Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Rasa Sesal II
...----------------...
Pagi itu, fajar menyapa dengan kabut yang menggantung rendah di cakrawala, seolah-olah langit pun sedang berduka atas nasib yang menimpaku. Aku terbangun dengan otot-otot yang terasa kaku, seakan-akan tubuhku baru saja dihantam palu godam. Rasa lelah saat aku mencari pekerjaam kemarin masih membekas kuat di setiap sarafku, namun semangat yang kupaksakan muncul sedikit lebih keras daripada rasa sakit itu. Aku tidak punya pilihan lain. Menyerah berarti membiarkan Astrid dan seorang anak di kandungannya kelaparan, dan itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah kubiarkan terjadi.
Aku kembali melakukan rutinitas yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Bangun sebelum matahari mencapai puncak tertingginya, mengambil dua lembar roti tawar yang sudah mulai mengeras, lalu meneguk air putih dingin untuk membasahi kerongkongan yang kering. Aku tidak sempat membangunkan Astrid. Masih ada gumpalan rasa malu yang menggantung di dadaku, sebuah rasa tidak layak yang membuatku merasa seperti pengecut setiap kali harus berpapasan dengannya. Aku takut jika aku melihat wajahnya, aku akan melihat cerminan dari kegagalanku sendiri.
Aku melangkah keluar, menembus kabut pagi menuju area industri tempat perusahaan logistik itu berada. Langkahku mantap, meski hatiku terus berdebar kencang. Hari ini adalah hari keberuntunganku, pikirku. Aku akan bekerja keras, membungkus setiap paket dengan ketelitian seorang pria yang berjuang demi masa depan keluarganya.
Sesampainya di area perusahaan, tidak ada basa-basi. Tidak ada sesi wawancara yang kaku seperti yang pernah kualami kemarin. Pak Budi, sang mandor yang keras namun lugas, langsung menunjuk tumpukan paket yang menggunung di sudut gudang. "Gaji lu 140 ribu sehari, dibayar dua minggu sekali. Kerja bagus, lu aman. Kerja lelet, pintu keluar di sana," ucapnya sambil menunjuk gerbang besi yang berkarat.
"Paham, Pak!" jawabku lantang, mencoba menunjukkan bahwa meskipun aku berasal dari dunia yang jauh berbeda, aku bisa beradaptasi.
Sembilan jam berikutnya adalah ujian ketahanan fisik yang brutal. Pekerjaanku hanyalah menyortir, membungkus, dan menumpuk paket. Punggungku yang terbiasa bersandar di kursi kantor mewah atau jok kulit mobil kini harus membungkuk berjam-jam di atas meja kayu yang kasar. Jari-jariku mulai lecet dan kapalan, sementara keringat dingin bercucuran hingga membuat mataku perih dan pandanganku kabur. Namun, saat jam pulang tiba, ada kepuasan aneh yang menjalar di dadaku. Akhirnya, aku bekerja. Akhirnya, aku tidak lagi duduk diam menunggu bantuan. Aku merasa sedikit lebih "hidup" dibandingkan minggu-minggu sebelumnya.
Dalam perjalanan pulang, tubuhku sudah seperti rongsokan yang dipaksakan bergerak. Aku mampir ke gerobak nasi goreng Irwan. Aroma bawang putih dan rempah yang tumis di atas wajan panas terasa seperti surga di tengah kelelahan yang luar biasa. Irwan baru saja datang dan mulai menata peralatan dagangannya.
"Hey, gimana kerja lu, Ka? Keterima?" tanya Erwin sambil memotong sayuran dengan gerakan cepat.
"Keterima dong, Win," jawabku sambil menghempaskan tubuh di bangku kayu panjang yang agak reot. Aku menyeka keringat yang membasahi dahi dengan punggung tangan yang kotor oleh debu gudang. "Tapi ya ampun, berat juga ternyata. Ternyata begini ya rasanya jadi orang lapangan. Otot gue berasa mau lepas semua, apalagi bagian punggung."
