"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAKIT 35
"Mit, gimana soal wawancara karyawan baru? Apa udah ketemu yang cocok buat ngisi bagian yang dibutuhkan?"
Di dalam mobil, Lingga sudah memulai mengawali pekerjaan dengan pertanyaan tentang seleksi penerimaan karyawan yang sedang dilakukan. Ada beberapa karyawan yang mengundurkan diri dengan berbagai alasan, maka dari itu tugas pertama Mita setelah kembali ke perusahaan sebagai kepala HRD adalah melakukan penerimaan karyawan baru.
"Baru nanti akan diadakan seleksi berkas. Baru akan dilakukan panggilan untuk tes wawancara. Apa Pak Lingga akan ikut andil untuk tes wawancara yang mungkin akan diselenggarakan minggu depan paling lambat?"
Lingga terdiam, matanya melhat lurus ke depan ke tempat Mita berada. Ya Mita tidak duduk di sebelah lingga, melainkan duduk di depan di sisi Bari. Kali ini bukan Ramlan yang menjadi supir Lingga, tapi Bari karena setelah menurunkan Mita di perusahaan mereka akan lanjut melakukan rapat di luar bertemu dengan klien.
Biasanya Lingga enggan ikut terjun langsung soal penerimaan karyawan ini. Tapi entah mengapa kali ini dia ingin ikut terlibat.
"Baiklah, aku akan ikut. Bar, atur jadwal biar aku bisa ikut pas wawancara itu," ucap Lingga.
"Siap Bos," jawab Bari dengan cepat.
Mita mengangguk kecil, dia pun kembali memeriksa semua data pelamar yang masuk. Dari timnya, ada menyusul beberapa nama. Dan ketika membaca nama-nama itu, ada sebuah nama yang membuat keningnya berkerut.
"Medini?" ucapnya lirih.
Meski Mita berkata lirih, tetap saja terdengar oleh Lingga. Terlebih entah mengapa Lingga selalu peka dan tajam jika itu soal Mita.
"Medi? Adikmu?" tanya Lingga.
"Bentar Pak, saya coba tanya ke tim saya dulu. Apa benar itu Medini," jawab Mita.
Ia lalu menghubungi salah satu tim nya, dan meminta untuk mengirimkan data diri milik Medini. Tak berselang lam, data itu dikirimkan. Mita membacanya dengan seksama, dan ternyata benar bahwa pelamar yang bernama Medini adalah adik tirinya.
"Iya benar, dia adik tiri saya, Pak," ucap Mita setelah memastikan.
Lingga dan Bari menghela nafasnya secara bersamaan. Apa yang dilakukan Medi tentu sangat buruk, tapi Mita masih menyebut wanita itu sebagai adik meski ada embel-embel tirinya.
"Kalau begitu, dia nggak usah dipanggil buat wawancara," ucap Lingga.
"Jangan, saya akan tetep panggil dia Pak. Saya ingin lihat, bagaimana wajah orang itu saat berhadapan dengan saya,"sahut Mita cepat. Awalnya Mita memang enggan untuk bertemu dengan Medi. Tapi dia penasaran juga, Mita ingin tahu hidup seperti apa yang dijalani oleh wanita itu setelah ia menghancurkan dirinya sendiri sebagai perebut suami kakak sendiri.
"Baiklah, terserah kalau itu mau kamu. Lakukan apapun yang kamu inginkan,"ucap Lingga. Meski dia tak tahu mengapa Mita ingin mewawancarai Medi, namun Lingga tak peduli. Dia sudah bertekad bahwa dirinya akan mengikuti apa keinginan Mita. Entah, mengapa Lingga memilik pemikiran demikian. Tapi dalam hati pria itu memang dia ingin melindungi Mita dengan cara yang ia bisa.
Mita pun segera mengabari timnya. Dia meminta tim nya untuk segera menghubungi Medi dan menyatakan bahwa Medi lolos ke tahap wawancara.
Di dalam rumah sewaan yang sekarang di tempatinya sendirian itu, Medi tampak senang sekali melihat sms yang menyatakan bahwa dirinya lolos ke tahap wawancara. Tanpa Medi tahu bahwa Mita ada di sana. Tanpa dia tahu bahwa Mita lah yang membuatnya lolos karena ingin melihat bagaimana reaksi Medi nantinya.
"Asiik, ah akhirnya perusahaan nerima aku. Aku beneran nggak sabar buat kerja di sana," ucap Medi dengan sangat bersemangat.
TBC
typo kak
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,