Capella Starheart!
Seorang Gadis Remaja Cantik 16 Tahun baru saja pindah dari kota bawah ke kota layang Star Colossus bersama satu keluarga kecilnya.
Gadis itu tahu tidak akan ada banyak yang berubah di sana.
Memulai kehidupan baru di sebuah perumahan bernama Harmonia, menjalin ikatan baru dengan tetangga dan juga di lingkungan sekolah barunya.
Hidup berdampingan dengan Para Monster dan Kelompok Pahlawan dijuluki The Masquerades sudah biasa di zaman penuh teknologi maju sekarang ini.
Tapi yang jadi pertanyaan adalah... Ada tujuan apa Ibunya membawanya ke atas sana?
(Science Fantasy Ini Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Part 6)
[BAB 6: Wahana Yang Hidup]
"?!" Capella melirik mencari.
Matanya lalu menangkap keberadaannya lagi_ di mana gadis itu tiba-tiba muncul lagi, lima meter di sebelah kiri posisi sebelumnya
Dia terlihat mencoba menjauh daripada melawan.
Menjauh dari lokasi yang sudah banyak perhatian dari para pengunjung yang lain.
Dia muncul kembali setelah lima detik menghilang dan tetap melayang stabil di udara pada ketinggian di atas dua meter.
"Sebaiknya aku harus pergi dari sini," bisiknya kepada diri sendiri.
Dia baru saja keluar dari wilayah dalam karnaval dan muncul lagi di jeda lima detik, saat tiba-tiba jubah hitam berkerudung melesat gesit_ melompat tinggi dengan satu tangan menjulur tajam mencoba menangkapnya.
Leslie yang dalam mode Masquerades hampir mendapatkannya.
"Got you!" Percaya dirinya, terlalu cepat sebelum ketika ujung jarinya justru menembus bahu perempuan itu seperti mencelupkan tangan ke dalam air.
Dalam gerakan slow motion_ matanya tercengang perlahan. Mulut terbuka semakin lebar.
Sedangkan gadis yang terbang itu menyilangkan tangan di depan wajahnya dengan gerakan refleks.
Leslie mendarat dengan gerakan jungkir balik yang sempurna. Setelah mendarat, dia langsung memutar badan. "Hah?"
Gadis itu membuka kembali tangannya saat menyadari serangan yang tidak datang.
"Masquerades?" Bisiknya tidak percaya. Dia tetap melayang stabil di atas sambil menatap sosok yang berjubah hitam berkerudung dan bertopeng di bawah sana.
Ciri yang sudah umum dikenal banyak orang. Begitu juga dirinya.
Belum sempat dia bergerak lagi, "?!" tiba-tiba tornado api mengurungnya dan membuatnya terlanjur terjebak di dalam. Tubuhnya berputar terbawa angin panas.
"Tidak... Tunggu! Aku..."
Kertas-kertas brosur, bekas-bekas wadah minuman dan makanan juga sampai terbawa putarannya.
Leslie segera menyingkir_ mundur menjauh dalam satu kali lompatan besar.
Para pengunjung yang berada di luar gerbang pembatas wilayah taman bermain mulai panik dan menyingkir menjauh dari sana. Walupun tornado api itu hanya setinggi rumah tiga lantai dan tidak dari ketinggian dasar awan ke permukaan tanah.
Capella yang baru sampai di balik pagar pembatas ikut melihatnya.
Wajahnya mendongak menyaksikan. Nafasnya masih terengah-engah bekas berlari tadi.
Ketika putarannya meredah, yang di dalam terlempar jatuh dari ketinggian.
Sayap-sayap disepatunya sempat mengepak untuk tetap bertahan tapi putaran tornado api itu sudah membuatnya kehilangan keseimbangan.
Dia pun terjatuh dengan kasar.
Jatuh tersungkur tepat di bawah seorang kaki seseorang, dan disusul dentingan kecil sebuah cincin yang juga ikut terjatuh. Ting Ting... memantul dan menggelinding seperti roda sebelum berputar miring dengan gerakan spiral dan tergeletak di sana.
