Celine selalu menyukai Ares. Dia mengabadikan seluruh momen laki-laki itu di sebuah buku kecil. Ratusan foto. Lalu kini buku itu hilang, menyisakan perasaan khawatir yang menghantui Celine setiap malam.
Celine hanya tidak tahu, buku itu berada di tangan Ares. Di simpan baik-baik, menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Celine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suziehloranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Tirai UKS
Celine menggulir beranda media sosialnya yang ke sekian kali. Tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini, Berlian juga tampak begitu sibuk dengan ponselnya. Fokusnya juga tak lagi pada pertandingan basket yang masih dimulai, soalnya Ares sudah duduk di bangku cadangan. Laki-laki itu tadi terjatuh dan sedang beristirahat.
Mata perempuan itu sekali lagi melirik ke arah Ares yang sudah diobati. Sesuatu dalam dirinya ingin pergi, menawarkan bantuan yang mungkin akan membuat Ares senang dan mengajaknya pacaran. Pemikiran dangkal Celine.
"Gimana caranya biar kami dekat gitu, gak mungkin juga aku tiba-tiba bilang suka trus ngajak jadian. Gimana kalau nanti dianya malah ilfil? Mau nangis," gumam Celine dengan gejolak frustasi.
"Diliat mulu gak bakal bikin situasi berbalik. Kalau kataku mending samperin, pura-pura jadi teman sekelas yang perhatian." ujar Berlian tanpa menoleh, menanggapi gumaman Celine.
"Sok asik gak sih ceritanya? Bagus kalo dia suka balik, entar kalau malah gak suka, mau ditaruh di mana mukaku?"
"Masukin comberan," kata Berlian asal. "Tengok tuh kau keduluan sama cewek lain, dia bawa apa tuh."
Secara otomatis Celine menoleh ke arah pandang Berlian. Benar, di sana Ares dihampiri seorang perempuan yang tampak malu-malu. Adek kelas sepuluh, tampak dari warna atributnya.
Ares membaca name tag yang tertera di seragam perempuan itu. Jasmine. Dia pernah mendengarnya, salah satu siswi dengan label pintar yang memiliki nilai sikap baik. Perawakannya lumayan tinggi, senyumnya rapi dengan rambut bergelombang yang tersampir di pundak. Tipe perempuan nilai 10, begitu opini Bian yang sedari tadi mencolek bahunya.
"Cakep banget sial, betah mataku nengoknya," gumam Bian yang sedari tadi mengulas senyum.
Jasmine maju selangkah kemudian menoleh ke belakang, memastikan apa yang dia lakukan saat ini benar. Vivi, temannya memberi acungan jempol sebagai penyemangat.
Perempuan itu dengan ragu mendongak ke arah Ares, degupan jantungnya kian berpacu. Dia dengan cepat menyodorkan sebuah bento ke depan Ares. Terlihat jelas isi di dalamnya. Kue-kue manis yang tampak menggugah selera.
"Aku tadi liat kak Ares mainnya bagus banget. Semangat terus ya kak! Tadi pagi aku sempatkan buat ini bareng Mama, semoga kakak suka," tutur Jasmine menutup mata, takut-takut melihat ekspresi Ares.
Dia juga tampaknya tidak siap dengan opini warga sekolah yang mendadak diam. Keberaniannya menjadi tontonan menarik bagi sebagian orang.
Celine yang setia mengamati, mengepalkan kedua tangannya. Darahnya mendidih, ingin rasanya dia meneriaki Jasmine untuk tidak mencoba mendekati Ares.
"Panas banget sih? Aduh, rasanya pengen minum yang dingin-dingin lagi," ujar Berlian tertawa pendek. "Manis banget ya percintaan orang, serasi sih mereka. Yang satu anak basket, satu lagi adek kelas cantik yang pintar."
"Diam aja deh kalau cuman mau ngeledek," gerutu Celine. "Belum tentu Ares bakal terima pemberian cewek itu. Tipe dia mungkin bukan —"
Omongan Celine terpotong karena sorakan dari baris depan, Ares menerima pemberian Jasmine.
"Haha, malah diterima beneran. Habis sudah, pasti setelah ini ada yang patah hati."
Celine tidak bicara lagi, dia berdecak kesal dan pergi dari sana dengan perasaan dongkol. Tidak menyadari Ares menyempatkan menoleh padanya, mengamati ekspresi kesalnya.
