NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Tiga Hari Menuju Bidak Pertama

Langkah kaki Alana membawa tubuh mudanya kembali ke paviliun kecil di bagian paling belakang kompleks setelah puas memetakan denah dan faksi di mansion Garrick. Begitu ia melangkah masuk melewati pintu kayu yang berderit, sosok Elena langsung menyambutnya dengan raut wajah yang dipenuhi rasa cemas yang teramat sangat. Di tangan wanita paruh baya itu, sudah ada sebuah baskom kecil berisi air hangat dan selembar kain bersih.

"Alana, wajahmu... memar di pipimu bisa semakin parah kalau dibiarkan. Sini, Nak, duduklah, biar Ibu kompres dulu," ujar Elena dengan suara bergetar, menawarkan diri dengan penuh kelembutan seorang ibu yang merasa bersalah karena tidak berdaya melindungi anaknya sendiri.

Rasa hangat dari kain kompres yang perlahan ditempelkan Elena ke pipi kirinya membuat Alana sedikit meringis. Di dalam paviliun kecil yang sepi itu, hanya terdengar suara kayuhan angin dari luar yang menggoyang pepohonan hutan belakang dan helaan napas berat Elena yang berulang kali menahan tangis. Suasana hening dan terisolasi ini terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk kesibukan yang mulai terasa di bagian depan kompleks kediaman Garrick.

"Tahan sebentar ya, Sayang. Nyonya Eleanor benar-benar keterlaluan... tamparannya sampai membuat pipimu membiru begini," bisik Elena, matanya berkaca-kaca menatap wajah putrinya yang pucat. Jemarinya yang gemetar mengusap pinggiran luka itu dengan sangat hati-hati, seolah takut jika sedikit saja tekanan akan menghancurkan tubuh rapuh Alana.

Alana menatap lurus ke depan, tepat pada pantulan dirinya di cermin kecil yang retak di sudut meja rias usang. Memar keunguan itu memang terlihat sangat jelas di kulit putih susunya yang bersih. Namun, alih-alih merasa sedih, menangis, atau mengasihani diri sendiri seperti yang biasa dilakukan oleh pemilik tubuh asli, otak Alana yang terbiasa berpikir logis di bawah tekanan pekerjaan dunia modern justru sedang berputar dengan sangat cepat.

Tamparan Eleanor bukan sekadar bentuk kekerasan fisik biasa atau pelampiasan amarah seorang istri sah kepada anak selir. Di mata Alana, itu adalah sebuah lonceng peringatan yang nyata. Itu adalah tanda pengingat yang menegaskan bahwa di rumah mewah ini, dia tidak lebih dari sebuah komoditas politik, sebuah barang dagangan yang sudah memiliki tanggal kedaluwarsa—tepat dua minggu dari sekarang.

'Menyerah dan menangis di pojokan tidak akan menghapus memar ini, dan jelas tidak akan membatalkan pernikahan gila itu,' batin Alana dingin.

"Ibu," suara Alana memecah keheningan kamar. Suara itu terdengar begitu datar, tenang, dan jernih hingga membuat gerakan tangan Elena seketika terhenti karena tertegun. Elena menatap putrinya dengan pandangan bingung; tatapan mata Alana saat ini terlalu dewasa, tidak ada lagi ketakutan yang biasanya selalu tersirat di sana.

"Xavier Garrick. Apa saja yang Ibu ketahui tentang dia?"

Elena menurunkan kain kompresnya perlahan, wajahnya yang semula sedih kini berubah menjadi cemas dan penuh selubung ketakutan begitu mendengar nama putra keempat keluarga Garrick itu disebut oleh putrinya

.

"Tuan Muda Xavier? Kenapa kamu mendadak menanyakannya, Alana?" Elena meremas kain kompres di tangannya, matanya bergerak gelisah.

