Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mirip pasar tapi versi mini..
Setelah berpamitan dari rumah Pak Arya, mereka akhirnya memutuskan untuk berkeliling desa terlebih dahulu. Sesuai janji tadi, Danu menjadi pemandu kecil mereka hari itu.
Dan seperti yang sudah diduga, Amel ikut bersama mereka.
Meski tadi sempat berkata ingin “meminjamkan” kakaknya pada Alya, kenyataannya gadis kecil itu sama sekali tidak mau jauh dari Danu. Ke mana pun sang kakak pergi, ia selalu mengikuti dari belakang seperti ekor kecil yang setia.
Bahkan sebelum berangkat tadi, Bu Lastri dan Pak Arya sempat melarangnya ikut karena takut Amel merepotkan.
Namun gadis kecil itu tetap ngeyel ingin ikut bersama rombongan.
Kini mereka berhenti di depan sebuah bangunan sederhana.
Danu mengangkat tangan kecilnya lalu menunjuk ke arah bangunan itu.
“Ini kantor desa, kak,” ucapnya.
Semua langsung memperhatikan.
Bangunan itu terlihat cukup tua. Cat di beberapa bagian mulai memudar, tetapi halaman dan sekitarnya tampak bersih serta terawat.
“Bagus juga ya… kelihatannya tempat ini memang diurus dengan baik,” gumam Alya sambil mengamati sekitar.
Dimas ikut mengangguk.
“Tempatnya bagus juga walaupun sederhana.”
“Iya, bener,” timpal Siska setuju.
Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Sesekali beberapa warga yang berpapasan menyapa Danu dengan ramah.
“Mau ke mana, Danu?” tanya seorang ibu yang sedang membawa keranjang di pinggir jalan.
Danu tersenyum kecil.
“Mau ajak kakak-kakak KKN keliling, Bude.”
“Ohh… baiklah. Hati-hati ya.”
“Iya, Bude.”
Yang lain hanya ikut tersenyum kecil sebagai bentuk salam.
Beberapa menit kemudian, langkah mereka kembali berhenti di depan bangunan lain.
Danu menunjuk ke arah bangunan itu.
“Ini sekolah, kak.”
“Sekolah?” Alya spontan mengernyit bingung.
Bangunan di hadapan mereka sama sekali tidak terlihat seperti sekolah pada umumnya.
Hanya bangunan sederhana dengan beberapa bilik kecil yang tersusun memanjang.
Adrian langsung maju sedikit.
“Boleh masuk lihat-lihat nggak?”
Danu langsung mengangguk.
“Boleh, kak.”
Ia pun berjalan lebih dulu memimpin mereka masuk.
Begitu melewati halaman, mereka melihat beberapa pohon rindang dan bunga-bunga kecil yang tumbuh rapi di sekitar bangunan.
Sekilas tempat itu memang terlihat sederhana, tetapi kebersihannya benar-benar terjaga dEngan baik.
Sayangnya, setelah diamati lebih jelas, bangunan sekolah tersebut rupanya hanya terdiri dari tiga ruang belajar.
Saat mereka masuk ke salah satu ruang belajar, semuanya langsung memperhatikan keadaan di dalam.
Di dalam sana hampir tidak ada apa-apa.
Tak ada meja.
Tak ada kursi untuk para murid belajar.
Laura yang berdiri di dekat pintu terlihat bingung.
“Kok nggak ada kursinya?”
Danu menjawab polos.
“Kami belajar duduk di lantai, kak.”
“Oh…”
Mendengar jawaban itu, perhatian seluruh anggota KKN kembali tertuju pada keadaan ruangan di sekitar mereka.
Dindingnya sederhana, catnya mulai kusam, dan di depan hanya ada papan tulis tua yang warnanya mulai memudar.
Di sudut ruangan terlihat beberapa karpet kasar yang mungkin digunakan sebagai alas duduk saat belajar.
Melihat itu, Alya seketika terdiam.
Entah kenapa dadanya terasa sedikit sesak.
Reza yang ikut memperhatikan akhirnya bertanya.
“Terus kelas empat sampai enam gimana kalau ruangannya cuma tiga?”
Danu menoleh lalu menjawab santai, seolah itu hal biasa.
“Masuk bergantian, kak.”
Semua mendengarkan.
“Kelas satu sampai tiga belajar pagi…”
Ia lalu melanjutkan.
“…kalau kelas empat sampai enam masuk siang, sekitar jam satu.”
Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih sunyi.
Dion yang biasanya paling sering mengeluh soal hidup anak rantau di kota kini hanya menatap sekitar dengan ekspresi berbeda.
Selama ini ia sering merasa hidupnya sulit.
Padahal di tempat seperti ini…
Ada anak-anak yang harus berjuang jauh lebih keras hanya untuk mendapatkan pendidikan.
Dan tiba-tiba, keluhan-keluhan kecil yang selama ini terasa besar…mendadak terasa begitu tidak berarti.
Setelah dari sekolah, mereka kembali melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di sebuah lapangan desa.
