Daniel, Minami dan Latifa. Tiga sahabat yang bermimpi membangun sebuah roket bersama. Impian besar ini mereka rancang sedari mereka masih berada di sekolah dasar. mereka berambisius untuk membangun roket bersama.
Namun kondisi Latifa begitu kritis, disaat-saat terakhirnya, Latifa ingin impian mereka tetap berjalan meski tanpa dirinya.
Daniel dan Minami berjanji untuk menuntaskan misi besar yang diberikan Latifa sebelum dirinya tiada.
ini adalah kisah tiga sahabat yang bermimpi membawa umat manusia selangkah lebih maju.
ManuverNine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awazaki Chiru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ref:Rain
ia berlari jauh ke dalam hutan, tanpa sadar ia sudah berada di tempat yang bahkan tidak ia ketahui. dia sudah berada di tengah hutan tak berpenghuni. Hari sudah mulai gelap, Latifa tidak bisa pulang karna ia tersesat.
"Di mana aku" Latifa berjalan tanpa arah, ia ketakutan dan menyesalkan perbuatannya.
ia telah berjalan dikegelapan selama 2 jam lamanya. suara angin berhembus membuat bulu kuduknya berdiri. Latifa tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan ini, ia takut.
ia terdiam di bawah pohon, pohon tinggi yang lebat. di atasnya ada kehidupan kecil, Tupai dan keluargnya. mereka hidup harmonis. saling melindungi satu sama lain dan tidur dengan hangat.
Dibawah, Latifa yang menyendiri tanpa seseorang yang berada di sampingnya, ia kehabisan kata-kata untuk berteriak meminta bantuan karna ia tau bahwa tidak akan ada orang yang datang membantunya.
...
Latifa tertidur. dalam kondisi itu ia tertidur.
Di dalam tidurnya ia bermimpi, mimpi saat ia dibelai oleh sang ibu, sambil membacakan dongeng tentang Ksatria penyelamat sang putri di kastil penuh monster. Ksatria itu berhasil menyelamatkan sang putri. sang putri dibawa kembali ke kastil tempat sang pangeran menunggunya.
sang ksatria hanya bertugas mengantarkan dan menyelamatkan sang putri, Pangeran itu menikah dengan sang Putri. Ksatria pergi dari kastil karna tugasnya sudah selesai.
"Ibu, mengapa Ksatria itu tidak menikah dengan sang Putri, Bu?" Latifa kecil bertanya dengan ibunya.
"Kadang rasa cinta dan kasih sayang sejati itu bukan sesuatu yang harus dimiliki, nak. bisa juga melihatnya bahagia bersama dengan orang lain!" Ibu membelai rambut Latifa yang perlahan ikut tertidur.
Sang ibu tersenyum melihat Latifa tertidur tenang.
Ibu mengangkat Latifa kembali ke kasurnya dan mencium keningnya. seketika Latifa terbangun di balik pohon besar. ia memperhatikan sekitar dan sadar kalau yang ia lihat tadi adalah mimpi.
"Ibu... gak ada, ya" Latifa terdiam sejenak. memikirkan bahwa dirinya akan selalu sendiri. Dari kejauhan ia mendengar suara teriakan seseorang yang memanggil namanya. ternyata itu adalah Daniel.
dengan kondisi badan yang penuh luka, Daniel akhirnya bisa menemukan Latifa yang terduduk diam di bawah pohon.
Daniel memberikan tangannya, Namun Latifa tidak menjawabnya sama sekali. Latifa diam dan hanya diam.
Daniel tersenyum dan ikut duduk disamping Latifa.
"kamu tau, gak? sebenarnya aku tuh bukan gak peduli sama Minami, aku hanya gak terbiasa dengan tingkah Minami." Daniel mulai menceritakan kenapa ia bisa lupa dengan hadiah ulang tahunnya Minami.
"Aku sebenarnya ingin ngasih dia hadiah, tapi aku masih menyisihkan uangku untuk membeli sebuah hadiah, tau!" Daniel berdiri dan kembali memberikan tangannya berharap Latifa mau memaafkannya.
"Kamu kan tau sendiri, Minami temanku satu-satunya, dan kau hadir di kehidupannya, itu membuatku gak senang!" Latifa melontarkan kekesalannya terhadap Daniel yang tiba-tiba saja masuk ke kehidupan mereka.
"Aku adalah anak yang tidak diinginkan oleh mereka, Namun Minami berbeda, ia satu-satunya orang yang menerimaku, bahkan dengan trauma ku saja dia masih bisa menerimaku" Jelasnya
"Itulah mengapa aku sangat benci dengan orang yang tidak menghargainya, bahkan kau sudah dipilih untuk berteman dengannya!" Latifa menatap Daniel dengan wajah yang serius.