Irwan tertawa kecil, suara tawanya terdengar tulus di tengah hiruk-pikuk suara kendaraan yang lewat. "Ya emang gitu, Ka. Lu yang biasanya duduk di kursi empuk kantor pasti kaget di minggu pertama. Tapi nikmatin aja. Uang capek itu biasanya paling berkah, karena setiap rupiahnya dibayar pakai keringat asli, bukan pakai trik trik bisnis yang licin."
"Iya, Win. Lu bener," sahutku sambil memesan seporsi mie goreng. Kami pun mengobrol panjang. Di bawah cahaya lampu jalan yang remang-remang, aku menceritakan padanya betapa kerasnya bekerja di gudang, tentang rasa sakit di setiap sendi tubuhku, dan tentang betapa aku sangat merindukan kehidupan yang normal. Erwin, di sisi lain, bercerita tentang impiannya memiliki kedainya sendiri suatu hari nanti. Di depan Erwin, aku bisa menjadi Arka yang jujur, tanpa topeng kesombongan yang dulu selalu kukenakan. Untuk sejenak, aku lupa akan statusku sebagai mantan orang kaya yang jatuh miskin.
...****************...
Namun, roda nasib memang kejam. Seminggu berlalu dengan rutinitas yang monoton namun menenangkan, hingga hari ketujuh yang membawa bencana. Saat itu, aku sedang terburu-buru menyortir paket yang menumpuk di atas meja tinggi. Aku berusaha bekerja secepat mungkin agar target terpenuhi. Namun, sebuah kabel melintang di lantai tanpa kusadari. Kakiku tersandung kabel itu, aku kehilangan keseimbangan, dan tanganku tak sengaja menyenggol sebuah kotak besar berisi barang elektronik yang sangat sensitif. Prang! Suara pecah belah di dalam kotak itu terdengar seperti lonceng kematian bagi pekerjaanku.
Nilai barang itu sangat besar, sekitar tujuh juta rupiah lebih dari total gajiku selama berbulan-bulan.
Duniaku berhenti sejenak. Aku berdiri mematung, menatap kotak yang sudah penyok di lantai. Bos gudang datang dengan wajah yang merah padam, seperti seseorang yang siap meledak. Dia memarahiku habis-habisan selama satu jam penuh, menghujani telingaku dengan caci maki yang membuat nyaliku menciut dan harga diriku terkoyak-koyak.
"Lu emang gak guna! masa kerja kaya gini aja masih bisa jatoh, dasar manja, kerja bener aja nggak becus!" teriaknya tepat di depan wajahku.
Aku hanya bisa menunduk, tidak berani membantah. Akhirnya, dia melemparkan uang 700 ribu gaji untuk lima hari kerja dan mengusirku. "Jangan balik lagi lu, pengangguran pembawa sial! Keluar dari gudang gue sekarang juga!"
Aku berjalan pulang dengan langkah yang tertatih. Langit terasa lebih kelabu dan mencekam dari biasanya. Aku malu. Sangat malu. Bagaimana mungkin aku pulang ke rumah dan menatap mata Astrid, lalu berkata bahwa aku dipecat karena kecerobohanku sendiri? Selama ini, aku hanya berani berkata bahwa aku bekerja di gudang logistik, memberikan sedikit secercah harapan palsu bahwa hidup kami sedang menuju ke arah yang lebih baik. Ternyata, aku masih saja gagal.
Aku memutuskan untuk tidak pulang dulu. Aku tidak sanggup menatap wajah Astrid saat aku tidak membawa apa-apa selain kegagalan. Aku kembali ke tempat Erwin. Kali ini, aku tidak berniat memesan makanan. Aku duduk di sana, menatap kosong ke jalanan yang mulai diguyur hujan.
"Kenapa lu balik lagi, Ka? Muka lu... ada apa?" tanya Irwan dengan nada khawatir.
Aku menceritakan semuanya. Air mataku tidak keluar, tapi dadaku terasa sesak sekali. Erwin hanya diam, mendengarkan semua ceritaku dengan penuh empati. Dia tidak menghakimi, dia tidak memberikan nasihat sok tahu, dia hanya menjadi teman yang ada saat dunia terasa runtuh.