"Dimakan ya kak, aku udah buatnya capek-capek. Dijamin rasanya enak!" tukas Jasmine dengan mata berbinar. Dia tidak pergi.
"Aku makan kok, tapi nanti aja. Terimakasih sebelumnya." ujar Ares.
Jasmine tampak murung sesaat, tapi dengan cepat dia mengangguk kaku. Melihat itu Bian kembali memukul pundak temannya itu, berkata menasehati, "Anaknya udah mau nangis tuh, lantam banget itu mulut ngomong nanti. Makan dulu ege dikit, menghargai aja. Kalau kau gak suka, kasih aja samaku nanti."
Ares memutar bola matanya malas, dia membuka bento kecil bermotif kupu-kupu mencolok. Mengambil satu potong kue dan mencicipinya. Rasanya manis dan enak dimakan, tidak ada yang salah untuk saat ini.
"Rasanya enak Jasmine, kau membuatnya dengan baik."
Jasmine berkata riang, "Oh benarkah? Aku senang kalau kakak suka, lain kali aku bakal buat yang lebih enak lagi!"
Ares hanya tersenyum.
"Hoki banget kau Res, dimasakin cewek cantik," kata Bian. "Kalau aku kapan dimasakinnya, Dek?"
"Kakak minta aja sama pacar kakak, maaf ya kak."
"Kit heart aku dek!" seru Bian dramatis, dia menatap permusuhan ke arah Ares.
Semuanya tampak baik-baik saja, tawa Jasmine mengalir begitu saja. Hatinya sangat senang, mengetahui Ares tidak menolaknya. Rona di pipinya semakin jelas, ketika memikirkan hal-hal yang mungkin bisa dia harapkan.
Ares juga merasakan panas di kulitnya, awalnya berpikir itu karena sinar matahari yang menyengat. Kemudian, beberapa menit berlalu ruam-ruam merah bermunculan di sana, dia tampak gelisah.
"Bian," panggil Ares parau.
"Res, weh, kau kenapa? Kulitmu kok jadi merah gini?!" pekik Bian. Jasmine terperanjat dan ikut memperhatikan Ares.
"Gak tahu, gatal sama nyeri rasanya."
Bian dengan sigap menuntun Ares ke unit kesehatan sekolah. Jasmine juga ikut di belakangnya.
"Kak Ares kenapa?" tanya Jasmine begitu sampai di UKS. Ares sudah mendapatkan pertolongan, pemicunya karena reaksi alergi.
"Alergi kata petugasnya, yang kutahu Ares alergi kacang. Tapi kan dia kagak ada makan kacang, kenapa tiba-tiba banget kambuh," ujar Bian membuat Jasmine terdiam.
"Kak Ares alergi kacang?"
"Iya, dari SD dia udah gak pernah makan kacang-kacangan."
"Kak," panggil Jasmine dengan sorot mata penyesalan. "Aku beneran gak tahu kalau kak Ares ada alergi kacang. Di kue yang aku buat ada kacangnya, kurasa itu penyebabnya."
Bian menepuk jidatnya, kemudian menghela napas.
...***...
Celine begitu panik ketika Berlian memberitahu kondisi Ares padanya. Jadi dia dengan nekat mengendap-endap masuk ke ruang UKS.
Ares terlelap di ranjang, irama napasnya teratur. Celine menghela napas lega dan menutup pintu dengan pelan, takut membangunkan laki-laki itu.
"Kok bisa sih sampai alerginya kambuh," gumam Celine. Dia berdiri di depan ranjang. "Emang paling benar tadi kau gak makan kue cewek itu."
Celine menarik satu kursi pelan, duduk di sisi ranjang mengamati wajah Ares yang tampak damai. Jantungnya bergemuruh cepat. "Kumohon, jangan sampai suka sama cewek lain, entar aku gimana?" gumamnya.
Celine mengeluarkan ponselnya, membuka kamera dan mendekatkannya ke wajah Ares. Foto pertama yang dia dapat dengan jelas, resolusi tinggi.
"Aku beneran kayak cewek ganjen," kata Celine pelan. Dia menegakkan punggungnya, perasaan malu menjalar begitu saja. "Beneran gila aku lama-lama."
Begitu Celine keluar dari unit kesehatan. Ares membuka matanya, perasaan berdenyut masih terasa. Namun apa yang baru saja dia dengar membuatnya tercengang. Dia berkata lirih, "Yang tadi itu Celine?"
Salut banget sih author lucu gemes