"Kalau kau ingin berteman dengan kami, tolong hargai Minami, setidaknya hargai saja dia." Latifa terdiam setelah mengatakan hal itu.
"Hei Latifa, aku sudah bersama kalian, aku bukan tidak menghargai kalian, seperti yang aku bilang, aku masih menyisihkan uangku untuk membelikan Minami hadiah, aku juga sangat menyayanginya" Ucap Daniel.
"Aku tak paham apa yang terjadi denganmu, tapi aku benar-benar ingin menjadi teman kalian, aku ingin berjalan di samping kalian, berbicara banyak hal bodoh bersama!" Daniel menggengam tangan Latifa.
"Tolong, beri aku waktu untuk membuktikan bahwa aku layak bersama kalian!" Ucap Daniel
...
mereka terdiam berdua di tengah hutan. Latifa yang dari tadi hanya diam setelah Daniel mengatakan hal itu. ia mulai berbicara perlahan.
"Dingin" Bisiknya
"Kenapa, Latifa?" Daniel melihat ke arah Latifa yang dimana tubuh Latifa sedikit memucat. ternyata Latifa kedinginan, ia tak tahan dengan suhu dingin di hutan. itu membuat Latifa pucat.
"Latifa, Kamu gapapa, kan?" Daniel panik dan segera melepas bajunya untuk diberikan kepada Latifa.
Mereka berdua saat ini tersesat, tak tahu arah pulang. mau tidak mau mereka harus bertahan di hutan itu sampai ada yang menemukan mereka.
...
Daniel memandang wajah Latifa yang tertidur. Daniel tidak bisa berdiam saja, ia harus menyalakan Api agar Latifa tidak kedinginan.
Daniel mencari kayu kayu yang akan ia bakar. Daniel berusaha menggesek gesekan ranting agar muncul percikan api. setelah mencoba akhirnya api menyala. Daniel senang dan segera menimpanya dengan ranting lain agar api membesar dan menghangatkan tubuh Latifa.
"Ku harap ini berhasil, Latifa!" Daniel memandang wajah Latifa. Daniel tersenyum. melihat wajahnya yang tenang Daniel tersenyum. pertanda bahwa Latifa akan baik-baik saja.
...
keesokan harinya mereka diselamatkan oleh warga desa yang mencari mereka. Minami lah yang meminta untuk mencari mereka.
Minami langsung berlari ke arah Latifa yang baru bangun, Minami menangis karna khawatir dengan Latifa yang hilang semalam.
Sedangkan Daniel terkena demam dan harus diobati. namun sebelum Daniel pulang, Minami menghampirinya dan mengucap maaf dan terimakasih. Daniel menggengam tangan Minami dan berkata "Ini semua salahku, aku yang bodoh, maafkan aku, Minami" Ucap Daniel. Minami tertawa kecil.
Latifa melihat Daniel dan Minami dari samping, ia ikut tersenyum.
"Mungkin aku bisa percaya dengannya" Gumam Latifa .
...
Kembali ke malam saat mereka telponan, Latifa mengeluhkan saat Daniel memanggilnya "Si-imut"
"Iyaa.. gara-gara itu kamu memanggilku si imut, Dasar Daniel" Ucap Latifa dalam telpon
"hahaha.. Soalnya wajahmu saat tidur begitu imut, aku ingin sekali mencubitnya." Jawab Daniel
"Oh.. Jadi bagimu Minami gak imut dan lebih memilihku?" Ucap Latifa.
"Kalau begitu kenapa gak nikahin aku saja, Daniel? aku siap, kok!" Latifa sedikit menggoda Daniel.
"Ah, bisa aja kamu. aku nganggep kamu sebagai adikku, bukan istriku, dasar kamu si imutku, kamu akan selalu menjadi si imutku, Latifa" Daniel menjawab dengan santai.
"Wah wah, aku ditolak nih,.. duh sakit" Ucap Latifa.
"Hahaha, bisa aja kamu." Ucap Daniel.
Jam sudah menunjukan pukul 00:12. Latifa mulai mengantuk karna ia harus tidur.
"Eh udahan ya. besok aku ke restoran itu lagi, nanti kalau mau ngobrol di sana aja!" Ucap Latifa
"Yaudah, Bobok aja. kamu harus jaga kesehatan biar terus imut, ya, Latifa!"
"Iya, bye" Latif mematikan telpon nya dan segera tidur. Daniel menaruh ponselnya di samping dan mulai memandangi langit-langit.
"Menikahi Latifa, Ya! yahh sayang banget aku sudah suka dengan Minami" Daniel memejamkan matanya dan tidur...