Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Hari itu akhirnya tiba. Pagi yang cerah di Jakarta, langit biru tanpa awan seolah ikut merestui keberangkatan Alin dan Zayyan untuk honeymoon mereka ke Italy. Setelah satu minggu penuh drama, ketegangan karena Lolly, dan kesibukan persiapan, akhirnya mereka bisa melarikan diri berdua selama dua minggu penuh.
Di dalam kamar utama rumah besar mereka, Alin sedang berdiri di depan cermin besar sambil memeriksa penampilannya sekali lagi. Ia mengenakan dress casual panjang berwarna krem lembut yang elegan, rambutnya digerai dengan klip sederhana, dan sedikit makeup natural. Zayyan mendekat dari belakang, memeluk pinggang istrinya erat sambil menciumi tengkuknya.
"Kamu cantik sekali hari ini," bisik Zayyan serak, napasnya hangat di kulit Alin. "Aku sudah nggak sabar mau berduaan sama kamu di Tuscany nanti."
Alin tersenyum malu, pipinya merona. "Kamu ini, dari pagi sudah mesum. Nanti di pesawat bagaimana?"
Zayyan tertawa kecil dan memutar tubuh Alin hingga menghadapnya. "Di pesawat juga boleh kok... business class kan privasi."
"Dasar!" Alin memukul dada suaminya pelan sambil tertawa.
Mereka turun ke bawah untuk sarapan ringan dan berpamitan dengan keluarga besar Zayyan. Begitu muncul di ruang makan, seluruh keluarga sudah menunggu dengan senyum lebar.
"Waahhh, pengantin baru mau honeymoon!" seru Zevanya sambil bertepuk tangan. "Bang Zay, jangan kasar-kasar di sana ya. Kasihan Kak Alin."
Zelia nyengir jail. "Kasihan apaan? Mereka berdua pasti yang kasianin kita di sini. Dua minggu nggak kedengeran jerit-jerit dari kamar atas."
Adam, tertawa dalam sambil menggelengkan kepala. "Yang penting pulang bawa kabar gembira ya. Mommy sama Daddy sudah tidak sabar nunggu cucu."
Kiandra, langsung memeluk menantunya erat. "Hati-hati di sana, Nak. Jaga kesehatan. Kalau ada apa-apa langsung telepon Mommy."
Alin tersenyum haru. "Iya, Mom. Terima kasih banyak."
Zayyan hanya tersenyum lebar sambil memeluk istrinya dari samping. "Tenang saja, dad, mom. Aku akan jaga Alin baik-baik. Malah, aku yang akan bikin dia capek di sana."
"Zayyan!" Alin mencubit pinggang suaminya malu, membuat seluruh keluarga tertawa ngakak.
Setelah berpelukan dan saling berpesan, Zayyan dan Alin pun berangkat. Sebelum menuju bandara, mereka mampir dulu ke rumah nenek Alin.
Rumah sederhana bergaya klasik itu terasa hangat saat mereka tiba. Nenek Alin, seorang wanita tua berusia 78 tahun yang masih sehat, langsung menyambut mereka dengan pelukan hangat.
"Nenek senang sekali kalian mampir ke sini sebelum berangkat," kata Nenek sambil mengusap punggung Alin penuh kasih. Matanya berkaca-kaca melihat cucu kesayangannya yang kini sudah menjadi istri.
Alin memeluk neneknya lama. "Nek, Alin kangen. Doain ya Nek, semoga honeymoon kami lancar dan bahagia."
Nenek tersenyum sambil mengusap rambut Alin. "Nenek selalu mendoakan kalian. Zayyan... jaga cucu Nenek baik-baik ya. Dia anak manja Nenek."
Zayyan mengangguk hormat dan mencium punggung tangan nenek Alin. "Pasti, Nek. Alin sekarang tanggung jawab saya sepenuhnya. Saya janji akan bahagiakan dia setiap hari."
Mereka bertiga mengobrol hampir satu jam. Nenek menceritakan kenangan masa kecil Alin, memberi nasihat pernikahan, dan bahkan menyerahkan amplop kecil berisi uang receh "buat ongkos" di Italy. Alin menangis haru saat memeluk neneknya sekali lagi sebelum pamit.
