NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:41.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18 - Maya Memilih Berdiri

Maya datang ke kantor Wijaya Group dengan wajah lelah dan Bima di sampingnya.

Ratna turun ke lobi setelah menerima pesan dari resepsionis. Saat melihat cucunya berlari, ia langsung membuka tangan.

"Nenek!"

Bima memeluknya erat.

Ratna mengusap punggung kecil itu.

"Kok tidak sekolah?"

"Libur, Nek. Mama bilang kita mau ketemu Nenek."

Ratna menatap Maya.

Menantunya memakai kemeja sederhana dan celana jeans. Tidak ada tas mahal. Tidak ada riasan tebal. Hanya wajah perempuan muda yang kurang tidur.

"Kamu baik-baik saja?"

Maya menggeleng.

"Tidak terlalu."

Ratna mengajak mereka ke kafe kecil di lantai dasar. Ia meminta izin pada Dita dan Hanif, lalu duduk di sudut yang tidak terlalu ramai. Bima diberi jus mangga dan roti.

Maya menunggu sampai Bima sibuk makan.

"Ma, aku keluar dari rumah."

"Aku dengar."

"Mas Raka belum ikut. Dia bilang bingung."

Ratna tidak terkejut.

Raka selalu bingung jika harus memilih antara kenyamanan dan tanggung jawab.

Maya menatap gelasnya.

"Dulu aku pikir hidupku berat karena Mas Raka kurang peka. Tapi setelah Mama pergi, aku lihat masalahnya lebih besar. Di rumah itu semua laki-laki dan Mama Sulastri terbiasa dilayani. Kalau kita menolak, kita disebut tidak tahu diri."

Ratna diam.

Maya menarik napas.

"Aku juga ikut menikmati. Aku tidak mau pura-pura suci. Aku sering titip Bima ke Mama supaya bisa salon, arisan, belanja. Aku bilang butuh healing, padahal Mama juga manusia yang butuh istirahat."

Ratna menatapnya lama.

"Kamu masih muda. Kamu punya kesempatan berubah."

Maya mengangkat wajah.

"Mama masih punya juga."

Kalimat itu membuat Ratna terdiam.

Maya tersenyum kecil.

"Ma, aku mau bantu. Aku punya bukti transfer dari Papa Hendra untuk beberapa pembayaran rumah, tapi banyak kebutuhan harian yang Mama bayar. Aku juga punya chat Mama Sulastri menyuruh Mama beli obat dan bayar ini itu. Kalau itu berguna..."

"Berguna," kata Ratna.

"Aku akan kirim ke Mbak Siska."

"Kamu yakin? Raka bisa marah."

Maya menatap Bima.

"Aku lebih takut Bima tumbuh seperti ayahnya."

Ratna merasakan sesuatu menghangat di dadanya.

Maya melanjutkan, "Aku tidak tahu pernikahanku dengan Mas Raka akan bagaimana. Tapi kalau dia tidak berubah, aku tidak mau hidup seperti Mama."

Ratna tidak tersinggung. Justru ia senang Maya bisa berkata begitu.

"Jangan hidup seperti saya yang dulu," kata Ratna. "Kalau mau meniru, tiru saya yang sekarang saja. Meski masih sering takut."

Maya tertawa pelan.

Bima mengangkat roti.

"Nenek kerja di gedung tinggi?"

"Iya."

"Nenek hebat."

Ratna tersenyum.

"Nenek masih belajar."

"Bima juga belajar gambar. Sama."

"Iya, sama."

Saat itu, seorang pria muda masuk ke kafe dengan langkah ringan. Ia memakai jaket kasual mahal, rambut sedikit berantakan, wajah tampan dengan senyum percaya diri. Beberapa staf perempuan menoleh.

Pria itu langsung menuju meja Ratna.

"Akhirnya ketemu juga."

Ratna mengerutkan dahi.

"Maaf?"

Pria itu tersenyum lebar.

"Niko Mahendra. Teman Arga. Atau musuh, tergantung hari."

Maya menatapnya dengan mata melebar.

Bima berbisik, "Om ini siapa?"

Niko berjongkok sejajar dengan Bima.

"Om orang baik. Kadang."

Bima tertawa.

Ratna tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

"Ada keperluan dengan Pak Arga?"

"Ada. Tapi aku lebih penasaran dengan Bu Ratna."

Maya langsung menahan senyum.

Ratna merasa pipinya hangat.

"Dengan saya?"

"Iya. Satu gedung membicarakan Ibu. Katanya ada perempuan yang membuat Arga Wijaya lebih sering keluar ruangan dan Bu Laras lebih sering tersenyum. Aku harus lihat sendiri."

Ratna menegakkan punggung.

"Kalau begitu sudah lihat. Silakan keperluan Bapak lanjutkan."

Niko tertawa.

"Galak. Pantas Arga tertarik."

"Pak Niko."

Suara dingin datang dari belakang.

Arga berdiri di sana.

Wajahnya datar, tapi Ratna bisa merasakan suhu ruangan turun beberapa derajat.

Niko menoleh santai.

"Arga. Aku baru menyapa."

"Sapaannya selesai."

Maya menunduk untuk menyembunyikan senyum.

Niko berdiri.

"Jangan pelit. Kenalkan dengan benar dong."

Arga menatapnya.

"Tidak perlu."

"Wah, makin menarik."

