekat meja makan, menatap lurus ke arah tangga kayu tempat Rangga baru saja mengentakkan kakinya dengan kesal dan membanting pintu kamar atas. Pada awalnya, Arumi benar-benar tidak habis pikir kenapa pria berusia 26 tahun yang biasanya berotak taktis di bursa saham itu mendadak bisa bertingkah se-kekanak-kanakan ini. Namun sebagai wanita dewasa, insting Arumi sebenarnya lumayan sensitif terhadap perubahan atmosfer di sekitarnya.

Apakah... Rangga sedang cemburu buta karena mengira aku terlalu 'dekat' dengan Tony siang tadi? pikir Arumi menimbang-nimbang. Arumi mendengus geli dalam hati.

Ya, secara pribadi, pembawaan Tony yang supel memang jauh lebih menyenangkan dan ramah di lidah ketimbang Rangga yang fobia wanita dan kaku setengah mati. Namun, ada satu hal yang tidak dunia luar ketahui tentang diri Arumi.

Selama sekian tahun, ia selalu berusaha keras bertingkah menjadi sosok istri yang lemah lembut, kalem, dan penurut demi mendiang Mas Ary. Namun entah mengapa, begitu dihadapkan dengan sosok Rangga Adiwilaga, ego di dalam diri Arumi justru berontak. Pria itu entah bagaimana memicu dirinya untuk menunjukkan sisi lain yang belum pernah ia perlihatkan kepada manusia di sekitarnya beberapa tahunke belakang, selain kepada orang tua kandungnya sendiri dan teman-teman masa kecilnya.

Ya, Arumi ini sebenarnya adalah tipe wanita yang aslinya sangat ceria, jahil, hobi bercanda, dan menyenangkan. Hanya saja, rentetan perundungan serta fitnah kejam di masa kuliah dulu yang memaksanya berubah sikap menjadi wanita dingin yang tertutup demi melindungi diri.

Dan malam ini, sisi jahil Arumi mendadak meronta ingin keluar untuk menjitak kepala calon suaminya yang sedang merajuk di atas. Didorong oleh rasa penasaran sekaligus niat ingin menggoda, Arumi melangkah mantap menuruni koridor tangga, lalu tanpa peringatan atau ketukan sama sekali, ia langsung membuka lebar-lebar pintu kamar tidur Rangga.

Cklek.

"Rangga, kamu itu kalau cemburu jangan se—"Kalimat Arumi seketika terputus kaku di udara. Sepasang mata bulat menawannya mendadak membelalak sempurna, membeku di tempat menatapi pemandangan gila di siang... maksudnya di malam bolong.

Di dalam kamar yang temaram, Rangga ternyata sedang berada di tengah-tengah aktivitas memelorotkan celana panjangnya ke bawah. Pria itu bertelanjang dada, dan kini bagian bawahnya hanya menyisakan selembar celana dalam segitiga berwarna hitam pekat, yang secara anatomis jelas-jelas memperlihatkan lekukan aset kejantanannya yang luar biasa padat, tegap, dan terbentuk sempurna sebagai seorang pria dewasa yang rajin berolahraga.

Arumi tertegun diam selama beberapa saat. Otaknya mendadak stuck dan blank karena spot visual visual yang kelewat vulgar itu langsung tertangkap utuh oleh kornea matanya tanpa sensor. Rangga yang menyadari pintunya didobrak tanpa peringatan, langsung tersentak kaget bukan main. Dengan gerakan refleks yang luar biasa panik, pria itu menjatuhkan tubuh jangkungnya ke atas ranjang premium, lalu menyambar selimut tebal abu-abunya dengan heboh untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga ke batas dada. Wajah tampannya seketika merona merah padam sampai ke urat leher, melupakan sisa kemarahannya soal Tony dalam sekejap."Ketok dulu kenapa sih, Mbak?!" seru Rangga sewot setengah mati dengan suara baritonnya yang mendadak melengking canggung. "Main masuk-masuk aja! Untung jantung saya nggak copot!”

“Anu...”

