NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Pagi ini aku terbangun dengan rambut yang masih basah sehabis keramas. Aku berdiri di depan cermin meja rias, melakukan rutinitas perawatan wajah seperti biasa. Saat sedang fokus mengoleskan pelembab pada permukaan kulit wajahku, sepasang tangan kekar tiba-tiba melingkar erat di pinggangku. Tidak perlu menebak lagi, jelas ini adalah ulah Jalal.

​"Sayang..." bisiknya lembut tepat di lubang telingaku.

​"Hemm?" jawabku bergumam pelan.

​"Yas, sebentar lagi ada orang yang mau mengantarkan komponen alat sulingan nilam ke sini," ucapnya pelan sembari mendaratkan kecupan-kecupan kecil di ceruk leherku.

​Aku mengernyit bingung, lalu membalikkan tubuhku menghadapnya. "Pak, alat sulingan untuk apa?"

​Jalal memegang kedua pundakku, menatapku dengan sorot mata yang teramat pasti dan penuh keyakinan. "Saya mau memodali Bapak untuk membuat tempat penyulingan sendiri. Katanya Bapak kalau mau menyuling nilam harus pergi jauh ke tempat lain. Daripada membuang tenaga mengangkut daun-daun itu lalu menyuling di tempat yang jauh, lebih baik saya buatkan Bapak tempat penyulingan sendiri di sini. Nanti, biar saya juga yang membeli hasilnya."

​"Tapi itu pasti membutuhkan modal yang sangat banyak, Pak. Kasihan Bapak harus mengeluarkan uang sebanyak itu," ucapku merasa sungkan sekaligus tidak enak hati.

​"Tidak apa-apa, Sayang. Hitung-hitung ini bagian dari bisnis. Kamu tahu sendiri, kan, kalau suamimu ini seorang pengusaha?" ucapnya dengan nada sedikit menyombongkan diri yang menggemaskan.

​Aku tersenyum kecil melihat tingkahnya. "Baiklah. Terima kasih banyak ya, Pak, sudah begitu peduli dengan keluargaku," kataku pelan, sembari refleks mengalungkan kedua lenganku pada leher tegapnya. "Oh iya, saya sampai lupa. Pagi ini saya harus ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur. Bahan masakan di dalam kulkas sudah benar-benar habis."

​Aku berbalik sebentar untuk merapikan sisa riasan wajahku, lalu berjalan melewatinya menuju lemari untuk mengambil setelan baju kaus santai.

​"Mau ke pasar? Saya ikut ya!" ucapnya cepat.

​Aku menoleh sembari menelisik wajahnya yang tampak berbinar gembira. "Memangnya Bapak tidak capek? Pasar kampung itu lebih panas dan pengap, loh."

​"Tidak, Yas. Sekalian kita menjemput Jayan pulang," jawabnya beralasan.

​Aku akhirnya mengangguk setuju. Setelah berganti pakaian stelan berbahan kaus yang adem, aku berjalan mengambil dompetku. Dompet itu kini sudah terisi oleh uang pemberian dari suamiku.

​Aku mendadak teringat momen malam itu, saat Jalal memberikan uang nafkah bulanan kepadaku.

“Sayang, tolong diambil kartu ini. Di dalamnya ada saldo sekitar lima puluh juta rupiah. Kalau kamu mau membeli apa saja tinggal tarik saja uangnya, nanti tiap bulan akan saya transfer lagi,” ucapnya dengan nada yang teramat ringan malam itu.

​Saat itu aku langsung terkejut setengah mati. “Pak, lima puluh juta? Banyak banget! Mending Bapak beri aku uang tunai langsung saja secara bertahap,” jawabku syok.

​“Boleh, tapi saat ini cuma ada uang tunai dua puluh juta di dalam dompet saya... Apa tidak apa-apa?” tanyanya dengan polos.

​Aku langsung melotot mendengarnya. “Astaga, Bapak... dua puluh juta? Bapak ini saking kayanya, sampai uang dua puluh juta saja dianggap remeh dan sedikit, ya?” ucapku gemas sendiri.

​Jalal hanya tertawa renyah melihat kepanikanku. “Bukan begitu, Yas. Malah kalau untuk Zulaikha dan Laila, uang dua puluh juta itu sangat kurang... Kok bagi kamu malah rasanya kebanyakan sih?” ucapnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

​“Jelas beda dong, Pak! Zulaikha dan Bu Laila kan memang sejak kecil sudah hidup dikelilingi kemewahan. Sedangkan saya? Saya ini tinggal di desa, hidup pas-pasan. Mau makan saja kalau tidak ada sayur, kita harus pergi mencari dulu di kebun,” jawabku sembari tersenyum kecut mengingat masa lalu.

