Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Malam Berdarah dan Gaun Hitam
Bab 1: Malam Berdarah dan Gaun Hitam
Gerimis tipis mengguyur Kota Jakarta, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Namun, dinginnya cuaca malam ini tidak sebanding dengan dinginnya tubuh wanita yang terbujur kaku di atas ranjang besi rumah sakit.
Rena Shandika. Kakak perempuan Aline satu-satunya, pelindungnya, dan satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini.
Aline menggenggam jemari kakaknya yang sudah memucat dan kaku. Air matanya sudah habis sejak dua jam lalu, meninggalkan rasa perih yang membakar di sudut matanya. Di dadanya kini hanya tersisa kekosongan besar yang perlahan tapi pasti, berubah menjadi kobaran api dendam yang membara.
"Bunuh diri?" Aline berbisik, suaranya parau namun terdengar begitu mengerikan di dalam kamar mayat yang sunyi dan berbau obat-obatan itu. "Seseorang sepertimu, yang berjuang mati-matian demi membiayai kuliahku, tidak akan pernah mengakhiri hidup dengan melompat dari lantai dua puluh, Kak. Aku tahu kau tidak selemah itu."
Polisi dengan cepat mengambil kesimpulan bahwa itu murni bunuh diri karena depresi kerja. Sebagai sekretaris pribadi di perusahaan raksasa Dirgantara Group, tekanan kerja Rena memang sangat tinggi. Tapi Aline tahu, alasan itu hanyalah omong kosong yang dibuat untuk menutupi kebenaran yang jauh lebih kotor.
Dua hari lalu, Rena sempat meneleponnya di tengah malam. Suaranya gemetar hebat, dipenuhi isak tangis ketakutan yang berusaha ditahan.
“Aline… kalau terjadi sesuatu padaku, jangan pernah cari aku ke Dirgantara Group. Tempat itu… tempat itu adalah sarang iblis. Dan iblis terbesarnya adalah pria itu…”
Itu adalah kalimat terakhir Rena sebelum tubuhnya ditemukan tak bernyawa di pelataran parkir gedung pencakar langit tersebut keesokan paginya. Polisi menolak menyelidiki lebih lanjut, seolah-olah ada kekuatan besar yang membungkam mulut mereka semua.
Aline berdiri tegak, melepaskan genggaman tangannya dari jemari Rena. Ia menghapus sisa air mata di pipinya secara kasar. Tatapan matanya yang semula lembut dan penuh duka, kini menajam bagai mata pisau yang baru diasah di kegelapan.
Ia berjalan mendekati meja kecil di sudut ruangan, tempat barang-barang pribadi milik Rena yang dikembalikan oleh pihak kepolisian diletakkan. Aline membuka tas tangan kulit milik Rena yang tampak berantakan. Barang-barang di dalamnya terlihat biasa saja bagi mata awam. Ada dompet, beberapa lipstik, cermin kecil, wadah bedak yang retak, dan beberapa lembar berkas kantor yang basah oleh sisa gerimis.
Namun, perhatian Aline tertuju pada lapisan dalam tas yang tampak sedikit robek, seolah-olah dipaksakan untuk menyembunyikan sesuatu dalam ketergesa-gesaan. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang sengaja ditinggalkan Rena untuknya.
Aline merobek paksa lapisan kain furing tersebut dengan jemarinya. Benar saja. Sebuah benda logam kecil terjatuh ke atas lantai ubin dengan suara berdenting nyaring yang memecah kesunyian kamar mayat.
Ting!
Aline memungut benda itu. Itu adalah sebuah liontin perak berbentuk kepala ular Gorgon dengan sepasang mata yang terbuat dari batu zamrud hijau yang berkilau mistis di bawah pendar lampu neon.
Darah Aline seketika berdesir hebat, hawa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia tahu simbol ini. Ini bukan logo resmi Dirgantara Group yang biasa tertera di brosur atau papan saham. Ini adalah lambang "Gorgon", organisasi mafia bawah tanah paling kejam dan ditakuti di Asia Tenggara yang bergerak di balik bayang-bayang bisnis legal kedokteran, perhotelan, dan properti.
Dan pemimpin tertinggi dari organisasi berdarah itu adalah pria yang sama yang memimpin Dirgantara Group sebagai CEO utama.
Adrian Dirgantara.
Pria kejam, dingin, bertangan besi, dan tak tersentuh hukum. Pria yang dalam satu jentikan jari bisa melenyapkan nyawa seseorang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Pria yang diduga kuat telah melenyapkan nyawa kakaknya demi melindungi rahasia busuknya.
"Adrian..." Aline mengepalkan tinjunya erat-erat hingga kuku-kukunya memutih dan menusuk telapak tangannya sendiri. Liontin perak itu meremuk di dalam genggamannya, menyisakan rasa sakit yang nyata. "Kau pikir kau bisa lolos begitu saja setelah membunuh kakakku? Kau pikir uang dan kekuasaanmu bisa membungkam keadilan?"
Aline kembali ke apartemen kecilnya yang sepi di sudut kota. Di depan cermin besar kamar mandinya, ia menatap bayangan dirinya sendiri cukup lama.
