NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21 Wajah Orang yang Ditinggalkan

Adipati Kertanegara tidak tidur malam itu.

Pesan dari Puri Baskara diletakkan di atas meja, hanya dua baris, tetapi terasa seperti pisau yang ditinggalkan di dada.

Jangan sebut nama Pangeran Baskara.

Selesaikan sendiri.

"Selesaikan sendiri?" Kertanegara tertawa kering. "Uang yang mengalir ke Puri Baskara bertahun-tahun tidak pernah diselesaikan sendiri."

Pengurus gudang berlutut di hadapannya, tidak berani mengangkat kepala. Di luar, orang-orang berlari memindahkan peti, membakar catatan kecil, dan menyuruh keluarga jauh meninggalkan Kota Raja sebelum fajar.

"Kirim orang ke Puri Baskara lagi," kata Kertanegara.

"Sudah, Gusti. Gerbang tidak dibuka."

"Ke kediaman Permaisuri Ratih."

"Utusan ditolak di pintu luar. Mereka berkata Permaisuri sedang beristirahat."

Kertanegara memukul meja. Cangkir terguling, air membasahi surat Baskara. Tinta pada dua baris itu sedikit luntur, tetapi maknanya tetap utuh.

Ia ditinggalkan.

***

Di Puri Timur, Anindya membaca salinan buku besar dengan selimut menutupi kaki.

Arjuna melarangnya duduk terlalu lama, jadi Wulan memasang jam pasir kecil di meja. Setiap butir pasir jatuh seperti teguran.

"Gusti Putri, kalau pasirnya habis..."

"Aku tahu."

"Gusti selalu berkata begitu."

Anindya menahan senyum. "Kau mulai seperti Yang Mulia."

Wulan tampak tersinggung sekaligus bangga.

Anindya kembali pada buku. Di antara angka dan nama sandi, ia menemukan pola baru. Setiap pengiriman besar diberi tanda burung hitam, tetapi pengiriman tertentu diberi tanda tambahan berupa garis miring pendek. Pada awalnya ia mengira itu tanda pemeriksa. Namun setelah mencocokkan tanggal, garis itu hanya muncul pada pengiriman yang berakhir di saluran air.

Ia mengambil lembar kosong dan menulis cepat.

Tanda miring bukan pemeriksa. Itu tanda barang yang harus langsung diteruskan ke pembeli militer. Cari daftar penerima setelah cap Suralegawa.

Wulan melihat wajahnya memucat. "Gusti Putri?"

"Kirim ke Yang Mulia."

"Sekarang?"

"Sekarang."

***

Majelis Kerajaan pagi itu seharusnya membahas duka keluarga Ratu Ayu dan keamanan Kota Raja setelah kecelakaan Gedung Wayang Enam.

Namun saat Prabu Naradewa duduk di kursinya, Harsa masuk membawa peti tersegel Pengadilan Kerajaan. Di belakangnya, Garuda dan dua pengawal membawa peti kecil berisi rempah gelap, logam mentah, dan bilah pedang belum diasah.

Bisik-bisik langsung menyebar.

Baskara duduk di sisi kanan, wajahnya tenang. Terlalu tenang. Permaisuri Ratih tidak hadir, tetapi semua orang tahu mata dan telinganya pasti berada di ruangan.

Naradewa menatap Arjuna. "Apa ini?"

Arjuna memberi hormat. "Bukti perdagangan gelap yang memakai segel kerajaan dan nama sumbangan upacara, Baginda."

Ruangan menjadi hening.

Kertanegara berdiri di barisan adipati. Wajahnya pucat, tetapi ia memaksa diri maju.

"Baginda, hamba tidak tahu apa yang dimaksud Pangeran Mahkota. Keluarga hamba selalu setia menyumbang untuk kerajaan."

Arjuna menoleh padanya. "Benar. Terlalu setia sampai peti sumbangan kalian berisi bahan senjata."

Beberapa pejabat terkejut.

Tumenggung Suralegawa yang berdiri tidak jauh dari Kementerian Perang mengencangkan rahang.

Baskara akhirnya bersuara, lembut dan prihatin. "Kakanda, tuduhan terhadap keluarga besar seperti Kertanegara harus hati-hati. Jangan sampai karena beberapa pengurus gudang serakah, nama adipati ikut tercemar."

Arjuna menatapnya. "Adinda benar. Karena itu semua bukti disita dengan saksi Pengadilan Kerajaan."

Harsa membuka gulungan. "Peti ditemukan dalam kereta jenazah palsu dari gudang selatan Kertanegara. Gudang barat terbukti menjadi umpan pembakaran dokumen. Jalur air belakang menyimpan rempah gelap, logam mentah, dan daftar pembayaran penjaga pos."

