Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klinik Pinggir Jalan
Keterkejutan Liam hanya bertahan sebentar, kini wajahnya terlihat semringah saat menyantap makanan yang Yura bawa.
Gadis itu sudah menghilang, tertinggal Liam yang menikmati makanannya. Menu nya seperti biasa, namun orang yang mengantarkannya yang berbeda. Gadis cantik yang berhasil menggetarkan perasaan nya sejak pandangan pertama. Walaupun kesan pertama saat perjumpaan mereka tidak begitu baik, bagi Liam itu tidak jadi masalah.
Setelah tahu bahwa Yura adalah tetangga barunya, Liam memutuskan untuk menaiki bis yang sama setiap hari ke sekolah. Ia meninggalkan segala fasilitas mewah yang diberikan oleh orang tuanya.
Ia bahkan sudah mulai terbangun tanpa harus dipukul lagi. Perlahan-lahan, ia mulai menjaga sikap agar terlihat sempurna dimata sang pujaan hati.
Sedangkan Yura, ia masih setia mengantarkan bekal Liam. Menurutnya itu adalah tugas penting dari sang nenek yang harus dijaga amanah nya.
Hari-hari berlalu terasa begitu berwarna bagi Liam. Ia selalu mengikuti Yura saat pergi dan pulang sekolah. Memilih duduk disamping Yura, bahkan jika Yura sengaja memilih di tempat yang sulit untuk dijangkau. Ia akan dengan tidak tahu malunya meminta orang yang ada disamping itu untuk bertukar tempat duduk dengannya.
Banyak hal yang ingin ia sampaikan, tapi selalu berakhir gagal kalau sudah diberi tatapan maut oleh gadis itu.
Pada akhirnya ia hanya akan menjadi bayangan yang berisik, tanpa bisa dimusnahkan.
Untuk Yura sendiri, keadaan ini masih berada di tahap awal. Dirinya sudah mulai membaur dan menerima kenyataan. Walaupun sikap dingin nya masih melekat sempurna.
Pak Don selaku guru matematika sangat senang mendapat siswa pintar seperti Yura. Sering kali ia menyuruh Yura untuk diam agar yang lain punya kesempatan untuk berusaha mengerjakan soal-soal yang ia berikan.
"kalian ini, jangan hanya mengandalkan Yura saja dong... " yang disambut suara ribut oleh para siswa.
"Yura, ajari kami ya,, " seru yang lain.
Setelah kelas selesai, seperti biasa pak Don memberikan tugas rumah karena esok adalah hari libur.
Tak terasa sudah seminggu lamanya Yura berada disekolah ini. Sejak awal, ia selalu memilih atap sekolah sebagai tempat nya untuk beristirahat sambil memakan bekal roti yang selalu ia bawa.
Rasa nya menyenangkan melihat jalanan dibawah sana. Jalanan yang tak pernah sepi itu selalu memberikan warna bagi siapa saja yang memandang nya.
Dalam diamnya, Yura tiba-tiba teringat dengan Liam si pengganggu. Sekali pun ia tidak pernah melihatnya di area sekolah.
Namun begitu sekolah selesai, pria itu akan muncul dengan sendirinya bahkan tanpa dicari sekalipun.
"dia pasti tidur selama jam belajar berlangsung" tuduh nya tanpa bukti.
Kemudian ia segera menggeleng kan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir pikirannya yang mulai ngawur.
"ada-ada saja.. "
...****************...
Bel pulang sekolah berbunyi, membuat para siswa segera membereskan barang-barangnya. Terdengar suara tawa bahagia yang berasal dari mulut para siswa karena besok adalah hari libur.
"Yura, kali-kali ajak aku main ke desamu dong... " pinta Kara saat mereka berjalan menuju gerbang sekolah.
Yura hanya tersenyum menanggapi nya, ia anggap hanya basa-basi saja.
Saat menuju halte, saat kedua nya berpisah diperempatan jalan, Yura sudah disambut senyuman cerah khas Liam.
Selain Liam, Yura juga mengenal seorang siswi yang merupakan teman satu kelasnya. Karena Yura yang pendiam, akhrinya kedua nya hanya saling menyapa seadanya saja.
"ra, kamu tahu tidak_... "
"gak... " potong Yura cepat.