Hanya seutas kata konyol itu yang mendadak mampu diucapkan oleh Arumi di ambang pintu. Di dalam benaknya yang terdalam, sebuah pemikiran liar mendadak melintas tanpa permisi: Kenapa... kenapa bagian tubuh yang itu bisa terlihat sangat memikat dan padat ya?

Sebenarnya, jika mau jujur, Arumi sudah terlampau sering melihat siluet atau bahkan tampilan nyata dari organ sensitif pria yang tergantung bebas di sepanjang koridor rumah kayunya. Bagaimana tidak, selama ini ia dikelilingi oleh tiga orang laki-laki dewasa di rumah, di mana dua di antaranya—Rian dan Aryo—memiliki tabiat hidup yang serampangan.

Modelan cowok yang kalau habis mandi lalu lupa membawa handuk, ya bakal cuek saja berjalan bugil melintasi koridor menuju kamar tidur. Bahkan dalam kondisi polos tanpa sehelai benang pun, Rian sering kali sempat-sempatnya berhenti lama di depan meja hanya untuk memeriksa apakah daya baterai ponselnya sudah terisi penuh seratus persen atau belum. Kalau si bungsu Aryo, sudah pasti jauh lebih parah. Jika bocah kematian itu tidak sengaja melihat notifikasi aplikasi Mobile Legends menyala di layar ponselnya saat sedang mengisi daya, ia bisa mendadak membeku berdiri lama di depan stop kontak tanpa pakaian sama sekali, nekat menyelesaikan satu level pertandingan dulu sebelum sadar bahwa dia harus berpakaian lengkap. Arumi bahkan sudah terbiasa menjepret bokong polos anak itu menggunakan karet gelang tebal hanya untuk mengingatkannya agar tahu urat malu.

Namun, aset milik Rangga Adiwilaga yang baru saja tertangkap matanya ini... benar-benar berada di level spek yang sama sekali berbeda.

“Baru punya segitu doang saja, sudah sombong,” desis Arumi ketus. Kata-kata pedas itu sengaja ia luncurkan murni hanya untuk menutupi rasa canggung dan debaran aneh yang mendadak bergemuruh hebat di dalam dadanya sendiri.

“Heh! Jangan lancang ya Anda!” sungut Rangga tidak terima, wajahnya kian memerah padam.

Arumi mengembuskan napas panjang sembari perlahan bersedekap dada. Gerakan lengannya yang melipat itu secara tidak sengaja justru membuat bentuk dadanya yang penuh langsung membusung bulat kencang di atas sedekapan kedua tangannya.

“Nggak ada hubungan apa-apa ya antara saya dan Tony siang tadi, walaupun harus saya akui kalau pembawaan cowok itu memang jauh lebih ‘menyenangkan’ dan ramah daripada kamu,” seru Arumi tegas, mematok batasan. “Kamu pikir saya ini wanita bodoh yang tidak bisa melihat mana cowok yang bertanda red flag atau green flag? Jajaran cowok berkategori Yellow Flag saja saya tahu persis apa tandanya.”

Rangga mengernyitkan dahinya kaku di atas ranjang. “Mbak... Yellow Flag Innalillahi dong, Mbak...” desisnya pelan dengan polos.

“Nah, itu tahu! Paham, kan?!” seru Arumi kesal karena merasa skakmatnya dipotong. “Lagipula, kamu pikir saya dan Tony sedang membicarakan urusan mesra apa di dalam sana, heh?! Dasar kamu ya, Direktur tukang intip!”

Mendengar tuduhan ketus itu meluncur dari bibir Arumi, ego di dalam diri Rangga seketika meronta panas. Emosinya yang tersulut membuat pria berusia 26 tahun itu refleks langsung berdiri tegak dari atas kasurnya. Detik itu juga, ia benar-benar melupakan kain selimut tebal yang tadinya ia gunakan untuk membungkus tubuh polosnya.

Dalam keadaan bertelanjang dada dan hanya mengenakan selembar segitiga hitam yang ketat, Rangga melangkah lebar tanpa urat malu menghampiri Arumi. Ia berhenti tepat di depan wanita itu, mengunci pergerakan Arumi dalam jarak yang dekat—jarak intim yang kini hanya dipisahkan oleh busungan dada Arumi di hadapannya.

