Tentang perselingkuhan Hamish dan Thania. Paman dan keponakan. Hamish pria yang kesepian di hubungan rumah tangganya, hadirnya Thania dihidupnya mengubah segalanya lebih berwarna. Dan sejak kejadian mendesak di bawah hujan Hamish dan Thania mulai menjalin cinta terlarang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Mobil Hamish melaju pelan melewati jalan kecil yang tersembunyi, roda-roda menyentuh tanah yang mulai berpasir, diapit oleh pohon-pohon tropis yang merimbun seperti tirai alam yang menyambut mereka ke dunia lain—sebuah sisi pulau yang tampaknya lupa pada hiruk-pikuk dunia. Cahaya sore menyelinap di antara dedaunan, membentuk bintik-bintik keemasan di atas kaca depan mobil. Suara dedaunan bergesek, aroma khas laut mulai merayap masuk melalui ventilasi, dan langit yang semula biru mulai berpendar dalam gradasi jingga.
Hamish menginjak rem pelan dan menghentikan mobil tepat di bawah bayangan pohon kelapa yang tinggi menjulang. Di depan mereka, hamparan pasir putih membentang luas hingga ke garis bibir pantai yang jauh, tempat lautan mencium langit. Ombak mendekat perlahan—tanda laut mulai pasang—tapi tak bergemuruh. Ia datang dengan anggun, menjilat pantai dalam ritme yang santai, seperti mengundang siapa pun yang melihatnya untuk mendekat dan lupa pada segala beban.
Hamish melirik ke sisi kirinya, ke arah gadis yang duduk diam namun terlihat bersemangat.
"Ayo turun, Thania," ajaknya sambil membuka pintu mobil.
Namun Thania menggeleng pelan, senyum kecil muncul di bibirnya. "Paman duluan saja, aku ingin pakai sunscreen dulu."
Hamish tertawa kecil dan mengangguk. "Baiklah. Segera menyusul, ya."
Saat langkah Hamish menjauh, suara pintu mobil tertutup, dan hanya terdengar detak jam dashboard yang berdetak lambat. Thania mengambil krim dari tas kecilnya dan mulai memoleskan sunscreen ke wajahnya. Cermin kecil di atas kabin mobil memantulkan pantulan dirinya—kulit yang mulai kecokelatan, rambut yang sedikit acak karena angin, dan mata yang bersinar.
Thania tersenyum pada bayangannya. "Aku senang," Bisiknya lirih. "Aku ingin bermain ombak... kenapa tidak sekalian basah saja?"
Dan seperti sebuah keputusan kecil yang membebaskan jiwa, Thania melepas sweater abu yang ia kenakan, lalu membuka celana jeansnya. Tubuhnya kini hanya dilapisi kaus biru muda yang ketat dan celana pendek hitam. Ia merasa ringan. Seperti beban-beban kecil di pundaknya turut menghilang bersama pakaian yang ditinggalkan di jok mobil.
"Aku mau bermain basa-basahan dengan Paman Hamish," katanya pelan dengan wajah yang bersinar antusias.
Ia membuka pintu mobil dan melompat turun. Kaki telanjangnya menyentuh pasir putih yang lembut dan sedikit dingin—sensasi yang membangkitkan tawa kecil dari bibirnya. Tanpa menunggu lagi, Thania berlari cepat, membelah jalur pasir menuju tempat Hamish berdiri di bibir pantai, memandangi laut yang menghampar.
"Paman!" serunya riang.
Hamish menoleh. Matanya melebar sedikit saat melihat penampilan Thania yang berubah drastis. Ia terdiam sejenak, bukan karena kaget, tapi karena ada sesuatu yang menyesak hangat di dada. Gadis itu tampak bebas... dan begitu hidup.
"Thania, kenapa kau berganti baju?" tanyanya, tersenyum meski tak bisa menutupi keterkejutannya.
"Aku ingin bermain ombak, tapi tidak mau bajuku basah semua," jawabnya ringan sambil tertawa kecil.
Hamish tertawa ikutannya, namun tak bisa menyembunyikan getaran lembut di dadanya—getaran yang sulit dijelaskan. Di depan matanya, Thania berlari ke arah air yang mulai menjilat pasir. Ombak kecil menyentuh kakinya, dan ia tertawa—tawa yang murni, polos, dan seolah membuat dunia di sekitar ikut tersenyum.