Ratna merasa situasi itu tidak masuk akal. Ia, perempuan lima puluh tahun yang baru bercerai, duduk bersama menantu dan cucunya, lalu dua pria kaya berdiri seperti anak sekolah yang berebut tempat duduk.

"Pak Arga," kata Ratna pelan. "Pak Niko hanya menyapa."

Arga menoleh padanya.

"Saya tahu."

Namun nada suaranya sama sekali tidak terdengar seperti tahu.

Niko tertawa lagi.

"Bu Ratna, kalau Arga terlalu kaku, hubungi saya. Saya lebih menyenangkan."

Arga menatap Hanif yang baru datang.

"Hanif, antar Niko ke ruang meeting."

Niko mengangkat tangan menyerah.

"Baik, baik. Aku pergi. Tapi Bu Ratna, senang bertemu."

Setelah Niko pergi, Arga masih berdiri di dekat meja.

Maya akhirnya berkata sopan, "Pak Arga, saya Maya. Menantu... mantan menantu Mama Ratna."

Arga mengangguk.

"Saya tahu."

Maya tampak gugup.

"Terima kasih sudah membantu Mama."

"Bu Ratna yang membantu dirinya sendiri."

Maya terdiam, lalu mengangguk pelan. Jawaban itu membuatnya menghormati Arga lebih cepat dari yang ia kira.

Arga menatap Ratna.

"Ibu masih jam istirahat?"

"Lima belas menit lagi."

"Kalau begitu lanjutkan."

Ia pergi setelah mengatakan itu.

Maya menunggu sampai Arga cukup jauh, lalu berbisik, "Ma..."

"Jangan mulai."

"Aku belum bilang apa-apa."

"Matamu sudah bilang banyak."

Maya tertawa kecil.

Bima bertanya polos, "Nenek, Om dingin itu suka Nenek?"

Ratna tersedak air.

Maya tertawa lebih keras.

Dari kejauhan, Arga yang sebenarnya masih bisa mendengar sedikit menoleh.

Ratna buru-buru mengusap mulut.

Hari itu, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, rasa malu yang ia rasakan bukan karena dihina.

Melainkan karena seseorang mungkin benar-benar melihatnya sebagai perempuan.

Bukan pembantu rumah.

Bukan ibu yang selalu tersedia.

Bukan mantan istri yang dibuang.

Perempuan.

Dan perasaan itu membuatnya takut sekaligus hidup.

Setelah Maya pulang, Ratna kembali ke mejanya dengan langkah sedikit ringan. Dita langsung mendekat sambil berbisik.

"Bu, tadi itu Pak Niko? Yang punya Mahendra Capital?"

"Saya tidak tahu. Katanya teman Pak Arga."

"Teman, iya. Tapi dia terkenal susah diatur. Kalau dia sampai kirim perhatian, itu..."

Ratna mengangkat tangan.

"Dita, jangan lanjutkan."

Dita tertawa kecil dan mundur.

Namun gosip sudah bergerak lebih cepat dari lift. Menjelang sore, Ratna mendengar namanya disebut di pantry, kali ini dengan nada penasaran, bukan meremehkan.

"Bu Ratna itu siapa sebenarnya?"

Ratna menuang air dan menjawab dari belakang mereka.

"Pegawai baru yang masih belajar memakai mesin fotokopi."

Dua staf itu terlonjak, lalu minta maaf.

Ratna tersenyum.

Aneh sekali. Dulu ia takut dibicarakan. Sekarang ia mulai bisa memilih mana yang perlu dilawan dan mana yang cukup dibuat malu dengan satu kalimat.

Di ruangannya, Arga melihat dari balik kaca.

Hanif berdiri di sampingnya.

"Pak Niko sepertinya serius menggoda."

Arga menutup tirai.

"Dia selalu menggoda."

"Tapi Bapak tidak selalu terganggu."

Arga menatap Hanif.

Hanif langsung menunduk.

"Saya ke legal, Pak."

Di rumah ibunya malam itu, Maya menidurkan Bima sambil memikirkan pertemuan di kantor Ratna. Ia melihat cara orang-orang memanggil Ratna "Bu" dengan sopan. Ia melihat Ratna membawa kartu akses. Ia melihat meja kerja kecil yang rapi.

Ada rasa malu menusuk Maya.

Selama ini ia sering berkata, "Mama kan di rumah saja," seolah rumah bukan tempat kerja tanpa jam pulang.

Ibunya masuk kamar membawa teh.

"Kamu melamun."

Maya menerima gelas.

"Aku baru sadar mertuaku jauh lebih kuat daripada yang kami lihat."

"Bagus kalau kamu sadar sebelum terlambat."

Maya menatap Bima yang tidur.

"Aku tidak mau anakku tumbuh melihat perempuan di rumah sebagai pelayan."

Ibunya mengangguk.

"Kalau begitu mulai dari dirimu. Jangan kembali hanya karena takut omongan orang."

Maya menggenggam gelas hangat itu.

Untuk pertama kalinya, ia mengerti sedikit mengapa Ratna memilih pergi.

Maya lalu membuka laptop dan mulai menyusun folder bukti. Ia menamai folder itu "Untuk Mama Ratna". Di dalamnya ia masukkan tangkapan layar chat, bukti transfer, foto obat Mama Sulastri, dan jadwal les Bima yang selama ini dibayar Ratna.

Saat menekan tombol simpan, Maya merasa dadanya lebih ringan.

Ia belum tahu apakah Raka akan marah besar.

Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak ingin diam hanya agar rumah tangganya terlihat baik-baik saja.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!