Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.
Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Share Loc
TIN! TIIN!!! Suara klakson berbunyi bersahutan di belakang mobil Arman.
"Pak! Pak Arman! Kok bengong?" Firda mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah pria itu.
"Eh, iya. Kenapa?" Arman akhirnya tersadar dari lamunannya.
"Cepat jalan, Pak. Mobil di belakang sejak tadi bunyiin klakson-nya."
"Ah, iya. Maaf." Arman langsung fokus ke jalan lagi, sambil tersenyum malu. "Sorry, tadi aku keasyikan memikirkan sesuatu."
Selang 10 menit melaju, mobil Arman akhirnya melewati pintu gerbang rumahnya. Di teras halaman belakang, Akira sedang ditemani bermain oleh para pelayan. Begitu bayi itu melihat ibu susunya turun dari mobil, dia langsung menangis dengan keras, minta digendong bundanya, tapi Firda tidak melakukannya karena dia habis dari luar.
"Ululu sayangnya Bunda. Kangen ya, Nak? Sebentar ya, Bunda mandi dan ganti baju dulu, baru setelah itu kamu baru bisa Bunda gendong."
Arman tersenyum tipis menatap pemandangan itu dari dalam mobilnya. "Seandainya pernyataan cinta tadi bukan khayalan belaka, entah bagaimana reaksi Firda? Akankah dia bersedia menjadi ibu sambung untuk Akira?" gumamnya lirih, lalu memutar stir dan melajukan mobilnya menuju Valmara Holding.
...****************...
Beberapa hari kemudian.
"Bu Firda, saya sudah menemukan investor yang bersedia menyuntikkan dana besar-besaran untuk perusahaan kita." Wajah Pak Rachmat nampak sumringah saat menemui Firda di ruangannya.
"Oh, ya? Syukurlah kalau begitu, Pak Rachmat. Saya ikut senang mendengarnya," kata Firda tersenyum dengan perasaan lega. Beberapa hari ini pikirannya memang tidak tenang memikirkan nasib 30% karyawan yang terpaksa harus dirumahkan.
"Memang siapa investornya, Pak? Dan apakah dananya sudah cukup untuk membuat perusahaan kita kembali normal.
Pak Rachmat yang masih setia dengan senyuman lebarnya menjawab, "Investornya adalah Garuda Investama, Bu Firda."
"Garuda Investama?" Bagi Firda yang baru berkecimpung di dunia bisnis, nama perusahaan itu tentulah masih asing di telinganya.
Pak Rachmat mengangguk. "Ya. Anda pasti tidak asing dengan perusahaan terkemuka Hermawan Corporation di Kota Manggala ini. Garuda Investama, sebagai anak perusahaan yang bonafit, bersedia menyuntikkan dana sebesar 500 miliar rupiah untuk PT Sinar Abadi kita ini jika Bu Firda bersedia bekerja sama."
Jantung Firda seketika berdetak tak karuan. Tentu saja dia tahu bahwa Hermawan Corporation adalah milik keluarga Arjuna. Perasaan tak nyaman seketika muncul di dadanya. Bagaimana bisa Keluarga Hermawan yang dulunya begitu membenci dirinya mau memberikan nominal bantuan yang tidak main-main. Pasti ada sesuatu di baliknya. Firda curiga ini pasti ada kaitannya dengan Arjuna.
"Apa Bapak tahu siapa yang ada di belakang Garuda Investama?"
"Pak Arjuna Hermawan, putra bungsu Tuan Hermawan, yang memiliki Garuda Investama. Dia yang memimpin investasi ini melalui perusahaannya."
Firda merasa jantungnya berdetak lebih cepat, mencoba menyembunyikan perasaan tidak nyaman. Ternyata kecurigaannya benar. "Mas Juna ... kenapa dia melakukan ini? Apa dia tidak takut keluarganya marah?" gumam Firda dalam hati.
"Oh iya, saya lupa menjelaskan. Investor kita adalah orang yang sama dengan Kasat Reskrim Polresta Manggala, Bu Firda. Tapi Garuda Investama bukan dia yang memimpin langsung karena pak Arjuna lebih menyukai pekerjaannya sebagai polisi, jadi Garuda Investama dikelola oleh pak Arka Dirgantara, adik sepupunya."
Firda terdiam, tak tahu harus berkata apa.