"Nanti pulang-pulang Alin bawa oleh-oleh Nek," janji Alin dengan suara bergetar.
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Bandara Soekarno-Hatta. Check-in berjalan lancar berkat tiket business class yang sudah diurus Zayyan. Mereka berdua duduk di lounge eksklusif, tangan saling genggam, sesekali berciuman kecil dan berbisik mesra.
Saat boarding call terdengar, Zayyan berdiri dan menarik Alin ke dalam pelukannya.
"Ini awal dari petualangan kita berdua, sayang," bisiknya di telinga Alin.
"Aku senang banget," balas Alin sambil tersenyum lebar.
Mereka naik ke pesawat. Kursi business class mereka bersebelahan, sangat nyaman dan privasi. Begitu pesawat mulai taxi di landasan, Zayyan meraih tangan Alin dan menggenggamnya erat.
Pesawat mulai melaju semakin kencang, roda-roda meninggalkan aspal bandara, dan akhirnya...
Pesawat mulai terbang meninggalkan kota Jakarta.
Melalui jendela, Alin melihat kota yang ramai itu semakin mengecil di bawah sana. Gedung-gedung tinggi, kemacetan yang biasa mereka lalui, dan rumah mereka yang kini jauh di kejauhan. Langit biru semakin luas di depan.
Zayyan mencondongkan tubuhnya, mencium pipi Alin lama."Bye Jakarta," bisiknya. "Dua minggu ke depan hanya aku dan kamu. Nggak ada kerjaan, nggak ada drama, nggak ada siapa pun. Hanya kita berdua di negeri cinta."
Alin menoleh, matanya berkaca-kaca bahagia. Ia mencium bibir suaminya sekilas.
"Aku cinta kamu, Zayyan."
"Aku lebih cinta kamu," balas Zayyan sambil tersenyum, lalu mengecup kening istrinya.
Pesawat terus naik, menembus awan putih tebal. Di dalam kabin business class yang sepi dan nyaman, Zayyan menyelimuti Alin dengan selimut tipis, tangannya tak lepas dari pinggang istrinya.
Di depan mereka adalah Italia, Tuscany, Florence, Venice, dan segala romansa yang menanti. Tapi yang terpenting, di samping Alin, Zayyan merasa ia sudah membawa seluruh dunianya.
Honeymoon mereka baru saja dimulai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiba di Italia
Setelah penerbangan panjang hampir 14 jam dengan transit singkat di Doha, pesawat akhirnya mendarat mulus di Bandara Amerigo Vespucci, Florence, Italia. Saat pintu pesawat terbuka, udara sejuk khas musim semi Italia langsung menyambut mereka. Suhu sekitar 18 derajat Celsius terasa begitu segar dibandingkan panasnya Jakarta.
Alin menggenggam tangan Zayyan erat-erat saat mereka berjalan keluar dari bandara. Matanya berbinar melihat segala sesuatu di sekitarnya, orang-orang yang berbicara dengan bahasa Italia yang cepat dan indah, aroma kopi espresso yang kuat dari kafe bandara, dan langit biru cerah yang seolah tak ada batasnya.
"Kita benar-benar di Italia." bisik Alin, suaranya penuh kekaguman.
Zayyan tersenyum lebar, lalu menarik pinggang Alin dan mengecup keningnya lama di tengah keramaian bandara. "Ini baru permulaan, istriku. Dua minggu penuh hanya untuk kita."
Mereka dijemput oleh private driver yang sudah diatur Zayyan. Mobil Mercedes hitam mewah membawa mereka meninggalkan Florence menuju kawasan Tuscany. Sepanjang perjalanan sekitar satu setengah jam, pemandangan luar biasa indah. Bukit-bukit hijau bergelombang, kebun anggur yang terbentang luas, rumah-rumah vila tua berwarna terracotta, dan pohon-pohon zaitun yang berbaris rapi.
Alin tak henti-hentinya memotret dari jendela mobil. Zayyan sesekali mencuri ciuman di pipi, leher, bahkan bibir istrinya ketika Alin terlalu fokus pada pemandangan.