Tempat itu terlihat sederhana. Hanya hamparan tanah luas dengan rumput liar tumbuh di beberapa sisi. Di pinggir lapangan berdiri sebuah pohon besar yang memberi keteduhan alami.
Tidak jauh dari sana, beberapa anak seusia Danu terlihat sedang berkumpul, entah bermain atau sekadar bercengkrama.
“Aduh… capek banget,” keluh Alya sambil mengusap keningnya.
Mendengar itu, Nadia langsung mendecak pelan.
“Semuanya juga capek. Tapi cuma lo aja tuh yang terang-terangan ngeluh. Nggak tahu malu.”
Suasana seketika berubah tegang.
Adrian yang sadar situasi mulai tidak nyaman langsung sengaja berdeham kecil.
“Ehem… kita istirahat di bawah pohon itu aja.”
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berjalan lebih dulu. Yang lain otomatis mengikuti.
Begitu sampai di bawah pohon, mereka duduk santai sambil melepas lelah.
Masih jam dua siang.
Masih ada sekitar satu jam sebelum warga mulai datang berjualan.
Danu lalu menunjuk ke arah seberang lapangan.
“Di sana kak, tempat orang jualan.”
Semua mengikuti arah telunjuknya.
Di sana memang terlihat beberapa lapak kayu sederhana. Tidak banyak, mungkin hanya sekitar lima tempat saja.
Tiba-tiba—
Grrkkkk…
Suara perut berbunyi memecah keheningan.
Semua langsung menoleh.
“Buset… perut siapa itu?”
Tawa langsung pecah.
Rizki memegangi perutnya dengan wajah pasrah.
“Laper coii… udah jam segini. Tadi pagi cuma makan sereal. Lama-lama gue kurus kering tinggal di sini.”
Di tengah tawa itu, Danu tiba-tiba bicara.
“Di sana ada warung makan kak.”
Spontan Rizki langsung tegak.
“Dimana?”
Danu menunjuk sebuah rumah kecil di dekat lapangan.
“Di samping rumah itu.”
“Ayo kita makan dulu,” ucap Adrian semangat.
Semuanya setuju.
Namun saat hendak berjalan, Amel justru masih berdiri diam di tempat.
Adrian menatap bingung.
“Kenapa Mel?”
Amel menunduk malu-malu.
“Kak Danu… gendong. Amel capek.”
Seketika Dimas langsung maju.
“Astaga sini sini… biar kakak aja yang gendong.”
Ia langsung mengangkat Amel.
Adrian terkekeh.
“Udah cocok banget mas jadi bapak-bapak.”
Dimas melotot.
“Mas-mas terus. Nama gue Dimas anjir.”
Dion yang mendengar itu hanya tertawa kecil.
Tak lama mereka tiba di warung kecil yang tadi disebut Danu. Bangunannya sederhana dan terlihat cukup sepi.
“Permisi…” panggil Adrian.
“Eh iya tunggu…” Suara seorang ibu terdengar dari belakang warung.
Andre mengernyit.
“Lah… di luar ternyata.”
Tak lama seorang ibu paruh baya muncul sambil mengusap tangan di celemek.
“Ehh ini anak-anak KKN ya?”
“Iya bu,” jawab mereka bersamaan.
“Ayo duduk dulu nak.”
Mereka pun duduk di bangku kayu seadanya.
“Mau pesan apa?”
Satu per satu mulai memesan.
Kini giliran Alya.
Namun Alya justru menoleh pada Danu dan Amel.
“Kalian mau makan apa?”
Danu langsung menggeleng.
“Danu nggak bawa uang kak.”
Alya tersenyum santai.
“Biar kak Alya yang bayarin. Pesan aja. Adikmu juga.”
“Ehh nggak usah kak…”
Adrian langsung menyela.
“Udah nggak usah sungkan Danu.”
Reza langsung menatap Adrian.
“Ucapan lo kayak seolah-olah lo yang bakal bayarin.”
“Yah… bantu bujuk aja sih.”
Mereka semua tertawa kecil.
Kini tinggal Alya yang belum memesan.
“Saya pesan ramen aja bu.”
Suasana langsung hening.
Ibu penjual mengernyit.
“Ramen? Apa itu nak?”
Yang lain langsung menahan tawa.
Andre sampai menepuk jidat.
“Ini warung desa mana ada masakan Jepang.”
“Ohh…”
Alya terlihat sedikit malu.
Tiba-tiba Arga yang sejak tadi diam membuka suara.
“Bu… mie ayam satu.”
Itu untuk Alya.
Tak berselang lama, pesanan mereka akhirnya datang satu per satu memenuhi meja.
Semua langsung mulai makan Dengan lahap, seolah tenaga mereka yang tadi habis karena berkeliling desa kini kembali menuntut diisi.
Di tengah suasana itu, Alya justru terlihat diam sambil menatap mangkuk di depannya dengan ekspresi aneh.
Melihat sahabatnya hanya duduk tanpa menyentuh makanan, Tiara pun menoleh bingung.
“Kenapa nggak dimakan?”
Alya mengangkat mangkuknya.
“Tadi Arga pesanin aku mie ayam…”
“Iya terus?”