"Syarat yang mereka ajukan cukup ringan, Bu Firda. Mereka tidak meminta saham, tapi meminta Pak Arjuna menjadi konsultan untuk membantu strategi pengembangan PT Sinar Abadi. Ini adalah investasi murni untuk membantu perusahaan kembali bangkit dan berkembang. Dengan dana segar ini, kita bisa membayar utang, merekrut kembali karyawan yang di-PHK, dan mengembangkan bisnis kita lagi."
Firda mempertimbangkan sejenak, mencoba menenangkan dirinya. Antara urusan pribadinya dengan Arjuna atau nasib perusahaan dan karyawannya kini berada di tangannya. Setelah Firda pikir-pikir, dia akhirnya bisa mengambil kesimpulan.
"Baiklah, Pak. Jika itu yang terbaik untuk perusahaan, mari kita lanjutkan prosesnya."
Setelah Pak Rachmat meninggalkan ruangannya, Firda lantas membuka salah satu buku yang ada di atas mejanya. Di sana terdapat sebuah kartu nama milik Arjuna yang ditinggalkan pria itu beberapa hari lalu untuknya.
"Halo." Suara berat khas Arjuna terdengar di seberang telepon.
Firda terdiam sejenak lalu berkata dengan sedikit gugup, "Ini aku, Mas."
"Oh, kamu, Fhy." Terdengar tawa kecil di ujung kalimat Arjuna. Dari nada suaranya, dia senang sekali ditelepon oleh wanita itu.
Firda mengangguk meski dia tahu Arjuna tidak bisa melihatnya. "Apa Mas Juna hari ini sibuk? Aku mau ajak ketemu sebentar."
"Tunggu sebentar, Fhy. Sekarang ini aku sedang sibuk. Nanti aku hubungi kamu setelah konfirmasi jadwalku sama Ipda Nadia."
Firda kembali mengangguk. "Baik, Mas. Maaf sudah mengganggu."
Arjuna tertawa kecil. "Sama sekali tidak merasa terganggu."
Selang beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk di WhatsApp Firda yang dia beri nama 'Mas Juna'.
^^^"Cafe Lavender. Pukul 17.10."^^^
^^^"Jangan sampai terlambat😉"^^^
Firda langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan, frustrasi setelah membaca 2 buah pesan yang dikirim pria itu. "Kenapa mas Juna malah pilih tempat itu? Dia pasti sengaja melakukannya."
Firda lalu mengetik sebuah pesan untuk membalas pesan Arjuna. "Ganti tempatnya, Mas. Aku tidak mau ke sana."
^^^"Tidak bisa ditawar."^^^
^^^"Kalau kamu tidak mau ke sana, berarti aku anggap janji temu kita batal."^^^
Firda menghela napas panjang. Lebih memilih tak membalas pesan itu, karena dia paham betul karakter dan kepribadian Arjuna seperti apa.
...****************...
"Firda belum pulang Bi?" Sore itu saat kembali ke rumah, Arman langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Sudah pulang dari tadi, Tuan. Tapi barusan dia pamit keluar sebentar. Katanya mau ketemu sama seseorang," jawab Bi Mina apa adanya.
"Apa dia bilang mau ketemu siapa?"
Bi Mina menggeleng. "Tidak tahu, Tuan. Non Firda juga tidak bilang."
"Lalu Akira di mana?"
"Di kamarnya, Tuan. Tadi non Firda sengaja menidurkannya sebelum keluar."
Arman menghela napas, merogoh ponselnya di dalam saku jasnya, lalu mencari nomor kontak dengan ID "Bundanya Akira" lalu melakukan panggilan video. Tak butuh waktu lama untuk Firda menjawabnya.
"Kamu di mana?" tanyanya langsung saat wajah Firda muncul di layar ponselnya.
"Di jalan, Tuan."
"Ralat."
"Eh, maaf. Maksudku di jalan, Pak. Ada apa?"
"Kamu mau pergi ke mana sore-sore begini?" tanya Arman. Suaranya terdengar mengintimidasi.
"Saya ... saya keluar sebentar karena sudah buat janji sama teman lama. Tidak lama kok. 1 Jam lagi saya pastikan sudah kembali ke rumah."
"Kalau begitu share loc."
"Buat apa, Pak?"
"Untuk memastikan kamu baik-baik saja dan tidak dibawa kabur orang jahat."
Firda tertawa. Dia pikir pria itu hanya melontarkan lelucon, jadi dia lebih memilih menuruti perintah Arman agar tak terjadi perdebatan di antara mereka.
semangat untuk up episode nya🙏🙏🙏🥰