“Kalian berdua... mengobrol semesra itu tepat di dalam ruangan kerja pribadi saya, Mbak!” seru Rangga berapi-api, suaranya sarat akan penekanan menuntut penjelasan.

“Ya lalu kenapa? Kalau cemburu itu jangan terlalu buta dan kekanak-kanakan dong, Rangga Adiwilaga!” balas Arumi tidak mau kalah, matanya menantang lurus ke sepasang manik mata pria di depannya. “Kita berdua ini butuh bantuan Tony untuk mengurus operasional perusahaan. Apa salahnya kalau saya bersikap ramah dan bercanda sedikit dengan dia, sih? Dasar kamu pria kaku!”

Rangga menggeram kesal, membuang mukanya dengan rahang yang mengeras kaku. “Siapa... siapa juga yang sedang cemburu?!” seru Rangga berkilah dengan sisa-sisa gengsinya yang sudah sekarat.

“Kalau kamu memang beneran suka sama saya, ya yang sabar. Tunggu saja sampai saya benar-benar siap membuka hati,” paut Arumi, mendadak meluncurkan kalimat tembakan dengan tingkat rasa percaya diri yang luar biasa tinggi. “Toh, saya tidak akan lari kemana-mana. Kamunya saja yang baru kali ini ngerasain jatuh cinta, tapi kelakuannya malah jadi aneh sampai mendadak bipolar nggak jelas begini!”

DEGG.

Rangga seketika melongo mendengar ucapan frontal tersebut. Mulutnya sedikit terbuka, matanya berkedip kaku menatapi tubuh dasteran Arumi. Otak bisnisnya mendadak mengalami error dunia akhirat.

Apa-apaan ini? pikir pria itu dengan sangat gusar bercampur salah tingkah yang masif. Apakah sosok dan tabiat asli di balik topeng dingin Arumi selama ini memang se-bengal dan se-jahil ini? Ini maksud dari kalimatnya apa? Arumi sedang berbicara serius menyatakan perasaannya... atau dia hanya sedang sengaja mengerjai harga dirinya malam-malam begini? Rangga benar-benar didera kebingungan.

1
Leni Pur indah sari
jangan di pancing Riaan.. tau2 besok udh jadi milik Rangga aja tu rumah sebelah..
neen
kheemm... gerah dan geli😄
Miss F
Rangga udh kecintaan SM mbak aruminto msh malu2 meong🤣🤣
Dede Maesaroh
🤣 kocak
Naftali Hanania
haredang ini mah....fisual sama kalimat2 nya.....bikin hilaf gak ni nanti..😍
Naftali Hanania
salut bgt sm om rangga. respek lah sekwbon lope2 nya...👍👍👍👍💖💖💖💖
Sahlendi Udiningrum
suka banget ma pasangan arumi rangga, menyalaa smuaaa💣
HilVi Tanurahardja💋
makasih upnya madam🥰
HilVi Tanurahardja💋
woaaaahh mantap ya rian
mamaqe
kodee ituuu kodeee...kan ada clue nya..sabaarrrr
mamaqe
duuhhh anak perawan malu2🤣🤣🤣🤣
mamaqe
Cian ranggaaaa
Lusi Amelia
Madame, 1 bab kureeeeng ini 🥹🤣🤣🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
jadi nge bayangjn mas rangga🤣
Miss F
mbak arumii ngiler g liat isi dlm Rangga 🤣 angkat
Nur Aisyah
💪
Siti Rohmah
mau lagi💪
mery harwati
Rangga membalas kebaikan Arumi yang menyelamatkan perusahaan Rangga dari ancaman Bu Shinta dengan membelikan Rian mini market meski dengan alasan dicicil karena Rangga juga tau Rian keras kepala, bener² smart Rangga 👍
mamaqe
ta temenin rum...mamaq malah lg ngelap iler🤣🤣🤣
mamaqe
ranggaaa..mamaq bingung mo komen apa ttg kamu..luar biasa kamu tuhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!