“Ayamnya mana?”
Beberapa detik hening.
Lalu Adrian langsung pecah tertawa keras.
“Mie ayam Alya… itu potongan kecil itu ayamnya.”
Alya terlihat benar-benar bingung.
“Bukan mie yang ada paha ayamnya?”
Kevin langsung ikut tertawa.
“Wajar lah. Nona kota kita biasanya makan ramen.”
“Dasar berlebihan,” celetuk Nadia sinis.
“Tinggal dimakan aja apa susahnya.”
Mendengar komentar Nadia, Alya langsung mengembungkan pipi dengan wajah cemberut, namun akhirnya tetap memilih diam dan mulai melanjutkan makannya.
Suasana kembAli tenang. Kini yang terdengar hanya suara sendok yang beradu pelan dengan mangkuk masing-masing.
Beberapa menit berlalu.
Dan tanpa ada yang sadar, mangkuk milik Alya kini sudah kosong tak bersisa.
Melihat itu, Adrian perlahan menoleh ke arahnya, lalu senyum jahil langsung terbit di wajahnya.
“Kayaknya nona kota kita mulai doyan mie ayam nih.”
“Diam.”
Tawa kembali terdengar.
Setelah selesai makan, mereka membayar.
Dan Dimas langsung protes.
“Pantesan tadi warungnya sepi. Mie ayam aja lima belas ribu cok.”
Adrian mengangguk cepat.
“Betul. Di tempat langganan gue sepuluh ribu ayamnya lebih banyak.”
Mereka kembali berjalan menuju tempat warga berjualan.
Kini suasana jauh lebih ramai.
Ada penjual sayur, ikan segar, kue tradisional, bahan dapur, dan beberapa makanan lain.
“Ini mirip pasar… cuma versi mini,” gumam Tiara.
Saat yang lain sibuk membeli bahan dapur, Alya justru diam memperhatikan deretan kue tradisional.
Danu langsung mendekat.
“Kak Alya mau beli? Kuenya enak loh.”
“Benarkah?”
“Iya kak.”
Mereka bertiga langsung menghampiri penjual.
“Yang ini enak kak,” tunjuk Danu.
Tanpa pikir panjang Alya langsung menyerahkan uang lima puluh ribu.
“Pak bungkusin lima puluh ribu ya.”
Penjual sempat terlihat bingung. Namun kemudian tersenyum lebar dan mulai membungkus semua kue pilihan Danu.
Alya langsung mencicipi satu.
“Hmm… iya enak.”
Sambil makan, matanya kembali berkeliling.
“Danu itu penjual apa?”
“Oh itu bakso bakar kak.”
“Kak Alya mau.”
“Iya ayo.”
Mereka kembali menghampiri penjual.
Alya hendak menyerahkan uang lima puluh ribu lagi.
Namun Danu buru-buru mencegah.
“Ngga usah banyak kak. Ini lima ribu satu tusuk.”
Alya berkedip.
“Ehh… iya kah?”
“Iya kak.”
Akhirnya Alya membeli dua puluh ribu.
Lalu membeli Pop Ice juga untuk mereka bertiga.
Kini mereka duduk santai di bawah pohon sambil makan bersama.
Saat itulah teman-temannya datang menghampiri.
“Anjirr… gue kira lo hilang Al. Ternyata lagi enak-enak makan di sini.”
Adrian menatap gemas.
Muka Alya, Danu, dan Amel bahkan hampir penuh kecap.
Tanpa bicara, Alya menyodorkan kantong plastik besar.
“Nih.”
Adrian bingung namun tetap mengambilnya.
Saat membuka isi kantong—
penuh kue tradisional.
“Astaga… lo habis borong semua ini?”
Sambil bertanya, tangannya tetap mengambil satu kue lalu memakannya.
Yang lain ikut mengambil juga.
“Nggak diborong kok,” jawab Alya santai.
Di sisi lain, Arga masih diam memperhatikan.
Lalu tiba-tiba ia mengambil tisu dari tangan Tiara.
Tiara langsung menoleh kaget.
“Minta,” ucap Arga singkat.
Dion langsung tertawa.
“Anjir… katanya minta padahal udah di tangan duluan.”
“Emang ketua kita luar biasa,” tambah Andre.
Tiara cuma geleng kepala.
Beberapa detik kemudian Arga justru menyerahkan tisu itu ke Alya.
Semua langsung menatap penuh ekspektasi.
Namun Arga berkata datar.
“Lap.”
Alya mengerjap bingung.
“Hah?”
“Lap wajah lo. Penuh kecap.”
“Oh astaga…”
Adrian langsung menyeringai jahil.
“Aduh… ketua kita so sweet—”
Namun Arga kembali bicara.
“Merusak pemandangan banget.”
“Hah?”
Beberapa detik hening.
Lalu semuanya langsung tertawa.
Sementara Alya hanya melotot.
Sudah mau membalas tapi akhirnya memilih diam sambil membersihkan wajahnya.
Dan tanpa seorang pun sadari—
di tengah keramaian itu…
Arga diam-diam tersenyum kecil melihat ekspresi kesal Alya.