"Paman! Ayo ke sini! Seru!" serunya sambil memercikkan air ke arah Hamish.
"Hei, jangan ke arahku! Nanti bajuku basah!" seru Hamish dengan nada bercanda, meski langkahnya mulai mendekat. Ia tahu, seberapapun ia ingin menjaga jarak, ia tidak bisa menolak tarikan dunia yang diciptakan Thania.
Air laut memantulkan warna oranye dari matahari yang mulai turun. Bayangan Thania menari di permukaan ombak, rambut panjangnya terangkat angin, dan kilauan air menempel di kulitnya. Bagi Hamish, itu bukan hanya pemandangan indah... itu adalah sebuah rasa yang menyeruak. Rasa yang membuncah seperti air pasang yang tak terbendung.
Dia tahu, ini bukan hanya tentang pemandangan pantai yang indah. Bukan tentang aroma laut, pasir putih, atau angin sore. Ini tentang Thania. Tentang bagaimana caranya tertawa, cara dia memanggilnya "Paman" dengan suara ringan yang justru membuat hatinya berat. Tentang keberanian gadis itu untuk merdeka, untuk menjadi dirinya sendiri.
Hamish memandanginya diam-diam dari pinggir pantai. "Kau tak pernah tahu, Thania... bahwa justru kau lah yang membawa kebebasan itu ke dalam hidupku," gumamnya dalam hati.
Sementara itu, Thania berlari menghampiri ombak, lalu kembali ke Hamish, menyipratkannya dengan air laut, tertawa puas.
"Paman tidak marah, kan?" Godanya.
"Marah? Justru aku yang senang." jawab Hamish, mencoba menyembunyikan nada emosional yang menyusup dalam suaranya. "Aku sudah lama tidak bermain seperti ini..."
"Karena Paman terlalu dewasa untuk itu, ya?" Canda Thania sambil mengedipkan sebelah matanya.
...🍒🍒🍒...
Disaat langit mulai menua, menggantung rendah dengan semburat jingga yang perlahan meluruh ke dalam laut. Cahaya senja jatuh seperti hujan keemasan di sepanjang bibir pantai yang kini mulai terisi riak ombak pasang. Hamish berdiri di tepi pasir, diam, membiarkan celana jeansnya basah oleh gelombang yang pelan tapi pasti terus menjalar ke daratan.
Satu langkah di depannya, Thania tertawa. Suaranya berpadu dengan deru ombak dan desir angin, menciptakan harmoni yang anehnya menenangkan hatinya.
Hamish memperhatikannya dalam diam.
Gadis itu... bukan hanya menyenangkan. Ia adalah kejutan yang tak pernah berhenti. Jika Thania adalah sebuah potongan kue, maka setiap kali Hamish "menggigit"—setiap kali ia melihat senyumnya, mendengar celotehnya, atau menyaksikan gerak bebas tubuhnya di bawah sinar matahari—selalu ada rasa baru yang tidak pernah bisa ia duga sebelumnya. Kadang manis dan menghangatkan dada. Kadang getir, membuatnya terdiam lama. Kadang menggiurkan hingga menyesakkan.
Dan sore ini, di pantai terpencil yang ia bawa sendiri Thania ke sana, Hamish merasa seperti sedang memakan rasa yang paling asing sekaligus paling ia dambakan.
Thania menoleh. Senyumnya lebar, polos, tanpa beban. "Paman, ayo sini! Jangan berdiri disana terus."
Hamish tertawa kecil mendengar ajakan Thania, tapi jantungnya berdetak lebih cepat dari tawa itu. Ada sesuatu dalam sorot mata Thania yang berbeda sore ini. Sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan sesuatu yang ia bisa atau bahkan seharusnya cari... tapi justru kini terus mengintai setiap celah hatinya.
"Awas, nanti bajuku basah semua," sahut Hamish sambil mengangkat tangan, pura-pura menolak saat Thania menyipratkan air ke arahnya.
"Hahahah..., biar kita sama-sama basah, paman." Jawabnya cepat, sebelum kembali menari di antara ombak kecil yang memecah pelan di kakinya.
Hamish hanya menatap. Ia seharusnya menegur. Seharusnya menjaga jarak. Tapi langkahnya justru mengikuti. Ia membiarkan ombak itu membasahi kakinya, membiarkan dunia Thania menyeretnya masuk ke dalam pusaran kebebasan gadis itu.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama... Hamish merasa hidupnya tidak terlalu serius. Tidak melulu tentang tanggung jawab, atau masalah dewasa yang tak kunjung selesai. Bersama Thania, semuanya terasa ringan, seperti daun kering yang terbang mengikuti arah angin.