Dia yang mengerang dengan nafas setengah tersumbat mengangkat wajahnya dan mendapati Galactic berdiri mantap dengan tampilan yang sudah disamarkan.
Mode Masquerades.
Tapi tentu saja dia tidak mengenal siapa Galactic maupun Leslie. Yang dia tahu kalau penampilan itu adalah Masquerades.
"Tetap di tempat! Kami akan bersikap lebih kasar jika kau melawan!" Tegasnya, tangan kanannya memunculkan bola api kecil yang mengambang.
Tornado tadi bukan apa-apa. Sengaja tidak membuatnya terlalu kuat dengan api yang lebih mengamuk lagi. Karena dia sebenarnya memang bisa.
Yang barusan benar-benar memancing banyak perhatian. Galactic terpaksa, kemampuan orang itu sepertinya memanfaatkan angin untuk bergerak cepat, menyatu, dan senyap_ seakan seperti melakukan teleport.
Galactic tidak mau membiarkannya kabur begitu saja.
"Siapa kau?! Siapa Namamu?!" Galactic memulai mengintrogasinya. Berlutut satu kaki di hadapannya yang masih dalam kondisi tersungkur.
"Vanessa!" jawabnya terpaksa, "K Kumohon... biarkan aku pergi!"
"Maaf kami tidak bisa! Pencuri yang memiliki kekuatan sepertimu tidak boleh dibiarkan!" tegas Galactic, masih menahan bola api di tangannya.
"Kalian harus mengerti! Aku tidak punya pilihan lain! Aku melakukan ini demi seseorang.... seseorang yang paling berarti bagiku! Aku tidak bermaksud melukai siapapun~," jelasnya, matanya mulai berkaca-kaca.
"~Mereka mengambil segalanya dari kami! Kami kelaparan! Kami menderita! Dan sekarang... Aku harus merawat Ibuku sendirian!" Tangisnya pun pecah. Masih mendongak menatap Galactic... air matanya menetes lebih banyak.
Dan Galactic hanya terdiam. Matanya yang menunjukan aura mengancam di balik topeng perlahan melunak.
"Kalian Masquerades! Kalian seharusnya tahu!" tambahnya lagi lebih pelan.
Capella masih memandang dari balik pagar. Dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi dahinya mulai mengkerut saat merasakan hal yang tidak beres.
"Ada apa Les?" Galactic penasaran, teralihkan dari yang bernama Vanessa tadi. Memperhatikan tingkah Leslie yang seperti tidak tenang.
"Instingku merasakan bahaya," Jawabnya sambil mengendus-endus sekitar. "Sesuatu yang kuat! Sesuatu yang... sangat berbahaya!"
"Apa yang kau bicarakan? Kita sudah menangkapnya, " Sahutnya sambil melirik ke bawah kakinya, yang dimaksud Galactic adalah Gadis pencuri itu.
Tiba-tiba... Tak lama setelah Galactic berbicara seperti itu... terdengar suara dentuman keras dari kejauhan.
Tangan Capella yang memegang pagar merasakan getaran singkat yang cukup terasa.
Aura energi yang membentuk telinga kucing Leslie juga langsung merespon_ memutar cepat ke arah suara. Membuat dirinya, Galactic, dan juga Gadis pencuri yang masih dalam keadaan setengah tersungkur sama-sama menoleh cepat.
Semua pengunjung sekitar pun juga sampai udik.
Capella memutar badan perlahan... kembali pada arah berlangsungnya suasana Karnaval. Karena dari sanalah suara keras itu berasal.
"Apa itu tadi?" Bisik seorang Ibu yang menggandeng kedua anaknya di dekat loket karcis gerbang utama. Dia tidak bisa menahan nafasnya yang gemetar.
Semua orang langsung hening hampir tidak bergerak.
Suara dentuman tadi lalu mulai disusul suara jeritan dari kejauhan. Jeritan banyak orang yang semakin jelas.
"Apa itu Mechabeast?!"
"Tidak mungkin! Penjaga kami sudah berjaga 24 jam akhir-akhir ini. Setahu kami tidak ada yang menyelinap masuk."
