NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Mikayla

Rumah Untuk Mikayla

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Ibu Tiri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percikan yang Terabaikan

Gavin masih terpaku di seberang jalan, menatap intens ke arah toko buku. Deru mesin motor anak-anak buahnya yang saling bersahutan di belakangnya mendadak terasa memekakkan telinga. Mengembuskan napas panjang dengan rahang yang mengencang, Gavin memutar kepalanya sedikit ke belakang.

"Lo semua duluan aja ke markas. Gue ada urusan bentar," perintah Gavin tegas kepada gerombolannya.

Tanpa menunggu sahutan dari anak buahnya yang langsung melesat pergi, Gavin memutar tuas gas motornya, menyeberang jalan dengan cepat, dan berhenti tepat di depan area parkir toko buku. Dengan langkah santai yang terkesan menantang, ia menghampiri Kayla dan Arka yang bersiap menuju motor mereka.

"Hai, Kay. Lo di sini ternyata?" sapa Gavin bersemangat, memasang senyuman khasnya. Sepasang matanya hanya tertuju pada Kayla, mengabaikan sepenuhnya keberadaan Arka yang berdiri kokoh di samping gadis itu.

Arka yang menyadari kedatangan rivalnya langsung memasang badan. Langkahnya maju satu tapak, memblokir pandangan Gavin dari Kayla. "Ngapain lo di sini?" tanya Arka dengan nada suara yang teramat ketus dan dingin.

Gavin terkekeh sinis, menatap Arka dengan pandangan meremehkan. "Gue? Terserah gue lah mau ngapain juga. Jalanan umum ini, bukan punya nenek moyang lo," balas Gavin santai. Ia kemudian sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Kayla lagi. "Kay, lo mau ikut gue gak hari ini? Kita pergi have fun, jalan-jalan keliling kota biar stres lo hilang."

"Kayla lagi jalan sama gue. Lo gak punya hak apa pun buat ajak dia pergi," potong Arka tajam. Kilat kemarahan terlihat jelas di sepasang matanya.

Di posisi berdiri belakang Arka, Kayla sebenarnya sempat bimbang. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin ikut bersama Gavin untuk melarikan diri dari kepenatan buku-buku pelajaran ini. Namun, bayangan wajah dingin Hesti serta ancaman mutlak tentang les piano di hari Minggu mendadak berputar di otaknya. Kayla tahu, jika ia kembali berulah dengan Gavin hari ini, Hesti tidak akan segan-segan mempersulit hidupnya lagi di rumah.

"Gak, Vin. Gue capek hari ini, mau langsung pulang aja. Yuk, Ka, kita pulang," ajak Kayla, menolak tawaran Gavin dan beralih menarik pelan ujung jaket Arka.

Mendapat penolakan yang tidak disangka-sangka dari Kayla, Gavin seketika terdiam membisu di atas motornya. Sorot matanya meredup, digantikan oleh rasa terkejut yang tertahan. Sementara itu, Arka yang melihat reaksi Kayla langsung menatap Gavin, melayangkan sebuah senyuman smirk penuh kemenangan ke arah ketua geng motor itu.

Kayla... lo lihat aja nanti. Setelah hari ini, lo gak akan pernah bisa lepas lagi dari genggaman tangan gue, batin Gavin bergejolak penuh dendam saat melihat motor Arka mulai bergerak menjauh dari parkiran.

Jalanan kota siang itu cukup bersahabat. Arka memacu motornya dengan kecepatan sedang, memastikan Kayla yang duduk di boncengan belakang merasa nyaman. Di tengah perjalanan, Arka sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar di balik helm.

"Kay, lo mau jalan-jalan dulu bentar, atau mau langsung pulang ke rumah?" tanya Arka.

"Terserah lo aja," sahut Kayla datar dari belakang.

Mendengar jawaban pasrah dari Kayla, sebuah senyuman langsung terbit di wajah Arka. "Okey, kalau gitu kita jalan-jalan dulu aja kali ya. Udah lama banget rasanya kita gak jalan-jalan santai berdua begini," ucap Arka penuh semangat, rasa cemburunya yang menggunung sejak pagi perlahan mulai terkikis.