"Paman," panggilnya lagi. Suara itu lembut, dan meski cuma satu kata, entah kenapa terasa sangat akrab. Terlalu akrab.
"Ya?"
"Rasanya... menyenangkan, ya, bisa begini."
Hamish mengangguk. "Kau selalu tahu cara membuat semuanya menyenangkan."
Lalu, tanpa sadar, ia berkata lirih, "Kau seperti potongan rasa yang tak pernah habis untuk dicicipi, Thania."
Gadis itu mengerutkan dahi, menoleh ke belakang, tampak bingung. "Maksudnya?"
"Tak ada. Lupakan," jawab Hamish cepat, mencoba menutup celah yang terlanjur ia buka.
Tapi sorot mata Thania tidak menyerah semudah itu. Dan ketika mereka berdiri bersebelahan, hanya sejangkal dari satu sama lain, dunia seolah berhenti bergerak. Ombak tetap datang dan pergi, angin tetap berembus, tapi ruang di antara mereka menjadi begitu padat—terisi oleh perasaan yang tak diundang namun terus tumbuh di antara waktu dan kebersamaan.
Hamish memandang wajah gadis itu. Wajah yang awalnya ia kenal sebagai gadis muda yang datang dengan keceriaan polos dan cerita-cerita remaja. Tapi kini... wajah itu tampak lain. Ia melihat cahaya pada mata Thania, dan senyum yang tidak lagi kekanak-kanakan, tapi punya cara sendiri yang membuat hati Hamish melemah.
"Thania..."
Gadis itu menoleh, menatapnya langsung. "Iya, Paman?"
Hamish ragu sejenak. Ada desakan dalam dadanya yang menuntut untuk keluar, tapi ada pula pagar akal yang terus mengingatkannya untuk tidak melangkah lebih jauh. Namun tetap, kata-kata itu keluar:
"Setiap kali kau tersenyum seperti itu... aku merasa aku tidak ingin pergi dari tempat ini."
Thania terdiam. Ekspresinya berubah. Bukan malu, bukan pula bingung. Tapi... seperti sedang menyadari sesuatu yang baru.
"Kau selalu begitu," lanjut Hamish. "Membuat aku lupa bahwa aku adalah seseorang yang seharusnya menjaga jarak. Menjadi dewasa. Tapi kau datang... dan tiba-tiba semuanya terasa sederhana."
Hamish mengangkat tangannya perlahan, menyentuh rambut Thania yang terbang tertiup angin, dan menyelipkannya ke belakang telinganya. Jari-jarinya gemetar. Tapi wajah Thania tidak menjauh.
Dan saat itu, saat jarak mereka hanya satu tarikan napas, Hamish hampir menuruti dorongan hatinya. Hampir.
Tapi ia menarik diri.
"Maaf." Katanya pelan.
Thania tidak bicara. Gadis itu hanya menatap laut lagi, seakan mencoba mencari jawaban di antara gelombang yang terus datang tanpa henti.
Hamish mengalihkan pandangan, mencoba menenangkan degup dadanya yang kacau. Ia tahu, rasa ini bukan sesuatu yang seharusnya ia pelihara. Tapi bagaimana mungkin ia mematikan perasaan yang tumbuh justru dari tawa Thania, dari cara gadis itu memandang dunia?
Bukan matahari senja, bukan desau angin laut, bukan bahkan kebebasan pantai terpencil itu—bukan itu semua yang membuat Hamish betah di sana.
Tapi Thania.
Thania adalah pusatnya.
Pusat keindahan. Pusat rasa. Pusat kebingungan hatinya yang tak kunjung reda.
Dan sore itu, Hamish tahu satu hal dengan pasti: perasaan ini... bukan lagi sekadar kekaguman. Tapi juga bukan cinta yang bisa dengan mudah disampaikan. Ini adalah rasa yang tumbuh diam-diam, seperti akar yang menyelinap ke dasar hati, dan menancap diam di sana—menunggu waktu untuk tumbuh, atau mungkin....... untuk patah.
.
.
.
.
.
.
To be continue.....
Jangan lupa Vote gesss🥰