Seorang gadis berusia 22 tahun dengan rambut hitam panjang bergelombang yang indah, mata jernih yang memancarkan kecerdasan, dan bentuk tubuh yang proporsional. Terlalu mencolok. Jika ia masuk ke kediaman Adrian dengan penampilan seperti ini, ia hanya akan menjadi santapan empuk, atau pria secerdik Adrian akan langsung mencurigai latar belakangnya.
Aline mengambil gunting besar dari laci meja kerjanya. Tanpa ragu atau bimbang sedikit pun, ia menjambak rambut panjangnya sendiri.
Krek! Krek! Krek!
Potongan-potongan rambut hitamnya berjatuhan ke lantai. Aline memotong rambut indahnya hingga sebatas bahu dengan gaya yang berantakan. Ia kemudian mengambil sebuah kotak plastik besar dari kolong tempat tidur. Kotak berisi peralatan penyamaran tingkat tinggi yang pernah ia pelajari saat mengambil kursus teater dan tata rias efek khusus di masa kuliahnya—sebuah hobi lama yang tidak pernah ia sangka akan berguna untuk misi balas dendam.
Ia memakai lensa kontak berwarna cokelat pudar untuk menutupi binar matanya yang semula tajam dan ekspresif. Ia mengambil kacamata dengan bingkai bulat tebal bermata minus palsu. Kemudian, ia memulas wajahnya dengan foundation dua tingkat lebih gelap dari warna kulit aslinya yang putih bersih, lalu menambahkan beberapa bintik hitam palsu (freckles) di sekitar hidung dan pipinya menggunakan pensil alis.
Terakhir, ia menanggalkan pakaian modisnya dan menggantinya dengan kemeja kebesaran bermotif kotak-kotak yang kusam serta rok plisket panjang berwarna cokelat tua yang longgar.
Dalam waktu satu jam, sosok Aline Shandika yang cantik, anggun, dan menawan telah lenyap tanpa bekas. Yang tersisa di cermin kini hanyalah seorang gadis desa yang polos, lugu, tampak kikuk, dan sama sekali tidak berbahaya bagi siapa pun.
"Mulai hari ini, namaku adalah Aline si gadis yatim piatu yang butuh pekerjaan untuk menyambung hidup," bisik Aline pada bayangannya di cermin. Seringai tipis muncul di bibirnya, terlihat sangat kontras dengan wajah lugunya yang baru.
Ia berjalan ke arah meja kerja, membuka laptopnya yang terhubung dengan jaringan VPN terenkripsi, dan mulai meretas sistem internal Dirgantara Group. Bukan hal yang sulit bagi Aline, yang selama ini diam-diam memiliki kemampuan luar biasa di bidang keamanan siber dan pemrograman komputer.
Sebuah iklan lowongan kerja privat yang sangat tertutup untuk umum muncul di layar monitornya.
DIBUTUHKAN SEGERA: Pengasuh (Babysitter) pribadi untuk anak kembar Tuan Besar Adrian Dirgantara.
Kriteria: Penyabar, patuh, tidak banyak bicara, bersedia tinggal di dalam mansion, dan tidak memiliki latar belakang kriminal.
Gaji: 15 juta rupiah per bulan.
Aline mendengus sinis melihat nominal yang tertera. Gaji yang sangat fantastis hanya untuk mengasuh dua orang anak kecil. Tapi dari data rahasia yang berhasil ia gali, sudah ada lima pengasuh dalam bulan ini yang keluar dalam kondisi trauma, bahkan ada yang harus dirawat di rumah sakit jiwa karena tekanan mental.
Anak kembar Adrian bukan anak-anak biasa. Mereka adalah sepasang "monster kecil" yang terkenal sangat genius namun luar biasa manipulatif. Tidak ada satu pun pengasuh profesional yang tahan menghadapi siksaan mental dan jebakan-jebakan cerdik dari dua bocah tersebut.
"Anak genius, ya?" Aline tersenyum misterius, matanya berkilat di balik kacamata bulatnya. Ia mengklik tombol daftar dan memasukkan data identitas palsunya yang sudah disiapkan dengan sangat rapi oleh sistem buatannya. "Mari kita lihat, siapa yang akan menjebak siapa di rumah itu."
Aline kemudian berdiri, mengambil korek api gas dari dapur. Di atas wastafel, ia membakar semua foto dirinya bersama Rena. Ia juga membakar ijazah aslinya, sertifikat penghargaan, dan semua dokumen yang bisa menghubungkan dirinya dengan nama Rena Shandika. Ia menghapus seluruh jejak digitalnya dari muka bumi hingga tak menyisakan satu pun tautan.
Abu foto-foto dan kertas itu perlahan hancur dan hanyut bersama aliran air wastafel yang dingin.
Aline menatap sisa abu yang menghilang. Dengan suara yang dingin dan sarat akan kebencian, ia mengucapkan sumpah terakhirnya sebelum melangkah pergi.
"Aku akan masuk ke sarangmu, Adrian. Bahkan jika aku harus menjual jiwaku pada iblis di neraka, aku akan memastikan kau membayar setiap tetes darah kakakku dengan hancurnya seluruh kekuasaan yang kau banggakan."