Arka melirik kaca spionnya. "Oh iya, btw, motor lo disimpan di parkiran toko buku tadi aja dulu, gak apa-apa. Nanti biar gue yang hubungi Pak Tarno buat ngambil motor lo di sana pakai serep, biar sekarang kita gak ribet bawa dua motor."

"Iyaa... Arka... terserah lo deh," jawab Kayla, sedikit mendengus namun tidak menolak ide praktis sahabatnya itu.

Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, Arka membelokkan motornya ke halaman sebuah kafe yang terletak di sudut jalan yang cukup tenang. Kafe itu memiliki desain interior yang sangat estetik dengan konsep minimalis modern, dipenuhi tanaman hijau yang memberikan kesan sejuk dan damai.

Mereka berdua memilih meja di sudut ruangan dekat jendela kaca besar. Setelah memesan beberapa minuman dingin dan camilan ringan, keheningan sempat melanda meja mereka sejenak. Arka menatap wajah Kayla yang tampak kelelahan, lalu memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak.

"Kay, gue mau tanya satu hal sama lo," ucap Arka, nada suaranya berubah menjadi lebih serius.

Kayla mendongak dari layar ponselnya. "Apaan?"

"Apa... lo punya perasaan lebih sama Gavin?" tanya Arka langsung, menatap lurus ke dalam manik mata Kayla dengan pandangan mencari jawaban.

"Nggak," jawab Kayla tanpa ragu sedetik pun. Nada suaranya terdengar sangat yakin dan spontan.

Arka mengembuskan napas lega yang teramat sangat, seolah sebuah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. "Bagus deh. Jangan sampai ya, Kay. Dia itu bener-bener bawa pengaruh buruk buat lo. Catatan ruang BK kemarin sudah lebih dari cukup jadi bukti. Gue harap, mulai dari sekarang lo jauhin dia total."

Kayla memutar bola matanya malas. "Iya, bawel banget sih lo. Gue ke toilet bentar ya," pamit Kayla bangkit berdiri meninggalkan cangkir minumannya yang baru tersaji.

Saat Kayla sedang berada di dalam toilet untuk membasuh wajahnya, suasana di area meja luar sedikit berubah. Dari arah pintu masuk kafe, sosok Citra melangkah masuk dengan anggun. Gadis populer sekolah yang terkenal ramah dan cantik itu mengedarkan pandangannya, hingga matanya tidak sengaja menangkap keberadaan Arka yang sedang duduk sendirian.

Citra tersenyum manis, lalu berjalan menghampiri meja Arka. "Eh, Arka? Lo lagi ada di sini juga?" sapa Citra ramah.

Arka mendongak, sedikit terkejut namun langsung membalas sapaan itu dengan senyuman hangat yang bersahabat. "Hai, Cit. Iya, lo juga lagi di sini?" jawab Arka tak kalah ramah.

"Iya, lagi mau beli coffee take away aja sih tadi," ucap Citra sembari melirik kursi kosong di hadapan Arka. "Lo sendirian aja di sini, Ka?"

"Oh, nggak kok. Gue lagi sama Kayla, Cit. Ini kita habis dari toko buku nyari beberapa referensi soal buat ujian semester nanti, terus mampir ke sini sebentar buat istirahat," jawab Arka jujur.

"Oh ya? Wah, rajin banget kalian," puji Citra dengan tawa kecilnya yang terdengar merdu. "Terus... Kayla-nya mana sekarang?"

"Lagi ke toilet sebentar, paling bentar lagi balik," jawab Arka santai.

Karena merasa sudah cukup akrab sejak obrolan mendalam di perpustakaan sekolah kemarin siang, Arka dan Citra pun akhirnya terlibat dalam obrolan kecil yang cukup seru. Mereka berdua tampak sesekali tertawa bersama, membicarakan kelanjutan plot novel misteri yang waktu itu mereka bahas.

Di sudut lain lorong kafe, Kayla baru saja melangkahkan kakinya keluar dari toilet wanita. Namun, langkah kakinya mendadak terkunci rapat di atas lantai saat pandangan matanya menangkap pemandangan di mejanya. Dari kejauhan, ia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana Arka sedang mengobrol dengan Citra.