"Kamu lebih cantik dari semua pemandangan ini," bisik Zayyan di telinga Alin sambil menggigit cuping telinganya pelan.
" Zayyan... sopirnya bisa lihat," protes Alin malu-malu, tapi ia tetap tersenyum dan membiarkan suaminya memeluknya dari samping.
Akhirnya mereka tiba di sebuah vila private yang terletak di atas bukit di wilayah Chianti. Vila tersebut benar-benar seperti yang Zayyan janjikan, mewah tapi klasik, dengan dinding batu alam, atap genteng merah, kolam renang infinity yang menghadap ke lembah perkebunan anggur, dan taman bunga mawar yang harum.
Begitu mobil berhenti, Zayyan langsung mengangkat Alin ala bridal style. Alin terkikik sambil memeluk leher suaminya.
"Zayyan! Malu-maluin, ada staff vilanya!"
"Biarkan saja. Ini honeymoon kita," jawab Zayyan dengan senyum lebar.
Staff vila, seorang couple Italia paruh baya yang ramah, menyambut mereka dengan senyum hangat. Mereka sudah menyiapkan segalanya, bunga mawar merah di kamar utama, sebotol wine Chianti terbaik, dan hidangan ringan di teras.
Zayyan membawa Alin masuk ke kamar utama yang luar biasa besar. Kamar itu memiliki tempat tidur king size dengan kanopi putih, jendela kaca besar yang menghadap langsung ke perbukitan, dan bathtub marmer di balkon kamar mandi outdoor.
Setelah staff meninggalkan mereka berdua, Zayyan menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia menurunkan Alin pelan di depan tempat tidur, tapi tangannya tetap memeluk pinggang istrinya.
"Welcome to our little heaven, Mrs. Mahendra" bisik Zayyan dengan suara dalam dan penuh hasrat.
Alin mendongak, matanya berkaca-kaca bahagia. "Ini terlalu indah, sayang. Aku masih nggak percaya kita di sini."
Zayyan menunduk dan mencium Alin dengan lembut pada awalnya. Ciuman itu perlahan semakin dalam, semakin panas. Lidah mereka saling menari, napas mereka bercampur. Tangan Zayyan merayap ke belakang dress Alin, menarik resletingnya perlahan hingga dress itu melorot ke lantai.
Alin hanya mengenakan lingerie putih lembut yang sangat seksi.
" Kamu sengaja pakai ini ya?" tanya Zayyan sambil tersenyum licik, jari-jarinya mengusap kulit punggung Alin yang halus.
Alin menggigit bibir bawahnya malu. "Biar kamu senang..."
Zayyan mengerang pelan dan mengangkat Alin hingga kakinya melingkar di pinggangnya. Ia membawa istrinya ke tempat tidur besar itu dan menindihnya dengan lembut. Ciuman mereka semakin liar. Zayyan menciumi leher Alin, dada, lalu turun ke perutnya yang rata.
"Aku mau menikmati setiap inci tubuhmu di sini," bisik Zayyan serak sambil melepaskan bra Alin.
Alin mendesah panjang saat bibir Zayyan menyentuh payudaranya. Angin sejuk Tuscany masuk melalui jendela yang terbuka sedikit, bercampur dengan suara desahan mereka yang mulai memenuhi kamar.
Matahari sore Toscana yang keemasan menyinari tubuh mereka yang saling menempel. Zayyan bergerak dengan penuh kasih sayang dan nafsu yang membara. Setiap gerakan, setiap sentuhan, setiap ciuman terasa lebih intens karena mereka jauh dari segala masalah di Jakarta.
Di luar vila, perkebunan anggur bergoyang pelan ditiup angin, seolah ikut merayakan kebahagiaan pasangan baru ini.
Malam pertama mereka di Italy baru saja dimulai, dan Zayyan berniat untuk membuatnya tak terlupakan. Mereka seakan tidak merasa lelah meskipun telah melewati perjalanan yang sangat panjang.
pulang dari Italy sih Alin langsung hamil ini🤣🤣🤣🤣
bikin Loly jeoles liat kebahagiaan zay & Alin
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