Ia memasang earphone demi menghindari Liam. Setiap hari seperti ini, apa tidak capek? pikirnya.
Kali ini Liam dengan lancang melepas earphone Yura, dan dengan berani nya memasangkannya ketelinganya sendiri.
"teman kelas ku juga ada yang bernama Yura loh,, " ucapnya basa-basi.
"gak nanya,, " jawab Yura.
"terlalu cuek, nanti jatuh cinta loh,, " ucap Liam.
"gak mungkin,, " jawab Yura pasti.
"tunggu saja... " tantang Liam.
Setelah itu ia memilih memejamkan matanya, walau earphone nya harus ditarik kembali dari telinganya.
Ia masih bisa tersenyum seolah punya jaminan yang teramat pasti.
Bagi Liam sendiri, kehadiran Yura bagaikan sinar mentari dipagi hari. Hidupnya kembali berwarna setelah kepergian sang kakak tercinta untuk selamanya tepat sebulan yang lalu.
"jangan sering-sering marahi aku, aku sangat rapuh loh... " ucap Liam pelan namun dapat didengar dengan jelas oleh Yura.
Jika dilihat dari tingkah lakunya yang selalu menempeli Yura, tidak ada yang akan menyangka jika apa yang diucapkan pria itu barusan adalah kebenaran.
Tapi Yura kembali mengingat saat pertama kali ia membangun kan Liam. Pria itu memilih tidur di sofa, padahal ia punya kamar sendiri yang seharusnya lebih nyaman.
"apa ia kesepian? " tanya Yura didalam hati.
Akhirnya Yura lebih melunak, ia membiarkan Liam bersandar dibahu nya padahal ada sandaran kursi yang sangat nyaman.
"Besok kemana? " tanya Liam.
"jangan ngelunjak...! " jawab Yura.
Liam lagi-lagi tersenyum, pantang menyerah. "aku ajak kepantai mau? "
Yura hanya diam, menurutnya pertanyaan Liam itu tak perlu jawaban. Pantai nya sedekat itu, pergi sendiri pun bisa.
...****************...
Keesokan pagi nya, pagi-pagi sekali Yura sudah menapakkan kaki nya diatas pasir pantai. Ombak kecil yang bergerak perlahan, menderu saling bersahut-sahutan.
Rambutnya yang indah bergerak liar karena hempasan angin. Di kejauhan, terlihat beberapa burung pantai terbang dalam jarak yang pendek-pendek untuk mencari makan.
Kata nenek, ibu-ibu penyelam akan libur dihari minggu seperti ini. Jadi pantai akan terlihat sepi dipagi hari.
Namun untuk sore hari, pantai ini selalu ramai karena banyak orang-orang desa yang akan melakukan kegiatan-kegiatan sederhana disana.
Terkadang mereka bernyanyi bersama sambil menyalakan api unggun. Anak-anak kecil akan bermain galasin atau permainan lainnya.
Bagi Yura sendiri, itu pasti sangat ribut dan membosankan. Dia tidak akan menyukai hal semacam itu. Bertemu dengan banyak orang diluar sana akan menguras energinya. Karena itu lah ia memilih ke pantai saat pagi hari saja.
Setelah menghabiskan waktu selama berjam-jam sendirian, Yura pun beranjak pulang. Namun saat ditengah jalan, sebuah klinik tradisional yang berada dipinggir jalan itu sedikit menarik perhatian nya.
Disamping ruangan praktek, ada ruangan yang lumayan besar dipenuhi buku-buku. Sekilas sangat mirip dengan sebuah perpustakaan.
Yura datang mendekat. Saat dirumah lama dikota, ia lebih sering menghabiskan waktu luangnya di perpustakaan dari pada berada dirumah.
"orang baru ? "
Seorang pria muda yang kebetulan keluar dari klinik berpapasan dengan Yura. Dari jas dokter yang dipakai nya, ia pasti adalah dokter diklinik itu.
Yura tersenyum singkat dan mengangguk. Ia lalu bertanya apa boleh masuk, disambut anggukan oleh pria itu.
"siapa namamu, " ia bertanya.
"yura kak, " jawab Yura sopan.
Kemudian Yura masuk dan mulai mencari-cari buku yang ingin ia baca. Senyumnya perlahan mengembang, kebiasaan lama akhirnya bisa ia tekuni kembali.
.
.
Bersambung...