Obrolan salah satu pengunjung Pria dengan penjaga loket karcis berperut buncit di latar belakang.
Galactic menatap fokus ke kejauhan sana saat para pengunjung mulai semakin khawatir dan panik.
Dari semua teriakan dari kejauhan sana, satu teriakan semakin keras terdengar.
Seorang remaja berlari melalui gerbang utama dan melewati mereka dengan wajah pucat pasi. Tasnya terbuka lebar mengeluarkan isi yang berserakan tanpa dia pedulikan.
Dari satu jeritan... Bermunculan lagi beberapa yang lainnya! Semakin banyak berbondong-bondong panik keluar melalui gerbang, tapi ada juga yang nekat langsung melompati pagar saking ketakutannya.
Capella langsung menyingkir saat satu dari mereka hampir menabraknya di balik pagar.
Galactic menyipit tajam saat salah satu dari mereka yang berlari keluar meneriaki kata... "Monsteeer!!!"
"Bastet! Kau jaga orang-orang di sini! Juga awasi dia! Jangan sampai dia kabur!" Titahnya serius di tengah kekacauan.
Orang-orang terus bermunculan keluar.
"Hm!" Angguk Leslie singkat kepada Galactic.
Berlari melompati pagar di posisi Capella berdiri, "Cap! Ikut aku!" Lanjut Gegasnya, langsung berlari menuju lokasi keributan.
Tapi Capella di belakangnya tidak mengikuti.
Galactic berhenti tiga langkah kemudian, berbalik dengan gerakan cepat. "Capella!" Panggilnya lagi.
"Aku tidak bisa melakukan ini!" Suara Capella gemetar, kakinya terpaku seperti jangkar kapal di dekat pagar.
Matanya sejenak melirik kembali ke arah asal suara tadi.
"Cap, kumohon... Ikut saja!" Lirihnya. Dia kembali mendekat cepat menghadapnya. Matanya yang terlihat dari balik topeng Masquerade menatap fokus, seakan seperti bisa melihat langsung ke dalam ketakutan Capella.
"Kita tidak bisa lari dari ini Cap! Ini kita sekarang!" Lagi bujuknya lebih lirih.
Capella kembali memandang ke arah tadi seperti mencoba memperhitungkan resiko yang akan terjadi.
...----------------...
Mengambil nafas dalam-dalam... Dia akhirnya berkata, "Oke," hampir tidak terdengar, dengan nafas yang terbuang banyak.
Kakinya sudah gemetar tapi dia memaksakan diri berlari bersama Galactic menuju lokasi.
Dia dan Galactic menyusuri lorong-lorong karnaval yang kini dipenuhi pengunjung berlarian seperti kawanan burung yang ketakutan.
Bau popcorn terbakar menusuk hidung Capella saat mereka menerobos kerumunan yang semakin kacau.
Capella berlari mengikuti Galactic dengan langkah tersendat, liontin aquamarine di balik jaketnya berdenyut seperti ikut merasakan bahaya yang sudah semakin dekat.
Mereka menerobos kerumunan pengunjung yang berlarian panik_ wajah-wajah mereka pucat.
Sampai di pusat kekacauan... Capella tercengang saat melihat wahana Gurita Raksasa _atau disebut juga Octopus Ride_ yang seharusnya hanya berupa mesin hiburan biasa itu kini bergerak hidup.
Delapan tentakel baja berlapis cat ungu gelap metalik itu melengkung seperti ular yang bangun dari tidur panjang, mengeluarkan suara gesekan logam.
Salah satu tentakel mengangkat keranjang yang masih menampung orang-orang yang masih terjebak_ wajah mereka terdistorsi dalam teriakan histeris yang tak terdengar di atas gemuruh mesin yang tiba-tiba hidup.
Tapi tubuh gurita itu masih menyangkut pada mesin utama yang menopang besar tubuhnya.
Setidaknya dia masih menyangkut di sana.
Ya! Awalanya memang begitu. Sampai...
