"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.
Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.
Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.
Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33 - Ruang Sela
Ruko itu bau cat lama.
Lantai duanya berdebu, jendelanya macet, dan kamar mandi belakang mengeluarkan suara air menetes yang membuat Lia langsung memegang kepala.
"Kalau kamu memilih tempat ini, aku akan menuntut fasilitas vitamin."
Alina berjalan ke tengah ruangan.
Cahaya sore masuk dari jendela besar yang menghadap pohon mangga di halaman kecil. Di lantai, ada bekas garis meja lama. Dinding kanan retak halus. Tangga sempit. Tidak ada lift. Tidak ada lobi yang bisa dipakai untuk membuat tamu merasa kaya.
Tapi ruangan itu punya napas.
Alina bisa membayangkan meja pola di dekat jendela, rak kain di sisi kiri, satu piano digital di sudut, dan dinding putih untuk memotret produk. Di lantai bawah, bisa dibuat ruang konsultasi kecil. Bukan butik mewah. Bukan galeri besar.
Tempat kerja.
"Aku suka," katanya.
Lia menoleh seperti dikhianati. "Tentu saja kamu suka. Kamu tipe orang yang melihat debu lalu bilang potensial."
Nadia memeriksa kontrak sewa di tablet. "Pemiliknya minta dua tahun di muka."
"Kita ambil satu tahun dulu."
"Dia mungkin menolak."
"Kalau menolak, kita cari yang lain."
Lia mengangguk. "Bagus. Jangan jatuh cinta pada ruko sebelum tanda tangan. Itu awal penderitaan."
Mereka turun ke lantai bawah. Pemilik ruko, seorang pria paruh baya bernama Pak Dedi, duduk di kursi plastik sambil minum teh botol. Ia tampak lebih tertarik pada Nadia daripada Alina karena Nadia membawa tablet dan berbicara seperti orang yang biasa membuat orang lain membaca ulang kontrak.
"Bu Alina mau usaha apa?" tanya Pak Dedi.
"Studio desain dan konsultasi kreatif."
"Baju pengantin?"
"Tidak khusus."
"Baju artis?"
Lia hampir menjawab, tapi Alina lebih dulu berkata, "Baju untuk perempuan yang tahu apa yang dia mau pakai."
Pak Dedi tertawa, meski mungkin tidak benar-benar paham.
Nadia mulai menawar. Suaranya tenang, tapi setiap kalimatnya membuat harga bergerak turun sedikit. Lia berbisik ke Alina, "Kalau suatu hari aku cerai, aku pinjam Nadia."
"Kamu belum menikah."
"Maka aku pinjam untuk menawar hidup."
Alina tersenyum.
Pada akhirnya, Pak Dedi setuju satu tahun dengan opsi perpanjangan. Kunci diserahkan setelah transfer uang muka. Alina memegang kunci itu di telapak tangan.
Tidak berat.
Tapi rasanya berbeda dari semua kunci rumah Wicaksono yang pernah ia pegang.
Kunci rumah Wicaksono membuka tempat yang tidak pernah benar-benar menerimanya.
Kunci ruko kecil ini membuka tempat yang bahkan belum tahu siapa dirinya, dan justru karena itu terasa adil.
Sore itu, mereka membersihkan lantai sendiri sebelum tim renovasi datang keesokan hari. Lia mengikat rambut, Nadia menggulung lengan kemeja, dan Alina membuka jendela macet dengan bantuan obeng.
Saat jendela akhirnya bergerak, angin masuk bersama suara motor dari jalan kecil.
Lia bertepuk tangan. "Selamat. Ruang Sela resmi punya ventilasi."
Ponsel Alina bergetar.
Pesan dari Damar Adhitama.
Nara bilang Tante Alina sekarang punya studio. Dia bertanya apakah boleh datang membawa krayon.
Alina tertawa.
Nadia melirik. "Siapa?"
"Damar. Nara mau datang."
Lia pura-pura batuk. "Pak duda yang sopan itu?"
"Dia klien sekaligus teman."
"Aku tidak bilang apa-apa."
"Wajahmu bilang terlalu banyak."
Alina membalas:
Boleh. Tapi setelah lantai tidak berdebu.
Jawaban Damar datang cepat.
Baik. Dia juga bertanya apakah studio tante menerima investor kecil berupa satu kotak pastel.
Alina tersenyum lebih lama dari yang ia sadari.
Nadia melihat senyum itu, tapi tidak mengomentari. Ia cukup bijak untuk tahu bahwa tidak semua hal perlu didorong. Setelah pernikahan seperti milik Alina, bahkan menerima perhatian baik pun bisa terasa seperti belajar berjalan ulang.
Malamnya, Alina pulang ke apartemen dengan tangan pegal dan kuku terkena sisa cat. Ia mandi, makan nasi telur yang dibuat sendiri, lalu membuka laptop.
Ada email dari seorang pemilik galeri kecil di Bali. Mereka pernah berkomunikasi lewat nama Starla, identitas musik yang Alina pakai untuk menjual komposisi pendek dan aransemen pertunjukan. Galeri itu sedang menyiapkan acara seni lintas media dan meminta Starla membuat musik untuk pembukaan.
Alina membaca proposalnya.