"Dia... dia berbeda dari kakak-kakak tirimu yang lain. Dia jarang sekali mencampuri urusan domestik di mansion utama, dan hampir seluruh waktunya dihabiskan di luar negeri, mengelola kasino-kasino mewah dan bisnis hiburan malam keluarga Garrick di Eropa. Tapi, jangan pernah meremehkannya. Dia adalah salah satu anak yang paling disayang oleh Tuan Besar Victor karena kemampuannya yang luar biasa dalam menghasilkan uang dan memperluas aset finansial organisasi."

Elena menghela napas panjang, mencoba menggali kembali memori tentang pemuda flamboyan itu. "Nyonya Bianca, ibunya, mendidiknya dengan kemewahan yang gila sejak kecil. Xavier terbiasa menjadi pusat perhatian ke mana pun dia pergi. Di depan publik, dia selalu tersenyum, bersikap ramah, supel, dan sangat murah hati kepada para wanita yang mengelilinginya. Tapi... itu semua hanya topeng, Alana. Dia tetaplah seorang Garrick yang berdarah dingin. Di balik senyum menawan dan sikap dermawannya itu, dia adalah pria yang sangat egois dan cepat bosan. Dia bisa menghancurkan hidup seseorang dalam sekejap mata hanya karena orang itu membuatnya merasa bosan atau mengusik kenyamanannya."

Cepat bosan dan egois.

Satu kata kunci penting itu langsung tersimpan dengan rapi di dalam kepala taktis Alana. Sebagai mantan pekerja keras di dunia modern yang posisi terakhirnya sering kali harus berhadapan dengan klien-klien kaya raya, narsistik, dan egois, Alana tahu persis bagaimana struktur psikologi orang-orang seperti Xavier Garrick.

Pria yang telah memiliki segala kemewahan dunia sejak hari pertama dia lahir, dan selalu dikejar serta dipuja oleh ratusan wanita cantik, akan menganggap semua hal di sekitarnya sebagai hiburan yang fana dan murah. Bagi Xavier, manusia—terutama wanita—adalah mainan atau pajangan yang nilai harganya bisa dibeli dengan segepok uang.

Jika Alana menggunakan cara klise; datang menemui Xavier sambil menangis sesenggukan, menunjukkan memar di pipinya, lalu memohon-mohon perlindungan agar diselamatkan dari rencana pernikahan politik Eleanor, maka Xavier hanya akan menguap bosan.

Pria itu akan melihat Alana tidak lebih dari seorang pengemis menyedihkan yang merusak pemandangan indahnya. Xavier bahkan mungkin akan tertawa geli melihat drama anak selir keempat yang tidak ada hubungannya dengan bisnis kasinonya.

'Aku tidak akan pernah memohon,' batin Alana, sepasang matanya berkilat tajam di balik pantulan cermin yang retak. 'Memohon hanya akan membuat posisiku berada di bawah kakinya. Aku harus membalikkan keadaan. Aku yang akan membuat dia datang dan menawarkan perlindungan itu secara sukarela kepadaku.'

"Alana? Mengapa kamu melamun? Apa pipimu masih sangat sakit?" tanya Elena dengan nada suara yang dipenuhi kekhawatiran, membuyarkan analisis batin Alana. Elena mengusap rambut panjang putrinya dengan lembut, merasa asing dengan sorot mata Alana yang terasa begitu dalam dan penuh kabut misteri.

"Tidak apa-apa, Ibu. Aku hanya sedang berpikir," Alana menoleh, memegang tangan ibunya yang terasa agak kasar karena sering melakukan pekerjaan domestik sendiri, lalu memberikan remasan lembut yang menenangkan. "Tiga hari lagi dia akan datang ke mansion tengah. Dan dalam waktu tiga hari ini, aku butuh bantuan Ibu untuk membuat sesuatu."

"Membuat sesuatu? Membuat apa, Nak? Kita bahkan tidak punya bahan apa pun yang berharga di paviliun ini," kata Elena dengan dahi berkerut bingung.

Alana menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rencana. "Sesuatu yang sangat sederhana, Ibu. Kita tidak butuh barang mewah. Kita hanya butuh sesuatu yang akan menjadi alasan kuat bagi Tuan Muda Xavier untuk menoleh ke arah paviliun belakang yang terisolasi ini."