KABRAAAANG!!! Monster gurita itu akhirnya terbebas dari tempatnya.
Salah satu tentakel menyambar panggung musik terdekat, menghancurkannya menjadi serpihan kayu dan kabel berloncatan.
Galactic mendorong Capella ke balik sudut stan yang masih setengah utuh... tepat saat tentakel lain menghujam tanah di tempat mereka berdiri tadi.
Debu beterbangan, membuat Capella tersedak sambil matanya menyipit melihat retakan tanah di titik pukulan.
Capella merasakan darahnya membeku saat melihat tentakel lainnya menghancurkan stan makanan seperti mainan kertas.
Monster itu.... Jelas sekali salah satu Mechabeast atau The Underground! Tapi yang anehnya, makhluk seperti mereka tiba-tiba hidup dari bentuk wahana. Seharusnya tidak!
Mereka murni monster yang bermutasi!
Entah apa yang terjadi! tapi untuk sekarang... ada hal lebih penting!
Menyelamatkan Orang-orang dan Menghentikan Monster itu!
"Capella! Pandu mereka keluar!" Mintanya. Muncul pedang besar berselimut api berbentuk sabit di kedua tangannya, saat Galactic bergerak mundur darinya perlahan.
"Gal..." Capella telat. Galactic sudah berbalik cepat_ langsung berlari menuju medan pertempuran.
Bau plastik terbakar menusuk hidungnya saat dia berdiri di tengah kepanikan yang semakin menjadi-jadi.
Seorang bocah kecil terjatuh di depannya, lututnya berdarah setelah tersandung kabel yang terkelupas.
"Tidak apa! Kakak di sini!" Capella menarik tangan bocah itu dengan gerakan lembut, membawanya menjauh dan kebetulan ada kedua orang tuanya yang sedang mencari.
"Terimakasih!" Ucap Ibunya dengan wajah sudah memucat, keluarga itu lalu langsung pergi meninggalkan lokasi tanpa lanjutan dari ucapan terimakasih yang panjang lebar.
Sambil memandu yang lainnya, Capella memeriksa keadaan Galactic.
Dia terlihat berusaha mati-matian menghindar dari tentakel yang terus mencoba menimpannya. Sekarang, Galactic melompat dan berlari menaiki salah satu tentakel tanpa terpeleset sedikitpun.
Mengambil beberapa lompatan dari tentakel ke tentakel lainnya yang terus menggeliat tidak beraturan seperti cacing kepanasan.
Dari cara gerakan refleknya, Capella yakin kalau Galactic sudah melalui banyak pertempuran yang jauh lebih berbahaya sebelumnya.
ZZIIIIIING...!!!
Salah satu tentakel terpotong saat dia melompat tinggi dengan gerakan akrobatik. Tubuhnya memutar seperti gangsing atau mesin roda pemotong.
Kabin berbentuk cangkang kerang bersama ujung tentakel yang terpotong terjatuh menimpa istana balon yang langsung meledak dan perlahan mulai mengempes. Syuuuut...
Galactic menghempaskan diri ke tanah dengan gerakan jungkir balik sempurna.
Pandangannya menoleh sebentar kepada ketiga remaja di atas kabin tadi. Hanya memastikan kalau mereka baik-baik saja.
Si ayah langsung merangkul mereka saat ketiganya turun dari sana dengan raut wajah syok. Tangannya gemetar seperti daun di musim gugur sambil terus memandang Galactic dengan mata berlinang.
"Tuhan memberkatimu... siapapun kau!" bisiknya, suara serak oleh debu dan ketakutan.
"Sudah tugasku Pak! Sekarang pergilah dari sini!"
Matanya tidak berkedip saat memutar arah_ kembali menatap ke arah wahana Gurita Raksasa yang kini bergerak penuh kemarahan, delapan tentakelnya menghancurkan segala sesuatu dengan gerakan acak seperti mesin tua yang kesakitan.
Krrr-ooOOOARGH!!!
Satu tentakel yang ujungnya terpotong tadi mengeluarkan banyak cairan biru kental.