Bayaran tidak sebesar proyek Wicaksono Foundation, tetapi kontraknya jelas. Namanya disebut sebagai kreator. Hak ciptanya tidak diambil. Tidak ada kalimat "nanti saja, ini untuk keluarga".
Ia menekan balas.
Saya tertarik. Kirimkan detail jadwal dan kebutuhan teknis.
Setelah itu, ia membuka folder lama di hard disk. Ada desain gaun, sketsa aksesori, potongan komposisi, dan catatan investasi kecil yang ia buat selama bertahun-tahun saat Adrian mengira ia hanya mengurus rumah.
Ia tidak pernah berhenti bekerja.
Ia hanya bekerja di ruang yang tidak diberi nama.
Sekarang ruang itu punya nama.
Ruang Sela.
Keesokan paginya, dua orang penjahit yang direkomendasikan Lia datang untuk wawancara. Yang pertama, Mbak Rini, pernah bekerja di konveksi seragam sekolah selama lima belas tahun. Tangannya cepat, matanya tajam, bicaranya langsung.
"Saya tidak suka bos yang tiap hari berubah pikiran," katanya.
Alina menjawab, "Saya juga tidak suka pekerja yang mengiyakan semuanya lalu mengeluh di belakang."
Mbak Rini menatapnya.
Lalu tersenyum.
Yang kedua, Sasa, masih muda, lulusan sekolah mode di Jakarta Pusat. Portofolionya berantakan tapi berani. Ia takut saat bicara, tetapi matanya hidup ketika menjelaskan lipit asimetris.
Alina menerima keduanya.
Lia protes pelan, "Kita baru mulai. Dua orang sekaligus?"
"Kita butuh tangan cepat dan ide liar."
"Aku apa?"
"Kamu penghubung dengan dunia yang lebih tidak masuk akal."
Lia puas. "Baik. Jabatan itu aku terima."
Menjelang siang, Damar datang bersama Nara. Anak itu membawa kotak pastel besar dan satu gambar rumah dengan jendela biru.
"Ini untuk studio," kata Nara.
Alina jongkok agar sejajar. "Terima kasih. Mau ditempel di mana?"
Nara menunjuk dinding dekat tangga. "Di sini, supaya orang tahu ini tempat baik."
Kalimat itu membuat Alina diam sebentar.
Ia menempel gambar itu dengan selotip kertas.
Damar berdiri di sampingnya. "Selamat untuk tempat barunya."
"Masih berantakan."
"Tempat yang baru mulai memang begitu."
"Kamu bicara seperti orang yang pernah membangun sesuatu dari nol."
Damar tersenyum tipis. "Lebih sering membangun ulang setelah rusak."
Alina memahami kalimat itu tanpa bertanya lebih jauh.
Di saat yang sama, sebuah akun gosip bisnis mengunggah foto buram dirinya dan Damar di depan ruko.
Caption-nya pendek.
Mantan istri konglomerat mulai hidup baru bersama duda kaya?
Dalam dua puluh menit, foto itu menyebar.
Lia yang pertama melihat. Wajahnya langsung berubah.
"Lina."
Alina mengambil ponsel.
Ia melihat foto itu, lalu membaca komentar-komentar pertama.
Cepat sekali pindah hati.
Pantas minta harta besar.
Adrian Wicaksono dibuang setelah ada pengganti?
Damar mengeluarkan ponsel. "Aku bisa minta timku menurunkan."
Alina menahan tangannya.
"Jangan."
"Alina."
"Kalau diturunkan sekarang, mereka akan merasa benar."
Nadia, yang baru tiba membawa map perizinan, membaca layar dan mendesah panjang. "Ini bukan gosip biasa. Ada yang mengirim."
Alina menatap akun itu.
Ia tidak merasa terkejut.
Orang yang pernah kehilangan kendali biasanya tidak langsung berhenti. Mereka mencari tali baru untuk menarik tubuh yang sudah pergi.
Alina mematikan layar.
"Kita lanjut kerja."
Lia melotot. "Serius?"
"Serius."
Alina mengambil meteran dari meja.
"Kalau mereka ingin membuatku terlihat seperti perempuan yang hanya bisa naik karena pria, maka cara paling menyebalkan untuk membalas adalah memastikan tempat ini buka tepat waktu."
Damar memandangnya sebentar. "Kamu yakin tidak ingin aku mundur dari proyek ini? Namaku bisa membuat mereka lebih mudah menyerang."
Alina menggeleng. "Kalau setiap orang baik harus mundur karena orang jahat bisa memakai namanya, maka yang tersisa di sekitarku hanya orang jahat."
Lia menunjuk ke arah Damar. "Dengar itu. Tetap berguna, tapi jangan sok pahlawan."
Damar tersenyum kecil. "Baik."
Nadia menambahkan, "Mulai hari ini, semua komunikasi proyek dengan Pak Damar tercatat lewat email resmi. Tidak ada celah untuk dipotong-potong."
"Siap," kata Damar.
Alina kembali mengukur dinding.
Ia tidak ingin hidupnya ditentukan oleh gosip. Tetapi ia juga tidak akan pura-pura dunia selalu adil kepada perempuan yang baru keluar dari pernikahan buruk.
Di dinding dekat tangga, gambar Nara sedikit miring.
Alina membetulkannya.
Rumah dengan jendela biru itu kembali lurus.
ternyata di luar ekspektasi