Sesampainya di rumah, aku tidak langsung menemui Astrid. Aku menaruh uang 600 ribu di atas meja makan, sisanya 100 ribu kusimpan dengan tangan gemetar untuk ongkos mencari kerja besok. Aku mandi dengan air dingin, berusaha mencuci bersih rasa malu yang melekat di kulitku, lalu langsung masuk ke kamar. Aku sengaja mematikan lampu dan berpura-pura tidur saat kudengar pintu kamar mandi terbuka. Aku masih pengecut. Aku masih belum sanggup berhadapan dengan istriku sendiri.
...****************...
Besoknya, aku memulai perjuangan itu lagi. Pagi sekali, aku sudah berada di jalanan. Aku melamar dari toko ke toko, dari perusahaan kecil ke pabrik, dari bengkel hingga kantor-kantor kecil yang bahkan namanya tidak kukenal. Hasilnya tetap nihil. Penolakan demi penolakan mulai membunuh harga diriku sedikit demi sedikit, mencabut satu per satu sisa kebanggaan yang kupunya.
Hingga di hari ketiga, tepat saat matahari tenggelam dan awan mendung mulai menutupi kota, aku sampai di sebuah taman kecil yang sepi di pinggiran. Aku duduk di pinggir taman, menatap kosong ke arah lampu-lampu taman yang mulai menyala di kejauhan. Jalanan mulai basah karena rintik hujan, mencerminkan kesedihan yang tak mampu kuungkapkan.
Aku menatap tanganku sendiri. Tangan yang dulu selalu memegang kemudi mobil mewah, tangan yang dulu selalu terawat, kini kasar, kotor, dan gemetar. Pikiranku melayang ke masa lalu, ke rumah megah di Jakarta, ke pesta-pesta mewah yang dulu kupikir adalah segalanya. Betapa sombongnya aku dulu. Betapa naifnya aku berpikir bahwa kekayaan adalah tameng yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh kesulitan.
Sekarang, di tengah kesunyian taman ini, aku sadar bahwa aku hanyalah pria yang kehilangan arah. Aku bahkan tidak punya uang buat pesan ojek online untuk pulang malam ini. Rasa sesak itu akhirnya pecah. Air mata yang selama ini kutahan, air mata yang kujaga demi menjaga harga diriku sebagai seorang Arka Zayn Albian, akhirnya jatuh membasahi pipiku.
Aku menangis. Isak tangisku terdengar sumbang di tengah rintik hujan yang mulai menderas. Aku menyesali segalanya—segala keangkuhanku, segala keputusan bodoh yang kuambil dengan impulsif, dan ketidakmampuanku melindungi orang yang paling kucintai di dunia. Aku merasa seperti sampah yang dibuang oleh takdir, seorang pecundang yang tidak punya tempat untuk pulang.
Di bawah langit Bandung yang gelap dan menangis bersama denganku, aku menyadari satu hal yang paling menyakitkan: aku tidak hanya kehilangan kekayaan, aku kehilangan diriku sendiri. Aku adalah seorang pria yang dihancurkan oleh ambisinya sendiri, dan kini, di taman yang sepi ini, aku harus mengakui bahwa jalan menuju penebusan itu jauh lebih menyakitkan daripada yang pernah kubayangkan.
Aku meringkuk di bangku taman yang dingin, memeluk diriku sendiri di bawah guyuran hujan yang mulai menderas. Di sini, di titik terendah dalam hidupku, aku tidak lagi berteriak pada Tuhan. Aku hanya berbisik dalam hati, memohon agar suatu hari nanti, Astrid bisa memaafkanku, meskipun aku tahu, permintaan itu sangat egois. Aku menutup mata, membiarkan dinginnya hujan membasahi tubuhku, berharap bahwa besok, saat aku terbangun, aku sudah memiliki keberanian untuk pulang dan menatap wajah Astrid dengan kejujuran, apa pun konsekuensinya. Aku adalah Arka Zayn Albian, dan hari ini, aku benar-benar hancur. Tapi dalam kehancuran ini, aku belajar bahwa terkadang seseorang harus kehilangan segalanya agar ia bisa benar-benar menemukan siapa dirinya yang sesungguhnya. Aku akan pulang, aku harus pulang, karena dia adalah satu-satunya rumah yang tersisa bagi jiwa yang kian redup ini.
...----------------...