Selama sisa hari pertama dan kedua, Alana tidak membuang sedetik pun waktunya untuk meratapi nasib atau mengurung diri di dalam kamar. Jiwa pekerja kerasnya yang efisien langsung mengambil alih tubuh barunya. Dia mulai melakukan aktivitas yang terlihat biasa saja di mata orang lain: berjalan-jalan santai di sekitar halaman belakang paviliun dan batas hutan kompleks.

Namun, di balik langkah santainya, mata Alana bergerak dengan sangat jeli seperti seorang analis komputer yang sedang memetakan sistem keamanan yang ketat. Dia mengamati dengan cermat ritme kerja para penjaga berjas hitam yang berpatroli di kediaman Garrick.

Dia mencatat di dalam otaknya jam berapa pergantian shift penjaga terjadi, jalur mana yang biasanya dilewati oleh para pelayan dari mansion faksi ketiga untuk mengambil pasokan logistik, dan titik buta blind spot mana yang paling strategis di taman tengah—titik di mana seseorang bisa berdiri dan terlihat secara tidak sengaja oleh orang yang baru datang melalui gerbang utama, tanpa terkesan seperti sedang sengaja memamerkan diri atau mencari perhatian.

Setiap detail kecil, mulai dari susunan kerikil di jalan setapak, waktu penyiraman tanaman oleh tukang kebun, hingga arah embusan angin yang menerpa pepohonan, dikumpulkan dan dianalisis oleh Alana. Dia tahu betul, dalam rencana menghadapi pria secerdas dan se-sensitif Xavier, satu kesalahan kecil yang terlihat tidak natural akan langsung menghancurkan seluruh rencana taktisnya. Semuanya harus terlihat organik, murni sebuah kebetulan yang estetik.

Pada malam hari kedua, suasana di luar paviliun mulai terasa berubah. Dari jendela kamarnya yang menghadap ke arah area tengah kompleks, Alana bisa melihat lampu-lampu di Mansion Ketiga milik Nyonya Bianca Rossi menyala jauh lebih terang dari biasanya. Para pelayan terlihat hilir mudik membawa kain gorden baru, menata bunga-bunga impor yang mahal di sepanjang halaman mansion glamor itu, dan membersihkan air mancur marmer hingga berkilau di bawah sorot lampu. Kesibukan itu adalah bukti betapa faksi ketiga sangat mengagungkan kedatangan putra tunggal mereka. Seluruh mansion tengah sedang bersiap menyambut kepulangan sang pangeran kasino.

Alana duduk di tepi ranjangnya yang keras, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap pemandangan gemerlap dari kejauhan itu dengan ekspresi wajah yang sangat tenang, hampir tanpa emosi. Di kehidupan lamanya, dia adalah orang yang selalu berada di balik layar, mempersiapkan kesuksesan acara orang lain tanpa pernah mendapatkan sorotan. Dan kini, keahlian mengatur strategi dari balik bayangan itu akan menjadi senjata utamanya untuk bertahan hidup.

Dua minggu adalah waktu yang sangat amat singkat jika dia ingin membangun kekuatan militer sendiri untuk melawan Eleanor dan anak-anak emasnya, Cedric dan Dominic. Itu adalah misi bunuh diri yang mustahil. Namun, tiga hari jeda yang dia miliki saat ini adalah fondasi awal yang sempurna untuk menaruh bidak catur pertamanya di posisi yang tepat.

Alana perlahan merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis, menarik selimut usangnya hingga ke dada. Dia membiarkan matanya terpejam perlahan seiring dengan suara angin malam yang berbisik di luar paviliun sepi itu.

'Xavier Garrick...' nama itu digumamkan Alana di dalam hati dengan nada yang dingin namun penuh kepastian sebelum kesadarannya tenggelam ke alam mimpi. 'Selamat datang kembali ke rumah. Mari kita lihat, seberapa tinggi harga dirimu saat seorang gadis miskin dari paviliun belakang mengabaikan keberadaanmu sepenuhnya.'

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!