Kertanegara cepat berkata, "Pengurus gudang bertindak tanpa sepengetahuan hamba."

Arjuna menerima lembar kecil dari Adi. Pesan Anindya baru tiba. Ia membacanya sekilas. Garis miring. Penerima militer. Cap Suralegawa.

Matanya menjadi dingin.

"Kalau begitu, Adipati tentu tidak keberatan buku besar dibuka di hadapan Baginda."

Kertanegara menelan ludah.

Naradewa mengetuk sandaran kursi. "Buku besar?"

Harsa meletakkan buku tersegel di meja tengah. Segel Pengadilan masih utuh. "Buku ini disita dari peti berlapis. Dua saksi gudang sudah membubuhkan tanda. Darmawan dari Pasar Sentosa menjadi saksi pasar."

Seorang patih tua bergumam, "Pasar Sentosa?"

Arjuna tidak menoleh. Ia hanya membuka segel setelah Naradewa memberi izin dengan dagu.

Halaman pertama aman.

Halaman kedua mulai membuat beberapa wajah berubah.

Halaman ketiga menampilkan cap Kertanegara.

Kertanegara langsung berkata, "Cap keluarga bisa dipalsukan."

"Bisa," jawab Arjuna. "Karena itu kita lanjutkan."

Ia membalik halaman sesuai tanda yang ditulis Anindya. Di sana, setelah beberapa angka pengiriman, ada garis miring pendek dan daftar penerima. Salah satunya memakai lambang Kementerian Perang.

Tumenggung Suralegawa berkata cepat, "Itu bukan tanda resmi hamba."

Arjuna tersenyum tanpa hangat. "Aku belum menyebut namamu."

Ruangan membeku.

Suralegawa sadar ia bicara terlalu cepat.

Baskara menurunkan pandangan, senyumnya hilang setipis bayangan.

Naradewa memperhatikan semua itu. "Arjuna, apakah kau menuduh Kertanegara dan pejabat perangku berkhianat?"

"Ananda menuduh ada jaringan yang memakai nama kerajaan untuk memperkaya diri, membayar penjaga pos, menyelundupkan bahan senjata, dan mengalirkan uang ke rumah yang disebut Pangeran B."

Kata terakhir membuat semua orang menahan napas.

Baskara mengangkat wajah. "Pangeran B bisa berarti banyak orang."

"Tentu."

Arjuna menutup buku perlahan. "Karena itu hari ini Ananda tidak meminta Baginda menghukum Pangeran B. Ananda hanya meminta Baginda mengizinkan Pengadilan Kerajaan memeriksa Kadipaten Kertanegara dan semua gudangnya sebelum bukti lain hilang."

Kertanegara memucat total.

"Baginda, hamba setia. Ini fitnah."

Naradewa menatapnya, lalu menatap Baskara. Sejenak, ruangan itu penuh perhitungan yang tidak diucapkan.

Sebelum raja menjawab, seorang penjaga masuk tergesa dan berlutut.

"Ampun, Baginda. Di luar Balai Agung, beberapa buruh gudang Kertanegara memohon perlindungan Pengadilan. Mereka membawa daftar pembayaran lain dan berkata keluarga Kertanegara memerintahkan saksi-saksi menghilang."

Kertanegara mundur satu langkah.

Naradewa mengangkat tangan. "Bawa satu masuk."

Seorang buruh kurus dibawa ke tengah balai. Kainnya kusut, lututnya hampir tidak kuat menahan tubuh. Ia menunduk sampai dahinya menyentuh lantai.

"Ampun, Baginda. Hamba hanya mengangkut peti. Kami diberi uang agar pergi dari Kota Raja malam ini. Jika menolak, pengurus berkata tubuh kami akan ditemukan di saluran air."

"Siapa pengurus itu?" tanya Harsa.

Buruh itu menunjuk Kertanegara tanpa berani mengangkat kepala. "Orang rumah utama, Tuan. Ia membawa cincin burung hitam."

"Fitnah!" Kertanegara berteriak. "Orang rendahan bisa dibayar untuk mengatakan apa pun."

Buruh itu menangis. "Kalau hamba dibayar Pangeran Mahkota, hamba tidak akan datang dengan pakaian seperti ini, Gusti. Hamba datang karena takut mati."

Bisik-bisik di balai berubah menjadi gelombang.

Naradewa tidak segera memerintahkan orang diam. Ia membiarkan bisik-bisik itu tumbuh beberapa napas, cukup lama untuk membuat Kertanegara semakin pucat dan Baskara harus menunduk menyembunyikan rahangnya yang mengeras.

Arjuna melihat semuanya. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi pengkhianat daripada menyadari tuannya tidak berani menatapnya.

Arjuna memandangnya dengan tenang.

"Adipati," katanya, "wajah orang yang ditinggalkan memang sulit disembunyikan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!