Yang membuat dada Kayla mendadak bergemuruh hebat dan terasa sesak adalah... senyuman lepas Arka. Cowok itu tertawa dengan sangat lepas dan tulus saat menanggapi ucapan Citra—sebuah senyuman bebas tanpa beban yang sudah sangat jarang Arka perlihatkan di hadapan Kayla akhir-akhir ini karena selalu dihadapkan pada sikap ketusnya.

Ada sengatan rasa tidak nyaman yang asing merayap di dalam dada Kayla. Cemburu? Kayla menggelengkan kepalanya kuat-kuat di dalam hati. Nggak, gak mungkin gue cemburu, sangkalnya.

Mengingat betapa egois dan buruknya perlakuan yang ia berikan kepada Arka selama ini, Kayla mendadak merasa dirinya sangat tidak tahu diri dan tidak pantas untuk menaruh rasa cemburu atau tidak suka pada kedekatan Arka dengan cewek lain. Arka berhak bahagia, dan Citra adalah cewek yang sempurna untuk itu.

Dengan langkah yang sengaja dihentakkan agar terdengar, Kayla berjalan kembali menuju mejanya, mengabaikan keberadaan Citra sepenuhnya seolah gadis itu adalah pajangan kafe.

Citra yang menyadari kedatangan Kayla langsung menghentikan ucapannya dan tersenyum ramah. "Oh, ini Kaylanya udah balik dari toilet. Kalau gitu, gue permisi duluan ya, Arka, Kayla. Takut pesanannya keburu dingin di mobil. Bye!" pamit Citra dengan sopan sebelum melenggang pergi meninggalkan area kafe.

Setelah Citra benar-benar hilang di balik pintu kaca, Kayla langsung mengambil posisi duduk di kursinya dengan kasar. Ia menatap Arka dengan pandangan menyelidik yang tajam.

"Sejak kapan lo dekat sama Citra?" tanya Kayla penuh selidik, nada suaranya terdengar sedikit lebih sinis dari biasanya.

Arka meraih cangkir minumannya, menyesapnya sedikit sebelum menjawab dengan nada santai. "Sejak gue nungguin lo pas lo bolos sekolah kemarin lusa."

Kayla memutar bola matanya malas, mencoba menyembunyikan rasa gengsinya yang mulai terusik. "Bagus deh kalau gitu. Gara-gara kelakuan bolos gue, kalian berdua malah jadi bisa dekat begini," ucap Kayla dengan nada bicara yang sengaja dibuat seringan mungkin. "Lagian... cowok mana sih yang gak mau dekat sama seorang Citra? Cewek populer, ramah, anggun, dan cantik banget kayak gitu."

Mendengar rentetan kalimat yang keluar dari bibir Kayla, sebuah senyuman tipis yang sarat akan maksud tersembunyi tiba-tiba terbit di wajah tampan Arka. Ia memajukan sedikit tubuhnya ke arah meja. "Kenapa? Lo... mendadak cemburu ya, Kay?" goda Arka, mencoba membaca ekspresi sahabatnya.

"Najis banget!" semprot Kayla cepat, wajahnya mendadak memerah karena tertangkap basah, meski ia terus mengelak. "Gue malah bersyukur banget tahu gak kalau lo sampai jadian beneran sama si Citra itu. Dengan begitu, hidup gue bakal tenang dan gak harus pusing lagi dengerin ceramah panjang lebar dari lo tiap hari!" alasan Kayla defensif.

Arka tertawa renyah mendengar bantahan ketus yang sudah sangat ia hafal itu. Ia bersandar kembali pada kursi kafenya dengan tatapan mata yang kembali melembut, namun penuh dengan nada memperingatkan.

"Sayangnya, pilihan lo salah, Kay. Kalau pun nanti gue beneran jadian sama Citra, lo gak akan pernah bisa lepas dari omelan dan ceramah gue kalau tingkah lo di sekolah atau di rumah masih aja aneh-aneh dan bikin repot," jawab Arka final dengan nada penuh penekanan yang protektif.

"Dih! Dasar cowok aneh!" cibir Kayla ketus, memalingkan wajahnya ke arah jendela luar untuk menyembunyikan debaran jantungnya yang mendadak berpacu tidak karuan akibat kalimat Arka barusan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!