Galactic tidak menunggu makhluk Underground itu menyerang lebih dulu.
Tangan kirinya menjulur lurus mengarah ke atas, dan dari tangannya menyembur api besar seperti nafas naga. Apinya menyembur pada ketiga mata besarnya yang berjejer.
Capella segera mencari spot bersembunyi saat Gurita itu membanting-banting tentakelnya_ membuat banyak benda-benda disekitar terlempar ke mana-mana.
Dia menggelepar.
Tentakelnya berusaha memadamkan api yang semakin menyebar sampai ke seluruh tubuhnya.
Monster itu mengeluarkan suara melengking yang memekikan telinga seperti jeritan banyak orang menjadi satu.
Galactic memperkuat semburan apinya. VWOOOOOSH...
Awalnya monster gurita itu terlihat semakin mengamuk, tapi perlahan ayunan tentakelnya berangsur lemas, sebelum kemudian seluruh tubuhnya tumbang kebelakang dengan gerakan lambat berbobot.
Tubuh mecha nya sudah dalam kondisi menghitam di berbagai bagian saat kobaran api padam dengan sendirinya. Begitu juga api-api yang juga ikut mengenai sekitar.
Asap pekat mengepul ke langit-langit.
Capella perlahan merangkak keluar dari tempat persembunyian. Memperhatikan langsung tubuh gurita raksasa yang suah tergeletak di sekitar bekas kekacauan yang dibuatnya.
Semua pengunjung juga sepertinya sudah keluar dari sana.
Galactic mengecek arah kanan kirinya sebelum dia mengubah kembali penampilannya menjadi seperti awal.
Tidak ada topeng, tidak ada jubah berlapis kristal, dan juga tidak ada pedang. Hanya dirinya! Galactic!
Capella bisa melihat naik turun jelas bahu Galactic saat dirinya mencoba mendekat dari belakangnya.
"Gal?!" Mengintip dari balik bahunya.
"Cap," Sahutnya, dia memutar balik dan berjalan santai menghampiri Capella.
Dari sudut pandang Capella, asap itu semakin mengepul di belakang Galactic. Menutup pandangan dari pemandangan tubuh monster yang sudah tergeletak di sana.
Capella mencoba memasang senyum tipis setelah aksi penuh ketegangan dan berbahaya tadi.
"Haah..." nafasnya masih terengah-engah.
Tapi senyumnya mendadak padam seketika... saat matanya menangkap pergerakan dari langit-langit_ di arah atas belakang kepala Galactic.
Satu tentakel menembus kepulan asap pekat_ mengayun cepat dari atas ke bawah ke arah mereka dengan gerakan berbobot tapi cepat.
"GAL!!! AWAS..!!!" teriak Capella spontan, sambil menunjuk tinggi lurus-lurus pada arah serangan yang akan datang.
Galactic sontak sigap berbalik dan langsung mendongak mendapati tentakel yang sudah hampir menimpa mereka berdua.
Dia tidak berpikir dua kali.
Dengan gerakan gesit, Galactic langsung berbalik lagi hanya untuk mendorong Capella dengan kasar.
Gadis itu langsung jatuh terjungkal keras, sepersekian detik sebelum ujung tentakel besar itu tadi menimpa dan menghantam tanah dengan kekuatan mematikan. Posisinya tadi berdiri.
Debu tanah mengepul menutup pandangan Capella yang tersungkur.
Tapi Galactic masih ada di sana... saat tentakel tadi itu menghantam. "GAL...!!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebelum mulai membaca... Ini Novel tema Science Fantasy Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya. Jadi bagi yang mau penuh konflik atau temanya benar-bener Dark berarti nggak cocok ya! 😄 Karena Ini lebih ke School, Campur Drama Di Sekolah, Rumah, Lebih Santai lah pokoknya. Tapi perlahan konflik permasalahan utamanya mungkin makin naik dan jelas menuju akhir! So.. Happy Reading! 😍
semua masih berisi narasi, semoga di next chapter semua menjadi lebih aktif 👍👍👍
tetap semangat Thor, saya suka tema fantasi 🔥