DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api pemusnah dan wujud asli
##BAB 33 - Api Pemusnah dan Wujud Asli
Setelah ditinggalkan oleh para karyawannya, Rahmat masih duduk mematung di atas kursi kayu kiosnya tanpa bergerak sedikit pun. Ruangan itu seketika terbungkus keheningan yang menusuk tulang, namun ketenangan itu tak bertahan lama. Hawa sedingin es tiba-tiba merayap masuk dari celah-celah dinding, menyelimuti setiap sudut ruangan yang hanya diterangi cahaya lampu temaram. Bersamaan dengan itu, angin malam yang tadinya tenang berubah bertiup jauh lebih kencang, menimbulkan suara desis dan deritan samar pada atap serta dinding bangunan—suasana yang sangat kontras dan terasa ganjil dibandingkan saat ia baru tiba beberapa saat lalu.
Rahmat mengusap wajahnya yang mulai basah oleh keringat dingin yang membasahi pelipis dan dahinya. Rasa takut sempat menjalar di sekujur tubuhnya, namun perlahan terkikis oleh kekhawatiran yang jauh lebih besar: nasib istri dan calon anaknya yang kini menjadi satu-satunya tujuan hidupnya.
"Ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut. Jika keadaan terus hancur seperti ini, bukan hanya usahaku yang lenyap, tapi masa depan istri dan anakku pun bisa terancam," gumam Rahmat dalam hati, berusaha mengumpulkan sisa keberanian dan memperkuat tekadnya.
Dengan hembusan napas panjang yang terasa berat, ia pun berdiri tegak. Langkah kakinya mantap namun tetap penuh kewaspadaan saat melangkah mendekati gerobak tempat ia meracik dagangan. Tanpa ragu lagi, didorong oleh rasa marah sekaligus kesadaran baru, Rahmat mengangkat kuali besar berisi sisa kuah bakso yang kini telah berubah menjadi racun kutukan itu. Ia membawanya ke bagian belakang kios, lalu membuang seluruh isinya ke saluran pembuangan hingga tak tersisa setetes pun.
Tidak berhenti sampai di situ, Rahmat segera melangkah cepat menuju sebuah ruangan kecil yang tertutup rapat di sudut bangunan—ruangan terlarang yang selama ini ia gunakan untuk melaksanakan ritual-ritual gaib demi menjaga kekuatan pesugihan dari Mbah Cahyo.
Satu per satu, ia membongkar dan mengobrak-abrik isi ruangan itu. Dengan napas memburu dan tangan gemetar karena bercampur amarah serta keteguhan hati, ia mengeluarkan dan mengumpulkan semua benda-benda mistis, sesajen, serta perlengkapan ritual yang selama ini ia puja-puja sebagai sumber kekayaan.
"Barang-barang inilah akar dari segala malapetaka ini. Selama masih ada, mereka akan terus mengunci rezeki halal dan membawa bencana bagi siapa saja yang terlibat," gumam Rahmat dengan rahang mengeras, tak lagi merasa takut melainkan penuh rasa muak melihat benda-benda yang dulu dianggapnya sebagai harta paling berharga.
Ia segera membawa tumpukan benda-benda terkutuk itu ke halaman belakang yang terbuka. Tanpa menunggu lama, ia menyiram seluruh barang itu dengan minyak tanah, lalu menyalakan korek api. Seketika kobaran api menjulang tinggi, melahap habis segala sesuatunya. Namun, yang membuat bulu kuduk merinding adalah panas yang terasa aneh dan suara mendesis yang keluar dari dalam kobaran api, seolah ada jeritan makhluk tak kasat mata yang ikut terbakar dan meronta kesakitan.
Sementara itu, bermil-mil jauhnya dari lokasi kios, suasana di rumah mewah itu juga tak kalah mencekam. Ratna terbaring gelisah di atas ranjangnya, yang pintu dan jendelanya sudah dikunci rapat sejak tadi malam. Ia sama sekali tak mampu memejamkan mata; pikirannya terus melayang mengkhawatirkan keselamatan suaminya yang belum juga pulang. Doa-doa terus ia panjatkan dalam hati, memohon agar Rahmat kembali dengan selamat.
Namun, di tengah keheningan yang mencekam itu, bahaya gaib justru mendekat tanpa disadari.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pelan namun jelas dari balik pintu kamar. Tok... tok... tok...
"Bu... Ibu, buka pintunya. Ini Mas sudah pulang," terdengar suara yang sangat lembut dan persis meniru nada bicara Rahmat.
Mendengar suara yang begitu ia kenal, rasa cemas Ratna seketika lenyap diganti rasa lega yang luar biasa. Tanpa sedikit pun curiga, ia segera bangkit dari tempat tidur, melangkah cepat membuka kunci pintu. Begitu pintu terbuka, Ratna langsung menghambur dan memeluk erat sosok yang berdiri di sana, seolah melepaskan segala kerinduan dan kekhawatiran yang membelenggunya.
"Mas... Akhirnya pulang juga. Ibu sangat takut sendirian di sini," ujarnya dengan nada terharu, lalu menyandarkan kepalanya di dada sosok itu.
Namun, makhluk yang menyamar sebagai Rahmat itu hanya diam tanpa menjawab sepatah kata pun. Dengan tatapan mata yang terasa dingin dan kosong, ia melangkah masuk ke dalam kamar sambil menuntun Ratna kembali ke ranjang. Seperti malam-malam sebelumnya, sosok itu mulai mendekat dan mengajaknya melakukan hubungan suami istri.
Anehnya, kali ini Ratna sama sekali tidak menolak. Bahkan ia merasa senang dan menerima ajakan itu dengan lapang dada. Sebab, sejak malam mengerikan di tempat Mbah Cahyo, Rahmat yang asli memang tak pernah lagi menyentuhnya karena rasa bersalah yang mendalam.
Mereka pun terlibat dalam keintiman itu. Ratna melayaninya dengan tulus, meluapkan segala rasa rindu yang terpendam. Namun, ada satu hal yang tetap terasa janggal: sosok suaminya itu bertindak sangat kasar, dingin, dan tanpa sedikit pun sentuhan kasih sayang yang seharusnya ada.
Segalanya berakhir, namun kebahagiaan semu itu tak berlangsung lama. Makhluk itu bangkit dari tempat tidur, lalu melontarkan kalimat yang membuat darah Ratna seolah berhenti mengalir.
"Besok pagi... janin di dalam kandunganmu akan aku ambil paksa. Jangan coba menghalangi, jika kau ingin tetap hidup," ucapnya dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi parau, berat, dan sangat mengerikan, jauh berbeda dari suara Rahmat.
Ratna terkejut bukan main. Tubuhnya gemetar hebat, dan air matanya langsung mengalir deras membasahi pipi. "Maksud Mas apa? Kenapa bicara begitu? Itu anak kita!" sergahnya dengan suara terputus-putus.
Belum sempat ia mengajukan pertanyaan lebih lanjut, sosok itu perlahan mulai berubah wujud. Kulitnya menghitam dan mengerut, tubuhnya membesar secara tidak wajar diselimuti bulu kasar, dan sepasang taring panjang mencuat dari mulutnya. Wujud aslinya pun terlihat jelas: sesosok makhluk mengerikan berwujud Genderuwo yang selama ini menyamar sebagai suaminya. Setelah memperlihatkan wujud aslinya, makhluk itu lenyap seketika ditelan kegelapan, meninggalkan Ratna yang terduduk lemas, histeris, dan diliputi ketakutan yang tak terlukiskan.
Bersambung
jangan lupa like back ke ceritaku 😁