​Pria matang di depanku itu mengangguk paham, lalu sorot matanya berubah menjadi begitu teduh. “Baiklah, saya paham... Tapi tolong ambillah uang tunai ini beserta kartunya. Saya tidak mau istri dan anak saya hidup pas-pasan lagi, sedangkan saya adalah orang yang cukup mampu untuk membahagiakan kalian.” ucapnya tegas, lalu langsung menarik tubuhku ke dalam pelukan hangatnya.

••••••••••

Aku berjalan beriringan bersama Jalal menuju area parkir. Dengan sigap dan penuh perlakuan manis, pria itu membukakan pintu mobil penumpang untukku.

​"Terima kasih, Pak!" ucapku sembari menyunggingkan senyum.

​Pria itu tersenyum tampan, lalu berjalan cepat memutari kap depan menuju pintu kemudi di sampingku. "Mau ke pasar mana kita hari ini, Sayang?" tanyanya lembut sembari memutar kunci kontak untuk menyalakan mesin mobil.

​"Pasar Lapuko," jawabku singkat sembari menoleh ke arahnya.

​Jalal mengangguk paham. Dia perlahan menginjak pedal gas, membawa mobil berbodi besar kami membelah jalanan desa. Kebetulan hari ini adalah hari Jumat, hari di mana Pasar Lapuko biasanya buka dan beroperasi dengan sangat ramai. Lokasinya terletak cukup dekat dengan wilayah pantai dan dermaga laut, hanya berbeda lorong saja. Jika ingin menuju ke dermaga biasanya kita tinggal lurus, tetapi kalau ingin masuk ke area pasar, kita harus berbelok ke sebuah lorong yang jalurnya agak kecil.

​Jalal mengemudikan setir dengan santai. Sesekali pria itu mengangguk-angguk takzim mendengar instruksi arah jalan yang kuberikan.

​"Ternyata lumayan jauh juga ya dari rumah," ucapnya pelan sembari melirik sekilas ke arahku. Aku hanya mengangguk mengiyakan dengan senyuman.

​Tak lama kemudian, mobil kami mulai mendekati area pasar. Suasana di sekitar sana terlihat sudah sangat padat dan ramai oleh lalu-lalang warga. Petugas penjaga parkir pasar bahkan sempat terdiam melongo selama beberapa saat ketika melihat mobil SUV putih berbodi bongsor nan mewah ini perlahan memasuki area parkiran pasar yang becek.

​Setelah posisi mobil terparkir dengan aman, aku membuka pintu lalu keluar perlahan, disusul oleh Jalal dari pintu sebelah. Begitu kami menapakkan kaki di tanah, sebagian besar orang-orang di sekitar parkiran langsung menoleh ke arah kami dengan pandangan penuh tanya dan penasaran, merasa asing melihat sosok pria matang berwibawa di sampingku.

​"Yuk, Pak, kita masuk ke dalam," ajakku padanya.

​Jalal mengangguk mantap. Lalu, tanpa diminta dua kali, pria matang itu langsung menyusupkan jemarinya, menggenggam erat tanganku ke dalam genggamannya yang hangat. Kami berjalan santai membelah kerumunan menuju bagian dalam pasar. Tujuan pertama yang ingin kudatangi tentu saja adalah area lapak penjual ikan segar.

​"Pak, nanti siang mau dimasakkan apa?" tanyaku pelan sembari mendongak menatap wajahnya.

​"Ah, apa ya? Sembarang saja deh, Yas. Masakanmu kan semuanya selalu enak dan pas di lidah saya," jawabnya santai dengan nada memuji.

​Aku tertawa kecil mendengar rayuannya. "Kalau kita membuat mesonggi, Bapak mau tidak?" tanyaku menguji.

​Langkah kaki pria itu mendadak terhenti sejenak. Dia menatapku dengan raut wajah bingung yang kentara. "Apa itu mesonggi?" tanyanya tidak tahu.

​"Jawab dulu pertanyaanku, Bapak mau atau tidak mencoba menunya?" desakku menahan tawa.

​"Mau lah... apa pun yang kamu buatkan, saya pasti mau," katanya dengan nada sangat yakin.

​"Oke, kalau begitu nanti kita masak itu saja ya. Sekarang kita beli dulu ikan segarnya sebagai bahan pelengkap," kataku santai. Aku pun kembali berjalan sembari menarik tangannya untuk mendekati lapak penjual ikan, melewati beberapa ibu-ibu yang sedang berdiri berdesak-desakkan memilih tangkapan laut hari ini.

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!